Sunday, December 31, 2017

Disrupt Yourself

How to disrupt ourselves?

Kita ikuti lima langkah di bawah ini ...

1. READ, OBSERVE, LISTEN, LEARN, AGAIN and AGAIN
2. LEARN from UNDER 25
3. BE CAREFULL OF YOUR STRENGTH, THEY CAN KILL YOU
4. DISRUPT YOURSELF: LEARN NEW THING EVERY DAY, LEARN NEW COMPETENCES EVERY YEAR
5. STRETCH YOURSELF: LOOK FOR NEW CHALLENGES

Jadi ingat ya, untuk mempersiapkan kita agar selalu siap dengan perubahan di masa depan, lakukan kelima langkah ini ...


1. READ, OBSERVE, LISTEN, LEARN, AGAIN and AGAIN

Dunia terus berputar dan berubah. Satu satunya cara untuk mengikuti adalah dengan menganggap gelas (pikiran dan ilmu) kita masih belum penuh dan kita haus pengetahuan (yang ada di luar sana).
Baca (buku, majalah, internet).
Dengarkan dan lihat (TV, radio dan YouTube yanv bermutu).
Belajar , belajar dan belajar lagi.
Seraplah ilmu sebanyak mungkin.
Hauslah pada pengetahuan yang ada di luar sana.


2. LEARN from UNDER 25

Kenapa kita biasanya hanya belajar dari  yang lebih senior (atau yang lebih tua)? Mereka itu memang hebat pada jamannya. Mereka memang berprestasi pada masa lalu.
Tetapi perusahaan yang hebat di masa lalu iuga belum tentu sukses di masa depan kan?
Orang orang tua yang dulunya sukses di masa lalu juga belum tentu mengerti dan memahami apa yang akan terjadi di masa depan kan?
Tentu saja kita harus  belajar dari mereka dan dari apa yang mereka lakukan.

But They are all oriented to the past! You also need to understand the future!
Dari siapa lagi kita harus belajar? Dari anak anak muda yang berusia di bawah 25 tahun.
- Mereka menyuarakan suara consumer di masa depan
- Mereka yang akan mengubah dunia di masa depan
- Mereka selalu ¡°connected¡± (gak ada wifie 5 menit saja sudah kelimpungan), berarti mereka selalu connect dengan apa yang terjadi di dunia ....
- Learn from them, learn from what they know, and apply in your business ...


3. BE CAREFULL OF YOUR STRENGTH, THEY CAN KILL YOU

Kuncinya disruption adalah menyadari bahwa kekuatan yang kita punya sekarang belum tentu berguna di masa depan.
Jadi meskipun anda sudah hebat di suatu bidang, jangan merasa sombong, jangan merasa bahwa kekuatan anda akan mampu membuat anda sukses seterusnya!
Dunia akan berubah cepat, dan ada kemungkinan bahwa strength yang anda punya mungkin tidak relevant lagi, lihat saja apa yang terjadi pada beberapa profesi atau beberapa industri yang sedang mengalami krisis saat ini ....


4. DISRUPT YOURSELF: LEARN NEW THING EVERY DAY, LEARN NEW COMPETENCES EVERY YEAR

Kemudian, anda juga harus berani disrupt anda sendiri ....
Belajarlah dan tekunilah sebuah kompetensi baru (atau ambillah sertifikat baru, atau kuliah lagi) , setiap tahun anda harus mempelajari sesuatu yang baru!
Apakah itu project management, HR, finance, marketing ...atau apapun, asalkan anda mempelajari hal baru yang belum pernah anda pelajari dan akan menambah portfolio kompetensi anda.


5. STRETCH YOURSELF: LOOK FOR NEW CHALLENGES

Teori itu bagus untuk dipelajari, tetapi sebaiknya anda praktekkan kan? Salah satu cara untuk mempraktekkan adalah dengan mencari challenge baru.
Cari pekerjaan yang baru.
Sebaiknya di perusahaan yang sama dan mengerjakan hal yang berbeda (dari finance ke marketing, dari sales ke HR, dari HR ke function lain ...etc).
Kalau anda mengerjakan langkah 1-4 kan anda sudah mempunyai kompetensi pelengkap untuk mencari challenge baru kan?
Kalau anda tidak mendapatkan peluang di perusahaan yang sama, ya cari peluang di perusahaan lain.
You have to look for new challenges, inside or outside, masa depan anda dipertaruhkan di sini ....
Something has to change in your job or your life, differenf job, different company , different country or different industry.
That s how you build your agility, by disrupting yourself!


Hope you will really disrupt yourself this year.


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Saturday, December 30, 2017

Eksekusi Tanpa Tapi (dan Nanti)

Dirangkum oleh Coach Darmawan Aji


The way to get started is to quit talking and begin doing.

Di catatan kali ini, ijinkan saya sedikit berbagi insight yang saya dapatkan dari sesi NLP Talks kemarin. NLP Talks kemarin istimewa karena mengundang vice chairman Indonesia NLP Society mas Syamsul Hatta. Topik NLP Talks kemarin adalah Eksekusi Tanpa Tapi - jargon yang menjadi spesialisasi dari pembicara kita. Mari langsung kita bedah.

Di awal tahun seperti sekarang ini, sudah jamak jika kita kemudian membuat resolusi. Kita memetakan aspirasi dan visi, cita-cita dan rencana. Kita ingin menjalani kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru ini. Begitulah kira-kira.

Sayangnya, berapa banyak orang kemudian benar-benar bertindak mewujudkan visinya? Benar-benar bertindak untuk merealisasikan resolusinya? Tidak banyak. Bahkan faktanya menyedihkan.

25% orang melupakan resolusi tahun barunya dalam minggu pertama.
60% orang melupakan resolusi tahun barunya dalam 6 bulan.

Tidak heran jika 88% dari semua resolusi berakhir dengan kegagalan (Richard Wiseman, University of Hertfordshire, 2007). Bahkan, rata-rata orang membuat resolusi tahun baru yang sama 10x tanpa pernah berhasil mencapainya. Jadi, lelucon yang mengatakan resolusi tahun 2017 saya adalah menuntaskan resolusi tahun 2016. Dimana resolusi tahun 2016 saya sudah saya rencanakan sejak 2015 dan seterusnya, bukanlah lelucon, melainkan kenyataan pahit.

Mengapa ini bisa terjadi? Ada banyak faktor. Salah satu faktor utamanya adalah tidak adanya proses eksekusi yang efektif. Apa yang dimaksud dengan eksekusi? Kalau kata kamus, eksekusi itu terkait pelaksanaan dan penuntasan. Eksekusi itu memulai apa yg sudah direncanakan dan menuntaskan apa yg sudah dimulai.

Tanpa eksekusi, visi hanyalah mimpi. Tanpa eksekusi, rencana hanyalah corat coret di atas kertas. Berkali-kali saya katakan, visi tanpa eksekusi itu halusinasi. Rencana tanpa eksekusi itu hanya mimpi.

Sayangnya, banyak orang yang tidak melakukan eksekusi. Tidak memulai apa yang sudah direncanakan. Mereka terjebak oleh dua musuh utama eksekusi: tapi dan nanti.


Musuh Pertama: Tapi

°Saya mau bertindak mewujudkan resolusi saya, tapi..

°Saya mau mewujudkan visi saya, tapi...

Anda boleh isi kalimat apapun di belakang kata tapi - saya tidak punya modal, saya tidak tahu caranya, saya bingung, saya takut, saya malas... apapun. Saya yakin semua alasan yang Anda tulis adalah alasan yang masuk akal. Alasan memang dibuat supaya masuk akal. Sehingga Anda merasa wajar untuk menunda tindakan Anda.


Musuh Kedua: Nanti

Nanti, jika saya sudah mulai senggang saya akan..
Nanti, bila saya sudah tidak sesibuk sekarang saya akan...

Darimana kita tahu bahwa nanti benar-benar punya waktu? Darimana kita tahu bahwa nanti kita benar-benar akan melakukan? Apa bedanya saat ini dan nanti? Tidak ada. Ini hanyalah kata tapi lainnya yang menunda Anda melakukan apa yang penting bagi Anda!


Lalu, bagaimana agar kita memiliki kebiasaan eksekusi tanpa tapi (dan nanti)? Berikut tips dari saya:

 Mulailah dengan apa yang ada. Jangan menunggu segala sesuatu sempurna. Mulai bertindak saja. Sempurnakan sambil jalan. Mulailah. Fokus pada kuantitas, bukan kualitas.

 Jangan takut gagal. Jangan takut salah. Mulai saja. Kegagalan adalah umpan balik, pembelajaran yang berharga bagi kita. Semakin cepat Anda memulai, semakin cepat Anda mendapatkan umpan balik apa yang berhasil dan tidak berhasil.

 Fokus pada satu hal yang sederhana terlebih dulu. Memikirkan terlalu banyak hal sekaligus akan membuat Anda stuck dan tidak bergerak kemana-mana.

Saturday, December 23, 2017

Influencing Skills

IMPROVING YOUR INFLUENCING SKILLS

Sabtu pagi itu saya melewatkan waktu berjalan jalan di basement ya Blok M square. Bagi yang hobby buku-buku import lama, silahkan ke sana, anda akan sering menemukan buku-buku import yang aneh-aneh dan disukai penggemar buku.

Juga bagi penggemar music, anda akan banyak menemui CD original import dan bahkan piringan hitam. Dan ternyata saya bertemu seorang teman lama, sebut saja namanya Agung. Dan Agung pun mengajak ngobrol sambil makan siang di sebuah rumah makan Padang di situ.

Agung adalah seorang Senior Finance manager di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Dia baru saja dipromosikan ke jabatan ini karena bossnya yang expatriate harus pulang ke negara asalnya.
Agung sudah lama bekerja di Finance team di perusahaan itu. Jadi ketika CEOnya menawarkan jabatan itu dia sih confident aja. Karena dia sering melihat apa yang dikerjakan bossnya, dan dia merasa mampu melakukannya.

Dan CEO nya pun senang dengan confidence level Agung, maka Agung pun mendapat promosi itu dan tentunya dengan kenaikan gaji yang significant.

Teman-teman dan anak buah Agung mengucapkan selamat bahkan mereka mengadakan makan malam bersama untuk merayakannya.

Agung pun berbahagia sekali ..... untuk beberapa minggu. Karena setelah itu mimpi buruknya pun dimulai.

Ternyata kemampuannya dalam hal finance sama sekali tidak menjamin performance nya sebagai Senior Finance Manager.

Ternyata di luar kompetensi financialnya dia dituntut untuk mempengaruhi orang lain (influencing skills).

Agung harus:
 meminta semua leader di divisi lain (sales, marketing, operations, HR ...etc) untuk mengirimkan laporan tepat pada waktunya
 meminta semua orang agar mengurangi penggunaan budgetnya
 meminta semua orang agar mematuhi semua peraturan perusahaan yang berhubungan dengan pengelolaan keuangan..etc ...tc

Hampir semuanya selalu bilang bahwa mereka harus mengamankan pencapaian objective perusahaan. Dan menyuruh Agung pergi ....

Agung kebingungan ...

Dan ternyata setelah dipromosi dia merasa bahwa power-nya justru semakin kecil.
Bahwa tidak ada pekerjaan yang dia bisa kerjakan tanpa mempengaruhi orang lain.
Dan Agung tidak mengetahui semua itu, tidak mempelajari itu di bangku kuliah, dan tidak diajari oleh mantan bossnya (yang sekarang sudah pulang ke negaranya).

Sekarang sudah tiga bulan di posisi itu , dan ternyata ...
 laporan keuangan tidak accurate
 hampir semua divisi melampaui budgetnya
 beberapa pelanggaran procedure mulai terjadi

Agung pun kebingungan apa yang harus dilakukannya?

Ternyata kasus ini tidak hanya dialami oleg Agung di Finance, tetapi banyak di antara kita yang mengalami itu, di manapun departemen kita bekerja. Sekarang kita menyadari bahwa ...
 semakin tinggi jabatan kita, ternyata kita tidak hanya bisa mengandalkan kemampuan teknis kita (finance, sales, HR ...etc)
 semakin tinggi jawaban kita, ternyata semakin rendah power kita, karena semakin banyak kita harus menggantungkan diri kepada kemampuan kita mempengaruhi orang!

Kuncinya adalah tentang infuencing skills.
Itulah mengapa jaman dahulu kita diajari orang tua untuk kuliah hanya fokus kuliah dan harus fokus dan tidak usah macem-macem. Ternyata dengan itu kita lulus dengan IP tinggi. Tetapi ternyata kita sulit bekerja di kantor, karena kita tidak mampu influencing orang lain.
Ajari anak-anak kita agar selain kuliah dan mengejar nilai IP yang tinggi, mereka juga aktive di kegiatan mahasiswa seperti senat, pecinta alam, olahraga atau kesenian, agar mereka belajar berorganisasi,
leadership, teamwork and influencing skills.

Jadi pertama kali, yang harus dimengerti adalah bahwa influencing itu dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik.  Dan kepada orang yang berbeda dalam situasi yang berbeda kita juga harus menggunakan teknik yang berbeda!

Masalah yang sering terjadi adalah kita seringkali hanya bisa menggunakan satu teknik (misalnya ada yang hanya bisa membujuk halus atau hanya bisa memaksa).
Padahal akan lebih efektif kalau kita bisa menguasai beberapa teknik dan kita menggunakan teknik yang tepat kepada
orang yang tepat pada situasi yang tepat kan?

Jadi pertama kali kita bahas dulu di sini teknik-teknik untuk mempengaruhi orang lain (influencing skills):

 Asserting
Teknik pertama namanya asserting atau menegaskan, di sini kita benar benar menegaskan dan memperjelas apa yang kita inginkan

 Convincing
Teknik kedua namanya convincing atau menjelaskan alasan mengapa anda menginginkan hal itu dan apa manfaatnya buat kedua belah pihak

 Negotiating
Anda bersedia berkompromi dan mencapai konsus agar objective anda bisa dikerjakan bersama

 Bridging
Membangun relationship yang baik agar pada saat mempengaruhi orang akan lebih mudah

 Inspiring
Memberikan penceahan tentang masa depan yang akan lebih baik apabila kita mengerjakan ini besama sama

Lihat, saya baru saja mendeskripsikan ada minimal 5 teknik untuk influencing skills. Dan saya yakin masih banyak lagi. Padahal saya yakin banyak di antara kita yang mungkin hanya mengenal satu teknik, atau lebih parah, mengenal banyak teknik tetapi hanya melakukan satu saja.

Padahal kita tahu, kemungkinan anda berhasil mempengaruhi orang akan sangat bergantung kepada keahlian anda menggunakan teknik yang tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat (right technic to the right people on the right time!)

Terus bagaimana dong caranya untuk improve our influencing skills?


0. UNDERSTAND YOUR STYLE

Pertama tama, kenalilah teknik yang anda sudah kuasai di antara teknik-teknik itu.¡¯Tujuannya adalah agar nanti kita bisa mengenali yang kita punya,¡¯dan mempelajari apa yang belum kita kuasai.

0. UNDERSTAND YOUR STAKEHOLDERS

Stakeholders dalam context ini adalah orang orang yang akan anda pengaruhi (influencing). Bisa saja customer anda, boss anda, teman sejawat (satu level) anda, anak buah anda, atau bahkan lembaga pemerintah yanv mungkin anda harus pengaruhi.
Dengan mengenal siapa mereka , bukan hanya mengetahui nama dan jabatan, tetapi juga working style dan leadership style mereka, akan lebih mudah nantinya untuk
influencing ke mereka.

0. IDENTIFY YOUR GAPS

Kenali kekurangan anda. Teknik apa yang anda belum kuasai di antara beberapa teknik tadi (Asserting, Negotiating, Convincing, Bridging dan Inspiring).
Pelajari ... Praktekkan ... Latihan!

0. DEVELOP YOURSELF

Perkaya teknik influencing anda. Baca, pelajari, praktekkan agar teknik anda semakin lengkap.
Buatlah diagram matrix berdasarkan ;
 Situasi
 Target (Nama orang yang akan anda influence)
 Timing (waktu)
Dan berusahalah menganalisa mana teknik yang tepat di setiap situasi

0. PRACTICE, PRACTICE, PRACTICE

Latihan, latihan , latihan!
Dan jangan lupa belajar dari  pengalaman. Baik pengalaman yang sukses maupun yang gagal!

Ingat, ini yang bisa anda lakukan untuk meningkatkan influencing skills anda ....

0. UNDERSTAND YOUR STYLE
0. UNDERSTAND YOUR STAKEHOLDERS
0. IDENTIFY YOUR GAPS
0. DEVELOP YOURSELF
0. PRACTICE, PRACTICE, PRACTICE


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Friday, December 22, 2017

What Got You Here, Won't Get You There

What Got You Here, Won't Get You There by Marshall Goldsmith

Sukses menimbulkan masalah.
Apa masalah terbesar yang dibawa oleh kesuksesan. Kita merasa sudah sukses (success delusion) dan tidak mau berubah. Akibatnya, kita tidak bisa meraih kesuksesan yang lebih besar. Kita berhenti di titik ini saat ini, tanpa mampu naik ke tahap berikutnya.

Di titik ini, kita merasa tahu segalanya - sementara orang lain merasa kita arogan.
Kita merasa sudah melakukan delegasi secara efektif, orang lain merasa kita tidak responsif.
Kita mengembangkan kemampuan tim dengan membiarkan mereka berpikir memecahkan masalahnya sendiri, namun tim kita berpikir bahwa kita mengabaikan mereka.

Sebagian besar masalah yang menggelayuti orang-orang sukses adalah masalah perilaku bukan masalah teknis. Secara teknis, orang-orang sukses sangat menguasai. Namun secara perilaku, seringkali mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bisa jadi justru menyinggung orang lain dan menghambat mereka naik ke tangga sukses berikutnya.

Ada perbedaan mendasar antara karena dan meskipun saat kita memiliki perilaku X dan sukses, pertanyaan dasarnya: itu karena atau meskipun?

Karena perilaku X Anda sukses atau meskipun Anda punya perilaku X Anda tetap sukses? Ini adalah dua hal yang sangat berbeda.

Misal: Anda merasa sukses karena Anda keras kepala. Pertanyaannya: Anda sukses karena Anda keras kepala atau meskipun Anda keras kepala Anda tetap sukses?

Coba tanyakan pertanyaan karena vs meskipun ini pada perilaku yang Anda anggap benar saat ini.

_Perilaku yang membawa kita ke titik suksesnya saat ini tidak akan membawa kita ke titik sukses berikutnya._ Dan kita perlu tahu, perilaku apa yang perlu kita ubah untuk membawa kita ke level sukses berikutnya.

Apa saja contoh perilaku yang menghambat Anda naik ke level sukses berikutnya? Saya akan bahas 4 dari 20 kebiasaan yang disebut oleh Marshall Goldsmith di bukunya.

Oya, menurut Goldsmith, untuk naik level yang kita perlukan adalah TO STOP LIST bukan TO DO LIST - karena sebagian besar kita tahu apa yang perlu dilakukan untuk naik level. Namun yang menghambat kita adalah kita tidak tahu apa yang perlu kita hentikan.


Kebiasaan #1: Winning too Much 

Keinginan untuk selalu menang di setiap situasi. Kompetitif adalah oke, inilah yang membawa seseorang sampai di titik suksesnya saat ini. Namun overkompetitif adalah masalah.

Suka ingin menang debat (entah dengan tim atau dengan kolega)? Merasa lebih tahu dan ingin orang mengikuti apapun kata kita? Ini adalah penyakit dari Winning too Much.


Kebiasaan #2: Adding too Much Value

Untuk sukses, Anda perlu menambahkan nilai ke orang lain. Anda perlu memberikan ide-ide baru, masukan, saran, apapun yang bernilai untuk tim atau atasan Anda. Namun sampai di titik sukses saat ini, Anda perlu mulai menguranginya.

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi di tim Anda bila Anda terus menerus menyuapi mereka dengan ide-ide Anda? Mereka tidak akan berkembang. Akibatnya, Anda pun sama. Anda berhenti di titik mereka berhenti.


Kebiasaan #3: Passing Judgement

Kebiasaan memberi penilaian: baik buruk, benar salah. Biasanya terjadi ketika kita diberi masukan (atau kritik) oleh orang lain, alih-alih menerima masukan mereka, kita malah menilai kualitas masukan mereka.

Saat kita diberi masukan oleh orang lain berlatihlah untuk merespon dengan senyum dan ucapkan: "terima kasih masukannya, saya perlu masukan-masukan seperti ini" - tidak mudah memang. Apalagi ketika kita merasa lebih sukses daripada mereka yang memberi masukan.


Kebiasaan #4: Making Destructive Comment

Komentar yang menyinggung orang lain, merendahkan mereka, atau sekadar menunjukkan bahwa posisi kita lebih tinggi dari mereka. Kadang kala kita tidak menyadari bahwa cara kita berkomentar dapat mengisyaratkan hal-hal itu. Maka sebelum mengomentari apapun, tanyakan: Apakah komentar saya membantu mereka?


Setahun kemarin saya bergulat dengan empat kebiasaan ini. Saya tidak menyadarinya, namun kebiasaan ini terjadi. Betapa sulitnya menerima masukan dari orang lain lalu tersenyum dan mengatakan terima kasih. Betapa sulitnya untuk diam tidak mengomentari kesalahan paparan seseorang. Betapa sulitnya berhenti memberi ide ke orang lain yang menyebabkan ide mereka berhenti berkembang.

Semua kebiasaan ini berakar dari: arogansi akan pengetahuan. Kita merasa sudah tahu banyak. Kita merasa bisa menjelaskan kenapa hal itu tidak berhasil. Kita merasa lebih pintar daripada mereka.

Bagaimana terapinya? Ada empat perilaku yang perlu dilatih.

Pertama, terbuka terhadap feedback - umpan balik. Berterimakasihlah saat ada seseorang memberi umpan balik kepada Anda. Umpan balik itu mahal.

Kedua, minta maaf. Jika Anda merasa salah atau orang lain menganggap Anda salah. katakan tiga hal:

1. "Maafkan saya"
2. "Saya akan lakukan lebih baik di masa depan"
3. Diam. Jangan tambahkan penjelasan mengapa begini mengapa begitu.

Ketiga, listening. Berlatih mendengarkan, menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang orang katakan.

Keempat, berterima kasih.

*Bedah buku oleh Coach Darmawan Aji*

Tuesday, December 19, 2017

Generasi Home Service

Apa itu generasi HOME SERVICE?

Generasi HOME SERVICE adalah generasi yang selalu minta dilayani. Ini terjadi pada anak-anak yang hidupnya selalu dilayani oleh orangtuanya atau orang yang membantunya.

Mulai dari lahir mereka sudah diurus oleh pembantu, atau yang punya kekayaan berlebih diasuh oleh Babysitter yang setiap 24 jam siap di samping sang anak. Kemana-mana anak diikuti oleh babysitter. Bahkan sampai umur 9 tahun saja ada Babysitter yang masih mengurus keperluan si anak karena orangtuanya sibuk bekerja.

Anak tidak dibiarkan mencari solusi sendiri. Contoh kecil saja, membuka bungkus permen. Karena terbiasa ada babysitter atau ART, anak dengan mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Tidak mau bersusah payah berusaha lebih dulu atau mencari gunting misalnya.

Contoh lain memakai kaus kaki dan sepatu. Karena tak sabar melihat anak mencoba memakai sepatunya sendiri maka orang dewasa yang di sekitarnya buru-buru memakaikan kepada anak.

Saat anak sudah bisa makan sendiri, orangtua juga seringkali masih menyuapi karena berpikir jika tidak disuapi makannya akan lama dan malah tidak dimakan.

Padahal jika anak dibiarkan tidak makan, maka anak tidak akan pernah merasa apa namanya lapar. Dan saat lapar datang seorang anak secara otomatis akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Bagaimana dia akan belajar makan sendiri jika dia tidak pernah merasakan apa itu namanya lapar?

Bagaimana dia akan belajar membuat minuman sendiri jika dengan hanya memanggil ART atau babysitter atau orangtuanya saja minuman itu akan datang sendiri kepadanya.

Saya mengutip perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, , ¡°Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan¡±.

Tapi beranikah semua orangtua memberikan hadiah itu pada anak?

Faktanya saat ini banyak orangtua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan memberikan tantangan.

Saat anak bertengkar dengan temannya karena berebut mainan, orangtua malah memarahi teman anaknya itu dan membela sang anak.

Ada pula yang langsung membawanya pulang dan bilang, ¡±udah nanti Ibu belikan mainan seperti itu yang lebih bagus dari yang punya temanmu..gak usah nangis¡±.

Padahal Ibu tersebut bisa mengatakan, ¡°Oh kamu ingin mainan seperti yang punya temanmu ya?
Gak usah merebutnya sayang¡­ kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sudah cukup kita akan sama-sama ke toko mainan membeli mainan yang seperti itu¡±.

Ada tantangan yang diberikan pada anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan maka dia harus berusaha.

Dalam keseharian Generasi HOME SERVICE semua pekerjaan rumah tangga tak pernah melibatkan anak. Saat anak membuat kamarnya berantakan langsung memanggil asisten untuk segera merapihkan kembali.

Anak menumpahkan air di lantai, di lap sendiri oleh Ibunya. Anak membuang sampah sembarangan, dibiarkan saja menunggu ART menyapu nanti.

Dalam hal belajar saat anak sulit belajar, orangtua telpon guru les untuk privat di rumah.

Generasi inilah yang nantinya akan melahirkan orang dewasa yang tidak bertanggungjawab.

Badannya dewasa tapi pikirannya selalu anak-anak, karena tak pernah bisa memutuskan sesuatu yang terbaik buat dirinya.
Sekolah yang carikan orangtua.
Rumah yang belikan orangtua,
Kendaraan yang belikan juga orangtua. Giliran berkeluarga yang mengasuh anak dan jadi pembantu di rumahnya juga ya si orangtuanya.
Kasian banget ya¡­sudah modalin banyak ternyata orangtua tipe begini hanya akan berakhir jadi pembantu di rumah anaknya sendiri.

Ajaklah anak bermain pada tujuh tahun pertama, disiplinkanlah anak pada tujuh tahun kedua dan bersahabatlah pada anak usia tujuh tahun ketiga.

Untuk anak usia 7 sd 14 tahun mulailah mendisiplinkannya., belajar mengerjakan PR sepulang sekolah, menyiapkan buku untuk esok pagi, membantu mencuci piring yang kotor, menyapu halaman rumah dll. Apabila anak umur 7 sd 14 tahun itu tidak melakukan kewajibannya maka perlu diingatkan agar dia menjadi terbiasa dan disiplin.

Untuk anak usia 14 sd 21 tahun maka orangtua perlu menolong anak untuk belajar bagaimana menggunakan waktunya, dan mengajari anak tentang skala prioritas.

Anda yang sudah menjadi orangtua pasti merasakan bagaimana seorang Ibu harus membagi waktunya yang hanya 24 jam itu untuk bisa mengelola sebuah rumah tangga. Pekerjaan yang tiada habisnya.

Karena itu sebelum anda menjadi depresi sendirian, maka libatkanlah anak anak dalam pekerjaan rumah tangga.

Faktor terpenting dalam meniadakan GENERASI HOME SERVICE  adalah peran ayah dalam mengerjakan perkerjaan rumah tangga.

Di Indonesia masih banyak suami yang tidak mau terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Seakan-akan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, mengepel dll itu adalah aib buat seorang suami. Padahal keikutsertaan para ayah dalam pekerjaan rumah tangga, berpengaruh positif terhadap keharmonisan keluarga.

Buat saya, suami yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga itu lebih macho dan ganteng dari actor sekaliber Brad Pitt atau Jason Statham.

Jadi sudah siapkah keluarga anda meniadakan GENERASI HOME SERVICE? Yuk kita sama sama mulai dari sekarang demi kebaikan dan masa depan anak-anak kelak.
Semoga bermanfaat.

Sumber :
https://www.kompasiana.com/deassymd/membasmi-generasi-home-service_552b2544f17e61da76d623a7

Sunday, December 17, 2017

How to be a Global Executive

Namanya Ryan, sudah enam tahun bekerja, baru saja lulus S-2 dari sebuah universitas top di Indonesia. Setelah membaca artikel-artikel saya secara regular di Facebook, dia memberanikan diri untuk mengirim message dan bertanya ke saya.
" Pak Pam, saya baru saja lulus S-2. Saya kuliah malam dan week end sambil bekerja di sebuah perusahaan multinasional company. Saya sudah bekerja selama 6 tahun di perusahaan itu, dan Alhamdulillah sudah mendapatkan 2 kali promosi. Saya juga sudah mendapatkan beberapa tawaran pekerjaan yang lebih menarik di perusahaan lain. But that's not what I want! Saya ingin menjadi executive di dunia global. Saya ingin bekerja di luar negeri dan dihargai seperti expatriate yang pergi ke Indonesia.
Tetapi saya sudah beberapa kali mencoba internal opportunity. Dan bahkan sudah beberapa kali wawancara ke luar negeri. Tetapi selalu saja gagal. Apakah yang salah dengan saya? Apakah saya memang cuma kualitas lokal? Saya hampir putus asa. Apakah yang perlu diperbaiki dari saya?
Bagaimana saya menjadi seorang executive yang dihargai di dunia global?"

Ryan seharusnya tidak berputus asa, karena Ryan punya banyak modal dan diffetentiators. Tetapi memang banyak talent talent Indonesia yang seperti Ryan. Bagus banget di local market, tetapi susah diadu dan  berkompetisi di global market. Sayang kan?

Saya pernah menjadi Head of Talenf Management di sebuah perusahaan international di wilayah Asia Pacific. Dan waktu itu saya mengamati trend di Beberapa negara di Asia. Ada talent yang berkelas "local" seperti Ryan, ada talent yang berkelas "global" dan bisa diadu.

Waktu itu saya mengamati ada 7 karakter yang dimiliki oleh para talent yang berkelas global.
Hari ini saya akan share observasi saya dan mudah-mudahan bisa menjadi pemacu bagi kita semua untuk memperbaiki diri.


Kita bahas satu persatu yuk ....

1. Eager to Learn

Kembangkan kebiasaan anda untuk belajar. Saya menyebutnya 3-dimensional-learning:
 Terus belajar mempertajam bidang yang anda tekuni agar anda semakin expert
 Mempelajari bidang lain di perusahaan anda agar anda mengerti context bisnis perusahaan
 Mempelajari industry lain untuk lebih mempersiapkan masa depan anda

Di sinilah talent talent kita harus meningkatkan diri, masih banyak yang hanya menguasai bidang keilmuannya saja. Masih banyak orang Finance yang hanya mengerti Finance, orang HR hanya mengerti HR dan orang Sales hanya mengerti Sales. Padahal talent talent global sudah mengerti context big picture yang membuat wawasan lebih luas dan mengambil keputusan dengan lebih baik.


2. Action Oriented

Banyak talent talent yang membaca buku tebal tebal dan membuat presentasi puluhan slides dan merasa menjadi expert. Banyak konsultan yang membuat konsep yang canggih tanpa pernah merasakan rumitnya implementasi.
Global talents understand the strategy and will be very action oriented. Mereka sangat mengerti apa yang diperlukan dalam implementasi konsep tersebut.
Dan mereka sangat memikirkan detail konsep tersebut agar implementasinya berjalan dengan baik. That's the difference !


3. Teamwork

Sementara di beberapa perusahaan lokal, banyak yang politik-politikan, banyak yang jegal menjegal dalam karier, dan banyak yang mengandalkan seorang "backingan" untuk berkarier, di dunia global, anda akan sendirian, you are on your own, and the only thing that you can rely on is your competences and your teamwork. Maka penting sekali dari awal career untuk membentuk karakter sebagai team player dan menjadi team worker yang baik, yang mengutamakan kepentingan team di atas kepentingan pribadi


4. Mind the culture differences

Global talents mengerti aspek budaya yang berbeda beda dari setiap negara dan setiap suku bangsa. Mereka tidak merasa bahwa budaya mereka yang paling baik atau paling benar. Tetapi mereka open mind dan mau belajar dari budaya lain, dari suku bangsa lain dan dari negara lain. Sehingga kalau mereka mau influence others mereka selalu mencoba mengerti audience mereka (dengan memperhatikan culture difference itu) dan itu membuat mereka menjadi influencer yang lebih baik.


5. Opportunity builder

Global talents juga jago mencari dan menemukan opportunity di tengah tengah challenge yang mereka hadapi. Mereka tahu challenge yang mereka hadapi sangat besar. Tetapi mereka juga mengerti bahwa kalau mereka mampu menyelesaikan masalah itu, performance record mereka akan bagus dan berarti promosi akan datang atau minimal market value mereka akan naik.
Lain dengan talent talent yang cuma bisa mengeluh dan komplain pada saat dikasih challenge yang lebih besar.
Remember, smille when you face a big challenge, there will be a great opportunity behind ...


6. Resiliance

Challenge yang kita hadapi makin lama makin besar. Dan seringkali untuk menyelesaikan masalah itu kita harus gagal, gagal dan gagal berkali kali. Kita perlu talent talent yang tahan banting dan tidak mudah menyerah.
Kita perlu talent talent yang berkemauan keras, berhasrat kuat, persistence dan perserverance menghadapi segala tantangan itu sampai akhirnya mencapai keberhasilan.


7. Executive Presence

Last but not least, executive presence. Bagaimana membuat orang lain respect kepada anda , dengan ...
 How you look (your appearance)
 How you speak (your communication skills)
 How you behave (your integrity, your competence and your performance)

It start from the appearance. Penampilan harus bagus, communication skills harus bagus, performance dan ability yo deliver harus bagus.
Banyak  yang suka nyinyir bahwa ada global talent yang cuma jago ngomong dan penampilannya bagus, well kalau performance nya gak bagus , gak mungkin mereka bisa survive sekian lama.

So, in the end of the day being global talent berarti selalu mempunyai open mind dan selalu belajar dari mana saja dan dari siapa saja.

Ingat, kalau kita ingin menjadi talent selevel dengan global executive, mari mulai kita kembangkan kebiasaan kebiasaan di bawah ini ....

1. Eager to Learn
2. Action Oriented
3. Teamwork
4. Mind the culture differences
5. Opportunity builder
6. Resiliance
7. Executive Presence

Mau gampang diingat, ketujuh kebiasaan itu bisa disingkat EAT MORE ... Eager-to-learn, Action-oriented, Teamwork, Mind-the-culture, Opportubity-builder, Resiliance and Executive-presence.

Selamat mencoba !


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Wednesday, November 29, 2017

Employee Satisfaction

CUSTOMER SATISFACTION atau EMPLOYEE SATISFACTION ?

Memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan barangkali merupakan pilihan mutlak yang kudu diambil ketika sebuah entitas bisnis hendak melestarikan kejayaannya.

Pertanyannya kemudian adalah : langkah strategis apa yang semestinya diambil agar mantra kepuasan pelanggan tak berhenti pada mantra belaka?

Dari sejumlah wacana, kita mungkin bisa menyebut beragam item : mulai dari pengembangan visi yang berfokus pada pelanggan; penumbuhan benih-benih inovasi buat menghasilkan high value added products hingga perintisan budaya service excellence, dan juga perampingan proses bisnis untuk mempercepat pelayanan.

Lalu, apakah beragam item ini cukup untuk mewujudkan impian tentang satisfied customers? Jawabannya barangkali tidak.

Sebab sepertinya ada satu item yang punya peran kritikal namun sialnya, selama ini acap luput dalam perbincangan mengenai pemenuhan kepuasan pelanggan.

Item itu berbunyi begini: untuk memuaskan pelanggan maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memuaskan karyawan. Dengan kata lain, you can not create satisfied customers without satisfied employees

Proposisi ini sejatinya didukung juga oleh serangkaian studi di berbagai belahan dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Dana Jones (1996) misalnya; menunjukkan adanya hubungan yang positif antara customer satisfaction (CS) dengan employee satisfaction (ES).

Artinya tingkat kepuasan karyawan Anda berbanding lurus dengan tingkat kepuasan pelanggan yang Anda miliki ¡ยช semakin puas karyawan Anda, maka semakin tinggi juga tingkat kepuasan pelanggan Anda, dan sebaliknya.

Temuan serupa juga dikenali dan dimanfaatkan oleh Sears Roebuck, sebuah perusahaan retail terkemuka dari USA.

Dari survei tahun yang dilakukan, mereka menemukan bahwa rating kepuasan karyawannya amat menentukan tinggi rendahnya rating kepuasan pelanggan mereka, dan pada ujungnya berpengaruh terhadap tingkat profit yang mereka peroleh. Karena itu, pihak top manajemen Sears kemudian meminta setiap store manager-nya untuk peduli dengan kepuasan karyawannya; sebab faktor ini ternyata amat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan dan juga tingkat profit yang diperoleh tiap outlet-nya.

Melihat fakta-fakta diatas, lalu apa yang mestinya dilakukan? Jawabannya barangkali jelas. Sejumlah inisiatif untuk memuaskan pelanggan yang selama ini telah diusung ramai-ramai perlu juga dibarengi dengan inisiatif untuk memuaskan karyawan.

Ibarat merenovasi rumah, Anda tak mungkin hanya merias dinding-dinding luarnya saja; namun juga musti menciptakan desain interior yang cantik untuk memuaskan para penghuninya.

Segenap promosi dan reklame tentang gambar pelanggan yang tersenyum puas hanya akan menjadi sebuah parodi manakala itu tak dibarengi dengan sebuah keseriusan untuk memberikan pelayanan yang sempurna kepada para ¡°pelanggan didalam¡± ¨C yakni barisan para karyawan.

Dalam konteks ini ada sejumlah inisiatif yang layak diusung untuk memuaskan para karyawan; semisal : membangun lingkungan kerja yang kondusif; menawarkan variasi tugas yang challenging; menciptakan career plan yang jelas atau juga menyodorkan paket remunerasi yang atraktif. Atau dengan kata lain : memberikan paket imbalan yang cetar membahana.

Terlalu pelit memberikan reward atau fasilitas yang bisa membuat karyawan happy mungkin akan terasa bagus dilihat dari sisi cost efficiency.

Namun dalam jangka panjang, efisiensi biaya ini justru bisa menimbulkan hidden cost yang amat masif : salah satunya pelayanan pelanggan menjadi buruk, dan membuat pelanggan lari. Ujungnya penjualan jeblok.

Karyawan yang tidak happy juga akan membuat laju inovasi menjadi termehek-mehek. Dan ini bisa membuat perusahaan terjungkal dalam persaingan yang amat disruptif.

Karyawan yang tidak puas juga akan membuat mereka mudah pindah kerja ke perusahaan lain, dan ini memunculkan biaya rekrutmen yang mahal dan melelahkan.

Itulah kenapa beberapa perusahaan kelas dunia tak segan mengerahkan segenap energinya untuk benar-benar memberikan layanan super istimewa bagi para karyawannya.

Harapannya, sejumlah inisiatif diatas akan dapat menciptakan barisan satisfied employees yang mampu memberikan pelayanan terbaik dan senyum yang tulus bagi para pelanggannya. Dan bukan senyum yang dipaksakan lantaran ada rasa tidak puas yang mengganjal di benaknya.

Pendeknya, hanya barisan karyawan yang puas-lah yang benar-benar akan mampu membuat para pelanggan tersenyum dan bersorak riang.