Tuesday, August 27, 2019

Bisnis yang Praktis

Bisnis yang praktis itu seperti apa?

Kemarin saya ngumpul bareng partner-partner. Ada Kak Diaz dari Jakarta, Kak Marida dari Bogor, Mbak Malina dari Yogya, dan Teh Teni dari Sukabumi. Ramai dan seru, alhamdulillah. Kami saling belajar satu sama lain. Kalau boleh, di sini saya akan share sedikit percakapan kami semalam.

Tentang bisnis yang praktis. Ternyata ada ciri-cirinya.

Namanya bisnis tidak harus produksi sendiri. No production, istilahnya. 

Saran saya, "Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan.

Kalau pemula? Biasanya belum sanggup."

Setelah no production, terus apa lagi? No operational. 

Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Sekali lagi, fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan (income). Dan jangan pula setiap bulan kita harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, dan listrik-air. Iya kalau laris.

Kalau nggak laris, gimana cara membayarnya?

Kemudian, saya menyarankan barang yang delivery-able. 

Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula yang mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi. Syukur-syukur mudah disimpan, nggak nyita space.

Gimana dengan kualitas? High quality, saran saya. 

Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Bisa viral, bisa nyebar. Ya, memang lebih baik kalau konsumen yang berbicara ketimbang penjual.

High repetition adalah saran saya yang berikutnya. 

Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari-cari konsumen baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi. Adalah menyenangkan kalau konsumen yang ada repeat order dengan sendirinya, mingguan atau bulanan.

Terakhir, high Margin. 

Minimal marginnya 25%. Itu minimal. Bukan karena kita kemaruk. Bukan. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dll. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya? Rada repot.

Inilah ciri-ciri bisnis yang praktis.

Dan insya Allah sangat bermanfaat buat pemula.

Monday, August 26, 2019

Fokuslah Mencari Jawaban yang Mensolusikan

Saya bukan pengusaha yang paling sukses.

Saya bukan entrpreneur yang paling senior.

Tapi, selama ini orang-orang sering bertanya sama saya soal bisnis. Konsultasi. Saya pun berusaha menjawabnya. Alhamdulillah banyak yang merasa terbantu. Dan inilah yang saya lakukan selama 10 tahun terakhir.

Seperti biasa, saya selalu ngomong blak-blakan dan to the point. Saran dan solusi dari saya kadang pahit. Tapi insya Allah mensolusikan. Cuma, sebagian orang nggak mau jawaban yang mensolusikan. Mereka lebih suka jawaban yang menghibur.

Sebenarnya itu nggak seberapa.

Terhadap partner-partner, jujur saja, saya lebih saklek lagi. Right to the point. Yang nurut, yang manut, alhamdulillah banyak yang melesat pertumbuhan bisnisnya. Biasanya begitu. Saya bisa tunjukkan bukti-buktinya.

Terlepas dari itu, saya pun bersyukur belakangan ini semakin banyak orang yang berminat untuk ber-partner dengan saya, alhamdulillah. Karena keterbatasan yang saya miliki, kesempatan ber-partner ini saya buka jarang-jarang. Yang terdekat adalah Kamis ini.

Yang minat, silakan ya.

Adapun teman-teman yang sudah punya bisnis dan sudah punya mentor (pembimbing), abaikan saja kesempatan ber-partner ini. Fokus saja pada bisnis Anda. Lalu kita saling mendoakan saja. Boleh?

Terakhir, sekiranya kita ada masalah, fokuslah mencari jawaban yang mensolusikan. Bukan jawaban yang menghibur. Karena kita semua berharap jalan keluar dan kenyamaan untuk jangka panjang kan? Bukan sesaat.

Apapun bisnis dan kesibukan teman-teman, mudah-mudahan berkah berlimpah.

Thursday, August 22, 2019

10 YouTuber Paling Kaya se-Jagat Raya

Ini 10 YouTuber Paling Kaya se-Jagat Raya

Purple Moon Promo memaparkan 10 YouTuber dengan penghasilan paling banyak

YouTube menjadi sarana hiburan, edukasi, serta penghasilan bagi sebagian besar orang. Saat ini masyarakat telah mengalihkan ketertarikannya terhadap dunia pertelevisian ke YouTube. Untuk itu, banyak orang yang mendulang rezeki menjadi artis YouTube alias YouTuber.

Belum lama ini, sebuah studi dari Purple Moon Promo memaparkan tentang 10 YouTuber dengan penghasilan paling banyak di seluruh dunia.

Menariknya, salah satu YouTuber asli Indonesia yang eksis dengan jargonnya “Ashiappp”, yakni Atta Halilintar masuk ke dalam daftar. Ia menempati posisi ke-8 sebagai YouTuber paling kaya raya dan penghasilannya yang tinggi di dunia.

Dalam sebuah riset studi yang dilakukan Purple Moon Promo, mereka melihat dan mencari 20 YouTuber yang mendapatkan penghasilan terbesar di dunia tak hanya melalui tayangan YouTube-nya, tapi juga melalui penjualan merchandise dan iklan.

Untuk lebih lengkapnya, berikut 10 besar YouTuber yang raup penghasilan paling besar di dunia tahun ini:

1. Pewdiepie: 6,5 juta poundsterling atau Rp 112,4 miliar per bulan
2. Dude Perfect: 2,8 juta poundsterling atau Rp 48,4 miliar per bulan
3. VanossGaming: 2,1 juta poundsterling atau Rp 36,3 miliar per bulan
4. DanTDM: 2,1 juta poundsterling atau Rp 36,3 miliar per bulan
5. JuegaGerman: 1,8 juta poundsterling atau Rp 31,1 miliar per bulan
6. Markiplier: 1,7 juta poundsterling atau Rp 29,4 miliar per bulan
7. Collins Key: 1,7 juta poundsterling atau Rp 29,4 miliar per bulan
8. Atta Halilintar: 1,3 juta poundsterling atau 22,4 miliar Rp per bulan
9. jacksepticeye: 1,3 juta poundsterling atau Rp 22,4 miliar per bulan
10. Smosh: 1,3 juta poundsterling atau Rp 22,4 miliar per bulan


Sumber :
https://republika.co.id/berita/pwn41i17000/ini-10-youtuber-paling-kaya-sejagat-raya

Wednesday, August 21, 2019

Syukuri Kegiatanmu

Ketika sibuk mencari nafkah, hindari mengeluh. Itu hanya mengurangi keberkahan rezeki dan mengundang murka Sang Pemberi Rezeki. Bayangkan Anda diberi kue oleh seseorang, tapi Anda berkeluh-kesah tiada henti tentang kue tadi. Tentu saja, si pemberi kue itu sakit hati. Apa mungkin kue Anda ditambahi? Mana mungkin ini terjadi!

Lagi pula, mengeluh juga melemahkan otak dan tubuh. Jadinya gampang sakit. Tak cukup sampai di situ, si pengeluh juga mengusir orang yang baik-baik (karena muak mendengar keluhannya) dan menghimpun orang yang jelek-jelek (si pengeluh lainnya, katanya sih curhat). Parahnya lagi, apa yang Anda keluhkan malah semakin menjadi-jadi. Memburuk.

Ingat, sibuk beraktivitas adalah fitrahnya manusia. Maka dari itu, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu.

Sekiranya Nabi Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga? Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Nabi Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sibuk beraktivitas. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.

Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Berikhtiar. Berjuang.

Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi BUKAN untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan, menerjang, badai. Berikhtiar. Berjuang. Right?

Sekali lagi, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu. Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada tim Anda dan keluarga Anda. Niatkan untuk mengingatkan mereka.

Di Surah Ar-Rahman, kalimat 'nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan' diulang sampai 31 kali. Kenapa diulang berkali-kali? Ini seruan kepada manusia untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Janganlah mendustakan. Ini menurut Syaikh Amru Khalid.

Menurut Imam As-Suyuthi pula, pengulangan itu untuk memantapkan pemahaman manusia tentang bersyukur. Wong sudah diulang 31 kali saja, kita masih mengeluh, apalagi kalau nggak diulang? Akhirnya, bersyukurlah. Semoga hidup kita semakin berkah berlimpah.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Monday, August 19, 2019

Mentor adalah Sumber Ilmu

Kalau Anda ingin pergi ke suatu destinasi dan Anda belum pernah sampai di destinasi tersebut, ada baiknya Anda didampingi oleh tour guide atau sejenisnya. Dengan adanya tour guide, resmi atau tidak resmi, kemungkinan besar Anda bisa mencapai destinasi itu dalam waktu yang lebih cepat.

Bukan itu saja, Anda pun akan diberitahu spot-spot terbaik (terindah) di destinasi tersebut. Misalnya pekan lalu, ketika saya berada di Cameron Highland bersama partner-partner, kami dijamu dan dipandu oleh pengusaha hebat Coach Nick bersama tim. Alhamdulillah, perjalanan yang sangat menyenangkan dan sangat berkesan.

Dalam bisnis, ini juga terjadi. Namanya mentor. Dia adalah sumber ilmu.

Masih soal mentor. Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril.

Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara untuk mencapainya. Hm, apakah ini penting? Bukan saja penting, tapi sangat penting!

Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajarkan. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajarkan, namun belum pernah mencapai. Ini dua hal yang berbeda. Dan kedua-duanya perlu. Kalau cuma salah satu, yah kurang optimal proses mentoring-nya.

Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.

Pada akhirnya, belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Dengan menerapkan ilmu dari seorang mentor yang ahli dan bijak, mudah-mudahan nasib kita akan lebih baik. Ya, lebih baik.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Thursday, August 15, 2019

Jangan Sekedar Berbisnis

Mungkin teman-teman sudah tahu bahwa salah satu bisnis saya adalah supplement. Tapi yang saya banggakan kali ini adalah distributor-distributornya, bukan produknya. Mereka ini adalah partner-partner saya.

Kenapa saya bangga sama mereka? Begini. Mereka ini sebenarnya adalah pesaing satu sama lain. Tapi hebatnya, mereka tidak pernah berpikir begitu. Sebaliknya, mereka malah saling bantu dan saling mendoakan, layaknya sahabat bahkan saudara. Inilah ekosistem yang terbangun selama ini.

Di mana-mana saya selalu bilang, "Bisnis yang masif manfaatnya dan positif ekosistemnya, layak diperjuangkan." Walaupun bisnis itu sesekali rugi, pertahankan. Ya, pertahankan. Apalagi kalau ternyata bisnis tersebut untung dan potensinya besar. Harus benar-benar dipertahankan serta diperjuangkan.

Saran saya, jangan sekedar berbisnis. Soal halal, itu sih sudah standar. Sebagai tambahan, cari bisnis yang ekosistemnya positif. Di mana lingkungan dalam bisnis itu membuat kita tambah dekat sama keluarga, tambah dekat sama agama, dan tambah peka terhadap sesama.

Indah tho? Sangat indah insya Allah.

Bisnis yang hanya bicara soal rupiah adalah bisnis yang murah, bahkan murahan. Kita orang beriman harus berpikir lebih daripada itu. Ada keberkahan. Ada ekosistem yang positif. Ada manfaat yang masif. Kalau sudah begini, insya Allah bisnisnya akan 'menjaga' kita. Selamat dunia akhirat.

Dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur, saya sempat merenung, "Hidup adalah pilihan." _Maka, selagi bisa memilih, pilih bisnis yang bisa 'menjaga kita'._ Kalau belum dapat, yah cari. Proaktif. Jangan diam begitu saja. Siap? Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.

Monday, August 12, 2019

Fokus, Rumus yang Simple

Sekarang adalah bulan ke-8 pada tahun ini. Itu artinya sekitar 2/3 dari target setahun, harusnya sudah tercapai pada bulan ini. Ya, harusnya sudah tercapai. Nah, ada baiknya masing-masing kita melakukan evaluasi.

Ingat, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.

Target, prestasi, dan produktif adalah kata-kata yang dipopulerkan oleh manusia-manusia modern. Sah-sah saja. Dan kita mau nggak mau harus welcome dengan kata-kata ini. Juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saran saya, untuk mencapai target, masing-masing kita hendaknya menajamkan kefokusan. Saat kita fokus, energi terkumpul di situ dan pastilah terjadi sesuatu. Sebaliknya, saat kita tidak fokus, energi terpecah ke berbagai arah. Jadinya yah lemah.

Saya bersyukur sekali, melalui komunitas bisnis yang saya rintis, alhamdulillah saya berhasil mengantarkan puluhan orang income-nya membaik. Benar-benar membaik. Puluhan juta sebulan.

Tentu, ini tidak terjadi pada semua partner. Biasanya hanya terjadi pada partner-partner yang fokus. Contohnya partner-partner saya seperti Iwan, Naning, Arda, Tanto, Dayat, dan Malina.

Serunya lagi, ketika Anda fokus, hasilnya akan membesar dan kesibukan Anda akan berkurang. Sebaliknya, ketika Anda tidak fokus, hasilnya akan mengecil dan kesibukan Anda akan bertambah.

Fokus ini rumus yang simple. Saking simple-nya, banyak orang yang tidak percaya. Saya harap Anda termasuk segelintir orang yang percaya pada rumus ini. Percayalah, kalau serius dan fokus, hasilnya pasti bagus. Ini adalah rumus.

Siap?

Tuesday, August 6, 2019

Ngumpulin Amal

Weekend yang lalu, saya seminar di tiga titik. Kedutaan Malaysia, Karawang, dan Bekasi. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sebenarnya kalau mau santai, saya cukup duduk-duduk saja di rumah. Nggak harus seminar.

Toh soal rezeki sudah ada dari sumber-sumber yang lain, alhamdulillah. Tapi ini soal kebermanfaatan dan amal jariyah. Kata guru saya, manusia diukur dari manfaatnya, bukan dari harta-bendanya.

Bagi saya pribadi, mungkin lebih tepat disebut, ngumpulin amal. Apalagi mengingat umur saya sudah 40 tahun lebih.

Sekitar 80% seminar saya konsepnya non-profit. Dalam artian, saya tidak dibayar. Kalaupun ada tiket yang dijual, itu untuk menutupi biaya operasional panitia dan sewa tempat. Kalau ada lebihnya? Yah buat sedekah.

Nggak dapat uang, tapi saya tetap bersemangat.

Kenapa?

Begini. Jarang orang tahu, ketika Anda mengajarkan ilmu bisnis dan ilmu penafkahan pada seseorang, insya Allah Anda akan memetik sesuatu yang sangat berharga, namanya pahala berlapis. Kok bisa?

Karena dengan ilmu bisnis itu, dia mampu menafkahi keluarga, memberi gizi terbaik untuk keluarga, memilih sekolah terbaik untuk anak, memilih rumahsakit terbaik untuk orangtua, membiayai umrah sekeluarga, bahkan membantu sesama.

Segala kebaikan itu, Anda punya andil. Dengan kata lain, Anda-lah yang menjadi wasilah dan perantara-nya. Pahala berlapis tuh. Saran saya, "Sedikit atau banyak, ajarkan ilmu bisnis kepada orang-orang di sekitar kita."

Akhir bulan nanti, saya bersama Diaz Adriani insya Allah akan mengadakan seminar 'Muhammad Sebagai Pedagang' di Pejaten. Berbagai rahasia dan tips bisnis dari Nabi Muhammad, insya Allah kami sampaikan di sini.

Teman-teman mungkin beda profesi dengan saya. Nggak masalah. Tapi soal kebermanfaatan dan amal jariyah, saya pikir ini concern semua orang, apapun profesinya apapun posisinya. Mari sama-sama kita ikhtiarkan.

Siap?

7 Orang Introvert yang Sukses

Biarpun Introvert, 7 Orang Ini Buktikan Mereka Bisa Sukses dan Punya Kekayaan Rp 1.050 T!

Banyak pihak menganggap bahwa orang sukses itu hanya berasal dari pribadi yang cenderung ekstrovert karena lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Nyatanya hal itu gak selalu benar lho, ada juga orang yang berkategori introvert yang sukses di dunia ini. Bahkan saking kayanya total harta yang dimiliki mencapai ribuan triliun rupiah.

Penasaran siapa dia?

Introvert atau orang yang sifatnya lebih condong ke perasaan serta pikiran dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain atau dunia luar sering dipandang sebelah mata bagi sebagian orang.

Itu gak lepas dari kemampuan interaksi mereka yang masih dibawah daripada orang yang berkepribadian ekstrovert atau sebaliknya. Tapi yang perlu dicatat disini adalah mereka bukan berarti anti bersosialisasi lh ya. Hanya aja lebih sering berpikir dulu sebelum mengeluarkan kata-kata dari mulut.

Kalau kamu memiliki kepribadian yang introvert jangan minder dulu untuk berusaha, sebab ada 7 contoh orang sukses yang selama ini sering tampil di media sosial dan ternyata mereka punya kesamaan dengan kamu.


1. Barack Obama

Mengutip dari Career Addict, siapa sih yang gak kenal dengan Barack Obama? Presiden Amerika ke 44 sekaligus orang kulit pertama yang memimpin negeri Paman Sam ini ternyata adalah seorang yang introvert.

Pria yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1961 ini sempat menghabiskan masa kecilnya di daerah Menteng, Jakarta Pusat, selama beberapa waktu sebelum pindah ke Amerika Serikat.

Selama kariernya di politik ia berhasil mengumpulkan harta kekayaan sampau US$ 40 juta atau setara Rp 556 miliaran.


2. Marissa Mayer

Selanjutnya ada orang sukses Marissa Mayer yang sempat masuk dalam wanita paling berpengaruh di dunia pada tahun 2012 oleh majalah Forbes.

Marissa Mayer merupakan mantan CEO raksasa internet Yahoo! Pada tahun 2012 sampai 2017 lalu. Ia merupakan salah satu dari segelintir wanita yang berhasil memimpin sebuah perusahaan dunia.

Cuan yang berhasil dikumpulkan selama kariernya tercatat sekitar US$ 600 juta atau setara Rp 8,3 triliunan.


3. Larry Page

Ketiga ada Larry Page yang merupakan orang sukses yang mendirikan raksasa mesin pencari Google. Salah satu faktor mengapa ia jarang terekspos oleh media beberapa kalangan menganggap akibat sifat kepribadiannya yang introvert.
Mungkin karena sifatnya tersebut yang membuat kejeniusannya bisa mendirikan perusahaan sebesar Google, gak kebayang deh kalau dunia tanpa mesin pencari tersebut.

Total kekayaan Larry Page diperkirakan mencapai US$ 51,1 miliar atau setara Rp 711 triliunan.


4. Albert Einstein

Albert Einstein adalah seorang ilmuan dunia yang terkenal akan kepintarannya menemukan teori relativitas. Ia sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berpikir dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain.

Karena kepribadiannya tersebut Einstein berhasil membantu dunia dalam memecahkan misteri yang sebelumnya belum diketahui masyarakat banyak.


5. Steve Wozniak

Kamu seorang pengguna gadget Apple? Maka orang sukses ini sangat berkontribusi atas barang yang kamu gunakan tersebut sehari-hari.

Sebab Steve Wozniak adalah salah satu dari pendiri Apple bersama dengan Steve Jobs yang udah meninggal pada tahun 2011 lalu dan Ronald Wayne. Sekarang Apple udah menjadi perusahaan dengan nilai valuasi terbesar di dunia bersaing ketat dengan Microsoft.

Kekayaan Steve Wozniak ditaksir mencapai angka US$ 100 juta atau setara Rp 1,3 triliunan.


6. Steven Spielberg

Orang sukses keenam yang memiliki kepribadian introvert adalah Steven Spielberg. Di dunia Hollywood ia terkenal karena film-film yang diproduksi olehnya memiliki adegan ledakan yang khas.
Beberapa film seperti Transformer, Jurassic Park, Bumblebee dan The BFG berhasil menembus pasar Box Office dunia.

Dengan karya-karyanya tersebut Steven Spielberg berhasil mengumpulkan kekayaan mencapai US$ 3,1 miliar atau ssetara Rp 43 triliunan.


7. Mark Zuckerberg

Terakhir ada nama Mark Zuckerberg yang berhasil menciptakan media sosial Facebook pada tahun 2004 lalu.  Gak banyak yang mengetahui bahwa ia adalah seorang yang introvert.

Kisah tentang kehidupannya sempat difilmkan dengan judul Social Network. Dengan hasil usahanya tersebut ia berhasil menjadi orang sukses dan masuk ke dalam jajaran orang terkaya dunia dengan total harta US$ 75,5 miliar atau setara Rp 1.050 triliunan.


Sumber :
https://www.moneysmart.id/orang-sukses-yang-introvert-dan-kaya-raya/

Monday, August 5, 2019

The Ceo Who Failed To Understand The Millennials

THE CEO WHO FAILED TO UNDERSTAND THE MILLENNIALS

Cerita nyata ini diceritakan oleh seorang talent ke saya. Suatu saat ada seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia sedang menyampaikan speech tentang perkembangan bisnis dan challenge yang perusahaan akan hadapi tahun depan.

Saat itu ada seorang millennial yang sedang asyik mengetik di SmartPhone.

Sang CEO pun murka,”Heyyyy! Siapa kamu? CEO sedang speech kok kamu malah ngetik di SmartPhone!!! Tidak sopan!!!”

Sang millennial menjawab,”Saya pikir yang Bapak sampaikan itu keren banget pak. Langsung saya sampaikan di Twitter saya. Langsung ada ratusan yang follow. Dan banyak yang bilang ke saya di sana. Katanya CEO saya keren dan inspiring banget pak. Saya pikir hal-hal begini harus saya sampaikan ke banyak orang Pak. Do you want me to stop?”

(Dia mengatakan itu sambil menunjukkan smartphone  ya yang layarnya memang menunjukan Twitternya).

CEO itu pun merasa tertampar, karena telah berprasangka buruk kepada anak millennial itu. Dan suasana itu menggambarkan banyak situasi yang terjadi saat ini. Di mana banyak sekali generasi “tua” gagal memahami perilaku generasi millennial dan menilai mereka sebagai tidak sopan. Padahal sebenarnya memang communication dan personality style yang berbeda.

Situasi di mana mereka dicap sebagai bosenan padahal memang mereke perlu tantangan yang berbeda setiap saat ).

Hal ini sama persis seperti anak lulusan universitas ternama yang baru saja di bully oleh masyarakat karena menolak tawaran gaji 8 juta. Bahkan di sebuah social media ada yang komentar,”Jaman sekarang lu yang butuh perusahaan, bukan perusahaan yang butuh lu!” Well, not necessarily. Saya pernah mengenal seorang yang baru lulus S-1 dan mendapatkan empat tawaran kerja (di empat perusahaan yang berbeda), yang gajinya belasan juta rupiah per bulan.

Ada posisi seperti itu (biasanya Management Trainee di perusahaan besar), dan ada millennial seperti itu (yang punya empat tawaran kerja yang bagus itu).

Jadi sebelum kita menghakimi, mem-blaim dan mengkritik di social media, ada baiknya kita mengenal karakter mereka terlebih dahulu, jangan seperti CEO di atas (yang mempermalukan dirinya sendiri).

They are different. Mereka berbeda, dan jangan pernah membandingkan mereka dengan generasi sebelumnya. Jangan pernah membandingkan mereka dengan generasi jadul yang mau melakukan pekerjaan yang sama bertahun-tahun.

Jangan menyamakan mereka dengan orang-orang tekun yang mau dibayar murah untuk mengerjakan pekerjaan yang membosankan.

Mereka kreatif, mereka cerdas , dan mereka merasa mereka berhak mendapatkan penghargaan yang lebih keras karena mereka bekerja keras dengan cerdas.

Di masa depan, customer anda adalah generasi millennial. Berarti anda harus mengenal mereka agar anda mengerti bagaimana product-product anda mampu menarik perhatian mereka.

Di masa depan (sebentar lagi), talent-talent anda dan leader-leader anda adalah generasi millenial. Kalau anda gagal mengerti mereka, mereka tidak akan mau join perusahaan anda.

Ingat, mereka punya pilihan, dan kalau anda tidak mampu memahami mereka,
mereka akan lebih memilih untuk join perusahaan lain, (anda mungkin hanya akan
mendapatkan yang kelas 2 atau kelas 3 secara quality), dan kalau yang terbaik akan join perusahaan saingan anda, anda malah repot nantinya.

Dan inilah mengapa semua leader, bukan hanya CEO, tapi semua team leader harus benar benar mampu mengerti dan menginspirasi Millennial.

“Tetapi millennial itu kutu loncat pak, mereka pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain setiap tahun!”, keluh seorang peserta di seminar saya.

Keluhan itu justru menunjukkan bahwa anda tidak mengenal mereka. Karena kalau anda mampu mengenal mereka dan menginspirasi mereka, mereka akan menjadi karyawan yang paling loyal, berprestasi maximal dan berpotensi menjadi leader. Mereka loncat karena anda yang tidak mampu menginspirasi mereka.

Pertanyaannya ,”Apakah anda mampu menginspirasi mereka?” Dan menginspirasi mereka dimulai dengan mengenal mereka?

Anak saya yang kedua bernama Nadia. Hobbynya naik kuda di Sentul. Kudanya besar banget, hitam legam dan sangat kuat. Saya tahu kuda itu bisa  berlari cepat sekali.

Tetapi saya tahu bahwa kuda itu juga bisa melemparkan tubuh mungil Nadia dan Nadia akan jatuh kesakitan. Tetapi somehow, Nadia mampu mengendalikan kuda itu.

Saya bertanya ke Nadia,”How do you do it?”

Nadia bilang,”Trainer saya mengajari saya bahwa saya harus breath and behave like the horse

Nadia harus bernafas dan berperilaku seperti kuda! Maksudnya apa? Kalau Nadia ketemu kuda itu,  Nadia harus mengerti apakah kudanya sedang marah, sedang happy, sedang sedih atau apa.
Kalau kudanya masih marah Nadia akan berdiri di sampingnya, dan berbicara dengan kuda, dan menunggu saat yang tepat untuk naik kuda itu  Kalau kudanya sedih, Nadia akan menghiburnya. Kalau kudanya lagi happy,  Nadia akan mengajaknya bermain.

Saya bertanya,”But how do you understand their feeling?” Nadia menjawab,”Because I spend a lot of time with them, now I understand them.” Voila!

Pertanyaan saya ke anda...
Apakah anda mengenal talent-talent millenial anda?
Seberapa banyak anda menghabiskan waktu bersama mereka?

Banyak sekali leader yang bilang ke saya,”People is our No.1 asset. People development is my priority”

Terus saya bertanya,”Tunjukkan ke saya jadwal meeting anda. Tunjukkan ke saya berapa jam seminggu yang anda habiskan untuk mengelola Asset No.1 anda? Tunjukkan   berapa jam anda habiskan untuk mengerjakan priority anda?”

Dan mereka tersenyum malu.

Saya sangat mengerti bahwa kita harus mengembangkan generasi millennial. Karena potensi mereka yang hebat (smart, fast and digitally connected). Tetapi juga kita harus mengenali karakter mereka yang harus kita kembangkan (communication style, kesabaran, dan teamworking).
Tetapi bagaimana anda akan mengembangkan mereka kalau anda tidak mengenal mereka?

Lakukan  beberapa hal di bawah ini ...


a) SPEND TIME WITH THEM

Habiskan waktu bersama mereka.  Ikuti gaya dan style mereka. Hang-out dan ngopi bersama mereka. Ikut pergi ke tempat yang mereka suka. Coba baca dan cari informasi yang menarik bagi mereka. Ini akan berguna untuk membuka dan mencairkan pembicaraan,
You did it for your customer, why you would not do it for your talents?


b) LISTEN TO THEM

Pada saat anda bertemu dengan mereka, wajar sekali bila mereka ingin mendengarkan pengalaman anda, dan anda juga ingin sharing pengalaman anda, wajar, anda kan lebih senior. But this is not the objective. The objective is so you can listen and understand them. Maka cobalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan seperti;
“Hobby anda apa?”
“Apa mimpi atau cita-cita yang ingin anda capai dalan hidup”
“Sebenarnya anda paling suka pekerjaan dengan nature seperti apa?”
Mulailah dengan pertanyaan seperti itu dan lanjutkan dengan pertanyaan lain.
Fokuslah pada beberapa sharing anda tapi kemhdian anda harus lebih banyak mendengarkan mereka.


c) UNDERSTAND THEM

Next step, catatlah dan tariklah benang merah dari apa yang anda dengarkan.
Dan buatlah analisa dan kesimpulan:
apakah sebenarnya yang penting bagi mereka
apakah yang menjadi mimpi dan cita-cita mereka
suasana kerja seperti apa yang mereka inginkan
apa yang mereka ingin banggakan kepada teman-teman mereka?


d) HELP THEM

Setelah anda mengerti cita-cita dan impian mereka, bantulah mereka untuk mewujudkannya.
Pinjemin buku anda
Kirimkan mereka ke training-training yang akan membuat mereka berkembang
Coaching mereka
Kenalkan pada teman-teman anda: Bantu mereka mengembangkan network mereka
Berikan mereka project dan assignmeng yang membuat mereka berkembang, dan bukan hanya pekerjaan rutin yang memang harus dikerjakan setiap hari


e) WORK WITH THEM

Bekerjalah bersama mereka. Artinya kalau lagi bekerja dengan mereka anggaplah mereka sebagai kolega yang selevel, dan mintalah pendapat mereka juga. Jangan sampai
mereka hanya disuruh-suruh.

Ingat, they are smart, fast and digitally connected. Berarti mereka punya banyak ide-ide baru, berdasarkan pengetahuan yang mereka dapatkan dari digital world. Get their ideas,  use and experiment their ideas.


f) LEARN FROM THEM

Kita kan juga perlu untuk meningkatkan dan mengupdate kemampuan kita kan? Padahal mungkin saja millenial itu lebih mengerti dan lebih update tentang:
Fintech
Digital marketing
Data analytic
Artificial Intelligences
Cognitive flexibility
Gamification
...etc

Ada baiknya kita bisa belajar dari mereka. Konsepnya berubah dari mentoring menjadi reverse-mentoring (yang tua belajar dari yang muda), atau bahkan lebih baik lagi mutual-mentoring (saling belakar antara generasi yang lebih senior dengan generasi millennial).

Jadi ingat ya, untuk menarik generasi millennial, mengembangkan mereka dan membuat mereka loyal di perusahaan anda, lakukan beberapa hal ini:

* Spend time with them
* Listen to them
* Understand them
* Help them
* Work with them
* Learn from them

Because in the end of the day, you need go understand them before you can INSPIRE them.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Related Posts