Showing posts with label Psikotest. Show all posts
Showing posts with label Psikotest. Show all posts

Thursday, June 6, 2024

10 Langkah Menuju Kekayaan Mental yang Luar Biasa

10 Langkah Menuju Kekayaan Mental yang Luar Biasa

Kekayaan mental adalah keadaan pikiran yang penuh dengan kekuatan, kedamaian, dan kebijaksanaan. Ini adalah fondasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan. 

Kekayaan mental merupakan aset berharga yang sangat diperlukan oleh setiap manusia. Kekayaan mental membantu menjaga kesehatan mental dan emosional. Dengan memiliki mental yang kuat, seseorang mampu mengelola stres, kecemasan, dan depresi dengan lebih baik.

Berikut adalah langkah-langkah untuk mencapai kekayaan mental yang luar biasa:

1. Pahami dan Hargai Diri Sendiri

Langkah pertama menuju kekayaan mental adalah memahami dan menghargai diri sendiri. Ketahui kekuatan dan kelemahan Anda, dan terimalah diri Anda apa adanya. Self-awareness dan self-acceptance adalah kunci untuk membangun kepercayaan diri yang kuat.

2. Tetapkan Tujuan yang Jelas

Menetapkan tujuan yang jelas memberi arah dan fokus dalam hidup. Tujuan yang baik harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu (SMART). Dengan tujuan yang jelas, Anda bisa merencanakan langkah-langkah konkret untuk mencapainya, yang membantu menjaga motivasi dan disiplin.

3. Kelola Stres dengan Baik

Stres adalah bagian dari kehidupan, tetapi cara kita mengelolanya sangat mempengaruhi kekayaan mental kita. Praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau olahraga teratur. Mengambil waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang Anda nikmati juga penting untuk menjaga keseimbangan mental.

4. Kembangkan Pola Pikir Positif

Pola pikir positif adalah salah satu fondasi kekayaan mental. Fokus pada hal-hal baik dalam hidup, dan coba lihat tantangan sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Latih diri untuk bersyukur setiap hari, dan hindari kebiasaan mengeluh atau berpikir negatif.

5. Tingkatkan Keterampilan Emosional

Keterampilan emosional meliputi kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi Anda sendiri serta orang lain. Ini termasuk empati, kontrol diri, dan komunikasi yang efektif. Keterampilan ini penting untuk membangun hubungan yang sehat dan produktif dengan orang lain.

6. Jaga Kesehatan Fisik

Kesehatan fisik dan mental saling terkait erat. Pastikan Anda menjaga pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan rutin berolahraga. Kesehatan fisik yang baik membantu menjaga energi dan fokus, yang sangat penting untuk kesejahteraan mental.

7. Terus Belajar dan Berkembang

Komitmen untuk terus belajar dan berkembang adalah kunci kekayaan mental. Bacalah buku, ikuti kursus, dan cari pengalaman baru yang menantang Anda. Proses belajar yang berkelanjutan membantu menjaga pikiran tetap tajam dan terbuka untuk peluang baru.

8. Bangun Jaringan Dukungan

Hubungan sosial yang kuat adalah komponen penting dari kekayaan mental. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang mendukung dan memberikan inspirasi. Jaringan dukungan yang baik memberikan kenyamanan emosional dan dorongan untuk tetap maju.

9. Berikan Kembali kepada Masyarakat

Memberikan kembali kepada masyarakat tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga memberikan rasa puas dan tujuan dalam hidup. Terlibat dalam kegiatan sosial atau sukarela dapat meningkatkan rasa kesejahteraan dan koneksi sosial.

10. Refleksi Diri Secara Berkala

Luangkan waktu untuk refleksi diri secara berkala. Tinjau pencapaian Anda, evaluasi kemajuan terhadap tujuan Anda, dan identifikasi area yang perlu diperbaiki. Refleksi diri membantu menjaga Anda tetap sadar akan perkembangan pribadi dan tetap fokus pada jalan menuju kekayaan mental.

Kekayaan mental bukan hanya sebuah keuntungan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan profesional seseorang. Hal ini merupakan investasi yang sangat berharga bagi kehidupan yang lebih baik dan lebih memuaskan.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Anda bisa membangun kekayaan mental yang kuat dan berkelanjutan. Kekayaan mental yang luar biasa bukan hanya tentang kebahagiaan dan ketenangan, tetapi juga tentang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri.

Tuesday, May 28, 2024

Perbedaan Antara Gen Z dan Milenial

Menggali Perbedaan Antara Gen Z dan Milenial: Dua Generasi yang Mendominasi Dunia Kerja.

Saat ini, dua generasi yang sering menjadi topik perbincangan adalah Generasi Z (Gen Z) dan Milenial. Keduanya memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi perilaku, pola pikir, dan cara mereka berinteraksi dalam dunia kerja. Memahami perbedaan antara kedua generasi ini sangat penting, baik bagi perusahaan yang ingin merekrut karyawan, maupun bagi individu yang ingin mengoptimalkan potensi mereka dalam lingkungan profesional.


Pengertian Generasi Z dan Milenial.

Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka tumbuh dalam era teknologi yang sudah maju dan canggih, yang membuat mereka sangat terhubung dengan dunia digital sejak usia dini.

Gen Z sendiri berasal dari kata Zoomer karena mereka lahir dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi dan internet secara dekat.

Sebagai generasi sosial pertama yang tumbuh dengan akses ke Internet dan teknologi digital portabel sejak usia muda, Gen Z, meskipun belum melek digital, telah dijuluki "digital native" atau orang-orang yang tumbuh bersamaan dengan reformasi digital.

Milenial atau sering disebut generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau Milenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996. Mereka merasakan transisi dari teknologi konvensional ke teknologi modern, sehingga memiliki pengalaman unik dalam menghadapi perubahan teknologi yang pesat.

Generasi milenial bisa bekerja dengan lebih cepat dan cerdas lantaran didukung oleh keberadaan teknologi. Perkembangan teknologi juga mendorong milenial memiliki kemampuan multi-tasking. Perilaku ini membuat milenial terbiasa melakukan dua hingga tiga pekerjaan sekaligus.


Perbedaan Pola Pikir dan Cara Kerja.

1. Pola Pikir Bekerja.

Gen Z cenderung kompetitif karena terbiasa melihat pencapaian orang lain di media sosial. Mereka terdorong untuk selalu lebih unggul dari orang lain.

Milenial lebih idealis dan cenderung memilih pekerjaan yang mereka sukai. Mereka sering terlibat dalam adu argumen dengan atasan dan banyak yang memilih untuk membuka bisnis sendiri agar dapat bekerja sesuai keinginan mereka.


2. Cara Kerja.

Gen Z terbiasa bekerja secara mandiri berkat kemajuan dunia digital. Namun, kebiasaan multitasking mereka bisa mengurangi fokus pada satu pekerjaan.

Milenial lebih nyaman bekerja dalam tim dan kolaborasi, merasa lebih efektif dan produktif ketika bekerja bersama orang lain.


Prinsip Hidup dan Interaksi Sosial

1. Prinsip Hidup.

Gen Z memiliki sifat pragmatis, fokus pada hasil dan efisiensi.

Milenial bersifat idealis, mengejar tujuan dan makna dalam pekerjaan mereka.


2. Cara Berinteraksi.

Milenial lebih suka berinteraksi secara digital, karena tumbuh di era awal media sosial.

Gen Z lebih nyaman dengan interaksi tatap muka untuk mengurangi kesalahpahaman dan membangun hubungan yang lebih kuat.


Dampak Perbedaan Generasi dalam Dunia Kerja.

Memahami perbedaan antara Gen Z dan Milenial dapat membantu perusahaan dalam berbagai aspek, seperti:

1. Rekrutmen.

Menyesuaikan strategi rekrutmen sesuai dengan preferensi masing-masing generasi. Misalnya, menawarkan fleksibilitas kerja dan peluang pengembangan karir untuk menarik Milenial, serta menyediakan lingkungan kerja yang mendukung kerja mandiri untuk Gen Z.

2. Pemasaran.

Mengembangkan kampanye pemasaran yang tepat sasaran dengan memahami preferensi media dan gaya komunikasi kedua generasi.

3. Pengelolaan Tim.

Mengoptimalkan kolaborasi tim dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing generasi. Misalnya, menggabungkan keterampilan multitasking Gen Z dengan kemampuan kerja tim Milenial untuk menciptakan dinamika kerja yang efektif.


Kesimpulan.

Gen Z dan Milenial adalah dua generasi yang membawa karakteristik dan keunikan masing-masing ke dalam dunia kerja. Dengan memahami perbedaan mereka dalam pola pikir, cara kerja, prinsip hidup, dan cara berinteraksi, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan produktif. Di sisi lain, individu dari kedua generasi ini dapat memanfaatkan pemahaman tersebut untuk mengoptimalkan potensi mereka dan beradaptasi lebih baik dalam lingkungan kerja yang terus berkembang.


Sumber :

https://buku.kompas.com/read/4995/kerap-dianggap-sama-pahami-perbedaan-gen-z-dan-milenial-berikut-ini.

https://www.kominfo.go.id/content/detail/8566/mengenal-generasi-millennial/0/sorotan_media

https://indonesiabaik.id/infografis/yuk-kenalan-dengan-millenial-indonesia

https://id.wikipedia.org/wiki/Generasi_Z

https://parent.binus.ac.id/2023/09/mengenal-gen-z/

Wednesday, May 22, 2024

Gaslighting



Mengenali dan Menghadapi Gaslighting: Manipulasi Psikologis yang Meresahkan.

Gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang sangat meresahkan, sering kali membuat korban merasa ragu terhadap dirinya sendiri dan bingung. Dampak dari gaslighting bisa sangat serius, memengaruhi kesehatan mental dan emosional korbannya. Artikel ini akan menjelaskan apa itu gaslighting, penyebabnya, ciri-ciri perilakunya, dampak yang ditimbulkan, serta cara untuk menghadapi dan melawannya.


Apa Itu Gaslighting?.

Gaslighting adalah teknik manipulasi psikologis di mana pelaku membuat korban meragukan diri sendiri, ingatan, atau persepsinya. Istilah ini berasal dari film "Gaslight" (1944), di mana seorang suami berusaha membuat istrinya merasa gila dengan memanipulasi elemen-elemen kecil di lingkungan mereka. Gaslighting sering kali terjadi dalam hubungan yang toxic, baik itu antara pasangan, dalam lingkaran pertemanan, atau bahkan dalam keluarga. Contoh gaslighting termasuk meremehkan korban, memutarbalikkan fakta, dan berbalik menyalahkan korban.


Penyebab Perilaku Gaslighting.

Gaslighting biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas orang lain. Beberapa faktor yang mendorong perilaku ini antara lain:

Keinginan untuk Mendapatkan Kepuasan Diri: Pelaku merasa bahagia dengan melihat korban bingung dan tidak berdaya.

Menghindari Kesalahan: Pelaku menggunakan gaslighting untuk menutupi kesalahan yang telah mereka buat.

Menjaga Harga Diri: Dengan merendahkan orang lain, pelaku merasa harga dirinya meningkat.

Membuat Korban Bergantung: Pelaku ingin agar korban terus bergantung padanya untuk validasi dan dukungan.

Mendominasi Hubungan: Pelaku merasa perlu mendominasi untuk merasa berkuasa dalam hubungan.


Ciri-Ciri Perilaku Gaslighting.

Mengetahui ciri-ciri perilaku gaslighting dapat membantu Anda mengenali jika Anda atau orang di sekitar Anda menjadi korban. Berikut adalah beberapa ciri-ciri yang perlu diwaspadai:

Sering Berbohong: Pelaku gaslighting sering kali berbohong untuk menciptakan narasi yang membuat korban merasa bingung dan tidak berdaya.

Tindakan dan Perkataan Tidak Sesuai: Pelaku mengatakan satu hal tetapi tindakannya menunjukkan hal lain.

Merendahkan Orang Lain: Pelaku merendahkan korban untuk menjaga harga dirinya atau untuk menghindari kesalahan.

Terus Membantah: Pelaku selalu membantah jika dihadapkan pada kesalahannya, membuat korban meragukan diri sendiri.

Membuat Korban Kebingungan: Pelaku terus-menerus menunjukkan sikap positif untuk membuat korban bingung tentang niat sebenarnya.

Playing Victim: Pelaku berpura-pura menjadi korban untuk menutupi kesalahan dan membuat korban merasa bersalah.

Memanfaatkan Hal Berharga sebagai Ancaman: Pelaku menggunakan hal-hal berharga di sekitar korban sebagai ancaman.

Melimpahkan Kesalahan pada Orang Lain: Pelaku menuduh orang lain melakukan kesalahan yang sebenarnya mereka lakukan.

Pura-Pura Baik: Pelaku berpura-pura baik untuk mengidentifikasi kelemahan korban dan kemudian menggunakannya untuk mengendalikan.


Dampak Perilaku Gaslighting.

Gaslighting dapat memiliki dampak buruk yang signifikan pada korban, termasuk:

Masalah dalam Kehidupan Sosial: Korban mungkin menjauh dari lingkungan pertemanan dan keluarga.

Kehilangan Rasa Percaya Diri: Korban merasa tidak berharga akibat pelecehan verbal dan fisik.

Kesulitan Mengambil Keputusan: Korban menjadi terlalu bergantung pada pelaku.

Masalah Kepercayaan: Korban mengalami kesulitan mempercayai orang lain karena takut dimanipulasi lagi.


Cara Menghadapi Perilaku Gaslighting.

Untuk menghadapi gaslighting, korban perlu meningkatkan keberanian dan mengambil langkah-langkah berikut:

Mengenali Perilaku Gaslighting: Penting untuk menyadari tanda-tanda gaslighting agar bisa menghadapinya dengan tepat.

Buat Batasan: Tentukan batasan yang jelas dengan pelaku untuk melindungi diri dari manipulasi lebih lanjut.

Berani Melawan: Jangan takut untuk melawan pelaku gaslighting dan tidak merasa terintimidasi.

Mengumpulkan Bukti: Dokumentasikan interaksi dengan pelaku untuk menunjukkan bukti jika diperlukan.


Kesimpulan.

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang dapat berdampak serius pada kondisi mental dan emosional korban. Mengenali tanda-tanda gaslighting dan mengambil langkah-langkah untuk melawannya sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan keberdayaan diri. Dengan memahami gaslighting dan cara menghadapinya, kita bisa melindungi diri dan orang-orang terdekat dari dampak negatif manipulasi ini.


Sumber :

https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-gaslighting

Friday, March 3, 2023

Queen Bee Syndrome

Mengenal Queen Bee Syndrome, Mimpi Buruk Karyawan Wanita

Queen bee syndrome adalah wanita dengan posisi kuat (jabatan tinggi) yang mempersulit karir wanita lain untuk naik jabatan di dalam suatu organisasi. Queen bee syndrome adalah kecenderungan wanita menghambat perjalanan karir bawahan wanitanya. Queen bee syndrome bisa memicu stres dan kecemasan di tempat kerja

Queen Bee syndrome adalah gangguan perilaku merugikan yang dialami oleh wanita dengan jabatan tinggi. Kondisi ini dapat memengaruhi bawahannya, khususnya pada sesama wanita. Atasan dengan queen bee syndrome berisiko merugikan kesehatan mental karyawan perempuannya, karena akan memberikan kesulitan berlebihan di tempat kerja.

Kondisi ini mungkin jadi salah satu alasan munculnya anggapan adalah bahwa pegawai perempuan biasanya lebih tertekan saat memiliki atasan yang sama-sama perempuan. Pernyataan ini telah didukung beberapa studi kasus dan bukan hanya mitos belaka.

Queen bee syndrome membuat atasan wanita menyulitkan karir bawahan wanita. Atasan wanita menyulitkan bawahan wanita disebut queen bee syndrome.

Queen bee syndrome didefinisikan sebagai wanita dengan posisi kuat atau jabatan tinggi yang mempersulit karir wanita lain untuk naik jabatan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan G.L. Staines, T.E. Jayaratne, dan C. Tavris pada tahun 1973.

Definisi lainnya dari queen bee adalah sebagai wanita yang telah berhasil dalam karirnya, tetapi menolak untuk membantu wanita lain meraih hal yang sama.

Queen bee syndrome menggambarkan seorang wanita dalam posisi otoritas yang memandang atau memperlakukan bawahan lebih keras jika mereka perempuan. Dipercaya hal ini disebabkan karena untuk bisa menjadi pemimpin, queen bee merasa ia telah melewati jalan yang sulit dan keras.

Maka dari itu, dibandingkan mempromosikan atau memudahkan bawahan dengan jenis kelamin yang sama, ia bersikap lebih keras agar bawahan wanita bisa mengalami perjuangan serupa yang pernah dihadapinya.


Ciri-ciri atasan dengan queen bee syndrome

Ciri queen bee syndrome adalah sinis terhadap rekan kerja perempuan. Atasan dengan queen bee syndrome suka memerintah dengan kasar. Ada beberapa ciri-ciri yang dilekatkan pada atasan dengan queen bee syndrome, diantaranya adalah:


1. Memiliki cara memimpin yang maskulin

Pemimpin wanita dengan sindrom queen bee biasanya dianggap memiliki cara memipin yang lekat dengan ciri khas perilaku maskulinitas. Hal ini biasanya diluar harapan karyawan wanita yang mungkin lebih berharap atasan wanita akan bersikap lebih lembut, ramah dan pengertian. Namun, sebaliknya, queen bee sering menindas rekan kerja wanita dengan kejam, agresif, suka memerintah atau bossy, sombong dan kasar.


2. Menjaga jarak dari rekan kerja wanita

Ciri-ciri queen bee lainnya adalah bersikap menjaga jarak dirinya dari rekan kerja wanita. Pemimpin dengan queen bee syndrome akan memandang dirinya berbeda dengan wanita lain, dan menunjukan bahwa dia tidak termasuk dalam kelompok yang sama dengan mereka.

Ia berusaha agar tidak dihakimi dengan stereotip yang umum melekat kepada wanita, seperti bersifat lemah, serta tidak cocok menjadi pemimpin. Selain itu, queen bee juga akan enggan memberikan kesempatan kepada rekan kerja wanita, karena menganggapnya tidak kompeten.

Queen bee akan lebih senang bekerja dengan rekan laki-laki dan menganggap bawahan wanita tidak lebih berdedikasi dibandingkan dirinya. Meskipun demikian, sikap ini hanya ditunjukkan pada bawahan wanita, dan bukan pada atasan wanita.


3. Melegitimasi hirarki gender

Saat ini hampir semua perusahaan telah memberikan kesempatan yang sama kepada karyawannya untuk memimpin tanpa memandang gender. Namun tidak demikian dengan pemimpin queen bee. Seharusnya, pemimpin wanita dapat menginspirasi dan mendorong kemajuan bagi rekan kerja wanita. Tetapi, queen bee biasanya cenderung menentang kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan kesetaraan gender di tempat kerja.

Mereka akan menekankan bahwa kesuksesan yang diraihnya karena kerja keras dan kualitas yang dimilikinya. Sementara kebijakan yang berpihak pada wanita akan membuat pemimpin queen bee merasa prestasinya telah dikecilkan.


Keberadaan pemimpin queen bee dapat memberikan dampak negatif di tempat kerja, khususnya bagi bawahan perempuan. Queen bee dapat menyebabkan karyawan perempuan yang menjadi sasaran intimidasinya mengalami stres, tertekan bahkan mengalami penurunan kinerja.

Menyebabkan diskriminasi gender perempuan di tempat kerja tetap bertahan. Karir karyawan wanita menjadi terhambat karena queen bee cenderung menilai kinerja karyawan wanita negatif dan enggan mempromosikan mereka.

Hal-hal tersebut juga dapat digunakan sebagai strategi oleh pemimpin queen bee agar dapat mempertahankan karirnya, dengan menghambat kemajuan karyawan wanita yang lain.

Di sisi lain ada juga pendapat bahwa pemimpin wanita tidak lebih kejam atau dingin jika dibandingkan pemimpin pria. Anggapan ini mungkin ada karena norma sosial yang banyak mengharapkan pemimpin wanita lebih hangat dan perhatian, disamping bersikap tegas dan kompeten.

Pemimpin queen bee memang ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang kita kira. Jika Anda merasakan tekanan di tempat kerja dan merasa hal tersebut telah mempengaruhi kesehatan mental, ada baiknya berkonsultasi dengan perencana karir Anda atau ahli kesehatan mental profesional seperti psikolog maupun psikiater.

https://www.sehatq.com/artikel/mengenal-queen-bee-syndrome


Banyak Dialami oleh Perempuan Karier, Apa itu Queen Bee Syndrome?

Perempuan karier sering mengalami Queen Bee Syndrome, apa itu?Perempuan karier sering mengalami Queen Bee Syndrome, apa itu? 

Berperan sebagai perempuan karier yang memiliki perjalanan profesi yang penuh liku tentu membentuk karakter seseorang menjadi luar biasa. Tidak heran kalau sosok perempuan karier ini akhirnya menjadi panutan bahkan mentor untuk bawahannya.

Meski begitu, sebagian perempuan karier yang telah memiliki posisi bersinar justru kerap merendahkan perempuan lain. Kepemilikan jabatan yang tinggi bukannya membuat mereka menjadi rendah hati, tetapi membuat mereka merasa memiliki privilege.

Sifat yang dimiliki sebagian perempuan karier ini disebut dengan queen bee syndrome. Dilansir dari laman BBC, queen bee syndrome pertama dibahas oleh psikolog University of Michigan pada tahun 1973.

Queen bee syndrome sendiri menggambarkan sosok perempuan dengan jabatan tinggi di antara para lelaki dan menganggap rendah bawahannya yang perempuan seperti dikutip dari laman Forbes. Sindrom ini muncul secara tidak langsung oleh adanya diskriminasi gender yang banyak terjadi dalam dunia kerja. 

Naomi Ellemers yang merupakan seorang profesor dari Universitas Utrecht di Belanda telah meneliti ketidaksetaraan gender di tempat kerja selama 20 tahun. Ellemers menyampaikan queen bee syndrome adalah label yang tidak membantu karena istilah tersebut menunjukkan bahwa perempuan adalah masalahnya.

Sindrom ini merupakan cara beberapa perempuan untuk mengatasi diskriminasi gender yang mereka hadapi dalam kehidupan profesional. Perempuan yang mengalami bias gender mulai merasa dirinya berbeda dibandingkan kaum hawa lainnya sehingga terbentuk sindrom ini.

Menjadi konsekuensi dari diskriminasi gender karena perempuan telah berhasil membuktikan kariernya untuk bertahan hidup di lingkungan yang mungkin didominasi laki-laki.

“Para perempuan yang punya pengalaman tinggi tahu betul bahwa dirinya harus menunjukkan komitmen luar biasa untuk berhasil. Ini membuat mereka kurang yakin bahwa perempuan lain mampu berbuat hal sama,” kata Elemer Naomi, profesor psikologi sosial di Universitas Utrecht, Belanda.

Lebih lanjut lagi, Prof Ellemers mengatakan queen bee syndrome juga merupakan respons terhadap seksisme, yakni sebagian perempuan mencoba menjauhkan diri dari perempuan lain. Cara yang biasanya dilakukan perempuan untuk menjauhkan diri dari perempuan lain adalah dengan berperilaku lebih maskulin, cenderung menyamai maskulinitas laki-laki.

Sebab, kebanyakan perempuan yang baru memulai karier menggambarkan diri mereka kurang maskulin. Kemudian, mereka pun belajar dan beranggapan bahwa maskulinitas dan kesuksesan karier menjadi hal yang beriringan.

Margaret Thatcher, perdana menteri perempuan pertama Inggris, digambarkan mengalami queen bee syndrome karena tidak mempromosikan kareir perempuan lain di kabinetnya. Hingga kini queen bee syndrome masih menjadi kontroversi karena kesetaraan gender masih digaungkan sampai saat ini.

Kendati demkian, menurut Ellemers untuk memecahkan masalah queen bee syndrome ini tidak dapat diselesaikan dengan memperbaiki kaum perempuan. Hal yang harus diperbaiki adalah lingkungan sekitarnya dengan menghilangkan bias gender di dalamnya.

Tetapi di sisi lain, kita tetap perlu memberikan apresiasi pada perempuan yang telah sukses dalam kariernya, namun tidak dengan menjatuhkan sesama perempuan.

https://www.parapuan.co/read/532871438/banyak-dialami-oleh-perempuan-karier-apa-itu-queen-bee-syndrome?page=all


Queen Bee Syndrome, Apa Maksudnya dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Pernah dengar istilah queen bee syndrome? Sindrom ratu lebah ini pertama kali didefinisikan oleh G.L. Staines, T.E. Jayaratne, dan C. Tavris pada tahun 1973. Istilah ini menggambarkan seorang perempuan dalam posisi otoritas yang memandang atau memperlakukan bawahan lebih kritis jika mereka perempuan.

Pernah nonton film The Devil Wears Prada? Di film tersebut sosok Miranda menggambarkan stereotip seorang queen bee. Dia digambarkan sebagai perempuan dengan jabatan tinggi dan selalu kritis terhadap bawahannya, khususnya bawahan perempuan. Seorang queen bee seperti Miranda merupakan potret perempuan yang egois, seenaknya sendiri, dan haus akan kekuasaan. Mungkin di kantor kita juga menjumpai seorang queen bee seperti ini. Atau jangan-jangan malah kita sendiri yang memiliki sindrom queen bee?

Bila kita merasa memiliki queen bee syndrome, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya. Terlebih bila kita ingin membuat bawahan kita merasa nyaman dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif satu sama lain. Dilansir dari thebusinesswomanmedia.com, ada beberapa solusi yang bisa dicoba untuk mengatasi queen bee syndrome ini.


1. Kenali identas dirimu

Sebagai seorang pemimpin atau yang memiliki kekuasaan yang cukup besar di tempat kerja, sejauh apa sih kita bisa menggunakan kemampuan dan kekuatan kita? Pastikan peran kita juga bisa memberi manfaat dan kebaikan untuk bawahan dan rekan-rekan kerja kita yang lain. Bukan malah menyalahgunakan kekuasaan untuk menjatuhkan bawahan sendiri.


2. Meminta penilaian atau masukan dari bawahan

Perlu lebih terbuka menerima kritik dan saran untuk diri yang lebih baik. Tak ada salahnya untuk meminta penilaian dan masukan dari bawahan soal kepemimpinan atau kemampuan kita dalam memimpin di tempat kerja. Sehingga kita bisa tahu apa saja yang perlu diperbaiki dari kemampuan kita sebagai seorang pemimpin.


3. Cari mentor atau ikuti pelatihan kepemimpinan

Bekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Cobalah cari mentor atau ikut pelatihan kepemimpinan. Agar saat bekerja, kita bisa lebih fokus membangun strategi yang lebih baik untuk kemajuan perusahaan dan kesuksesan bersama.


4. Tingkatkan empati dan kepekaan terhadap perasaan bawahan

Sesekali bisa mengadakan acara liburan atau gathering bersama. Untuk meningkatkan kedekatan dan keakraban sekaligus meningkatkan empati serta kepekaan kita terhadap perasaan bawahan. Bawahan pun bisa merasa lebih nyaman dan terbuka bila kita menyediakan ruang dan waktu khusus mendengarkan isi hatinya.

Kita sama-sama punya target dan mimpi besar dalam karier yang kita bangun atau rintis. Bila saat ini kita sudah mendapat posisi tinggi atau menjadi pemimpin di tempat kerja, ada baiknya untuk bisa memaksimalkan peran tersebut untuk sama-sama saling mendukung dan menyokong rekan kerja lain meraih kesuksesan yang diinginkannya.

https://www.fimela.com/lifestyle/read/3915886/queen-bee-syndrome-apa-maksudnya-dan-bagaimana-cara-mengatasinya

https://theswaddle.com/new-study-chips-away-at-tired-queen-bee-syndrome-stereotype/

Sunday, March 5, 2017

5 Keahlian yang Harus Anda Tulis dalam Resume

Pernahkah Anda membayangkan duduk di posisi pewawancara kerja? Puluhan dan ratusan orang melamar dan mereka semua telah disederhanakan menjadi selembar resume.

Oleh karena itu, resume Anda pun harus menonjol daripada yang lain untuk dipilih ke tahap berikutnya.

Berikut ini adalah keahlian-keahlian lain yang wajib Anda tulis di dalam resume, di samping riwayat pendidikan, pengalaman, dan penghargaan:

1. Anda bicara bahasa asing
“Kelancaran Anda berbicara bahasa asing membuat Anda sangat menarik untuk pasar (tenaga kerja),” ucap Vicky Salemi, seorang  pakar karier.

Dia melanjutkan, walaupun belum tentu digunakan, tetapi bisa jadi perusahaan berencana untuk memperluas ke pasar atau negara baru.



2. Anda punya kemampuan memimpin
Jangan pernah menjelaskan kemampuan ini sebagai satu kata saja.

Sharlyn Lauby, pendiri HR Bartender, meminta Anda untuk menceritakan pengalaman mempengaruhi orang lain, memimpin sebuah proyek, dan menciptakan nilai baru atau keuntungan bagi instansi Anda sebelumnya.


3. Anda pernah belajar di luar negeri
Walaupun hanya sebulan atau dua bulan, pastikan Anda menuliskannya dalam resume. Salemi berkata bahwa hal ini menunjukkan kemampuan Anda untuk keluar dari zona nyaman dan beradaptasi.

Jika Anda hanya pernah jalan-jalan keluar negeri, jangan berkecil hati. Menurut Salemi, pengalaman ini bisa menggambarkan diri Anda sebagai orang yang berpengalaman dan berpengetahuan luas.


4. Edukasi yang tidak selesai
Tidak perlu malu bila Anda hanya selesai setengah jalan, setidaknya Anda telah mengambil beberapa pelajaran atau keahlian tertentu selama mengenyam pendidikan tersebut.

Dawn Rasmussen, presiden dari Pathfinder Writing and Career Service, menyarankan Anda untuk menghargai waktu, uang dan tenaga yang dikeluarkan dengan menulis “telah menyelesaikan beberapa pelajaran” di universitas tersebut.


5. Anda pernah berbicara di muka umum
Walaupun sekilas terlihat sepele, tetapi banyak orang mengalami kesulitan berbicara di muka umum.

Rasmussen meminta Anda untuk memaksimalkan keahlian ini dalam resume. “Perusahaan sangat suka mendengar hal ini ketika mempertimbangkan kandidat,” ucapnya.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2017/01/09/113500020/5.keahlian.yang.harus.anda.tulis.dalam.resume

Sunday, January 1, 2017

Jenis Tes Kepribadian Psikotes

Beberapa Jenis Tes Kepribadian Psikotes Beserta Tujuannya

Psikotes adalah salah satu bentuk tes yang dirancang guna mengetahui serta memahami karakter dari psikolog seseorang, biasanya tes ini diadakan ketika dalam rangka penerimaan calon karyawan baru di perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, maupun penerimaan calon karyawan untuk bekerja di BANK. Jika dilihat secara garis besar, psikotes dapat dibedakan menurut jenis test kepribadian, dan beberapa jenis kepribadian itu adalah:

Beberapa Jenis Tes Kepribadian Psikotes Beserta Tujuannya

    Test kepribadian grafis
    Test ini merupakan salah satu bentuk test yang akan menilai kepribadian seseorang yang mana dilihat berdasarkan gambar yang dibuatnya. Test ini meliputi beberapa tes, yaitu Test DAP (Draw A Person), Test Wartegg, Test HTP (House Tree Person), serta Test Baum Tree.

    Tes kepribadian kuesioner
    Tes yang mana menilai kepribadian dari seseorang yang mana dilihat berdasarkan hasil dari beberapa jawaban yang dipilih oleh orang tersebut terhadap beberapa pertanyaan yang telah diajukan. Dan tes ini juga meliputi beberapa bentuk test, yaitu Tes Efektifitas Diri, Tes Kerjasama, Tes Potensi Sukses, Tes Enneagram, Tes Ketelitian, Tes Skala Kematangan (TSK), Tes EPPS, Tes MAPP, Tes MBTI, serta Tes Koran Pauli.

Bukan hanya itu, test psikotes ini juga memiliki beberapa tujuan dalam pengembangannya, dan berikut ini beberapa jenis tes psikotes serta tujuan dari psikotes itu sendiri, yaitu sebagai berikut.

1. Test Kepribadian Baum (Tree Test). Tes ini memiliki tujuan tersendiri, dan tujuan dari tes ini adalah untuk melihat karakter dari seseorang serta kepribadian yang dimilikinya dengan cara menganalisis gambar pohon yang mana dibuat langsung oleh para peserta tes psikotes.

2. Test Kepribadian DAP (Menggambar Orang). Tes ini memiliki tujuan untuk menilai karakter serta kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang mana di lihat dari cara seseorang itu menganalisis gambar orang yang dibuat langsung oleh peserta tes.

3. Test Kepribadian Efektifitas Diri. Memiliki tujuan guna mengetahui keefektifan seseorang yang mengikuti tes dalam menjalankan setiap tugas serta tanggung jawab yang dihadapinya, juga untuk menilai seberapa efektif orang tersebut menyelesaikan beberapa situasi yang sulit bagi dirinya.

4. Test Kepribadian Enneagram Personality. Tes ini bertujuan untuk mengetahui dengan jelas tipe kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang mana dibagi menjadi 9 jenis tipe, dan cara yang digunakan yaitu pihak yang melakukan tes akan memberikan beberapa pertanyaan khusus kepada orang yang mengikuti tes ini.

5. Test Kepribadian EPPS. Tes ini bertujuan untuk mengetahui dengan pasti motivasi apa yang dimiliki oleh peserta, kebutuhan, serta hal-hal yang menjadi kesukaan dari pribadi seseorang yang mana dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan yang tertentu.

6. Tes Kepribadian HTP (House Tree Person). Tes ini juga memiliki tujuan guna menilai karakter yang dimiliki oleh seseorang serta kepribadiannya dengan cara orang yang mengikuti tes ini akan menganalisis gambar rumah, pohon, serta gambar orang yang mana dibuat langsung oleh orang yang mengikuti tes ini.

7. Test Kepribadian MBTI. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tipe kepribadian yang dimiliki oleh seseorang dalam lingkungannya, dan cara yang digunakanpun sama, yaitu orang yang menjadi pengawas akan memberikan beberapa pertanyaan tertentu kepada para peserta tes.

8. Test Kepribadian Ketelitian. Tes yang bertujuan untuk mengukur seberapa besar tingkat kecermatan yang dimiliki oleh seseorang dalam mengolah setiap data yang mana data-data tersebut berupa angka, kata, ataupun bentuk kombinasi dari keduanya.

9. Test Kepribadian MAPP. Tes ini bertujuan untuk mengukur hal-hal yang menjadi kesukaan seseorang dalam beberapa hal terutama yang erat kaitannya dengan dunia kerja yang profesional.

10. Tes Kepribadian Pauli Kraepplin. Tes ini memiliki tujuan yang sama dengan tes-tes yang lainnya, yaitu untuk mengukur karakter yang dimiliki oleh seseorang yang mana di lihat pada beberapa aspek tertentu, yaitu aspek daya tahan, kemauan ataupun kehendak dari seseorang, aspek emosi, penyesuaian diri, serta aspek stabilitas diri dengan cara yang digunakan adalah pihak pengawas akan meminta orang yang menjalankan tes untuk melakukan penghitungan beberapa angka dalam bentuk deret yang tidaklah pendek.

11. Test Kepribadian Skala Kematangan. Tes ini memiliki tujuan guna mengukur seberapa besar tingkat kedewasaan yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan beberapa tindakan terhadap situasi tertentu.

12. Test Kepribadian Teamwork Test. Tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk bekerja pada sebuah tim yang solid guna mencapai satu tujuan bersama.

13. Tes Kepribadian Kecenderungan Sukses. Tes yang bertujuan untuk mendeteksi kecenderungan yang dimiliki oleh seseorang guna menjadi orang yang sukses dalam berkarir mapupun dalam hidupnya yang mana dilihat berdasarkan beberapa faktor tertentu yang memang telah ada pada dirinya sendiri.

14. Tes Kepribadian WARTEGG. Tes yang bertujuan untuk mengeksplorasi terutama dalam hal emosi, imajinasi, dinamisme, kontrol, serta reality function yang memang telah dimiliki oleh seseorang yang mengikuti tes yang dilihat berdasarkan 8 macam gambar yang telah dibuatnya.


Sumber :
http://tipskarir.com/beberapa-jenis-tes-kepribadian-psikotest-beserta-tujuannya/?v=d62a8d1683e6#.WGkEXFxJbIU

Jenis Psikotes

Jenis Psikotes Yang Penting Kamu Ketahui!
Selepas kamu lulus kuliah, banyak hal yang harus kamu persiapkan sebelum terjun di dunia kerja. Selain portfolio dirimu dalam bentuk CV, kamu juga dianjurkan untuk mempelajari atau berlatih psikotes. Psikotes atau yang dikenal dengan Psychological Test merupakan runtutan tes mengenai kecocokan minat kamu terhadap posisi yang kamu lamar. Tahukah kamu kenapa perusahaan menggunakan tes psikotes untuk menyeleksi calon pegawainya? Selain psikotest mempermudah mengetahui kepribadian seseorang juga bisa menjadi alat untuk melihat kondisi emosi mereka saat mengerjakan tes. Adapun kegunaan yang lain yaitu untuk mengetahui kondisi kesehatan mental.

Setiap perusahaan dapat menetapkan standard yang berbeda-beda dalam psikotes mereka. Tidak ada yang benar ataupun salah mengenai hasil psikotes, hal itu hanya menggambarkan apakah kepribadianmu cocok dengan standar kriteria pekerjaan yang kamu lamar sesuai dengan keinginan perusahaan.


Tes Logika Aritmatika

Tes deret aritmatika menampilkan sejumlah deretan angka dan tugasmu adalah mencari jawaban kelanjutan deret angka selanjutnya. Tes logika aritmatika menganalisa ketelitian dalam mengisi deretan yang kosong. Adapun cara yang lebih baik mengerjakan tes ini adalah jangan terpaku pada angka-angka pertama, kamu harus perhatikan angka-angka selanjutnya untuk mencari tahu jawaban kolom kosong. Disamping itu kamu harus ingat untuk menghemat waktu- jangan hanya terfokus terhadap satu soal saja.


Tes Logika Penalaran

Tes logika penalaran merupakan sebuah tes yang menguji imajinasi kamu yang tertuang dalam gambar-gambar dalam bermacam dimensi. Test ini menguji logikamu ketika gambar-gambar ini diputar, beberapa bagian dihilangkan, dan beragam gerakan lainnya. Tugasmu dalam tes ini adalah menjawab gambar mana yang sesuai dengan perintah gambar. Tes ini mempunyai waktu terbatas sehingga kamu harus menghemat waktu dalam menjawab setiap soal dan ketelitian dalam melihat gambar pada skala kecil maupun besar.


Tes Logika Verbal

Tes logika verbal biasanya terdiri dari bermacam jenis yaitu mencari sinonim, antonim, dan kelompok padanan kata yang tepat. Kamu akan menemukan banyak kata-kata (vocabulary) yang jarang digunakan sehari-hari maka sebaiknya kamu perluas pengetahuan umum karena hal ini kerap menjadi tantangan dalam mengerjakan psikotes ini.



Tes Kraepelin dan Pauli

Tes Kraepelin dan Pauli atau dikenal sebagai tes koran merupakan sebuah tes yang berbentuk sejumlah deretan angka (kolom). Tes Kraepelin berupa tes yang menghitung runtutan angka ke atas sedangkan Tes Pauli menghitungan runtutan angka ke bawah.

Tes Kraepelin dan Pauli menganalisa ketelitian, ketahanan, dan daya fokus seseorang dalam menghitung sejumlah angka. Ketika mengisi pertanyaan, carilah ritme yang tepat sehingga waktu dapat digunakan dengan baik. Hal yang paling penting dalam menjalani tes ini adalah fokus, konsentrasi yang kuat dalam menghitung runtutan angka.



Tes Wartegg

Tes Wartegg berbentuk delapan kolom yang telah terlebih dahulu terisi garis, titik, ataupun lengkungan dan tugas peserta psikotes adalah melanjutkan menggambar dari setiap kolom. Tes ini berguna untuk menganalisa imajinasi, motivasi dan kondisi emosional peserta psikotes. Disamping itu, tes ini menguji alur berpikir individu. Sebaiknya kamu mengerjakan tes dalam kondisi yang prima, tidak lupa berkonsentrasi penuh namun tetap relaks dan jang terburu-buru.


Tes Goodenough–Harris Draw-a-Person (Menggambar Orang)

Draw a Man merupakan sebuah cara mengetahui refleksi peserta psikotes terhadap pandangan diri secara profesional. Psikotes ini biasanya memberikan instruksi bagi peserta untuk menggambar seseorang yang menjelaskan detil jenis kelamin, pekerjaan, kegiatan, dan karakteristik yang dimilikinya. Peserta psikotes akan lebih baik mengerjakan deskripsi gambar sesuai dengan jenis kelaminnya sendiri dan secara jelas menggambarkan aktivitasnya. Gambarlah dengan jelas mulai dari kepala hingga ujung kaki beserta deskripsi pekerjaan yang selaras dengan posisi yang kamu lamar.



Tes Baum (Menggambar Pohon)

Baum test merupakan sebuah tes menginstruksikan menggambar sebuah pohon berkambium mulai dari akar, badan pohon, cabang, batang dan daun. Dalam tes ini kamu diminta untuk menggambar sebuah pohon berkambium (dikotil)–bukan pohon tak berkambium seperti pisang, kelapa, dan bambu. Penilian karakter dari peserta acara dimulai dari berbagai macam aspek gambar. Kambium menunjukan kepercayaan diri, batang mengindikasikan directness, akar menggambarkan stabilitas, dan daun dapat melihat introvert atau extrovert.

Sebaiknya kamu mengerjakan tes ini dengan detil, menggambarkan setiap bagian pohon dengan jelas dan menyebutkan jenis pohon dikotil yang kamu gambar.


Tes EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)

Sebuah tes yang dikembangkan oleh seorang Profesor di Universitas Washington,                           Prof. Allen L. Edwards untuk mengetahui kebutuhan dan motif individu. Test ini dapat dipergunakan untuk rentang rumur 16-85 tahun dan memerlukan waktu 45 menit untuk pengerjaannya. Setiap butir soal terdiri dari dua pernyataan (yang keduanya tidak salah maupun benar), mewajibkan kamu memilih salah satu penyataan yang paling menggambarkan diri kamu.

Terdapat 15 skala penilaian dalam tes EPPS yaitu pencapaian, penghormatan, ketertiban , eksibisi, otonomi, penyatuan, penahanan, pertolongan, dominasi, kerendahan hati, pemeliharaan, perubahan, ketahanan, heteroseksualitas dan agresi.

Tips menjawab Tes EPPS adalah jujur terhadap diri sendiri dan tunjukkan kemauan untuk memperbaiki diri sendiri. Selain itu, sesuaikan jawabanmu dengan kualitas yang diinginkan pada posisi yang kamu lamar.


Sumber :
https://www.sepulsa.com/blog/jenis-psikotes-penting-kamu-ketahui

Saturday, December 31, 2016

Tips Tes Tulis Psikotest

Tips Menjalani Psikotes

Siapa yang tidak kenal istilah psikotes? Pasti semua orang tahu. Bahkan hampir semua orang yang melamar pekerjaan, akan menjalani psikotes. Kalau ditanya, bagaimana kesannya? Rata-rata menjawab dengan raut wajah tegang dan berkata, "Tidak menyenangkan!". Kesan yang tidak salah, tapi juga tidak tepat.

Keluhan berikutnya muncul. "Saya tidak diterima kerja gara-gara gagal di psikotes", "Saya sudah cari di internet tentang psikotes, tapi masih gagal juga. Bikin susah cari kerja aja!", "Saya sudah pernah psikotes sampai 14 kali, tapi tetap belum diterima kerja", dan sebagainya.

Kondisi tersebut membuat banyak orang yang merasa gagal dalam psikotes mendatangi psikolog untuk mengetahui apakah ada yang salah dengan mereka, atau meminta jawaban dari tes-tes yang dikerjakan.

Berbagai artikel yang tampaknya membantu, padahal menyesatkan, beredar di mana-mana. Termasuk di Kompasiana ini. Artikel-artikel itu berisi petunjuk mengerjakan psikotes, terutama tes menggambar pohon, orang dan 'kotak-kotak berjumlah 8'. Saya heran kenapa penulisnya berani memberikan tips padahal mereka tidak belajar ilmunya. Sungguh, tips itu menyesatkan.

Sebelumnya, istilah psikotes sudah tidak digunakan lagi oleh para psikolog. Kami menggunakan istilah Pemeriksaan Psikologi. Jadi kalau ada yang masih menggunakan istilah psikotes, bisa ditengarai bahwa orang tersebut bukan psikolog.

Fungsi pemeriksaan psikologi

Perusahaan ingin mendapatkan karyawan yang terbaik, mampu mengikuti 'irama' kerja mereka, dan selaras dengan misi visi perusahaan. Untuk itulah diperlukan seleksi. Ibarat saringan, seleksi yang baik akan menghasilkan pekerja terbaik bagi mereka. Ada banyak cara untuk melakukan seleksi. Tergantung juga pada kemampuan perusahaan. Salah satu yang sering digunakan adalah Pemeriksaan Psikologi (kemudian akan saya singkat dengan PPsi).

Dalam menentukan alat tes untuk PPsi, seorang psikolog akan menggunakan beberapa alat ukur. Disebut dengan batterai tes. Mengapa kami menggunakan lebih dari satu alat ukur? Karena tiap alat ukur mengungkapkan aspek berbeda serta untuk mengetahui konsistensi karakteristik pribadi calon karyawan. Minimal ada 6 jenis alat ukur yang digunakan.

Kalau seorang pelamar mencari bocoran alat ukur ini, lalu dia menghafalkan, kemudian menerapkan jawaban tadi pada alat ukur yang dikerjakannya, maka bisa dipastikan dia akan terjebak. Sebab tidak ada konsistensi kepribadian pada keseluruhan batterai tes tadi. Mungkin dia hanya bisa mendapatkan 'contekan' pada satu alat ukur, tapi bagaimana dia bisa mendapatkan 'contekan' pada alat ukur lainnya?

Jadi percuma saja seorang pelamar mencari jawaban yang benar untuk menjalani psikotes. Belum lagi proses wawancara dengan psikolognya. Makin tampak tidak konsisten ketika psikolog melihat hasil PPsi dengan hasil wawancara. Bisa dipastikan, pelamar seperti itu tidak akan diterima.

Sebenarnya pelamar tidak perlu belajar atau mencari contekan. Karena hasil PPsi itu bukan berupa benar atau salah, kecuali tes IQ yang ada jawaban benar-salah. Hasil PPsi disesuaikan dengan keadaan sesungguhnya dari pelamar, lalu hasil tersebut dicocokkan dengan kebutuhan perusahaan. Kalau keduanya sesuai, maka pelamar diterima. Kalau tidak sesuai, pelamar ditolak.

SHUTTERSTOCK Ilustrasi
Kode etik psikologi

Karena berkali-kali gagal dalam PPsi, banyak orang mendatangi psikolog atau mahasiswa psikologi untuk bertanya bagaimana caranya agar sukses dalam PPsi. Mereka ingin mendapatkan kunci jawaban. Kalau para psikolog, mahasiswa psikologi (S1), atau mahasiswa profesi psikologi (S2), benar-benar berpegang pada Kode Etik Psikologi, maka mereka tidak akan memberikan jawaban.

Mengapa mereka tidak memberikan jawaban? Memang dalam Kode Etik tidak diperkenankan, namun lebih karena esensi PPsi itu sendiri. Jawaban yang mereka berikan tidak akan membantu seseorang sukses dalam PPsi, malah jawaban itu akan membuat individu itu anjlok hasilnya. Alat-alat ukur dalam PPsi memang dirancang untuk mengungkapkan individu secara unik. Hasil-hasil yang diperoleh akan dikompilasi oleh psikolog sehingga menghasilkan pemahaman utuh -atau paling tidak mendekati- tentang pelamar.

Bila ada 2 pelamar menggambar pohon yang sama, maka interpretasinya bisa berbeda, tergantung pada hasil pada alat ukur lainnya. Nah, bisa dibayangkan bahayanya kalau pelamar itu mendapatkan contekan yang tidak akurat bahkan menyesatkan.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan unutk menjalani pemeriksaan psikologi, yaitu :

1. Mempersiapkan fisik

Pastikan Anda tidak sedang sakit saat menjalani PPsi. Apalagi kalau sedang minum obat yang bikin ngantuk. Dengan banyaknya alat ukur yang harus dikerjakan, maka kondisi fisik sehat dan fit diperlukan. Rata-rata PPsi berlangsung kurang lebih 4-5 jam (termasuk wawancara). Kalau sedang sakit, biasanya orang cenderung menjawab tidak serius. Mereka ingin cepat selesai. Akibatnya hasilnya tidak konsisten.

Khusus untuk tes IQ, kondisi sehat ini penting. Diperlukan konsentrasi untuk menjawab soal-soal di dalamnya. Bisa dibayangkan kalau orang yang mengerjakan tes IQ mengantuk atau sakit? Jawabannya pasti amburadul. Komunikasikan pada perusahaan yang Anda lamar kalau memang Anda sedang sakit. Jauh lebih baik lampirkan surat dokter. Agar mereka bisa menjadwal ulang PPsi-nya (kalau perusahaannya baik hati).

2. Bersikap apa adanya

Hampir semua alat ukur yang digunakan punya batasan waktu. Oleh karena itu, bersikaplah apa adanya. Kerjakan satu alat tes dengan benar sesuai instruksi. Setelah selesai, tutup alat tesnya. Tidak perlu ditengok lagi. Tidak perlu dikoreksi jawabannya. Dan tidak perlu mengingat kembali apa jawabannya.

Kalau Anda menengok kembali jawabannya, kemudian merevisi, maka Anda akan kehilangan waktu untuk mengerjakan sub tes berikutnya. Untuk mengejar ketinggalan, Anda buru-buru mengerjakan sub tes baru itu, lalu kepikiran dengan hasilnya. Kondisi ini akan berlangsung hingga PPsi selesai. Merugikan diri sendiri. Mengapa? Karena bisa dipastikan performa Anda tidak akan maksimal. Perasaan Anda pun kacau. Apakah ada yang pernah mengalami?

Mirip seperti menjalani kehidupan ini. Hadapi persoalan yang ada, selesaikan. Lalu tutup buku. Tidak perlu menengok masa lalu, percuma. Kerjakan permasalahan hidup saat ini sepenuh hati, sepenuh tanggungjawab, fokus, dengan komitmen, lalu serahkan hasilnya pada Tuhan. Selesai. Hadapi hari baru dengan sikap baru. Begitulah sikap yang diharapkan saat menjalani PPsi.

3. Berikan jawaban otentik

Dalam proses PPsi, ada beberapa orang yang tidak percaya diri. Mereka melongok teman sebelahnya, lalu meniru jawabannya. Mereka beranggapan kalau perilakunya tidak akan ketahuan oleh pengawas. Ya memang mungkin pengawas tidak akan tahu, apalagi kalau peserta dalam satu kelas itu sekitar 40 orang atau lebih. Tapi perilaku itu akan terungkap ketika psikolog menginterpretasi hasil PPsi secara komprehensif.

Ingat, ada batterai tes yang digunakan. Kalau psikolognya baik hati, orang seperti itu tetap akan diwawancarai, tapi kalau tidak, maka peserta itu akan langsung didiskualifikasi. Disuruh pulang langsung!

Berikan jawaban otentik. Jawaban yang sungguh keluar dari pikiran dan hati Anda. Itulah jawaban yang 'benar'.

Penulis: Psikolog Naftalia Kusumawardhani


Sumber :
http://health.kompas.com/read/2015/09/14/181000823/Tips.Menjalani.Psikotes

Tes Tulis Psikotes

Manfaat dan Fungsi Tes Psikotes
Tes psikotes adalah sebuah jenis tes yang dilaksanakan oleh tim penguji atau psikolog. Tujuan dari tes psikotes adalah untuk mengetahui kondisi psikolog atau karakter seseorang. Pelaksanaan tes psikotes dilakukan biantara rentetan kegiatan seleksi pegawai atau karyawan. Tes psikotes ini sudah sangat luas jangkauannya dan hampir dilaksanakan di seluruh negara. Tes psikotes ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengetahui dengan mengenali kepribadian seseorang lebih jauh.

Karena manfaat tes psikotes yang cukup luas, maka hampir seluruh perusahaan besar akan menerapkan pola dan teknik tes psikotes yang berbeda. Tes psikotes yang dilaksanakan pastinya akan disesuaikan dengan bidang kerja yang hendak di lakukan. Bidang kerja yang banyak menjadi target adalah bidang pendidikan, bidang penelitian, bidang industri, bidang militer, dan bidang yang lainnya.

Manfaat dan Fungsi Tes Psikotes

Untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan kita mengenai tes psikotes, alangkah baiknya jika kita mengetahui beberapa manfaat dari pelaksanaan tes psikotes. Apa saja manfaat dari pelaksanaan tes psikotes? Berikut ini adalah gambaran dari manfaat tes psikotes untuk anda:

    Tes psikotes akan lebih mempermudah untuk mengetahui kepribadian yang belum diketahui pada diri seseorang. Hal tersebut dikarenakan untuk mengetahui sebuah kepribadian dari seseorang akan sulit dilakukan baik pada saat wawancara ataupun kegiatan pengamatan yang lainnya. Dengan khusus melaksanakan tes psikotes, maka kepribadian seseorang akan lebih mudah diukur.
    Psychodynamic dari seseorang bisa lebih mudah untuk di ketahui, tentunya dengan menggunakan jenis soal terbentuk pada pelaksanaan tes psikotes.
    Tes psikotes juga bisa digunakan untuk mengetahui kondisi kejiwaan dari seseorang. Seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan atau tidak akan dengan mudah diketahui dari proses pelaksanaan tes psikotes.

Tes psikotes diharapkan bisa berjalan dengan lancar guna mengetahui kondisi dan karakter dari seseorang secara umum sampai dengan khusus. Selain itu, tes psikotes juga diharapkan bisa menjadikan sebuah ajang seleksi dan sekaligus ajang promosi bagi sebuah perusahaan psikolog.

Hasil dari tes psikotes yang dilaksanakan oleh psikolog nantinya akan di berikan ke sebuah perusahaan yang sebelumnya mempercayakan pelaksanaan tes psikotes kepada mereka. Hasil dari tes psikotes tersebutlah yang nantinya akan digunakan oleh perusahaan sebagai dasar untuk menerima atau menolak calon karyawan yang bersangkutan.

Bagian filtering pada sebuah perusahaan yang nantinya akan memutuskan apakah menerima atau menolak calon karyawan yang sudah di test adalah pada bagian kepegawaian atau sering disebut dengan istilah HRD (human resource development departement).

Dengan menggunakan dasar dari laporan hasil tes psikotes, maka bagian HRD juga bisa berperan untuk memposisikan karyawan atau pegawai sesuai dengan kepribadian yang mereka miliki. Disamping itu, memindahkan posisi kerja di perusahaan juga bisa dilaksanakan berdasarkan hasil tes psikotes.


Sumber :
http://tespsikotes.com/manfaat-dan-fungsi-tes-psikotes/

Related Posts