Akuisisi merek teh legendaris Sariwangi oleh Djarum Group bukan sekadar kabar korporasi biasa, melainkan potret strategi bisnis jangka panjang yang khas dari grup usaha ini: tenang, jarang tampil di permukaan, namun sangat terukur. Bagi banyak orang, langkah Djarum masuk ke industri teh terlihat mengejutkan. Namun jika dibaca lebih dalam, keputusan ini justru konsisten dengan pola besar Djarum Group dalam membangun portofolio bisnis yang kuat, defensif, dan berumur panjang.
Grup Djarum melalui PT Savoria Kreasi Rasa resmi mengakuisisi merek teh legendaris SariWangi dari Unilever senilai Rp1,5 triliun pada Januari 2026. Strategi utama akuisisi ini adalah memperkuat portofolio bisnis fast-moving consumer goods (FMCG) Savoria, memanfaatkan loyalitas merek SariWangi yang tinggi, serta melakukan integrasi hulu-hilir (perkebunan dan logistik) untuk mendominasi pasar teh domestik.
Mengapa Unilever rela melepas merek yang sudah begitu melekat di hati masyarakat Indonesia? Ternyata, langkah ini merupakan bagian dari strategi penataan ulang portofolio bisnis UNVR. Sebelumnya, mereka juga telah melepas bisnis margarin (Blue Band) dan memisahkan bisnis es krim.
Sebelumnya, di tahun 2018, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan PT Sariwangi AEA beserta perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, dalam status pailit. Selepas itu, Unilever Indonesia lantas menggandeng pemasok baru, yakni PT Agriwangi Indonesia. Merek SariWangi terus dikelola Unilever hingga dilepas tahun ini kepada pihak Djarum.
Sariwangi bukanlah merek sembarangan. Selama puluhan tahun, ia telah menjadi bagian dari budaya rumah tangga Indonesia. Teh Sariwangi bukan hanya produk konsumsi, tetapi simbol kebersamaan keluarga, obrolan di meja makan, dan rutinitas harian masyarakat. Ketika merek sekuat ini terpuruk akibat masalah utang dan manajemen di masa lalu, Djarum melihat peluang yang jarang muncul: brand equity yang sangat tinggi, namun valuasinya jatuh ke titik terendah. Inilah situasi klasik yang disukai investor bernapas panjang—membeli aset berkualitas saat orang lain sudah kehilangan kepercayaan.
Pengambilalihan aset dan bisnis Sariwangi mencerminkan komitmen Savoria dalam mengembangkan industri teh dalam negeri. Menurut dia, akuisisi ini menjadi momentum penting dalam proses transfer kepemilikan aset dan bisnis terkemuka agar kembali dikelola oleh perusahaan Indonesia.
Strategi ini mencerminkan filosofi utama Djarum Group dalam berbisnis: membeli bisnis yang sudah dikenal luas, memiliki basis konsumen kuat, dan produknya bersifat kebutuhan sehari-hari. Industri teh memiliki karakter yang mirip dengan rokok, kopi, dan perbankan ritel—perputaran cepat, konsumsi berulang, serta relatif tahan terhadap siklus ekonomi. Dengan mengakuisisi Sariwangi, Djarum tidak perlu membangun merek dari nol, tidak perlu mengedukasi pasar, dan tidak perlu menghabiskan biaya besar untuk menciptakan awareness. Yang dibutuhkan adalah memperbaiki tata kelola, efisiensi operasional, dan distribusi.
Akuisisi Sariwangi akan memungkinkan Djarum Group untuk mengelola seluruh rantai nilai secara lebih efisien dan responsif, serta memastikan bahwa nilai tambah dari merek ikonik ini sepenuhnya mendukung ekosistem bisnis di Indonesia
Djarum Group dikenal memiliki kekuatan luar biasa dalam manajemen rantai pasok dan distribusi. Pengalaman panjang di industri FMCG dan agribisnis membuat mereka memahami betul bagaimana menekan biaya, menjaga kualitas, dan memastikan produk selalu tersedia di pasar. Dalam konteks Sariwangi, ini berarti potensi revitalisasi besar-besaran, bukan hanya pada produksi teh, tetapi juga pada kemasan, positioning merek, dan penetrasi pasar modern maupun tradisional. Sariwangi tidak harus berubah menjadi merek baru; cukup dikembalikan ke jati dirinya sebagai teh keluarga Indonesia dengan standar operasional yang lebih sehat.
SariWangi akan resmi bergabung dan melengkapi jajaran merek utama Savoria Group. Di antaranya Kopi Tubruk Gadjah, Caffino, MilkLife, HydroPlus, FOX’S Candy, dan 5Days Croissant.
Akuisisi ini juga memperlihatkan cara Djarum mengelola risiko regulasi. Industri rokok menghadapi tekanan global yang semakin besar, mulai dari kenaikan cukai, pembatasan iklan, hingga perubahan perilaku konsumen. Dengan memperluas portofolio ke sektor non-tembakau seperti perbankan, properti, teknologi, kopi, dan kini teh, Djarum sedang membangun benteng diversifikasi. Sariwangi menjadi bagian dari strategi besar tersebut: menciptakan sumber pendapatan yang stabil, jangka panjang, dan tidak terlalu bergantung pada satu industri saja.
Strategi besar Djarum Group adalah diversifikasi bisnis yang agresif ke sektor non-rokok, didorong oleh kekhawatiran industri rokok akan menjadi sunset industry. Langkah ini dilakukan untuk menyebar risiko, menjamin stabilitas pendapatan, dan menjaga keberlangsungan jangka panjang melalui investasi di sektor perbankan (BCA), teknologi/e-commerce (Blibli), elektronik (Polytron), agribisnis, dan media.
Menariknya, Djarum tidak mengakuisisi Sariwangi untuk sensasi atau ekspansi agresif jangka pendek. Gaya mereka selalu sama: masuk ketika harga murah, bekerja diam-diam, dan membiarkan hasilnya terlihat bertahun-tahun kemudian. Ini bukan strategi “turnaround instan”, melainkan pendekatan sabar yang mengandalkan waktu sebagai sekutu utama. Dalam konteks ini, Sariwangi bukan proyek spekulatif, melainkan aset warisan yang siap dihidupkan kembali secara bertahap.
Lebih jauh lagi, akuisisi ini menunjukkan bahwa Djarum memahami kekuatan cerita dan emosi dalam bisnis. Sariwangi bukan hanya soal teh, tetapi soal memori kolektif masyarakat Indonesia. Ketika sebuah merek memiliki kedekatan emosional dengan konsumennya, maka biaya untuk membangun loyalitas menjadi jauh lebih rendah. Djarum cukup menjaga kualitas, konsistensi, dan ketersediaan produk, maka kepercayaan konsumen akan perlahan kembali dengan sendirinya.
Djarum melihat nilai strategis dan historis merek SariWangi di pasar Indonesia yang sangat kuat. SariWangi bukan sekadar produk teh, melainkan merek yang telah tumbuh bersama konsumen Indonesia selama puluhan tahun dan memiliki ekuitas merek yang sangat kuat. Banyak yang berharap bahwa Djarum dapat membawa SariWangi ke level yang lebih tinggi, sekaligus melestarikan warisan merek teh legendaris ini.
Pada akhirnya, strategi bisnis Djarum Group membeli Sariwangi adalah contoh bagaimana konglomerasi besar berpikir dalam horizon puluhan tahun, bukan kuartalan. Ini adalah strategi membeli nilai, bukan sekadar aset. Membeli sejarah, bukan hanya pabrik. Dan membeli kesabaran, bukan sensasi. Dalam dunia bisnis yang semakin bising dan penuh aksi reaktif, langkah Djarum justru mengingatkan bahwa kemenangan besar sering kali diraih oleh mereka yang berani tenang, masuk di saat sunyi, dan membiarkan waktu bekerja untuk mereka.
Sumber :
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/95678/grup-djarum-ungkap-alasan-caplok-sariwangi-dari-unilever-unvr/2
https://katadata.co.id/finansial/bursa/6967147f9ef82/mengintip-rencana-besar-grup-djarum-usai-caplok-bisnis-sariwangi-unilever-unvr
https://www.bisnismarket.com/rahasia-di-balik-akuisisi-sariwangi-strategi-djarum-kuasai-pasar-teh
https://olenka.id/potensi-besar-di-balik-akuisisi-sariwangi-oleh-djarum/all
.png)
No comments:
Post a Comment