Tuesday, December 10, 2019

10 Orang Terkaya Dunia Sepanjang Sejarah

Ini 10 Orang Terkaya Dunia Sepanjang Sejarah

Belum lama ini Majalah Forbes mengeluarkan daftar orang paling kaya dunia di 2019. Pendiri Amazon Jeff Bezos didapuk menjadi orang paling kaya sedunia harta US$ 131 miliar, atau setara Rp 1.830 triliun (Kurs: Rp 14.000/dolar AS).

Jeff Bezos mungkin adalah orang terkaya dalam sejarah modern. Tapi dia sama sekali bukan orang terkaya sepanjang masa.

Melansir BBC, Senin (18/3/2019), gelar orang terkaya sepanjang masa masih dimiliki oleh Mansa Musa, penguasa Afrika Barat dari abad ke-14 yang begitu kaya.

"Catatan kontemporer tentang kekayaan Musa begitu sesak sehingga hampir tidak mungkin untuk mengetahui seberapa kaya dan kuat dirinya sebenarnya," kata Rudolph Butch Ware, profesor sejarah di Universitas California, kepada BBC.

Pada 2012, situs web AS Celebrity Net Worth memperkirakan kekayaan Mansa Musa sebesar US$ 400 miliar atau setara, tetapi para sejarawan ekonomi sepakat bahwa kekayaannya tidak mungkin dijabarkan karena sangat banyak

Selain Mansa Musa, BBC menyebutkan ada 9 orang lainnya yang memiliki kekayaan lebih besar dari Jeff Bezos dan terkaya sepanjang masa. Berikut daftarnya.


Augustus Caesar

Pria ini merupakan Kaisar Romawi setelah Julius Caesar. Kekayaannya menurut money.com mencapai US$ 4,6 triliun atau setara Rp 64.400 triliun.

Augustus Caesar tidak hanya bertanggung jawab atas sebuah kekaisaran yang menyumbang 25% hingga 30% dari output ekonomi dunia, tetapi menurut profesor sejarah Stanford Ian Morris, Augustus pada suatu saat memegang kekayaan pribadi setara dengan seperlima dari ekonomi kekaisarannya.


Zhao Xu

Nama lain pria ini adalah Kaisas Shenzong. Kekayaannya tak bisa ditaksir namun dia menguasai kerajaan dengan 25% hingga 30% dari PDB global

Dinasti Song China (960 - 1279) adalah salah satu kerajaan paling kuat secara ekonomi sepanjang masa. Menurut Prof. Ronald A. Edwards, seorang sejarawan ekonomi Tiongkok dari Dinasti Song di Universitas Tamkang, negara ini menyumbang antara 25% dan 30% dari output ekonomi dunia selama puncaknya.


Akbar I

Pria asal India ini memerintah kerajaan dengan 25% dari PDB global. Kaisar terbesar dari dinasti Mughal India, Akbar mengendalikan sebuah kekaisaran yang menyumbang sekitar seperempat dari output ekonomi global.

Chris Matthews dari Fortune mengutip almarhum sejarawan ekonomi Angus Maddison, yang berspekulasi PDB per kapita India di bawah Akbar sebanding dengan Elizabethan Inggris, tetapi dengan "kelas penguasa yang gaya hidupnya yang mewah melampaui gaya hidup masyarakat Eropa."


Andrew Carnegie

Pria ini hidup dari tahun 1835 hingga 1919. Total kekayaannya ditaksi mencapai US$ 372 miliar atau setara Rp 5.208 triliun. Andrew Carnegie mungkin menjadi orang Amerika terkaya sepanjang masa.

Imigran Skotlandia ini menjual perusahaannya, A.S. Steel, kepada J.P. Morgan dengan harga US$ 480 juta pada tahun 1901. Jumlah itu setara dengan sekitar 2,1% dari PDB AS pada saat itu.


John D Rockefeller

Rockefeller merupakan pengusaha Amerika Serikat lahir pada 1839 dan wafat pada 1937. Kekayaannya ditaksir mencapai US$ 341 miliar atau setara Rp 4.774 triliun.

Rockefeller mulai berinvestasi di industri perminyakan pada tahun 1863 dan pada tahun 1880 perusahaan Standard Oil-nya menguasai 90% produksi minyak Amerika.

Menurut New York Times, obituary-nya, Rockefeller dihargai sekitar US$ 1,5 miliar berdasarkan pengembalian pajak penghasilan tahun 1918.


Nikolai Alexandrovich Romanov

Pria yang hidup dari 1868 hingga 1918 ini memiliki kekayaan US$ 300 miliar atau setara Rp 4.200 triliun. Dia juga dikenal sebagai Tsar Nicholas II dari Rusia, memerintah kerajaan Rusia dari tahun 1894 hingga 1917 ketika kaum revolusioner Bolshevik menggulingkan dan membunuhnya serta keluarganya.

Pada tahun 1916, kekayaan bersih Tsar Nicholas II sebenarnya hampir US$ 900 juta. Namun karena disesuaikan dengan inflasi maka diperkirakan setara dengan US$ 300 miliar pada dolar 2012.


Mir Osman Ali Khan

Mir Osman Ali Khan yang juga dikenal sebagai The Nizam of Hyderabad, adalah penguasa Hyderabad sampai negara itu diserbu oleh tetangga India. Mir Osman Ali Khan memiliki koleksi emas pribadi yang bernilai lebih dari US$ 100 juta dan memiliki lebih dari US$ 400 juta perhiasan termasuk Berlian Yakub yang terkenal yang bernilai US$ 95 juta saat ini.

Khan bahkan menggunakan berlian sebagai penindih kertas di kantornya. Dia konon memiliki lebih dari 50 mobil Rolls Royces. Total kekayaannya pria yang hidup di antara 1886 hingga 1967 diperkirakan mencapai US$ 230 miliar atau setara Rp 3.220 triliun.


William The Conqueror

William The Conqueror hidup pada 1028 hingga 1087. Total kekayaannya diperkirakan mencapai US$ 229,5 miliar atau setara Rp 3.213 triliun.

Dia terkenal karena menyerbu dan kemudian merebut Inggris pada 1066. Dalam perebutan itu dia memperoleh cukup banyak uang. Ketika William meninggal dia meninggalkan yang setara dengan US$ 229,5 miliar kepada putra-putranya.


Muammar Gaddafi

Siapa yang tak kenal Muammar Gaddafi di era modern saat ini. Pria yang lahir pada 1924 dan meninggal di 2011 merupakan pimpinan Libya yang cukup lama.

Setelah kematiannya pada tahun 2011, muncul laporan bahwa Muammar Gaddafi diam-diam adalah orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih US$ 200 miliar atau setara Rp 2.800 triliun.

Dalam bulan-bulan sekitar kematiannya, hampir US$ 70 miliar uang tunai disita di rekening bank asing dan real estat. Ladang minyak Libya merupakan sisa kekayaan bersihnya.


Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4472989/ini-10-orang-terkaya-dunia-sepanjang-sejarah/3

Tuesday, November 5, 2019

Kill Your Productivity

5 Mental Mistakes That Kill Your Productivity


Alice Boyes
November 04, 2019

If you’re sometimes frustrated about how little you accomplish during your work day, you’re not alone. Research indicates that only 26% of people often leave the office having accomplished the tasks they set out to do.

It’s common to feel as if you’ve been busy but haven’t done anything important. Of course, life isn’t about being a productivity robot in which every second is optimized. But most of us do want to feel well-organized and efficient in pursuing key goals and solving critical problems.

A good first step is to understand the mental mistakes that typically prevent us from focusing on and finishing meaningful work.  Here are five common ones:

1. You overestimate how much focused time you have in a typical day.
Long-term creative projects, strategic thinking, and skill- and relationship-building require big blocks of concentrated attention. It’s easy to optimistically think you’ve got all day, or even several hours, for that type of work and subsequently plan your priorities based on that assumption. However, for many of us, meetings, email, Slack, phone calls, and “quick questions” take up a considerable portion of our time in the office. Aggregated data from the time-tracking app RescueTime suggests that people have as little as one hour and 12 minutes of uninterrupted time in their day.

If you acknowledge the limited time you’ll have for focused work, you can more ruthlessly select your absolute top priority and protect yourself from distractions for certain periods. When you do have 60 to 90 minutes available, try to focus on your bigger-picture goals (as tempting as it might be to focus on more time-sensitive routine work). Remember, too, that even those complex and important projects usually have some admin tasks associated with them (e.g., hunting down a reference when writing a book) that don’t require as much focus or creativity. As a workaround for having limited time for the harder work, identify those to-dos and slot them into that spare 15 minutes you have between meetings or those longer free periods during which you suspect there will be interruptions.

2. You overlook proven, sustainable methods that seem too boring or too simple.
If you consume a lot of productivity self-help material, you’re probably familiar with many core concepts from cognitive-behavioral psychology. For instance, if you form “implementation intentions” you’re more likely to follow through. This involves planning when and where you’ll do a task and how you’ll overcome obstacles you’ll encounter. Likewise, you might’ve previously read about how shrinking the number of decisions you make in a day will reduce your mental fatigue and improve your willpower. And, you might know that when you make any task easier, for example by ensuring you have the needed materials on hand, you’re more likely to begin. However, once we’ve heard these principles, we often write them off as “old news” even when we haven’t fully implemented them or tried them at all.

For each of your important projects, have your next action defined and everything you need to complete it handy and ready to go. For instance, if you want to video yourself rehearsing a big speech, set up the space you plan to use, do a test recording for a minute, and make sure you have enough free space on your recording device. If you remove these types of practical barriers to getting started, they won’t eat into your focused time.

If you like to see yourself as a special or unique individual, you might find that simple solutions don’t sit well with that, since you don’t like to see yourself as being like everyone else. This is a trap. Make sure you’re employing boring, but easy and proven-to-work, strategies in all the ways you could be. Get better at creatively applying simple ideas rather than searching for complex ones.

3. You think about change in an all-or-nothing way.
We often suspect that a certain habit change would help our productivity but feel psychologically resistant to doing it. For instance, you might believe that getting more sleep would help your productivity but you’re a night owl and bristle at advice about going to bed early. Instead of perseverating on what you feel resistant to, look for changes you’re willing to make that don’t feel like a big deal. Automating your house lights to dim (or turn red), using blue light filters on your devices, or spending the last 30 minutes of your work day planning the following day (creating a transition), might help you effortlessly shift the time you want to go to sleep 10-15 minutes earlier. However, if you think you have to make a two-hour change to your bedtime or nothing, or you’re only focused on the fact you don’t want to give up sleeping with your phone, you won’t make any changes at all. Collect the easy wins that don’t trigger your psychological resistance. When you successfully make a low-key change, your willingness to make other changes will probably naturally expand.

4. You forget how to do recurrent but infrequent tasks.
If you do a task daily, you likely have an efficient process for getting it done. If you do it once or a few times a year, you might not. In The Healthy Mind Toolkit, I wrote about how every time I needed to clean my printer drum, I would spend at least 10 minutes finding the instructions online for how to do it. Now I have those instructions saved in an email to myself under the subject line “how to clean printer drum” so I no longer have to go through all the steps of finding my printer’s model number and Googling it.

After you’ve finished any process that you’ll need to repeat in the future, write yourself instructions for the most efficient way to do it and save those in an easily searchable place.

5. You underestimate the costs of small time/energy leaks.
Spending a little bit of time most days on your important but not urgent big-picture projects and/or improving your skills is often enough to dramatically enhance your overall outcomes compared with spending no time. On the flip side, small time and energy leaks can have a bigger negative impact than people perceive. That ten minutes you spend searching for keys or responding to an email that didn’t need an immediate reply, is inconsequential in and of itself. However, many of these instances can disrupt your flow, reinforce a negative sense of identity, and generally sap your energy. When you create systems (e.g., reducing unnecessary decisions, streamlining and simplifying tasks, batching, automating, outsourcing, or using checklists) that address small time/energy leaks, you’ll experience mental clarity benefits from doing so that far outstrip the time savings.

While the tips in this article won’t solve all your productivity problems, they can give you a better shot at getting the most important things done.


Sumber :
https://hbr.org/2019/11/5-mental-mistakes-that-kill-your-productivity

Wednesday, October 30, 2019

We Need Leadership, Not Likership

Why Likable Leaders Seem More Effective

In late 2007, one of us, Charn, found himself in Camp Buehring, Kuwait, preparing to fly a Kiowa Warrior helicopter over the Iraqi border. Kuwait is a stopover where U.S. soldiers finish all required training just prior to deploying into combat.

The only treacherous part of Kuwait is the sand — it is deep and very fine so walking is slow and cumbersome. One morning, as he waded through the sand on the way to the airfield, he saw a sign proclaiming, “We Need Leadership, Not Likership.”


Sumber :
https://hbr.org/2019/10/why-likable-leaders-seem-more-effective

Thursday, October 17, 2019

Investor Mulai Pilih Kuda Zebra?

Oleh: Erick Wahyudi, Analis Ekonomi
posted on Okt. 04, 2019 at 7:38 am

Beberapa bulan terakhir nilai saham Uber dan Lyft anjlok dikarenakan kembali gagal memenuhi harapan investor.

Uber, sebagai pelopor ride-hailing yang diikuti oleh Gojek dan Grab, nilai sahamnya turun 30 persen lebih rendah dari harga saham perdananya.

WeWork, yang didanai oleh Softbank (yang juga investor besar Uber, Grab dan Tokopedia), memangkas valuasi hingga 450 trilyun rupiah (70 persen lebih rendah dari valuasi sebelumnya), dan terpaksa menunda jadwal IPO.

Terakhir OYO, sebuah startup serupa Airbnb dari India, yang lagi-lagi didanai oleh Softbank, dicurigai oleh beberapa analis melakukan praktik russian-doll ponzi game, karena memiiki valuasi yang fantastis dan tidak wajar.

Di Tanah Air, Bukalapak juga diterpa issue kesulitan pendanaan. Mereka kemudian menepisnya dan mengatakan bahwa mereka sedang melakukan reorientasi bisnis agar bisa mulai menurunkan angka kerugian.

Semua berita tersebut bukan berita buruk.

Bagi saya, itu merupakan berita baik. Reality bites, bahwa walaupun pahit, itu semua akan mendorong kesadaran investor untuk kembali kepada hakikat bisnis yang sebenarnya: mencetak profit.

Istilah Unicorn pertama kali populer saat terjadi dotcom crash di awal tahun 2000. It was not a compliment. Unicorn was (and maybe is an insult.

Itu merupakan sebutan bagi perusahaan yang mendambakan keuntungan yang fantastis, yang ditunggangi oleh investor-investor serakah dengan cara menggelembungkan nilai perusahaan.

Hal ini, nampaknya kembali terulang. Dalam 10 tahun terakhir banyak startup-startup yang telah berhasil melakukan inovasi dan melakukan disrupsi bisnis atau melahirkan bisnis baru.

Namun lagi lagi, banyak investor kembali menungganginya dengan cara-cara yang jauh dari etika. Mereka umumnya membungkus sebuah inovasi dengan argumen-argumen sebagai berikut.


1. Customer is an asset. 
Tidak ada yang salah dengan ini. Customer memang dapat dilihat sebagai layaknya sebuah inventory.

Mulai dari mengakuisisi customer baru (dianggap seperti raw  material  dalam inventory) hingga me-retain customer untuk loyal (seperti finished goods dalam inventory).

Ujungnya, seluruh biaya yang digunakan untuk mendapatkan dan mempertahankan customer, termasuk biaya diskon besar-besaran, dapat dicatatkan sebagai investment, bukan expense.

Yang jadi pertanyaan adalah: apabila customer dengan mudah hilang dalam hitungan detik karena perang diskon, sampai batas mana uang yang telah dihabiskan tersebut masih layak disebut sebagai investasi?

Apakah teknologi dan inovasi benar-benar dapat menjamin customer tersebut tidak hilang?


2. Growth at all cost. 
Ukuran sukses paling utama yang diamini oleh seluruh ekosistem startup (founder, investor, mentor, dan bahkan regulator) adalah growth pertambahan pengguna.

Hal ini, serupa dengan traffic growth saat awal-awal bisnis Internet tahun 90an. Dengan “ideologi” ini, investor menjadi raja yang mengendalikan sebuah startup.

Kalau tidak terus disuntikan dana, startup akan mati. Atau customer segera hilang dicuri oleh kompetitor, yang bisa jadi juga didanai oleh investor yang sama.


3. Market Domination. 
Investor selalu terobsesi dengan sebuah bisnis yang tidak memiliki pesaing.

Era ekonomi digital telah memberikan beberapa peluang inovasi yang memungkinkan hal ini, karena dapat melahirkan bisnis yang benar-benar baru, atau mendisrupsi bisnis yang ada, atau memonopoli ekosistem bisnis.

Namun pada praktiknya, dominasi pasar dan disrupsi bisnis banyak dilakukan dengan cara menghancurkan pasar melalui kekuatan modal yang disuntikan oleh investor.

Hal ini, berbeda dengan Microsoft dan Apple misalnya. Kekuatan modal mereka untuk makin menguasai pasar didapatkan dari keuntungan perusahaan.

Model bisnis mereka sedari awal adalah untuk membukukan keuntungan dari setiap barang yang dijual.

Semua argumen tersebut, oleh founder startup, investor dan mentor, dibungkus dalam sebuah story telling yang hebat.

Inovasi teknologi diceritakan terkadang melebihi kemampuan me-generate value yang sebenarnya.

Jumlah penduduk Indonesia yang 260 juta lebih digadang-gadang sebagai market yang addressable, padahal tidak semua populasi membutuhkan produk yang dijual.

Network effect yang ringkih dikisahkan memiliki defensibility yang kuat. Istilah super-apps dihembuskan dengan mengeneralisasi tuntutan industri yang berbeda-beda.

Expansi ke pasar regional dilakukan untuk terus mendapatkan growth story, walaupun sebenarnya produknya dibangun spesifik untuk kebutuhan lokal.

Kemudian, story telling ini diperkuat dengan merekrut advisor dan komisaris yang memiliki reputasi hebat, yang sebenarnya tidak banyak kerjaannya.

Lalu, bagaimanakah seharusnya investor yang baik dan benar?

Jawabannya adalah: investor yang rajin mencari dan menelaah proposal dari startup yang benar-benar solid, dan jujur melihat kekuatan dan kelemahan startup yang didanainya.

Investor harus memberikan perhatian lebih pada startup yang didirikan oleh founder yang berpengalaman dalam industri vertikal.

Tanpa founder yang berpengalaman di industrinya, keberhasilan suatu investasi akan sangat bergantung pada nasib.



Sebuah riset memaparkan bahwa usia rata-rata founder startup sukses memiliki umur 42 tahun. Hal ini menyiratkan bahwa pengalaman founder menjadi hal yang sangat kritikal.

Investor juga perlu melakukan review terhadap metric-metric yang dipakai dalam menilai sebuah proposal. Tidak semua metrik ala sillicon valley bisa diterapkan untuk semua model bisnis dan sektor industri yang beragam.

Dan, yang paling ideal adalah: carilah startup yang sedari awal sudah menetapkan profit margin dari selisih harga jual dengan biayanya.

Bukan yang mejanjikan margin setelah melakukan dominasi pasar yang mensyaratkan investasi (bakar duit) besar-besaran.

Startup yang baru bisa mendapatkan keuntungan setelah melakukan dominasi pasar menunjukkan adanya broken business model.

Startup seperti itu hidupnya akan sangat tergantung dari fase investasi yang satu ke fase investasi berikutnya. Istilah kasarnya: hoping for the the next idiot to come in the last investment round.

Prediksi saya, apabila tidak ada perubahan sikap dari seluruh ekosistem ekonomi digital, economic bubble dapat meletus dalam 2-3 tahun mendatang.


Di Indonesia akan ada unicorn yang tumbang. Akan ada banyak startup yang gagal berkembang. Program 1.000 startup bisa jadi menghasilkan ratusan founder startup yang gagal dan frustrasi.

Akan banyak uang investor baik privat maupun publik yang terbuang percuma.

Bagi investor lokal kebanyakan, akan sulit menjangkau skala investasi karena valuasi startup idaman sudah digelembungkan secara fantastis oleh investor asing. Investor lokal hanya menjadi pengikut minoritas.

Ini adalah saat yang tepat bagi investor Indonesia untuk memainkan game yang bebeda dengan pengetahuan lapangan dan jaringan lokal-nya.

Investor Indonesia harus bekerja lebih keras dan merubah selera untuk berinvestasi pada kuda zebra yang nyata ada, yang warna hitam-putihnya terlihat jelas. Jangan menggantungkan harapan mendapatkan Unicorn yang merupakan produk mitologi dari luar.

“Growth for the sake of growth is the ideology of the cancer cell.” – Edward Abbey.


Sumber :
https://matranews.id/investor-mulai-pilih-kuda-zebra/

Wednesday, October 16, 2019

Menutup Keburukan

SENI MENDIDIK DIKENANG MURID

Sekelompok anak muda menghadiri resepsi pernikahan. Salah seorang di antaranya melihat guru SD nya. Murid itu menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata: Masih ingat saya kan pak guru?

Gurunya menjawab: tidak

Murid itu bertanya keheranan: masa sih pak guru tidak ingat saya. Saya kan murid yang mencuri jam tangan salah seorang teman di kelas. Dan ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kita untuk berdiri karena akan dilakukan penggeledahan saku murid.

Saya berfikir bahwa saya akan dipermalukan di hadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepadaku pencuri dan diriku pasti akan hancur, selama lamanya.

Engkau menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua. Engkau menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, Engkau ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan engkau lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir.

Setelah selesai engkau suruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk. Saya takut engkau akan mempermalukan saya di depan murid murid.

Engkau tunjukkan jam tangan itu dan engkau berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya.

Selama saya belajar di sekolah itu Engkau tidak pernah bicara tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorangpun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu.

Engkau masih ingat saya pak?
Bagaimana bisa engkau tidak mengingatku wahai guruku.

Saya adalah muridmu dan ceritaku adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan.

Guru itu menjawab:
Sungguh saya tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu sengaja aku menutup mata pula agar tidak mengenalmu

Pendidikan memerlukan seni dalam menutup keburukan.


Semoga bermanfaat
Publish by: Pondok yatim arroja

Thursday, October 10, 2019

Daily Plan


Coach Kiat & kiat2nyaOctober 08, 2019

Kebanyakan orang yang sukses dalam hidup dan bisnisnya membuat perencanaan dalam hidup maupun bisnisnya, mereka membuat life plan dan business plan secara tertulis.

Perencanaan tidak hanya berupa perencanaan jangka panjang saja tetapi perlu dibagi menjadi perencanaan bulanan, mingguan dan harian.

Tanpa perencanaan dan tindakan jangka pendek maka perencanaan jangka panjang akan menjadi dokumen dan tumpukan lembaran kertas saja.

Mendaki gunung yang tinggi harus dimulai dari selangkah yang pertama, tanpa langkah kecil yang pertama semua itu mustahil untuk dilakukan karena kita tidak bisa melompat lompat atau bahkan langsung sampai ke puncak gunung kecuali naik helikopter.

Karena itu kita perlu punya buku agenda, bisa juga buku catatan lain, selembar kertas atau catatan di handphone kita.

Kegiatan yang sifatnya sudah rutin seperti makan, mandi, berangkat ke kantor, mengantar anak ke sekolah, dll. tentu tidak perlu dicatat, hanya kegiatan penting saja yang perlu dicatat agar tidak lupa dikerjakan.

Pengalaman saya dalam banyak sesi coaching menyatakan banyak orang mau ini, mau itu, punya ide ini dan itu, cuma sebatas di pikiran dan keluar dari mulut saja tetapi ditunda-tunda dan pada akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan.

Ide itu harganya hanya 1% sebelum menjadi kenyataan karena sisanya yang 99% perlu kerja keras untuk mewujudkannya.

Buat Anda yang baru memulai, Anda bisa membuat daily plan yang sederhana sekedar to-do-list hari ini.

Buat yang sudah terbiasa, Anda bisa membuat daily plan yang lebih detail, misalnya menambahkan rencana keuangan, rencana belajar, dll.

Tulisan ini sangat sederhana, masalahnya ialah apakah Anda mau melakukannya atau tidak.

Selamat mencoba dan berlatih.


Sumber :
https://telegra.ph/Daily-Plan-10-08

Tips Menjadi Bos Startup

Kamu milenial dan pengin banget jadi bos Startup? Ada Beberapa bekal penting yang perlu diketahui seperti mengatur strategi, membentuk pikiran, dan juga cara berkomunikasi itu penting untuk mewujudkan hal tersebut.

Personal Branding
Menurut Deddy Corbuzier, aktor sekaligus content creator yang memulai karirnya di dunia hiburan, langkah pertama yang harus dilakukan anak muda untuk memulai sebuah usaha adalah personal branding atau menciptakan ciri khas diri sendiri.

"Banyak milenial ingin membuat impact to the world. Tapi mereka nggak tahu caranya bagaimana, membuat personal branding mereka. Nah cara berpakaian, cara bicara, itu branding Anda. Membuat self branding sangat penting apa lagi untuk membuat sebuah proyek atau bekerja di suatu tempat," kata Dedy dalam konferensi pers Lenovo Thinkbook CEO Club, di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Creative Thinking
Kedua, milenial perlu berpikir kreatif. Dalam hal ini, Dennis Adhisawara yang berprofesi sebagai aktor sekaligus CEO Rombak Media mengatakan, pikiran kreatif mampu menciptakan jalan ke luar di dalam kondisi terdesak.

"Creative thinking itu penting karena yang namanya hidup kita pasti akan menemukan sebuah problem ya. Namanya problem itu jangan serta merta dijauhi. Justru harus dihadapi dan dicari solusinya bersama-sama," jelas Dennis.

Leadership Communication
CMO Tiket.com Gaery Undarsa membeberkan langkah ketiga untuk anak muda yang mau menjadi CEO, yakni leadership communication atau berkomunikasi sebagai pemimpin. Gaery mengatakan, untuk memperoleh wibawa harus dimulai dengan berkomunikasi yang baik dengan karyawan atau rekan kerja lainnya.

"Sebenarnya orang itu pintar, banyak ide, tapi kalau tidak ada yang respect susah. How do we gain that respect? Especially young leaders, banyak banget sekarang kan manager atau director yang masih muda umurnya. Bagaimana caranya ketika masuk ke real world industry orang melihat kita tidak hanya muda doang, tapi karena mereka respect us. Jadi how to communicate itu penting," papar Gaery.

Stress Management
Keempat, mengatur level stress dalam diri masing-masing anak muda tersebut. Managing Director Duta Bangsa Naomi Siregar mengatakan, mengatur level stress itu dimulai dari menjaga emosi dan mengatur suasana hati, membatasi prioritas, bahkan hingga cara bernapas.

"Stress management itu sangat penting. Mulai dari cara pernafasan, menjaga emosi, membatasi prioritas, mana yang level urgensinya dikerjakan dulu. Kemudian pada saat bertemu dengan orang lain pada saat mood nya nggak oke nih di pagi hari mereka harus switch mimik wajahnya dan lain-lain," ucap Naomi.

Panaskan Mesin
Kelima, anak muda harus memanaskan mesin'. Putri Indahsari Tanjung, CEO Creativepreneur Event Creator mengungkapkan, anak muda harus bersiap-siap menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat yakni dengan menanamkan jiwa wirausaha.

"Kita juga fokus menyebarkan virus entrepreneurship mindset karena yang terpenting sekarang anak muda memiliki itu. Sekarang ini persaingan di dunia bisnis semakin tinggi, komposisi dari skill bisnis semakin tinggi of course kita akan jenuh dengan semua itu. Apalagi kalau kita gagal pasti sedih. Tapi bisnis kan proses, bisnis itu bukan lari sprint, tapi marathon. Kita terus lari terus. Nggak berhenti," terang wanita yang akrab disapa Uti tersebut.


Sumber
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4683301/punya-cita-cita-jadi-bos-startup-baca-dulu-tips-ini

Related Posts