Thursday, December 3, 2015

Formula 4D

Sewaktu kuliah di Malaysia, mau tidak mau saya terjun langsung di lapangan sebagai penjual amatir demi membiayai kuliah. Pagi sampai siang, kuliah. Sore sampai malam, jualan. Capek sih, tapi mau gimana lagi? Di sini saya tidak belajar tentang satu 'D'.

Setelah lulus, saya sempat bekerja di perusahaan consulting, lalu di perusahaan properti. Ini dua moment yang berharga bagi saya karena di sinilah saya belajar tentang satu 'D' lainnya.

Pernah jatuh-bangun ketika merintis bisnis kuliner (soto, bakso, dan donat), sekarang alhamdulillah bisnis-bisnis pendidikan saya tersebar sekian cabang, menaungi ratusan karyawan se-Indonesia. Di sini saya dipahamkan bagaimana sebuah 'D' bekerja. Dan ini adalah 'D' yang berbeda dengan dua 'D' sebelumnya.

Buku-buku saya dianggap sarat inspirasi sampai-sampai dicetak ulang ratuaan kali, melampaui predikat mega-bestseller, alhamdulillah. Training saya juga mewarnai strategi perusahaan-perusahaan bergengsi di tanah air. Semua dari Allah. Saya hanya menjadi orang yang ditakdirkan untuk menjalani ini semua.

Dan dengan izin-Nya, ratusan ribu peserta seminar di belasan negara telah merasakan manfaat juga perubahan. Itulah testimoni seminar yang saya terima setiap harinya. Lagi-lagi, saya hanya menjadi orang yang ditakdirkan untuk menjalani ini semua.

Anda-anda yang berkecimpung sebagai profesional atau entrepreneur yang sibuk, bolehkah saya menyarankan sesuatu yang teramat penting yang akan meringankan aktivitas anda hari ini dan setiap harinya? Boleh?

Saran yang inspiring ini berdasarkan pengalaman saya selama belasan tahun di bidang bisnis, baik sebagai pekerja maupun sebagai pengusaha. Dan saran yang inspiring ini sering saya berikan kepada mereka yang terlihat sangat sibuk namun kurang kelihatan hasilnya.

Semua dirangkum dalam empat kata yang sangat sederhana, sangat menukik, dan bisa anda terapkan hari ini juga. Apa itu? 4D.
- Dump it (buanglah).
- Defer it (tundalah).
- Delegate it (delegasikan).
- Do it (lakukan)

Dulu saya sering kecapekan dalam berbisnis karena tidak mau membuang sebagian aktivitas dan kurang berani mendelegasikan sebagian aktivitas. Saya tidak sadar bahwa waktu dan kemampuan saya terbatas. Saya pun sibuk sendiri. Akhirnya, hasil kerja saya kurang berdampak dan ujung-ujungnya rentan kegagalan.

Kemudian saya tercerahkan, saya hanya bisa BEING BIG kalau berhasil memformulakan 4D ini dengan pas dan pantas. Inilah yang saya terapkan dalam TK dan seminar. Sebaliknya, tanpa 4D, maaf, kita cuma terlihat sangat sibuk namun kurang kelihatan hasilnya. Kurang berdampak. Rentan kegagalan. Nah, saya berharap, anda mulai menerapkan hari ini juga.

--- dari Ippho Santosa

Emas, Reksadana, atau Properti?

Kepikir soal tabungan #umrah? Tabungan pendidikan? Sebenarnya terkait umrah dan pendidikan, daripada pakai ini-itu, akan lebih menguntungkan kalau pakai emas. Betul sekali, emas. Walaupun dalam jangka pendek nilai emas itu naik-turun, tapi dalam jangka panjang nilainya meningkat. Selalu meningkat.

Sebenarnya, mana sih yang lebih menguntungkan? Emas, reksadana, atau properti? Nggak bisa dijawab A atau B. Tergantung sikon keuangan masing-masing. Karenanya, saya menyarankan teman-teman untuk terlebih dahulu #investlah pada ilmunya. Terutama karyawan, belajarlah ilmu investasi, agar gaji nggak tergerus inflasi.

Siang ini, saya beserta tim memberikan training tentang emas dan reksadana syariah di Pejaten, Jakarta. Training ini, begitu diumumkan, langsung full. Alhamdulillah. Banyak follower yang minta agar training sejenis diadakan lagi. Berhubung jadwal saya cukup padat sampai April 2016, perlu dipikirkan alternatif solusi buat teman-teman. Mungkin berupa DVD atau berupa yang lain.

Sejatinya, emas bukan saja dianjurkan dalam Islam. Tapi juga diajarkan dalam Kristen dan Yahudi. Mata uang dari surga, sebut Robert Kiyosaki. Tak perlu berpikir jauh-jauh sampai ke Freeport, kita mulai saja dari diri kita. Rutin setiap bulannya puluhan ribu atau ratusan ribu rupiah, invest, insya Allah lama-lama hasilnya bisa berlimpah.

--- dari Ippho Santosa

Ilmu Uang

Ilmu uang, seberapa penting?

Kemarin untuk kesekian kalinya saya berseminar untuk 500-an leader ‪#Armina. Boleh dibilang, jumlah jamaah Armina adalah salah satu terbesar di dunia. Alhamdulillah selama ini Bu Guril (Direktur Utama) dan Pak Juli (Leader Terbesar) full support terhadap seminar dan training saya. Nah, kemarin itu saya bicara soal menghasilkan uang dan mengelola uang.

Sebelum Anda membaca tulisan ini lebih jauh, jawab dulu dua pertanyaan saya. Pertama, berapa tahun Anda belajar ilmu kimia dan ilmu fisika? Kedua, berapa jam Anda belajar ilmu uang? Think! Nggak semua orang ingin jadi ahli kimia dan ahli fisika, tapi nyatanya belajarnya bertahun-tahun. Sementara, semuaaaaa orang ingin punya uang, akan tetapi belajarnya jarang-jarang. Aneh kan? Banget.

Kalau memang ilmu kimia dan ilmu fisika itu penting, tentulah ilmu uang juga penting. Kalau nggak belajar, jangan heran kalau pada akhirnya kita keteteran soal uang. Ada yang bilang, ah ilmu uang itu nggak penting. Lha buktinya dia masih pengen. Artinya, yah memang penting. Saran saya, sisihkan waktu untuk belajar ilmu uang, kalau memang itu penting menurut Anda. Wong dulu saja Anda ber-tahun-tahun belajar ilmu kimia dan ilmu fisika. Li Kha Shing, salah satu orang terkaya di China, bahkan menyarankan kita rutin mentraktir orang kaya agar keciprat ilmu dan spirit-nya.

Soal ilmu uang, nggak perlu nyalah-nyalahin sekolah. Lebih baik Anda proaktif, berbuat sesuatu yang solutif. Akan lebih memberdayakan kalau teman-teman mau belajar ilmu bisnis, investasi, properti, reksadana, dan emas. Tak harus dengan saya. Dengan siapa saja, boleh. Dan sebenarnya, sejak awal agama mengajarkan calistung. Baca-tulis-hitung. Bukankah itu adalah ilmu dasar untuk kaya? Bukankah itu bagian penting dari ‪#‎MentalKaya? Learn, then you earn.

--- dari Ippho Santosa    

Victim dan Victor

Sabtu kemarin, leader dengan posisi Platinum di sebuah bisnis jaringan, memberikan testimoni di hadapan leader-leader lainnya "Training #7KeajaibanRezeki selama 2 hari, 3 tahun yang lalu, telah membawa perubahan besar bagi diri saya. Apa-apa yang diajarkan, langsung saya lakukan semuanya. Mulai dari berbakti, berbagi, dll."

Leader yang sangat menghargai leader-leader lainnya ini (walaupun crossline) menekankan tentang pemilihan sikap Victim dan Victor. Apa itu?

Begini. Sebagian orang, ketika masalah terjadi, ia bersikap sebagai korban (Victim), seolah-olah tidak berdaya, dan teraniaya. Bukan hanya itu, ia juga mengeluh dan menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan kata lain, ia tidak bertanggung-jawab atas keputusan yang telah ia ambil.

Namun sebagian orang bersikap sebagai pemenang (Victor/Victory). Dia tenang. Tak menyalahkan siapapun. Sebaliknya, ia bertanggung-jawab penuh atas keputusan yang telah ia ambil.

"Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang beroleh untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.

Terlihat jelas di sini. Keadaan sama, namun respons berbeda, tentulah hasilnya akan turut berbeda. Pasti. Makanya leader itu dan saya menganjurkan, demi hasil yang lebih baik, sebisa-bisanya kita hindari sikap sebagai Victim. Apalagi kita tahu bahwa mengeluh itu melemahkan otak dan tubuh! Apalagi kita tahu bahwa menyalahkan orang lain bukannya mengurangi masalah, melainkan hanya mengurangi teman!

--- dari Ippho Santosa

Keikhlasan

Pekerjaan terberat... Anda tahu, pekerjaan apakah itu?

Suatu hari, banner dengan wajah saya terpampang di sebuah masjid di Medan. Banner itu lumayan besar ukurannya. Melalui media sosial, publik pun langsung menghujat saya bahkan mengancam saya, sampai-sampai diberitakan di Yahoo! Heboh! Saya dituding tidak etis, karena dianggap jualan buku dan seminar di dalam masjid. Padahal demi Allah, banner itu terpampang TANPA izin saya, TANPA sepengetahuan saya.

Wong itu inisiatif dari pihak masjid sendiri dan sebuah lembaga sosial. Begitu tahu, saya langsung meminta pihak masjid untuk menurunkanbanner itu. Berhubung lembaga sosial terkait tidak meminta maaf kepada publik, maka ya sudah, saya saja yang melakukan. Minta maaf. Namun sebagian orang tidak terima. Sekitar seminggu, saya masih dicecar di media sosial. Dan terkadang, cecaran itu terlontar juga sampai sekarang.

Orang-orang di luar Medan tidak tahu bahwa acara saya di kota tersebut merupakan acara sosial dan saya tidak dibayar sama sekali. Menit-menit pertama, saya sempat kesal, “Kerja sosial, kok sampai begini ya?” Namun menit-menit berikutnya saya berpikir, “Yah, di sinilah keikhlasan kita diuji. Apakah kita masih mau melakukan kerja sosial setelah kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan seperti ini?” Alhamdulillah, saya memutuskan untuk tetap berbuat, sampai hari ini. Menurut saya, inilah training yang Allah turunkan untuk melatih keikhlasan saya.

Doakan saya. Doakan juga motivator yang lain. Karena meraih keikhlasan adalah pekerjaan terberat di dunia ini. Terutama kalau Anda sehari-hari masih bersentuhan dengan urusan-urusan dunia.

Semua Orang Bisa jadi Miliarder

Dalam beberapa kesempatan, saya pernah mengundang Fauzan Kalimilk dan Reza Maicih. Mereka ini berhasil menjadi miliarder di usia muda, padahal produknya 'cuma' susu sapi dan keripik. Bukan properti dan pertambangan, yang menjadi khayalan banyak orang. Makanya saya sering berpesan, "Tak perlu minder, semua orang bisa jadi miliarder."

Jangan minder, itu resep pertama. Resep selanjutnya? Mari perbaiki cara pandang kita terhadap orang kaya dan kekayaan. Jangan negatif. Saya melihat, banyak orang kaya yang ideal. Rumahtangga mereka oke, ibadah mereka oke, sedekah mereka oke, silaturahim mereka oke, dan lain-lain. Misalnya, Sandiaga Uno dan Heppy Trenggono.

Cuma, publik dan media biasanya menyorot yang sebaliknya. Publik dan media demen mengekspos si kaya yang korup, yang bercerai, yang ribut sama temannya, dan sebagainya. Ini repot. Sehingga persepsi kita buruk terhadap kekayaan. Mestinya, yah netral. Saya ulang, netral.

Setelah memperbaiki cara pandang, terus apa lagi? Resep berikutnya, belajarlah dari orang yang tepat. Jack Ma (Ali Baba), salah satu orang terkaya di Tiongkok, pernah berpetuah "Kalau Anda masih muda, yang terpenting adalah 'dengan siapa Anda bekerja' BUKAN 'di perusahaan mana Anda bekerja' karena dari orang yang tepat Anda akan belajar langsung tentang dream lagi passion."

Sambung Jack Ma "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Sekali lagi, agar Anda dapat belajar langsung dari orang yang tepat. Ini petuah yang sangat tajam dan menukik, menurut saya. Sebagian orang bangga karena telah bekerja di perusahaan multinasional. Padahal bukan itu yang utama. Orang yang tepat di mana Anda bisa belajar secara langsung, itu yang lebih utama.

Inilah tiga resep sederhana kalau Anda ingin menjadi miliarder di usia muda. Kapan-kapan kita sambung lagi.

--- by Ippho Santosa, you may read and share.

Friday, November 13, 2015

Pengasuhan Anak


Mendidik anak 7 tahun pertama, sedikit berbeda. Menurut Ali bin  Abi Thalib, perlakukan mereka seperti raja. Dalam arti, layani mereka dan senangkan hati mereka. Saat mereka berulah, baiknya orangtua menahan amarah, namun tetaplah membimbing mereka dengan tabah.

Kelak si anak akan mampu menahan emosinya karena begitulah contoh yang didapatnya. Membelai kepala anak dan mengusap punggung anak pun baiknya sering-sering dilakukan orangtua pada usia 7 tahun pertama anak.

Dampaknya? Kelak orangtua akan mendapatkan anak yang membelai dan menjaga orangtua dengan penuh kasih-sayang, karena begitulah contoh yang didapatnya.

Saat orangtua begitu cepat memenuhi panggilan anak, tanpa menunda-nunda, tanpa mengucapkan kata “nanti”, maka kelak orangtua pun akan beroleh anak yang begitu cepat memenuhi panggilan orangtua, karena begitulah contoh yang didapatnya.

Seperti itulah anak, mereka melakukan berdasar apa-apa yang mereka lihat. Kita berbuat, niscaya kita akan menerima hasil dari apa-apa yang kita perbuat. Dan itu pun berlaku dalam hal mendidik anak.


Sumber foto :
Father and Child Silhouette - Polyvore
www.polyvore.com

Antarkan Orang Lain Sukses

Ahad kemarin, saya berseminar untuk sebuah bisnis jaringan di Hotel Marriot. Alhamdulillah, sekian kali saya diundang oleh mereka, karena seminar saya dianggap berdampak terhadap pengembangan jaringan dan omset mereka.

Inilah salah satu poin yang saya bahas:
-       Ingin maju? Majukan orang lain.
-       Ingin kaya? Kayakan orang lain.
-       Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
-       Ingin mulia? Muliakan orang lain.
-       Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
-       Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.

Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk turut sukses.

Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali digedor dan diingatkan bahwa:
-       Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
-       Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
-       Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
-       Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
-       Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
-       Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.

Ini semua mestinya kita yakini sepenuh hati!

--- ditulis oleh Ippho Santosa

Golden time


Saat ini ibu saya tengah tur di China dan ini negara kesekian yang pernah ia kunjungi. Ia sudah berusia 70-an tahun. Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup.

Awet?

Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.

Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar mengajaibkan segala proses.

Hm, nggak percaya? Yah, Anda coba saja. #BangunAwal.

Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal.

Hm, berat?

Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah!

--- ditulis oleh Ippho Santosa


Sumber foto :
12 Stunning Silhouette Shots - Digital Photography School
digital-photography-school.com

Belajar Bersama Mentor


Anda tahu:
-       Siapa mentornya Soekarno?
-       Siapa mentornya Tan Malaka?
-       Siapa mentornya M. Natsir?

Ternyata orangnya yang sama. Siapakah orang hebat itu? Dialah HOS Tjokroaminoto, gurunya para pendiri bangsa, yang juga perintis Serikat Dagang Islam. Perihal HOS Tjokroaminoto sebagai mentor ini diingatkan kembali oleh Menteri Pendidikan Anies Baswedan, Senin yang lalu kepada saya dan 20-an undangan lainnya.

Mulai dari Nadiem Makarim (Pendiri Go-Jek), Arif Wibowo (Direktur Garuda Indonesia), Handry Satriago (Pemimpin GE Indonesia), sampai Prof. Firmansyah (Rektor Paramadina). Pak Menteri menggagas program ‘Belajar Bersama Mentor’ dan saya dipercaya menjadi salah satu mentor itu bersama 20-an tokoh lainnya untuk anak-anak Indonesia.

Langsung saja saya ‘menantang balik’ Pak Menteri, “Bagaimana kalau program sebagus ini kita tingkatkan cakupannya, Pak? Insya Allah saya siap mengajak 20 atau 30 mentor lainnya, di mana mereka punya nama, kemampuan, dan ketulusan. Mereka tak berharap nama, uang, dan kompensasi politik.”

Itu pula yang sebelumnya saya sampaikan kepada Prof. Dr. Ilza Mayuni, Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan di Kemendikbud. Sambil tersenyum Pak Menteri menjawab, “Baik Mas. Tapi, itu nanti. Sekarang kita rapikan dan buktikan dulu pada angkatan pertama ini. Setelah berhasil, kita akan tingkatkan semuanya dan bisa diduplikasi oleh semua sektor.”

Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril. Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara mencapainya.

Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajar. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajar, namun belum pernah mencapai. Kedua-duanya perlu. Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.

--- oleh Ippho Santosa


Sumber foto :
Emulating Others on the Way to Business Success - BusinessCollective
businesscollective.com

The Corporate Mystic

Pernah dengar The Corporate Mystic? 


Gay Hendrick, seorang profesor di Universitas Colorado dan Kate Ludeman, seorang doktor di bidang psikologi, menulis sebuah buku berjudul The Corporate Mystic, sebuah karya yang dihasilkan dari ribuan jam wawancara dengan ratusan eksekutif kelas dunia selama hampir 25 tahun.

Dalam bukunya mereka menyatakan, “Kemungkinan besar kita akan menemukan para spiritualis sejati di ruang rapat perusahaan-perusahaan besar, bukan di tempat-tempat ibadah. Para spiritualis ini mengamalkan nilai-nilai spiritual di perusahaannya,” kata mereka.

Selama 200 tahun, ilmu-ilmu dunia (utamanya fisika) hanya fokus pada benda-benda yang tampak. Mulai permulaan abad 20, banyak pertanyaan fisika Newton yang tak bisa terjawab dengan teori-teori yang ada. Itulah yang melahirkan sederet teori tentang quantum...

Kita sebagai manusia punya level-level energi seperti benda. Kehidupan adalah realita yang terbangun dari kumpulan nasib. Nasib itu terbangun dari karakter. Karakter itu terbangun dari kebiasaan. Dan kebiasaan adalah tindakan yang berulang. Lantas, apa yang ada di balik tindakan? Tidak tampak. Itulah pikiran kita, perasaan kita, dan spiritual kita...

Begitulah. Hal-hal yang tampak, berasal dari sesuatu yang tidak tampak...


Sumber foto :
Cat Silhouette Curtain stock photos
www.freeimages.com

Kerja adalah Ibadah

Ketika diundang in-seminar di perusahaan-perusahaan, inilah salah satu poin yang saya bahas. Kerja adalah ibadah. Ternyata, tidak semua kerja bernilai ibadah. Bukan mustahil, seseorang sibuk-sibuk bekerja, namun ternyata nilai ibadahnya sudah memuai dan menguap semua. Kok bisa?

Contohnya saja:

  1. Ia curi-curi waktu di kantor. Atau, badannya di kantor, tapi hati dan pikirannya di luar kantor
  2. Ia menjelek-jelekkan atasan dan rekan sekantor. Bahkan sering bergunjing tentang kantor.
  3. Ia tidak peduli dengan masalah-masalah kantor yang tidak berhubungan langsung dengan dirinya. Dengan alasan beda divisi dan beda KPI, ia enggan menolong rekan sekantor.
  4. Ia mementingkan office politic daripada office performance. Ia menjalankan ‘politik kotor’ di kantor.
  5. Tidak jarang ia membenarkan dirinya sendiri, menyalah-nyalahkan keadaan, bahkan oprotunis dari setiap keadaan di kantor.
  6. Masuknya nyuap, datangnya telat, pulangnya cepat, ngeluhnya tiap saat, kerjanya nyendat-nyendat, dan malasnya berlipat-lipat. Hm, masih ngaku kerja itu ibadah? Hehehe, kalau Anda tidak melakukannya, yah Anda tidak perlu tersinggung. 

Ingatlah, kerja hanya akan bernilai ibadah jika kita iringi dengan niat yang benar, sikap yang benar, dan cara yang benar. Bukan sekadar kerja. Demikian pula teman-teman yang masih belajar atau yang sudah berbisnis. Hendaknya semua kesibukan kita terhitung ibadah.

--- dari Ippho Santosa (Ada baiknya tulisan ini disebarkan untuk tim dan karyawan-karyawan Anda)

Investasi Sampingan

Bukan rahasia lagi, sebagian karyawan punya akun FB dan BB tersendiri yang nggak diketahui oleh boss-nya. Kenapa? Rupanya dia jualan di sana, hehe. Buat sampingan, katanya. Yang saya lihat, mereka ini kurang fokus dan kurang serius dengan kerja hariannya. Walhasil? Bisnis cuma sekadarnya. Kerja pun alakadarnya. Serba setengah-setengah.

Karena itulah saya selalu berpesan kepada direksi-direksi yang pernah saya temui. Daripada karyawan dibiarin jualan nyambi-nyambi dan nggak fokus, lebih baik mereka diajarin ilmu investasi yang tidak menganggu kerja harian mereka. Toh, UUD alias ujung-ujungnya duit. Itu kan yang mereka mau?

Begitulah. Bagi karyawan, disarankan untuk berinvestasi. Kecil-kecilan pun nggak masalah. Baiknya berinvestasi pada apa? Bisnis, properti, reksadana, atau emas? Baiknya investasi dulu pada ilmu. Biar paham apa yang di-invest dan apa konsekuensinya. Kalau nggak paham, ludes juga semuanya. Beneran, ludes.

Demikianlah, yang nggak berbisnis, memang sangat dianjurkan untuk berinvestasi. Gaji tanpa investasi, tentulah tergerus inflasi. Yang sering saya bikin in-house di perusahaan-perusahaan adalah training MPP alias #MasaPersiapanPensiun. Dan training semacam ini lebih baik diberikan awal-awal, agar efek compound dapat bekerja. Pun dapat dinikmati.

Adapun reksadana atau emas bisa dipraktekkan dengan modal ratusan ribu rupiah setiap bulannya. Kapan-kapan akan kita bahas bagaimana berinvestasi pada reksadana dan emas, yang bisa mencetak hasil puluhan juta, bahkan ratusan juta dengan ilmu compound.

--- ditulis oleh Ippho Santosa (semua tulisan kami boleh di-share, tak perlu izin)

Saturday, October 10, 2015

Karier Sukses Sang Introvert

5 Tips Sukses Berkarier untuk Mereka yang Introvert

Sebuah perusahaan memiliki beragam karyawan dengan bermacam-macam karakter. Karyawan yang ekstrover dan penuh percaya diri tentu tidak akan memiliki masalah dalam menapaki tangga kesuksesan karier. Namun, hal demikian tentu tidak terjadi pada karyawan yang introver, pendiam, dan cenderung tidak percaya diri.

Menurut Karen Elizaga, seorang pakar karier, mereka yang tergolong introver biasanya tidak memiliki kemampuan untuk leluasa berbincang dengan rekan kerja. Bahkan, mereka juga sulit memulai pembicaraan atau membina hubungan dengan sesama rekan kerja, tidak seperti mereka yang ekstrover.

Oleh sebab itu, Elizaga memberikan beberapa tips agar mereka yang introver juga mampu menapaki kesuksesan dalam karier. Simak lima tips yang disarankan dan bisa Anda coba berikut ini!


1. Cintai diri sendiri

"Apabila Anda mencintai diri sendiri, maka Anda dapat menciptakan kepercayaan diri yang secara langsung dapat dirasakan oleh orang lain. Katakan pada diri sendiri bahwa Anda juga merupakan sosok yang hebat, dan jadikan ini sebagai kekuatan Anda saat bekerja," ujar Elizaga, yang juga menulis buku berjudul Find Your Sweet Spot.


2. Ciptakan target kecil setiap hari

Heather Huhman, seorang pakar karier, menganjurkan Anda untuk menciptakan target yang dapat membantu Anda berinteraksi dengan orang lain dan membina hubungan baru. "Pada hari berikutnya, makan sianglah dengan tim Anda. Di sini, Anda dapat melatih komunikasi dan membangun jaringan. Semakin sering berlatih, Anda akan semakin nyaman dan percaya diri," imbuhnya.


3. Perbaiki postur tubuh

Menurut Elizaga, percaya atau tidak, berdiri dengan postur yang tegak akan meningkatkan pandangan orang lain tentang Anda. "Bahasa tubuh memainkan peranan penting tentang pendapat orang lain terhadap diri Anda. Kepercayaan diri tumbuh dari diri Anda," tutur Elizaga.


4. Jangan lupakan kontak mata

Elizaga menyarankan Anda untuk tidak menunduk atau memandang ke bawah hanya karena Anda tidak nyaman menatap mata orang lain. "Menunduk atau tidak memandang lawan bicara adalah tanda yang jelas bahwa Anda tidak percaya diri. Pastikan Anda memandang mata lawan bicara Anda. Jika Anda berada di dalam grup, pastikan memandang setiap lawan bicara," kata Elizaga.


5. Jangan bandingkan diri dengan orang lain

Membandingkan diri sendiri dengan rekan kerja Anda hanya akan membunuh rasa percaya diri. "Kalau Anda berlaku demikian, Anda hanya akan mengkhawatirkan orang lain ketimbang diri sendiri. Fokus pada progres dan kesuksesan diri sendiri. Jika Anda khawatir bahwa kinerja Anda tidak seimbang dengan rekan kerja, jangan ragu ungkapkan hal itu kepada atasan," tutur Huhman.



http://female.kompas.com/read/2015/07/14/130000120/5.Tips.Sukses.Berkarier.untuk.Mereka.yang.Introver

Kelebihan Introvert

Ini 5 Kelebihan Orang Tertutup

Ide-ide gila mendunia anehnya didapat ketika seseorang sedang sendirian. Ketika jiwa seseorang tenang dan sendiri itulah yang memicu ide-ide besar, ikonik, seperti Albert Einstein dan Isaac Newton lakukan.

Mereka lebih cenderung menyendiri, tertutup atau memiliki sifat introvert. Apakah Anda atau teman Anda juga suka menyendiri ? Berikut ini adalah 5 kelebihan orang introvert dilansir dari  laman Lifehack, Selasa (1/9/2015) :


1. Kreatif

Waktu sendirian memungkinkan kreativitas berkembang pesat. Kesendirian memungkinkan orang introvert fokus pada apa yang diinginkannya. Ada kala gangguan dapat membuyarkan inspirasi. Ide dan kreativitas muncul saat meluangkan waktu sendiri.


2. Mengenali diri sendiri

Kesendirian memberikan peluang untuk merefleksikan diri. Orang introvert tahu kalau mereka adalah unik, dan tidak perlu dibandingkan dengan siapa pun. Kesuksesan dapat diraih jika Anda tahu kelebihan dan kekurangan Anda, dan tahu apa yang diinginkan.


3. Mereka lebih fokus

Menurut sebuah penelitian, siswa yang belajar sendiri ternyata lebih baik dari pada siswa yang belajar kelompok. Penelitian tersebut menunjukkan ketika siswa menghabiskan waktu sendiri, konsentrasinya lebih meningkat. Konsentrasi yang lebih baik berpengaruh terhadap keberhasilan di sekolah, maupun bekerja.


4. Cepat memulihkan tenaga

Pikiran juga butuh istirahat. Sendirian dan tanpa gangguan, memungkinkan Anda menjernihkan pikiran. Tubuh Anda juga ikut menjadi relaks sehingga lebih cepat bugar dan bertenaga.


5. Mereka mampu membuat keputusan cerdas

Orang introvert dapat memikirkan keputusan yang lebih mendalam ketika sendirian. Dengan sendiri mereka menemukan jati dirinya, dan merencanakan jalan untuk mencapai cita-citanya.


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2304250/ini-5-kelebihan-orang-tertutup

Sukses Karena Yakin

Hari ini saya berseminar 7 Keajaiban Rezeki di Kendari untuk kedua kalinya. Berikut ini adalah salah satu poin yang saya bahas...

Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan-raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu...

Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha. Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu...

Banyak orang yang menonton petinju yang bertanding di atas ring. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, ada pula satu-dua orang yang memutuskan untuk jadi petinju dan bertanding di atas ring. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah penonton yang coba-coba jadi petinju tapi ragu-ragu...

Oleh karena itu, ambillah sebuah keputusan dengan yakin. Y-a-k-i-n. Itulah ciri seorang pemenang. Saat Anda ragu-ragu, sebenarnya Anda yakin untuk gagal. Wong sudah yakin saja masih gagal, apalagi kalau ragu-ragu?

--- dari Ippho Santosa

Berbagi Value

Kemarin adalah moment yang menyenangkan dalam hidup saya. Ada apa? Saya bertemu langsung dengan Philip Kotler, The Father of Modern Marketing…

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya pernah mengikuti teleconference-nya di Singapura. Dia adalah No.1 Living Legend di dunia marketing. Bayangkan saja, ketika saya kuliah marketing belasan tahun yang lalu, saya memakai buku Philip Kotler.

Demikian pula profesor-profesor saya, mereka mengaku dulu kuliahnya pakai buku Philip Kotler. Dan ternyata, mahasiswa-mahasiswa sekarang juga memakainya… Alhamdulillah, dengan izin-Nya, saya sempat menghadiahkan buku saya #SuccessProtocol kepadanya dan foto bareng…

Kemarin di ASEAN Marketing Summit di Ritz Carlton, Pacific Place, Philip Kotler menyinggung soal Uber, yang sempat diboikot di beberapa kota, termasuk Jakarta. Nyatanya, Uber mendapat pujian dari Philip Kotler. Menurutnya, Uber merupakan perusahaan yang mampu mengubah produk menjadi value. “Uber itu berbagi value," ujarnya.

Terus menurutnya, kehadiran Uber membantu banyak orang untuk menggunakan kendaraan roda empat, tanpa harus memilikinya. Sebab, banyak orang membeli mobil secara kredit, yang membuat roda kapitalisme terus berputar. "Saya hanya menggunakan mobil saya selama 2% dalam sehari. Mengapa tidak saya jadikan mobil saya itu berguna juga bagi orang lain?" ucap Philip Kotler.

Kesimpulan saya, fenomena Uber, Grab Bike dan Go-Jek adalah perintah kreativitas bagi seluruh marketer dan entrepreneur. Ketika persaingan semakin sengit, ketika harapan semakin melangit, ketika ekonomi semakin sulit, kita semua dituntut untuk semakin kreatif.

--- dari Ippho Santosa

Tuesday, October 6, 2015

Pergilah dari Rumahmu

Kemarin saya seminar #MudaKayaPenuhKarya bareng dua presenter Net TV, yaitu Deva Mahenra dan Adrian Maulana. Seminar yang seru! Yang satu berasal dari Sulawesi-Papua, satunya lagi berasal dari Sumatera. Merantau alias hijrah, adalah salah satu resep sukses mereka.

Di seminar yang bertempat di Gedung Telkom itu, selain membahas bisnis khas anak muda, saya juga mengupas merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu,

“Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu 
menghilangkan kejenuhan, 
mencari bekal hidup, 
mencari ilmu, 
mencari teman, 
dan belajar tatakrama.”

Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya di Mesir.

Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”

Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.

Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di Jakarta. Ibu saya, Minang. Ayah saya, Jogja. Istri saya, Samarinda. Jadi, saya orang mana? Yang jelas, saya orang baik-baik, hehehe. Pesan-Nya, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.

Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau.
--- dari Ippho Santosa

Kekuatan dan Kepositifan Pikiran

Tadi malam saya talkshow bareng Yeheskiel Zebua (Rocket Marketing) dan Frans Pranata (CFO Zalora) di RRI Pro-3 (rutin setiap Rabu jam 8 malam). Kekuatan dan kepositifan pikiran, inilah salah satu poin yang kami bahas.

Pernahkah Anda membayangkan, 1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif, relaks, dan fokus, ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka keteraturan (harmoni) di kota Anda.

Tak cukup sampai di situ. Pikiran dan niat dari sekelompok orang yang diselaraskan bahkan bisa membuat daun glowing dan mempengaruhi gerakan ikan.

Hm, apa iya?

Di sini saya tidak mendongeng. Ini adalah temuan Maharishi dan McTaggart. Menyimak temuan ini, maka kita pun semakin paham mengapa doa yang diselaraskan (kolektif) dalam sholat istisqa berjamaah dapat mengundang hujan di suatu kota. Termasuklah memohon hajat dan menolak bala.

Tak heran, mereka yang belum selaras dengan orang-orang di sekitarnya, teramat sulit untuk sukses dan bahagia. Penyelarasan pikiran, inilah hal mutlak bagi siapa saja yang mengidam-idamkan mapan finansial alias kuat finansial.

Amanah yang Grand dan Exclusive

Istri saya hamil anak ketiga, alhamdulillah. Sepertinya perempuan. Kami pun berusaha menyiapkan nama untuknya. Inisialnya M. Apa itu? Ntar deh diberitahu, hehehe. Itulah salah satu kelebihan manusia, bisa memberikan nama. Berbeda dengan malaikat. Tidak bisa memberikan nama. Ini beneran.

Malaikat juga tidak bisa menikah, menganalisa, berkreasi, sedekah, silaturahim, istighfar, membangun peradaban, dan lain-lain. Dengan segala kelebihannya, karena itulah manusia yang dipilih untuk menjadi wakil Allah di muka bumi, bukan malaikat. Properti di muka bumi pun, hanya boleh dikelola dan dibeli oleh manusia. Mana ada ceritanya, malaikat ngambil KPR. Hehehe.

Terlihat jelas di sini, betapa besarnya kepercayaan Allah kepada manusia. Bumi yang sedemikian luas dan penuh dinamika, ternyata hanya boleh dikelola oleh manusia. Besarnya kepercayaan ini hendaknya membuat kita semakin optimis dan semakin antusias. Nggak malas. Karena, yah nggak main-main. Ini amanah yang grand dan exclusive, langsung dari Allah.

Bayangkan saja, Anda diamanahi dan ditunjuk sebagai master franchise KFC se-Jakarta. Antusias nggak? Pasti antusias!

Kalau se-Indonesia? Lebih antusias!

Lha, amanah dari Allah untuk Anda bukan se-Jakarta atau se-Indonesia, melainkan seantero bumi!

Teramat besar!

Jangan sampai, amanah yang sedemikian besar, dijalankan dengan antusiasme yang begitu kecil! Nggak klop!

Ayo semangat!
--- dari Ippho Santosa

Wednesday, September 9, 2015

Pentingnya Penolakan

Pernah gagal? Pernah ditolak? Sama, saya juga pernah. Yang sebenarnya, kegagalan dan penolakan itu biasa. Malah ada baiknya juga. Gimana mungkin? Yah, mungkin saja.....

Menurut Sharon Kim, seorang peneliti dari Sekolah Bisnis John Hopkins Carey, Amerika, mereka yang mendapat penolakan sosial umumnya justru memperoleh keuntungan tersendiri, berupa pikiran yang lebih independen dan lebih intuitif.

“Tampaknya, penolakan mendorong mereka untuk berpikir lebih kreatif,” ujar Sharon Kim seperti yang dimuat di Journal of Experimental Psychology.....

Untuk menjadi pecundang sejati saja, Anda perlu bersungguh-sungguh, nggak bisa seketika. Yah, apalagi untuk menjadi pemenang sejati. Menariknya, action dan amal memiliki banyak persamaan. Ending-nya pun sama. Apakah itu? Sukses!

--- dari Ippho Santosa

Sang Dermawan

Ant-Man dan Iron-Man, sudah nonton kedua film itu? Nah, selain pahlawan (hero), ternyata mereka juga dermawan. Terbukti, mereka gemar sekali membantu sesama dengan tenaga dan harta.

Terlepas dari itu, menariknya, orang atheis saja percaya pada kekuatan sedekah. Menariknya lagi, bahkan para mafia dan yakuza juga percaya pada kekuatan sedekah. Lha, kalau kita tidak percaya, mungkin pola pikir kita lebih parah daripada pola pikir mafia dan yakuza!

Jika orang-orang yang tidak soleh saja mau bersedekah, coba tanyakan diri kita yang kadang merasa soleh: sudah rutinkah kita bersedekah?

Sejatinya, bersedekah, berterima-kasih, dan memaafkan itu manfaatnya untuk diri kita sendiri. Right? Rezeki membaik, kesehatan membaik, kerugian menjauh, bencana menjauh, dan lain-lain. Nggak perlu ditanyain lagi, itulah sederet manfaat bagi pelaku sedekah.

Dengan kata lain, pemurah itu mendekatkan kita pada berlimpah. Jadi, benarkah sedekah itu untuk orang-orang yang membutuhkan? Tidak sepenuhnya benar. Yang sebenarnya, kitalah yang lebih butuh untuk bersedekah.

(dari sahabatmu, Ippho Santosa)  

Ilmu ATM

ATM itu ampuh. Bener-bener ampuh. Maksudnya, Amati-Tiru-Modifikasi. Misal, bisnis orang lain yang terbukti dan teruji sukses, yah kita tiru saja.

Namun di sini bukan sekedar meniru. Perlu kreativitas juga. Iya tho? Di mana kita harus melakukan sedikit modifikasi agar sesuai dengan perusahaan kita (C1, Company), sesuai dengan selera pelanggan kita (C2, Customer), dan berbeda dengan pesaing kita (C3, Competitor).

Kisah sukses Uber, Go-Jek, dan Grab Bike menginspirasi entrepreneur-entrepreneur lokal untuk menjadi jagoan di kotanya masing-masing. Bahkan ada pula yang memodifikasi, sehingga hadirlah ojek syariah. Pizza murah, laundry murah (kiloan), dan umrah murah adalah modifikasi atas merek-merek besar.

Ibaratnya fasilitas copy paste di pengetikan, kita harus menambahkan editing-editing agar hasilnya lebih apik dan lebih menarik.

--- dari Ippho Santosa

Ibu Sang Milyarder

5 orang terkaya Indonesia, siapakah mereka? Dalam setahun, Forbes bisa menemukan sekitar 1.600 miliarder (dalam dollar) di dunia. Ini jumlah yang banyak dan ternyata belasan di antaranya berasal dari Indonesia.

Adapun 5 di antaranya, yaitu Budi Hartono, Michael Hartono, Chairul Tanjung, Sri Prakash, dan Peter Sondakh. Yang menarik adalah Chairul Tanjung, karena posisinya yang melompat tinggi dari tahun ke tahun. Salah satu resep suksesnya adalah ia sangat menyayangi, juga sangat membanggakan ibunya.

Di dunia ini, ibu adalah segalanya baginya. Dan ternyata orang terkaya di dunia, Bill Gates, juga pernah mengaku "Saya sangat sayang dan bangga sama ibu saya. Dialah yang selalu mengingatkan saya untuk berbuat lebih banyak demi orang lain."

Kembali terbukti, berbakti kepada orangtua terutama ibu adalah resep sukses sepanjang masa! Luar biasa!

--- dari Ippho Santosa

Investasi Terbaik

Investasi apa yang baik? Properti, reksadana, atau emas? Semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Makanya perlu ilmu.

Sekarang, kita ambil emas sebagai contoh. Gimana ilmu dan strateginya? Yah, macam-macam. Salah satunya, beli sedikit, lama-lama jadi bukit. Kalau tidak mampu membeli langsung dalam jumlah besar, maka pilihannya adalah beli sedikit demi sedikit sampai jumlahnya mencapai target yang kita inginkan.

Kuncinya, disiplin. Ini cocok sekali buat karyawan. Kalau gajian tanggal 4, maka tanggal 5 langsung beli emas. Sekitar 7% - 10% dari gaji. Beli, berapapun harganya. Jika belinya rutin, maka akan muncul cost rata-ratanya. Dan dalam jangka panjang nilai emas pastilah naik, insya Allah.

Walaupun dalam jangka pendek, nilainya naik-turun. Emas dalam bentuk koin dinar bisa lebih mudah dibeli sedikit-sedikit. Atau Logam Mulia yang juga bisa diperoleh dengan berlangganan dan memesan terlebih dahulu di toko emas yang besar.

Lantas, gimana dengan emas perhiasan? Silakan saja dimiliki sebagai perhiasan, tapi bukan sebagai investasi.

--- dari Ippho Santosa

Tuesday, September 1, 2015

Mental Switching

Tadi malam saya dan istri pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungan. Istri saya hamil 5,5 bulan, alhamdulillah. Sekian lama, kami belum mengetahui jenis kelamin sang bayi. Nah, tadi malam adalah moment di mana kami bisa mengetahui jenis kelamin sang bayi. Penasaran? Hm, itu sudah pasti.

Selama ini, saya dan istri berharap anak ketiga ini adalah laki-laki. Harapan ini kami bawa dalam doa dan sholat. Bukan apa-apa, karena dua anak kami sebelumnya adalah perempuan. Wajar-wajar saja tho, harapan kami? Kami pun telah mempersiapkan nama istimewa untuk anak yang kami asumsikan laki-laki ini. Benar-benar istimewa.

Sampai saya masuk ke ruangan dokter, saya masih berasumsi, sang bayi adalah laki-laki. Setelah sekian menit si dokter memeriksa istri saya, tahu-tahu dia berseru, "Perempuan nih!" Saya pun sedikit tersentak, karena berbeda dengan harapan dan bayangan saya sebelumnya.

Namun detik berikutnya, saya langsung bereaksi, "Alhamdulillah!" Kami lalu bertanya detail ke dokter tentang kondisi sang bayi. Bertanya ini-itu. Syukurlah, semuanya baik-baik saja. Normal insya Allah.

Apa yang membuat saya mental switching? Mengalihkan pikiran? Mensyukuri sesuatu yang berbeda dengan yang saya harapkan sebelumnya? Yah, hanya satu pemahaman saja. Saya memahami bahwa Tuhan-ku adalah My Best Planner. Dia telah menyiapkan rencana terbaik, yang pastinya lebih baik daripada rencana dan harapan saya.

Karena, yang sebenarnya, diberi sesuatu oleh-Nya, itu nikmat. Kalau pun tidak diberi, itu juga nikmat. Karena kita semua memahani bahwa Dia adalah The Best Planner, tahu persis apa yang lebih baik bahkan terbaik untuk kita.

Mohon doa dari teman-teman untuk saya dan keluarga saya...

--- ditulis oleh Ippho Santosa
Ini forum WA resmi dari Ippho Santosa.
Silakan save semuanya. Dan setiap tulisan di forum ini, boleh di-share ke manapun, ke siapapun.

Monday, August 31, 2015

Menerjang Badai untuk Itulah Kapal Dibuat

Ada yang bertanya. Sekiranya Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga? Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi, hehehe. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.

Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Berjuang.

Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi bukan untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Berjuang.

Kalau sekarang kita kembali beraktivitas (entah karier atau bisnis), mestinya kita bersyukur. Nggak mengeluh. Teman-teman yang ngantor, bersyukurlah. Miliaran manusia di luar sana tidak memiliki pekerjaan dan mendambakan pekerjaan. Apalagi kita tahu bahwa kerja itu ibadah.

--- dari Ippho Santosa

Di Balik Kebiasaan Membaca

Hal-hal super-positif, itulah yang tersimpan di balik kebiasaan membaca. Apa iya? Iya. Karena menurut berbagai penelitian, inilah manfaat membaca:

1. Melatih otak... Saat membaca, otak dituntut untuk berpikir ekstra, sehingga dapat membuat orang semakin cerdas. Tapi, bacanya yah harus rutin.

2. Meringankan stress... Keindahan bahasa dalam tulisan dapat menenangkan & mengurangi stress, apalagi bacanya sebelum tidur.

3. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer... Ketika membaca, otak dirangsang secara teratur & ini dapat mencegah berbagai gangguan pada otak.

Di grup WA ini, kita dilatih untuk membaca & mencerna secara silent (hening). Juga minim notification... Banyak anggota yang berharap bisa diskusi & tanya-jawab dengan kami. Japri. Tapi, mohon maaf sebesar-besarnya, belum bisa kami tanggapi. Sebagian mereka kecewa & memilih exit dari grup.

Yah kami belum bisa berbuat banyak. Soalnya, grup yang kami handle, ada puluhan. Ribuan anggota. Dan sekitar 4000 kontak masih mengantri, belum kami save... Yah, bagaimanapun tetap alhamdulillah...

Bisa menyisihkan waktu & sharing di grup secara rutin saja, ini sudah amazing bagi kami. Akhirnya, doakan agar tulisan-tulisan di grup ini semakin bernas & semakin bermanfaat...

--- dari Ippho Santosa

Tujuan Umrah

Ketika mendengar kabar bahwa saya insya Allah akan berumrah pada April 2016, beberapa orang menanyai saya tentang keutamaan umrah.

Begini. Kita sedekah Rp2,5juta saja, terasa balasannya. Dahsyat. Apalagi berumrah, di mana kita mengeluarkan uang Rp25juta bahkan lebih. Sampai-sampai mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga.

Bukan karena kaya, kita berumrah. Tapi, karena berumrah, insya Allah kita akan dikayakan. Ini sih bukan tujuan. Melainkan keutamaan & manfaatnya. Fadilah.

Saya pun turut mendoakan, semoga teman-teman semua bisa berumrah. Amin. Dengan pembimbing mana saja, dengan travel mana saja.


Sumber :
Whatsapp Group Ippho

Tantrum

Pernah melihat anak kita atau ponakan kita tiba-tiba menangis teriak-teriak, bahkan sampai memukul-mukul? Itulah TANTRUM.

Sebenarnya itu sih alami, namun tetap saja harus disikapi dengan cermat & tepat... Anak tantrum kadang mengesalkan. Jika anak tantrum dihadiahi cubitan atau bentakan, dia akan semakin melawan...

Anak tantrum kadang memalukan. Jika anak tantrum dihadiahi apa-apa yang ia inginkan, maka tangisan teriak-teriak akan menjadi senjata ampuh agar keinginan berikutnya dipenuhi... Lha, gimana baiknya?

Begini. Ketika anak tantrum mulai tenang, berikan dia pengertian bahwa kita bahkan orang lain tidak menyukai sikap yang barusan dia tunjukkan. Lalu?

Terus, bimbing dia bagaimana cara mengungkapkan sebuah keinginan. Hm, ada lagi? Doakan juga... Memang ini nggak mudah. Namun di situlah peran & tantangan kita sebagai orangtua. Semoga berhasil...

--- dari Ippho & Bunda Jumi

Saturday, August 29, 2015

Writing Coach

By: Edy Zaqeus

Salah satu menu provokasi dalam pelatihan-pelatihan menulis saya adalah menggerakkan orang untuk berani menuliskan pengalaman-pengalaman kehidupan yang berharga. Namun, ternyata bukan persoalan mudah menggedor sejumlah mental block dalam ranah kepenulisan. Masih banyak orang yang takut atau ragu menuliskan pengalaman sendiri. Keraguan itu bahkan hinggap dalam benak banyak orang yang telah sangat ahli dan memiliki jam terbang sangat tinggi di bidang masing-masing.

Berikut adalah kompilasi kultwit saya di akun @ezinstitute yang saya adakan tanggal 5 September lalu. Selamat membaca, semoga ada manfaatnya untuk menyemangati Anda menulis.

1 Ingin sedikit berbagi kesan setelah 2 September lalu memberikan pelatihan kepada para guru SLB di DKI.

2 Tdk bisa saya mungkiri, berbagi pengalaman dan pengetahuan dg para guru adl hal yg sangat menggairahkan. Sungguh!

3 Waktu itu saya bawakan materi Guru Dahsyat Guru Menulis. Saya tunjukkan contoh-contoh guru yang berkibar karena tulisannya.

4 Saya juga tunjukkan contoh-contoh public fugure yg minim pendidikan namun menanjak kariernya, salah satunya karena menulis.

5 Tampak rona kekaguman dari para guru SLB ini. Dan saya yakin mereka menjadi sangat bersemangat berlatih menulis waktu itu.

6 Terbukti dlm waktu sekitar 3 jam saja, mereka berhasil menuliskan 2 artikel pendek ttg bidang kerja atau pengalaman mengajar.

7 Buat para guru SLB yg selama ini mengaku sangat jarang menulis, kalau menulispun laporan sifatnya, hasil itu sdh pencapaian yg luar biasa.

8 Setelah selama tiga jam belajar, saya lihat cukup banyak yg roman mukanya spt kagum pd kemampuan diri sendiri. "Ternyata bisa!" :)

9 Ya, dlm forum itu saya tegaskan. Kl kita sdh menekuni satu bidang selama bertahun-tahun, apalagi puluhan tahun, wah itu luar biasa.

10 Luar biasa artinya kita punya otoritas penuh utk mengolah pengalaman kita tsb sbg bahan tulisan, dg atau tanpa teori.

11 Mengapa masih harus memusingkan teori atau takut menulis tanpa teori? Sementara hidup kita dipenuhi oleh ribuan pengalaman nyata?

12 Bukankah ribuan pengalaman yg kita alami selama puluhan tahun itu merupakan data yg semestinya bisa kita olah menjadi teori yg baru?

13 Bhw, teori model yg kita bahas ini memiliki kelemahan, memang iya. Namun, utk sebuah tulisan popular yg sifatnya sharing itu memadai.

14 Sebab, "teori" baru berdasar pengalaman kita itu sifatnya sharing pengalaman bukan klaim kebenaran sbgm diyakini itu ada di teori umumnya

15 Kalau sifatnya sharing pengalaman, pastilah di situ ada batasan-batasan, tidak ada klaim-klaim yg bisa digeneralisir, dan ada konteksnya.

16 Kalau sifatnya berbagi pengalaman, dari awal kita sdh sadar, tdk ada klaim kebenaran mutlak krn setiap pengalaman itu unik.

17 Kalau berbagi, orang punya pilihan utk mengikuti atau tidak, sesuai kebutuhan masing-masing.

18 Kalau berbagi, mau diambil seluruhnya dr "teori" kita itu boleh, diambil sebagian sesuai kecocokan juga boleh.

19 Sekali lagi, krn tidak ada klaim kebenaran dlm "teori" ala berbagi ini, maka semakin terbuka pula ruang kita utk berteori dg basis ttt.

20 Apa basisnya? Basis teori itu adalah pengalaman kita, hasil pengamatan di lapangan, hasil analisis atau simpulan logika kita, dll.

21 Apakah teori kita kuat? Balik lagi, kadar kekuatannya adl pd data2 kita sendiri. Semakin banyak pengalaman kita, makin berlimpah datanya

22 Ini pengalaman seorang sahabat hipnoterapis yg sharing ke saya ttg banyaknya kasus yg dia tangani dg menggunakan pendekatan ttt.

23 Hipnoterapis ini sgt kuat di metode dan penguasaan teori atas praktiknya. Namun dia mengaku, dlm praktik sehari-hari, ternyata

24 dia harus melakukan banyak modifikasi atau bahkan penciptaan teknik-teknik baru supaya terapinya berhasil.

25 Dg kata lain, kl hanya berkutat pd teori dan pendekatan klasik, text book thinking, kemungkinan besar byk kasus tak tertangani dg baik.

26 Kesadaran dlm memodifikasi teori, metode, pendekatan itu ada dn "terpaksa" dilakukan dlm praktik, dlm kehidupan riil sehari-hari.

27 Hasil dr modifikasi, penambahan, perbaikan, atau penyempurnaan itu, yg kadang bisa berbeda sekali dr teori lama, apakah tidak berharga?

28 Buat saya, pengalaman, hasil pengamatan yg jeli, penemuan di lapangan, dan metode baru yg efektif adl hal yg sangat2 berharga.

29 Baik itu ditemukan oleh sahabat hipnoterapis ini maupun guru-guru SLB yg berpuluh-puluh tahun mengabdi di profesinya.

30 Dlm penilaian sy, orang yg sdh menekuni bidangnya selama puluhan tahun, dn sangat mengenal dunianya, dia adl pakar yg sesungguhnya.

31 Selain pakar, mrk jg layak sekali disebut profesional di bidangnya. Mrk berhak diakui keahliannya krn jam terbang yg luar biasa.

32 Dan menurut saya, bobot mrk sgt sepadan atau bahkan bisa saja lebih dibanding misalnya para mahasiswa pasca-sarjana dg jurusan yg sama.

33 Sampai-sampai sy sering sharing ke para akademisi, bisa enggak para profesional yg menekuni bidangnya selama puluhan tahun itu

34 yg sangat ahli di bidangnya, serta menemukan banyak metode atau teknik baru, mendapat penghargaan sejajar dg para doktor misalnya?

35 Beberapa teman menyatakan itu sudah dilakukan di universitas-universitas di luar negeri. Di Indonesia? Sepertinya belum banyak.

36 Kembali ke soal penulisan, pertanyaannya, apakah temuan-temuan luar biasa para profesional tadi harus dibiarkan berlalu begitu saja?

37 Menurut saya, sayang sekali kalau temuan-temuan dan pengalaman berharga itu hanya tersimpan di kepala para pemiliknya.

38 Pengalaman itu harus dibagikan krn akan besar manfaatnya, baik melalui public speaking maupun dituliskan menjadi artikel atau buku.

39 Dan kepada para sahabat yg saya singgung di atas tadi, saya selalu menguatkan, jangan ragu utk menuliskan pengalaman Anda semua.

40 Merdekakan pikiran Anda supaya bisa menulis dengan baik, lancar, dan produktif.

41 Jangan takut dikritik, jangan takut dinilai, jangan takut dilabelin apapun, sebab secanggih apapun tulisan tetap saja ada yg mengkritik.

42 Jgn sampai ketakutan-ketakutan semacam itu akhirnya memupuskan banyak hal baik dlm proses menulis yg bisa Anda raih.

43 Sebab sesederhana apapun tulisan, apapun temanya, itu tetap memiliki arti positif, entah untuk pembaca ataupun penulisnya sendiri.

44 Jadi, jangan takut lagi menulis, jgn lagi meremehkan tulisan sendiri, dn jgn pernah merasa diri Anda tidak pantas menulis.


45 Semangat menulis, semangat berbagi, dan beri kesempatan setiap tulisan menemukan pembacanya sendiri. Semangat!

(edyzaqeus/ezinstitute.com)


Sumber :
Milis The Manager

Tips Presentasi yang Efektif;

Sering kali peserta kelas Public Speaking bertanya, “Mas, bagaimana cara agar persentasi kita efektif?”. Saya menduga, proses belajar berbicara di depan umum (Public Speaking) pernah mengantarkan Anda dan saya tiba pada pertanyaan yang sama.

Ngomong-ngomong, Apakah Anda tau? Mengapa persentasi yang efektif itu penting? Ya saya sangat yakin Anda mengetahuinya.

Yakni, supaya tujuan dan pesan yang kita ingin sampaikan diterima oleh audiens. Karena, hakekat sesungguhnya dari sebuah komunikasi kan pendengar memahami (pendengar mengalami dan melakukan sebagaimana yang diharapkan oleh sipembicara) maksud yang dikomunikasikan oleh pembicara. Baik verbal maupun nonverbal. ”

Lalu, bagaimana cara berbicara efektif dan public speaking? Menurut saya ada 3 cara agar hasil persentasi (Public Speaking) kita menjadi Efektif;


Pertama, To The Point

Bapak Tantowi Yahya saat mengajar tema Talk Effectively and Effeciently berkata, “Jika Anda dapat mengkomunikasi ide Anda dalam 8 kata, lantas buat apa Anda menyampaikannya dengan 20 kata?”.

Maksudnya, cara berbicara efektif adalah kemampuan kita menyampaikan hal penting dan wajib. Bahasa lainnya, persentasi efektif mengutarakan pokok-pokok bahasan dari tema yang kita inginkan.

Tapi bukan berarti, selain dari inti utama ide yang kita sampaikan menjadi tidak penting. Tidak, bukan itu maksud saya. Yang perlu kita garis bawahi di sini, di luar tujuan utama persentasi, cukuplah ia sebagai penguat saja. Tak ubahnya bumbu penyedap dalam makanan. Kebanyakan malah menjadi tidak enak.

Sama halnya saat berbicara di depan umum (Public Speaking), sampaikan poin apa saja yang penting. Sehingga langsung tepat sasaran. Jadi, inti dari langkah pertama adalah to the point.


Kedua, Short

Setelah berbicara langsung ke tujuan (to the point), selanjutnya pastikan kita menyampaikan idea dengan singkat dan jelas. Jangan pernah takut ceramah, orasi, persentasi dan konteks Public Speaking lainnya, jika singkat maka akan dikomplain atau membuat penonton kecewa.

Steven Keague, penulis buku The Little Red Handbook of Public Speaking and Presenting, mengingatkan kepada siswa-siswa workshop public speaking juga pembaca buku dan tips public speaking di blognya, "Belum pernah ada audiens yang komplain atau keberatan terhadap persentasi/ceramah yang disampaikan dengan durasi singkat".

Mau bukti? Baiklah, silakan Anda membaca sampai tuntas, di akhir tulisan, saya berjanji akan memberi contoh kepada Anda, bahwa pesan yang singkat hampir tidak pernah dikomplain.


Ketiga, Verbal

Langkah ketiga ini barangkali mejadi ruh dari kedua langkah sebelumnya. Karena, secara logika, pembicaraan yang langsung ke tujuan biasanya cenderung singkat kalimatnya. Kalimat yang singkat tercipta dari pilihan kata yang tepat.

Jadi, verbal di sini, tatkala kita mempersiapkan materi sebelum melakukan Pulic Speaking, Anda dan saya benar-benar memastikan padanan kata-katanya tidak mubazir. Singkat tapi tepat sasaran. 2 menit penampilan Public Speaking kita mampu menggantikan puluhan ribu kata yang semestinya disampaikan 2 jam.

Sehingga, esensi Public Speaking terjadi seperti pernyataan mendiang om John F Kenedy, Presiden Amerika, “Public Speaking is the art of diluting a two minute idea with a two-hours vocabulary”.


Pembaca yang berbahagia. Sekarang, seandainya Anda diminta untuk menyampaikan tips berbicara efektif dalam public speaking dalam waktu 3 menit. Menurut Anda, akankah pendengar komplain Anda menyampaikan 3 point kesimpulan di atas?

Oh ya, saya mempunyai hutang contoh pidato pendek hampir tidak pernah dikomplain. Baiklah saya akan memberitahu dan bisa jadi mengingatkan Anda kembali akan pidato tersingkat sepanjang sejarah manusia hingga saat ini;

“Never, Ever Give Up!” Wiston Churchil Perdana Menteri Ingris.

Ciganjur 4 April 2015


Rahmadsyah Mind-Therapist


Sumber :
Milis The Managers

Karier dan Lego


Lego adalah merek dari sebuah mainan bongkar pasang terbuat dari plastik yang mengasyikkan dan menantang, sekarang ini, bukan hanya bagi anak-anak tetapi juga para orang tua.Dengan begitu banyak jenis warna, bentuk, ukuran, dan model, segala jenis benda bisa dibentuk dari potongan plastik tersebut.

Ada dua prinsip kerja yang menarik dari bermain lego.

Pertama, memadumadankan potongan plastik mengikuti arahan gambar dari pabrik yang biasanya disertakan di dalam kemasan.
Kedua, membuat karya sendiri sesuka hati.

Mencermati bagaimana seorang anak dan anak yang lain mengutak-atik lego, kita juga dapat belajar soal pola pikir anak dan dimensi kreatifnya.

Anak-anak yang cenderung memiliki platform baku dalam pola pikir pada umumnya menghasilkan bentuk yang nyaris serupa dari waktu ke waktu. Dia tetap dapat disebut kreatif, namun dengan sedikit kemampuan kompilasi dan mplementasi. Anak yang mampu mereka ulang berbagai macam bentuk berbeda memiliki kemampuan menggagas dan merancang, serta mewujudkan gagasannya.

Bagaimana seorang anak dapat diajar untuk belajar teknik merancang dan mengkonsep?

Pandu anak untuk mengenali bentuk-bentuk dasar dan fungsi bentuk-bentuk dasar dari potongan lego. Dengan berlatih dan sering mengamati orang yang lebih ahli, anak akan terpancing mengembangkan daya kreasinya.

Hal sama terjadi pada manusia dalam proses memberi dan memandu arahan karir seseorang.

Memberikan ide atau saran karir adalah "sangat mudah" kalau kita sekedar memaparkan potensi dari sebuah lowongan kerja seperti proses  menjajakan "barang". Akan tetapi, karir tidaklah melulu bicara soal peluang pasar. Ada banyak hal lain di dalam proses karir, apalagi bilamana dikaitkan dengan faktor ambisi dan persaingan. Kemenangan sesaat di awal langkah karir belum tentu berdampak baik dalam jangka panjang. Ibarat olah raga lari, karir adalah sebuah marathon, bukan sprint.

Jadi, agar paparan soal potensi dan peluang pasar menjadi relevan dengan potensi dan peluang diri, maka pendamping karir (konselor karir) mau tidak mau harus bertemu dengan konseli. Seperti seorang anak yang sedang belajar mengenali bentuk-bentuk potongan plastik lego untuk mereka ulang bangunan, demikianlah seorang yang sedang memetakan masa depan karir atau profesinya diajak untuk melepaskan potongan-potongan dirinya.

Mengajak bicara konseli perihal dirinya sendiri, baik tentang kekecewaan dan kegagalan dia, harapan-harapannya, penghalang-penghalang yang pernah dia temui adalah proses mengenali balok-balok dasar penbentuk sukses karir atau balok-balok dasar penghalang sukses karir.

Beberapa dari konseli, sekalipun mengakui menyadari adanya balok-balok itu, ternyata tetap tak mampu memetakan potensi peluang dan potensi masalah.

Peran seorang konselor dalam pertukaran informasi itu adalah mengajak konseli agar dapat memaparkan sendiri peluang dan tantangan bagi dirinya dengan berbagai teknik bertanya dan empati.

Di titik ini, beberapa berhasil menemukan kunci-kunci solusi, beberapa belum mampu, dan bahkan bisa jadi tambah pusing atau semakin ragu.

Jangan berhenti bedialog, sebelum ada sedikitnya satu saja pengertian khusus yang ditangkap yang dapat dipaparkannya secara gamblang perihal bentuk dasar baru yang dia mengerti bahwa dia dapat melakukannya. Sekalipun itu belum tentu relevan dengan mimpi karirnya, tidak mengapa, karena pada waktunya nanti hal itu akan relevan.

Bilamana proses dialog harus dihentikan sementara, percakapan dapat dihentikan dengan kalimat, "Baiklah, tidak mengapa kita berhenti dulu di sini. Setidaknya kita sudah menemukan bahwa potongan-potongan gagasan, harapan, kekuatiran, kecemasan, sudah kita kenali. Kita akan bertemu lagi pada waktu yang baik dan mendapati bahwa sebagian dari potongan itu sudah kamu temukan relevansinya satu sama lain, sehingga kamu sendiri bisa memutuskan "penting atau tidak pentingnya" mempertahankan sesuatu yang berpotensi masalah padahal belum tentu akan terjadi.

Jadi,
Mengajar diri sendiri memetakan aktivitas ke depan untuk bangunan masa depan kita, sesungguhnya memang mirip dengan cara kerja bermain lego secara bebas. Bongkar dan pasang memadumadankan potongan plastik untuk membuat bentuk baru.

Setiap orang memiliki beban masalahnya sendiri. Belajar dari keberhasilan orang lain itu baik, namun belum tentu juga memastikan keberhasilan Anda. Belajar dari kesalahan dan kegagalan orang lain juga baik, supaya Anda tidak perlu mengikuti jejak gagal. Jadi, yang terpenting dari proses belajar seseorang dengan tumpukan masalah adalah "bukan melihat kepada kunci sukses orang lain" akan tetapi, belajar untuk mampu melihat "potongan2 masalah dirinya secara obyektif dan realistis" untuk melihatnya dalam perspektif yang berbeda.

Intinya:
1. Tidak semua masalah itu penting.
2. Tidak semua hal yang berpotensi masalah itu penting.
3. Tidak berarti bahwa masalah atau potensi masalah itu harus diabaikan.
4. Pemahaman akan masalah dan potensi masalah menuntun kita agar dapat melangkah secara lebih berhikmat dalam memutuskan.

Karena masalah-masalah dalam karir itu sebetulnya sesuatu yang kompleks dari kumpulan masalah sederhana, maka yang seharusnya dilakukan hanyalah memisahkan masalah-masalah sederhana itu satu per satu dan mengesampingkan hal-hal yang tidak relevan dan tidak penting, sehingga dapat fokus kepada kunci-kunci yang sudah ada di dalam diri Anda sendiri.

Jadi, apa hubungannya dengan lego?

Temukan keindahan dari setiap potongan masalah kehidupan Anda hari ini: apa bentukan dasar masalah dan potensi masalah, yang dalam format pola pikir rekonstruksi ulang seperti lego, justru akan mengantar kita kepada potongan dasar terobosan dalam berkreasi.

Temukanlah dan nikmatilah hidup Anda!

Selamat beraktivitas!


Sifra Susi Langi
President Indonesia Career Center 2014 - 2019


Sumber :
Milis The Manager

Percaya Diri saat Public Speaking

3 Cara Meningkatkan Percaya Diri Saat Public Speaking

Pengalaman saya dari awal tahun 2011 sampai dengan sekarang mengajar kelas Public Speaking di Tantowi Yahya Public Speaking Shcool. Rasanya hampir tidak pernah menemui peserta tanpa dihantui oleh ketakutan tampil di depan umum. Ketakutan yang muncul beragam bentuk. Apa saja hal yang ditakutkan peserta dan mengapa hal itu terjadi?

Sementara pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan tips kepada Anda, bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri Anda dalam konteks public speaking? Entah persentasi bisnis, rapat rutin mingguan, persentasi proposal skripsi, kata sambutan, dan hal lainnya.

Apa saja 3 cara ini?

Pertama, Perdalam ilmu pengetahuan public speaking Anda.

Maksudnya, perbanyak baca buku, artikel, majalah dan segala informasi tertulis tentang public speaking. Seperti catatan yang Anda baca saat ini. Bila perlu seat in kembali ke kelas workshop public speaking di tempat Anda ikut.

Sering-sering komunikasi dengan mentor / trainer public speaking. Tidak perlu sungkan dan ragu untuk bertanya kepada mereka. Baik saat Anda mau tampil, mendapat kendala teknis tatkala acara Anda berlangsung dan kesempatan lainnya.


Kedua, Tingkatkan keterampilan (skill Public Speaking) Anda.

Sampai hari ini saya masih teringat rekan mengajar di TYPSS mbak Feni Rose (Presenter). Dia mengingatkan kepada peserta, “Bapak ibu, di property itu ada hukum 3 L menentukan lahan dan bangunan tersebut cepat laku atau tidak. Yaitu, Lokasi, Lokasi dan Lokasi”. Mbak Feni berkata sambil memvisualkan dengan jari tangannya. Yang telujuk vertikal dan ibu jari horizontal.

Kemudian beliau melanjutkan, “Sama halnya dengan Public Speaking, skill Anda akan semakin terus melejit syaratnya 3 L juga. Apa itu? Latihan, latihan dan Latihan”. Sekarang sambil mendekatkan visual tanganya ke jidat sebagai asumsi agar masuk ke otak.

Nah, barangkali sekarang Anda bertanya-tanya di dalam diri Anda, “Bagaimana cara melatih keterampilan public speaking? Saya kan jarang mengajar mas? Saya sedikit kesempatan untuk tampil?”. Apakah seperti itu?

Ingat, public speaking adalah bagian khsusus dari ilmu komunikasi. Sebagaimana telah Anda ketahui, saya dan Anda setiap hari berkomunikasi. Entah dengan cara verbal maupun nonverbal.

Oleh karena itu, praktekkan ekspresi saat Anda berkomunikasi sehari-hari. Gunakan bahasa tubuh Anda menguatkan apa yang Anda sampaikan. Latih olah vokal Anda. Kapan perlu berbicara cepat, lambat, tinggi, rendah dan menjaga tempo Anda.


Terakhir, Perbanyak Jam Terbang Anda.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ya benar. Pengalaman tampil akan menjadi guru terbaik bagi Anda dan saya tatkala kita menyadari setiap kesempatan berbicara. Apalagi jika kita melakukan dengan kemampuan terbaik yang kita miliki pada tiap momen yang ada. Lalu mengevaluasi dan memperbaiki atau meningkatkan di kesempatan selanjutnya.

Namun hati-hati. Dia juga menjadi penganggu terhebat. Apabila saat berbicara di depan umum hanya sekedar bicara saja. Oleh sebab itu, ambil kesempatan. Gunakan peluang untuk meningkatkan keterampilan dan jam terbang Anda.

Lalu bagaimana kalau Anda sedikit memiliki kesempatan berbicara di depan umum? Bila demikian keadaannya, maka mulailah membuat kesempatan bicara itu datang. Caranya?

Cari tempat yang memadai, lalu undang orang datang untuk mendengarkan ide Anda. Inilah yang saya lakukan dulu saat masih kuliah. Saya melobi pihak kampus agar bisa memakai ruang kelas secara gratis selama 3 jam. Lalu saya tulis undangan seminar menggunakan aplikasi pada office. Saya print, saya foto kopi dan saya sebarkan sendiri. (He...he..he...).

Bisa juga, mulai sekarang Anda mencari tau informasi tentang komunitas sharing idea. Seperti kelas berbagi atau toasmaster. Atau kalau perlu, ajak teman-teman yang sama-sama ingin meningkatkan kompetensi public speaking seperti Anda.  Lalu buat forum sendiri.


Semoga bermanfaat.


Rahmadsyah Mind-Therapist
Trainer Public Speaking and Life Coach
rahmadnlp@gmail.com


Sumber :
Milis The Manager

Cara Tampil Berbicara Maksimal

Bagaimana Cara Agar Tetap Tampil Berbicara Maksimal Meskipun Durasi Anda  Berkurang?

By; Rahmadsyah

Saya yakin, Hampir semua pembicara pernah mengalami yang namanya, berkurangnya waktu untuk tampil berbicara (#PublicSpeaking). Entah karena gangguan teknis di luar kendali pembicara dan panitia (seperti mati lampu, mic tiba-tiba tidak menyala dan hal lainnya). Atau karena faktor formalitas (misalnya, waktu diundur lantaran menunggu peserta datang atau karena menanti orang-orang tertentu yang dituakan dan dihormati).

Padahal, sebagai pembicara kita sudah menyiapkan materi yang akan kita sampaikan. Kita sudah berlatih agar pesan tersampaikan dengan baik sesuai waktu yang dialokasi buat kita berbicara.

Akan tetapi, pada hari pelaksanaan tiba. Kita mendapat kabar dan kenyataan, bahwa waktu kita berbicara berubah tiba-tiba. Yang awalnya 2 jam, sekarang kita hanya punya kesempatan bicara 60 menit. Bahkan lebih ekstrim, ada juga yang berubah mejadi 30 menit. Kejadian ini pernah saya alami saat mengisi motivasi untuk sebuah bank di Puncak.

Lalu, apa yang mesti Anda lakukan bila Anda mengalami hal seperti yang saya ceritakan di atas?

Pertama, Tetap tampil percaya diri.

Yakinkan diri Anda bahwa dengan waktu yang tersedia Anda tetap dapat tampil sempurna dan maksimal. Tidak perlu menyampaikan bahwa waktu berbicara telah berkurang. “Para hadirin, padahal saya sudah menyiapkan materi penting ini untuk 2 jam ke depan. Tapi waktu yang tersedia bagi saya tinggal 1jam...”.

Kenapa hal ini tidak perlu Anda sampaikan? Karena, sudah maklum dalam Public Speaking, audiens tidak mau tau apa yang terjadi kepada pembicara. Di kepala mereka hanya ada, “Apa manfaat bagi saya dari pembicaraan Anda?”.

Selain itu, mengkomunikasikan jatah bicara Anda berkurang, secara implisit Anda menginginkan pemakluman bila hasil presentasi Anda kurang maksimal. Dalam benak Anda berkata, “Wajar kalau presentasi saya kurang maksimal karena waktu saya bicara telah berkurang”.

Alih-alih memberitahukan audiens akan durasi, lebih baik Anda membuka Public Speaking dengan, “Hadirin sekalian, dalam waktu 1 jam ke depan, saya pastikan Anda mengetahui cara tampil berbicara di depan umum dengan Percaya Diri, Sistematis dan Penuh Meyakinkan ...”

Percayalah, pernyataan pembuka ceramah Anda di atas menguatkan bahwa Anda seorang permbciara yang profesional.


Kedua, Fokus pada tujuan dan prioritas.

Mulai penjelasan tentang topik yang Anda sampaikan dengan mengurutkan dari hal yang terpenting dan kurang penting. Di kelas pelatihan Public Speaking saya biasanya menyampaikan kepada audiens, “Fokus pada yang wajib baru kemudian sampaikan yang sunah”.

Tapi ingat, bukan berarti lantaran fokus pada tujuan dan prioritas Anda mengabaikan yang sunnah. Tetap sampaikan yang sunnah sebagai bumbu penyedap (penguat) topik yang Anda sampaikan.


Ketiga, Bagi isi pembicaraan Anda menjadi 3 bagian; masalah, solusi dan pengalaman Anda.

Sampaikan letak permasalahan, tantangan atau kendala serta dampak dari masalah tersebut. Sehingga menjadi alasan pentingnya audiens menyimak presentasi Anda. Kemudian, jangan lupa persembahkan solusi termudah dan masuk akal bagi audiens mempraktekkannya.


Terakhir, bungkus dengan cerita pengalaman nyata Anda mengamalkan solusi yang Anda sampaikan. Ceritakan apa kendala yang Anda hadapi? bagaimana menyelesaikannya? Dan apa dampak (manfaatnya) bagi Anda saat ini. Kisah Anda akan menerangkan dengan jelas maksud inti public speaking Anda.

Bahkan, kisah Anda menjadi penguat bagi ingatan audiens. Bagaikan menulis catatan di word lalu menyimpan artikel tersebut dengan nama file unik pada folder khusus. Sehingga mudah mengaksesnya kembali.


Oh ya, satu hal lagi. Sebelum Anda meninggalkan panggung. Tampilkan dengan jelas alamat email dan no HP Anda di slide Anda atau tulis di flipchart. Sampaikan bahwa Anda siap melayani pertanyaan seputar topik yang Anda sampaikan.

“Bapak ibu yang berbahagia, Steve Jobs pernah berkata, “Keep foolish”. Yang artinya selalu merasa diri belum tau dan masih bodoh. Sehingga haus untuk terus ingin belajar lagi dan lagi. Saya yakin Anda semua adalah orang-orang yang terus mau menginkatkan keterampilan dan komptensi Anda.

Oleh sebab itu, jika Anda ingin bertanya dan berdiskusi lebih lanjut tentang tema yang saya sampaikan tadi (#PersuasivePublicSpeaking), silakan Anda mengirim email ke rahmadnlp@gmail.com atau hubungi saya di 0815.11.44.8147.

Terima kasih, sukses untuk Anda dan kita semua. Saya Rahmadsyah, Assalamu’alaikum wr.wb”.

Selamat praktek dan semoga bermanfaat.

Ciganjur, 29 Juni 2015​


Rahmadsyah Mind-Therapist
Trainer Public Speaking and Life Coach

rahmadnlp@gmail.com


Sumber :
Milis The Managers

Mengatur Diri

"MENGATUR UANG = MENGATUR DIRI"

Banyak orang berkata mengatur uang itu susah. Banyak yang sempat berseloroh bahwa mereka sampai pontang panting berpikir dan bertindak utk mengatur uang, namun kerapkali gagal.

Mengapa?

Apakah kesulitan mengatur uang itu baru terjadi sekarang?
Apakah kesukaran mengatur uang itu terjadi secara tiba-tiba?

Atau Kesukaran tsb sudah terjadi berulang kali dan sudah dialami cukup lama, serta dapat di-perkirakan?

-----

Ambil contoh:

Membiayai liburan sukar? Benarkah?
Apakah hari libur datang secara tiba2?

-----

Contoh lain:

Membayar uang pangkal sekolah anak. Apakah anak kita tiba-tiba besar dan lulus ujian tanpa dpt diprediksi? Apakah kita tdk bisa menghitung kalendar dan mengetahui jadwal anak kita lulus SD, SMP & SMA?

-----

Saya percaya semua kesukaran dalam mengatur uang itu terjadi secara eskalasi dan tercipta secara gradual melalui proses dan waktu, di mana kita berperan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi.

Namun seringkali kita tdk mau dipersalahkan atas kejadian ini dan lalu menunjuk orang lain yang bersalah, termasuk menunjuk pasangan kita, perusahaan kita, negara dan pemerintah.

-----

Pahamilah kesukaran itu tercipta secara perlahan dan kita sendiri yang menciptakannya. Selayaknya kita menyadari sejak dini, lalu mulai merencanakan dan bertindak sesuai dgn rencana.

Mengatur uang itu adalah mengatur diri dalam membelanjakan uang ke dalam berbagai bentuk kebutuhan dan keinginan hari esok dan hari ini.

-----

Bila kita tdk disiplin dalam membelanjakan uang secara rutin setiap bulan, maka jangan heran kita akan mengalami kesukaran di tahun-tahun mendatang.

Oleh sebab itu mulailah sejak sekarang mengatur diri dan disiplin membelanjakan uang kita ke dalam berbagai bentuk barang yang produktif dan appresiatif serta konstruktif.

-----

Saya percaya tidak ada yang sukar bila kita mau berupaya.


Salam,
Andreas Freddy Pieloor
Konselor Keuangan dan Keluarga


Sumber :
Milis The Managers

Me-Focus Vs You-Focus

Tips Public Speaking

Teknik “Me-Focus” Vs “You-Focus” ini akan lebih cocok jika Anda mempraktekan saat presntasi bisnis. Presentasi bisnis yang saya maksud ada dua. Pertama, kita melakukan presentasi karena diundang ke perusahaan (tempat klien). Anda dan saya bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai tamu.

Sementara yang kedua, kita melakukan presentasi di mana para audiens hadir atas undangan yang telah kita kirimkan kepada mereka. Entah pelaksanaannya di kantor (tempat kita sendiri), atau kita menyewa tempat tertentu. Semisal hotel, restoran atau ruang pertemuan lainnya. Jadi, di sini kitalah sebagai tuan rumahnya.


Apa itu Teknik Opening; Me-Focus Vs You-Focus.

Sebagaimana kita ketahui bersama. Saat kita membuat perencanaan melakukan Public Speaking, tentu kita menyusun langkah awal yang namanya pembukaan. Ragam cara teknik pembukaan public speaking. Seperti quote, pertanyaan atau cerita.

Sementara teknik Opening; Me-Focus dan You – Focus adalah, tatkala kita memulai perkataan sebagai awal pembicaraan kita, apa dan siapa lebih kita fokus yang menjadi topik pembahasannya. Bahasa lainnya, siapa yang lebih kita utamakan dan kita pentingkan. Apakah kita & organisasi, atau audiens dengan lembaganya?


Contoh Me-Focus.

Assalamu’alaikum wr.wb

Bapak dan ibu yang berbahagia. Perkenalkan saya Rahmadsyah, Training manager dari Public Speaking Institute. Selama 20 menit ke depan saya akan menyampaikan maksud kehadiran kami di sini, sebagaimana pembicaraan sebelumnya lewat telf dan email dengan bapak Yasmin.

Public Speaking Institute telah berdiri dari tahun 2005. Kantor cabang perwakilan kami sudah ada di Singapore, Malaysia, Medan, Makasar, Surabaya, dan Jakarta.

Public Speaking Institute hadir menjawab tantangan berdasarkan hasil survey Berhad Bicara Shd terhadap pimpinan dan karyawan di perusahaan terkemuka seperti Macrosofot, Arunia, Exsoon mobile dan beberapa perusahaan lainnya seperti yang kami tampilkan di slide ini.

Ternyata, dari 1000 koresponden yang menjabat sebagai pimpinan, 75,8% mengakui kendala takut (nervous) saat tampil di depan. Kemudian 5000 koresponden sebagai staff, 73% menyatakan sulit menjalankan intruksi pimpinan karena arahan (penyampaian) yang kurang jelas dan tidak sistematis.

Oleh sebab itulah, Public Speaking Institute memiliki Visi, Semua orang bisa berbicara di depan umum dengan percaya diri dan sistematis. Misi kami menyelenggarakan pelatihan baik in house training maupun publik. Mengeluarkan buletin Speak and be Rich. Serta, membuat klub public speaking sebagai latihan bersama. Baik buat alumni maupun umum.

Jasa kami bergerak di bidang pelatihan publik, inhouse dan private. Pelatihan publik rutin kami lakukan bulanan di beberapa kota. Sementara in house training, biasanya kami mendesain materi dan pelatihan bersadarkan kebutuhan persusahaan atau organisasi inginkan. Sementara private biasanya kami layani buat orang khusus tertentu, seperti top management, public figure atau pejabat daerah.

Dari tahun 2005 sampai sekarang, alhamdulillah kami telah di percaya oleh (slide ditampilkan nama lembaga yang telah berkerja sama). Bahkan  untuk program pelatihan calon manager baru, ada perusahaan mewajibkan program public speaking salah satu keterampilan yang harus calon manager miliki. Dan kami dipercaya untuk hal itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh bapak DR. Ainal Yaqin, M.Eng dirut Macrosofot . “Saya sangat puas hasil pelatihan yang dilakukan oleh Public Speaking Instiute, sehingga saya meminta seluruh manager mendapatkan pelatihan ini bersama Public Speaking Institute”.

Dan 3 bulan yang lalu, menurut majasah ASW, Public Speaking Institute merupakan provider training no 1 yang paling di cari untuk program pelatihan komunikasi dan public speaking di Indonesia.

Selanjutnya kami jelaskan tentang program public speaking di tempat kami......”


Pembaca yang budiman, perhatikan! cara pembukaan di atas fokus pembicaraannya adalah saya (orgranisasi). Kemudian baru menceritakan program / jasanya. Ini yang saya maksud dengan “Me – Focus”.

Sementara, “You-Focus” adalah kebalikannya.


Contoh “You-Focus”.

“Assalamu’alaikum wr.wb

Bapak-ibu yang berbahagia, Saya Rahmadsyah, Training Manager dari Public Speaking Institute. Kami mengucapkan terima kasih atas kerelaan Anda meluangkan waktu menghadiri undangan kami di sini. Oleh karena itu, saya berjanji, selesai pertemuan ini Anda pulang membawa informasi yang berharga bagi Anda.

Selama 30 menit ke depan, Anda akan tau tentang;

Mengapa public speaking penting? Apa pengaruhnya bagi karir dan finansial Anda?
Menurut survey Berhad Bicara Shd, 75,8 % para pimpinan mengalami kecemasaan saat tampil berbicara di depan. Pada kesempatan ini, saya akan beritahu Anda bagaimana cara agar Anda dapat mengatasinya sehingga Anda bisa tampil dengan rilek dan tenang saat public speaking.

Bagaimana cara agar yang Anda sampaikan, seperti intruksi atau arahan, dimengerti dan difahami oleh tim Anda? Bahkan pesan Anda terus teringat dalam pikiran mereka.

Bagaimana cara menampilkan karisma Anda saat Anda tampil di depan.
Terakhir, Anda tau langkah-langkah praktis, sederhana dan mudah Anda lakukan untuk mengatasi segala persoalan dan masalah yang menghalangi Anda tampil prima dan memukau audiens saat public speaking.

Sebelum saya menjelaskan 5 hal ini, izinkan saya mengenalkan Public Speaking Institute kepada hadirin sekalian, siapa kami dan apa yang kami lakukan untuk keberhasilan Anda dan bisnis Anda.

Public speaking institute telah berdiri.....”


Sampai di sini saya yakin, sekarang Anda tau, apa perbedaan antara opening “Me-Focus” dengan “You-Focus”. Ya, perbedaannya terletak pada fokus pembukaan presentasi kita. apakah fokusnya lebih ke diri kita sebagai presenter atau untuk kepentingan dan manfaat yang akan didapatkan oleh pendengar terlebih dahulu.

Lalu, kapan kita menggunakan opening “Me-Focus” dan “You-Focus”.

Menurut saya, ingat, menurut saya. Jawaban kapan menggunakan Me-Focus dan You-Focus erat kaitannya dengan pejelasan dua katagori Bisnis presentasi di atas. Kita menggunakan metode Me-Focus pada konteks bisnis presentasi pertama. Di mana kita datang ke klien, yang baru terjalin komunikasi perkenalan lewat telf atau email. Klien belum tau siapa kita? Apa kredibilitas dan kompenetsi yang kita miliki.

Sementara You-Focus pada katagori bisnis presentasi ke dua. Meskipun orang yang kita undang belum kenal dan tau apa jasa dan bagaimana kita melayani mereka. Akan tetapi di awal kita memberikan janji, di mana janji itu benar-benar mereka dapatkan informasinya.


Oleh :
Rahmadsyah Mind-Therapist
rahmadnlp@gmail.com


Sumber :
Milis : The Managers

Bisnis Anda sudah On Track?

Memiliki Bisnis Vs Membangun Bisnis

Beberapa waktu yang lalu saya pernah dimintakan pendapat oleh salah seorang pemilik bisnis mengenai banyak hasil survey yang mengatakan bahwa lebih dari 90% Bisnis tidak bisa survive dalam lima tahun pertama. Hasil survey tersebut memang banyak yag mempublikasikannya, walaupun saya juga tidak yakin lembaga mana yang benar-benar melakukan survey tersebut, dan bagaimana metode penelitiannya.

Dalam hal ini si pemilik bisnis tadi mengatakan bahwa sepertinya angka  tersebut terlalu berlebihan, bahwa sebetulnya bisnis bisa saja tetap berjalan, namun yang membedakan, adalah apakah bisnis tersebut bisa berkembang atau tidak.

Diskusi tersebut saya kira cukup menarik, karena si Pemilik bisnis,  yang kebetulan berbisnis barang-barang kelontongan Rumah tangga dan sudah berjalan sekitar 4 tahun merasa bahwa yang banyak orang katakan bahwa berbisnis dan berwirausaha itu sulit namun nyatanya bagi dia tidak terlalu sulit, dan dia berargumen terbukti bisnisnya masih baik-baik saja, dari semenjak buka sampai dengan saat ini masih cukup bisa menghasilkan profit, bahkan cenderung cukup berkembang. terbukti dari luas Tokonya yang saat ini bisa hampir dua kali lipat dari luas sebelumnya.

Pemilik Bisnis ini memang cukup beruntung, kenapa? karena Tokonya berada di wilayah perumahan yang baru berkembang dan ketika pertama kali Tokonya di buka wilayah trsebut masih sepi dan relatif belum ada pesaing, dengan kapital yang cukup mumpuni di kelasnya, sangat mudah baginya untuk bisa bertahan di bisnisnya sampai saat ini.

Kali ini kita tidak akan membahas banyak hal mengenai bisnis si Juragan Kelontong tadi, tapi saya lebih tertarik untuk sharing kepada Anda mengenai hasil riset di awal tulisan saya tadi, kenapa ada orang yang bisa survive dan tidak dalam bisnisnya.

Lepas dari benar atau tidaknya hasil riset tadi, ada hal yang lebih penting yang sebetulnya para pemilik bisnis wajib untuk ketahui. Yaitu perbedaan antara Memiliki bisnis dan Membangun bisnis. Banyak orang menjadi tidak survive bisnisnya dikarenakan fokusnya hanya memiliki bisnis bukan membangun bisnis. Banyak orang ,merasa dirinya sedang membangun bisnis, tetapi justru sebetulnya mereka masih dalam kondisi memiliki bisnis. Kedua hal tersebut benar-benar hal yang berbeda.

Bagi Anda para pemilik bisnis yang mau lebih “ngeh” bahwa dirinya sedang membangun bisnis atau baru memiliki bisnis, mari jawab dan ikuti Kuis singkat berikut:, Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan pasti dan kurang dari 3 detik/ pertanyaan setelah Anda membaca pertanyaan tersebut.

1. Berapa jumlah pelanggan yg datang pada Anda selama sebulan?
2. Berapa pelanggan yang datang dan terjadi penjualan dalam satu bulan?
3.Berapa persisnya rata-rata nett profit Anda tiap bulan?
4. Berapa besar nilai Aset bisnis Anda di akhir bulan/akhir tahun lalu ?
5. Berapa Profit yang ingin Anda capai tahun depan?
6. Berapa jumlah karyawan yang akan anda miiki tahun depan?

Yup… sebagian dari Anda mungkin bisa menjawab dengan gamblang pertanyaan-pertanyaan diatas dalam waktu kurang dari 3 detik. Namun demikian saya yakin tidak sedikit dari Anda pula yang tidak bisa menjawabnya dengan cepat dan tepat.

Untuk Anda yang bisa menjawab dengan tepat dan cepat, saya bisa Asumsikan bahwa Anda bisa jadi sudah on track dalam membangun bisnis, namun bagi Anda yang mungkin masih kesulitan menjawab, Saya yakinkan bahwa Anda masih di tahap memiliki bisnis.

Memiliki bisnis sebetulnya hal yang mudah, kadang-kadang dengan modal kenekatan saja Anda sudah bisa berbisnis, untuk dapat memiliki bisnis bisa sangat sederhana, jika Anda ada modal, berapapun modal anda, atau misalnya Anda berhasil meyakinkan Investor maka Anda bisa langsung memulai untuk memilki bisnis,

Hal yang sangat berbeda dengan definisi membangun bisnis. Dalam membangun bisnis banyak sekali faktor-faktor yang harus di “Improve” dari level memiliki bisnis. banyak hal-hal yang harus dengan kesadaran Anda anda sadari secara mendasar bahwa membangun Bisnis dengan memiliki bisnis jelas-jelas kedua hal yang berbeda.

Untuk lebih jelasnya berikut saya ulas hal-hal apa yang sangat penting untuk di ketahui dalam membangun bisnis Anda.

1. Faktor Pengukuran
Jika Anda tidak tahu ukurannya mana mungkin Anda bisa memperbesarnya. Ini Hal utama dan sangat dominan,Bisnis bukan sekedar beli kemudian jual, hutang kemudian bayar, dsb. Namun lebih jauh dari itu Anda harus punya patokan-patokan dan indikator-indikator bisnis Anda, jika Anda tidak tahu ukurannya bagaimana anda akan memperbesarnya. so.. Anda harus benar-benar tahu berapa penjualan saya bulan ini, berapa nett profit atau Gross Profit saya, berapa junlah pelanggan saya, berapa jumlah pelanggan saya yang tidak kembali, dsb

So.. sekali lagi Anda harus tau dan menyadari ukuran-ukuran dalam bisnis Anda.


2. Faktor Tujuan
Membangun Bisnis adalah sebuah Proses perjalanan. tidak ada sesuatu hal pun yang instant, dan mudah dicapai, apalagi dalam hal bisnis, jika Anda sudah tau dan memiliki pengukuran-pengukuran dalam bisnis Anda, maka hal selanjutnya adalah menetapkan tujuan bisnis Anda, bahasa kerennya adalah Business Plan…, yaitu rencana-rencana pencapaian apa yang akan anda capai dalam bisnis Anda.

Tujuan pencapaian-pencapaian ini pun harus ada ukurannya, contoh, Omset mau naik jadi berapa, Nett Profit saya mau naik berapa, jumlah pelanggan say mau naik berapa, bahkan yang lebih dalam lagi, berapa Cashfow Forecast saya nanti, tingkat AR days saya harus berapa, dsb.

Bagaikan sebuah mobil, saat ini Anda sudah tau berapa bensin saya saat ini, kecepatan kendaraan saya dan kemana serta lewat mana saya akan menuju.


3. Menyadari dan fokus kepada Faktor-faktor yang bisa dikontrol
Setelah Anda tahu faktor-faktor ukuran Anda dalam bisnis dan tahu ukuran-ukuran berapa yang ingin Anda capai, maka saatnya Anda berfikir “How” to Achievenya. Percayalah ini yang menjadikan lebih seru.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam bisnis selalu ada 2 hal yang mempengaruhi setiap effort kita. Yaitu hal-hal yang bisa di kontrol dan hal-hal yang tidak bisa di kontrol. Hal-hal yang bisa dikontrol contohnya adalah strategi penjualan kita, team Sales, produk kita, promo, kebijakan harga,service pengiriman, dll, sementara hal yang tidak bisa kita kontrol adalah contohnya Pesaing yang tiba-tiba banting harga, rate dolar yang naik, kondisi ekonomi yang menurun, Supply barang yang tergangu dari supplier, dll

Nah… jika Anda ingin membangun bisnis, Anda harus terus-menerus betul betul fokus terhadap hal-hal yang bisa di kontrol…, tujuannya adalah agar Anda selalu berfikir jalan keluar bukan alasan dalam setiap menghadapi tantangan.


4. Selalu berfikir Logis
Setelah memahami ukuran-ukuran dalam bisnis, punya tujuan pencapaian yang ingin di capai, membuat planingnya, serta berfokus pada yang bisa di kontrol, orang yang ingin membangun bisnis harus dapat memelihara pemikiran Logisnya, hal ini juga menjadi penting. karena dengan cara seperti ini kita bisa mengawal rencana-rencana yang sudah dilakukan dengan baik.

salah satu contoh yang banyak ditemui adalah ketika di akhir bulan banyak Para supplier menawarkan barang dengan iming-iming diskon yang besar atau paket yang menarik lainnya, hal ini biasanya karena Si Supplier “butuh Omset” untuk closing penjualannya, Jika Anda adalah orang yang sedang mambangun bisnis maka Anda akan pikirkan baik-baik, tidak terbawa emosi maupun pengaruh dari supplier dalam memutuskan

5. Punya Gairah/Passion di Bisnis
Gairah/ Passion memiliki peranan besar dalam keberhasilan membangun bisnis, tidak ada seorangpun yang berhasil membangun bisnis tanpa memiliki passion terhadap bisnisnya sendiri. ketika Anda memiliki passion dalam bisnis Anda maka anda akan terus berkomitmen dalam melaksanakan rencana-rencana Anda. dan inilah yang juga merupakan ciri bahwa Adna tengah membangun Bisnis.

Demikian sedikit sharing dari saya mengenai memiliki Bisnis dan membangun bisnis…, mari lihat di Bisnis Anda masing-masing saat ini, dan cari tahu apakah Anda saat ini tengah on track dalam membangun bisnis, atau Anda masih mengira Anda sedang membangun bisnis sementara  sesungguhnya Anda baru hanya memiliki bisnis.


Sumber :
http://synergycoachindonesia.com/?p=262

Harga Sebuah Cincin


Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata,

"Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"

Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."

"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas.

Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini.

Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini.

Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi da ripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda.
Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

" Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses.

Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "


Milis :
The Managers

Motivasi

Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti "dorongan" atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada dalam diri seseorang. Menurut Weiner (1990) yang dikutip Elliot et al. (2000), motivasi didefenisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu. Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Motivasi adalah sesuatu apa yang membuat seseorang bertindak (Sargent, dikutip oleh Howard, 1999) menyatakan bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya (Siagian, 2004).

Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003). Motivasi seseorang dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan dari lingkungan-ekstrinsik (Elliot et al., 2000; Sue Howard, 1999). Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar (Elliott, 2000). Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan dan memberikan keajegan dalam belajar. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat dikendalikan oleh individu tersebut (Sue Howard, 1999). Elliott et al. (2000), mencontohkannya dengan nilai, hadiah, dan/atau penghargaan yang digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.

Misalnya, dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan daya penggerak yang menjamin terjadinya kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang diinginkan dapat terpenuhi. Dengan demikian motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang. Apabila seseorang tidak mempunyai motivasi untuk belajar, maka orang tersebut tidak akan mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk dapat belajar dengan baik di perlukan proses dan motivasi yang baik, memberikan motivasi kepada pembelajar, berarti menggerakkan seseorang agar ia mau atau ingin melakukan sesuatu.


Sumber :
http://www.pengertianahli.com/2013/09/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html

Matrik Motivasi

4 Jenis Motivasi yang Harus Kamu Sadari dan Kendalikan!

Tanpa kita sadari, setiap ucapan, tindakan, bahkan lintasan pikiran sekalipun selalu didasari oleh sebuah motivasi. Motivasi ini dapat kita artikan secara “serampangan” sebagai “kehendak”, walaupun sebenarnya motivasi atau dorongan diri jauh lebih kompeleks dari sekedar kehendak atau keinginan.

Motivasi inilah yang menjadi motor bagi roda diri kita sehingga kita dapat terus bergerak dan hidup berkelanjutan.

Menurut saya, penting sekali bagi kita untuk mengenal sebuah dorongan atau motivasi yang terjadi dalam diri kita sebelum kita mengaktualkannya dalam sebuah tindakan nyata. Karena, walaupun motivasi masih bersifat potensial (belum aktual) namun pengaruhnya akan begitu signifikan dalam menentukan kualitas aksi kita. Atau kasarnya: hasil dari perbuatan yang kita lakukan akan sangat dipengaruhi oleh motivasi yang melatarbelakangi aktivitas kita. Baik-buruk, gagal-berhasil, sangat dan sangat ditentukan oleh motivasi apa yang ada di belakangnya.

Untuk membantu kita mengenali motivasi yang timbul dalam diri kita, saya menemukan sebuah matrik yang cukup bagus dan lumayan representatif dalam menggambarkan dan mengkategorisasi berbagai jenis motivasi yang terjadi di dalam diri. Matrik ini secara garis besar melihat motivasi dari dua sisi: pertama, dari mana motivasi berasal (dalam diri/intristik) atau (luar diri/ekstrinsik), dan kedua dari arah atau tujuannya (positif dan negatif).

Asal dan tujuan dari motivasi ini selalu tertaut dan berkelindan satu sama lain sehingga pada gilirannya akan sangat menentukan kualitas perbuatan atau aktivitas nyata kita.

Untuk memudahkan pembacaan, sang pembuat matrik membubuhkan sebuah ilustrasi yang mengisahkan bagaimana suasana kebatinan dan motivasi yang terjadi dalam diri seorang karyawan yang akan mengerjakan laporannya.

“Derajat” motivasi tertinggi tentu berada pada karyawan yang memang ingin membuat laporannya. Motivasinya berasal dari dalam dirinya sendiri (intrinsik) dan menuju sesuatu yang positif. Dalam literasi agama hal ini disebut dengan ikhlas. Budaya menyebutnya dengan suka rela atau tanpa pamrih. Karyawan seperti ini akan senantiasa bekerja dengan penuh suka cita dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Yang ke dua tetap bagus walaupun dorongannya berasal dari luar dirinya (ekstrinsik). Karyawan tersebut, walau kurang ikhlas, tetap berlaku positif dengan mengerjakan laporannya. Mengejar bonus adalah motivasi dirinya. Walaupun hal ini masih OK namun tetap mengandung potensi destruktif karena bisa saja sumber motivasinya (mendapatkan bonus) tidak terwujud karena sesuatu hal. Ini tentu akan membuat dirinya merasa kecewa dan besar kemungkinan di masa yang akan datang, motivasinya menjadi negatif.

Motivasi ke tiga lebih jelek dibandingkan dengan yang ke dua. Ia mengerjakan laporannya, yang sebetulnya adalah kewajiban dan bukti integritas dirinya sebagai karyawan, dengan beban yang berat dan rasa ketakutan yang tak sehat. Niscaya, hasil laporannya pun akan jauh dibandingkan dengan karyawan yang ikhlas. Biasanya tipikal karyawan seperti ini akan mengerjakan tugas-tugasnya secara asal hanya agar gugur kewajiban. Tak ada rasa memiliki dan kehendak prestasi. Satu-satunya yang ia pikirkan hanya satu: punishment dari perusahaan (pemecatan).

Yang paling parah adalah motivasi yang melatarbelakangi karyawan ke empat. Secara intrinstik ia tak ada dorongan untuk membuat laporan. Dan motivasi ekstrinsik seperti bonus ataupun pemecatan tak terlalu membuat ia menjadi terdorong. Ini adalah tipikal karyawan pembakang yang nyata. Jika ia terus bertahan, maka selama itu pulalah ia akan merasa tersiksa, sama sekali tak mampu menikmati pekerjaannya.

Setelah mengetahui ke empat jenis motivasi ini, marilah kita kenali motivasi kita yang timbul dalam diri sebelum melakukan pekerjaan atau perbuatan. Jika dirasa bahwa motivasi kita tidak baik, maka seyogyanya jika kita tata dahulu motivasi dalam diri kita agar menjadi lebih baik dan terarah (intrinsik dan positif). Setelah kita perbaiki “apa yang ada di dalam” maka barulah kita mulai “lakukan ke luar”.


Sumber :
http://tipskarir.com/matrik-motivasi-4-jenis-motivasi-yang-harus-kamu-sadari-dan-kendalikan/

Related Posts