Sunday, February 15, 2026

Konsep One Part One Location

Dalam dunia Warehouse & Logistic, ada satu prinsip penyimpanan yang terdengar sederhana tetapi memiliki dampak operasional yang sangat besar ketika diterapkan secara disiplin, yaitu konsep One Part One Location pada sistem storage atau penyimpanan. 

Prinsip ini berarti setiap satu jenis barang atau satu SKU (Stock Keeping Unit) hanya memiliki satu lokasi penyimpanan yang tetap, jelas, dan terdaftar di sistem, sehingga tidak ada satu part yang tersebar di beberapa titik berbeda tanpa kontrol. 

Dalam praktiknya, ini berarti jika sebuah part sudah ditetapkan berada di rak A1-03-02, maka di situlah part tersebut selalu disimpan dan diambil, kecuali ada perubahan resmi yang diperbarui di sistem. 

Konsep ini bukan sekadar soal kerapian, melainkan fondasi dari akurasi stok, kecepatan picking, efisiensi tenaga kerja, hingga stabilitas proses distribusi secara keseluruhan. 

Banyak gudang yang pada awalnya mengabaikan prinsip ini karena merasa lebih fleksibel menaruh barang di mana saja selama masih ada ruang kosong, tetapi kebiasaan tersebut sering kali menjadi akar dari berbagai masalah seperti waktu pencarian barang yang lama, salah ambil part, selisih stok antara fisik dan sistem, bahkan terjadinya double stock yang tidak terkontrol. 

Ketika satu barang memiliki lebih dari satu lokasi tanpa sistem yang disiplin, maka risiko human error meningkat drastis karena operator bisa saja mengambil dari lokasi yang salah atau lupa mencatat perpindahan, sehingga data inventory menjadi tidak akurat. 

Dengan menerapkan One Part One Location, proses cycle count dan stock opname menjadi jauh lebih cepat dan terstruktur karena tim warehouse hanya perlu mengecek satu titik untuk setiap SKU, bukan menyisir banyak lokasi yang tersebar. 

Selain itu, alur FIFO (First In First Out) juga menjadi lebih terjaga karena pergerakan barang terpusat pada satu lokasi yang jelas, sehingga kecil kemungkinan barang lama tertinggal di sudut gudang dan tidak terdistribusi. Secara produktivitas, konsep ini juga meningkatkan kecepatan picking karena picker tidak perlu berpikir atau bertanya di mana lokasi barang tersebut berada; sistem sudah memberikan alamat yang konsisten dan bisa dipercaya. 

Namun tentu saja implementasi konsep ini membutuhkan perencanaan layout gudang yang matang, penomoran rak dan bin yang sistematis, integrasi dengan sistem seperti WMS atau ERP agar setiap perpindahan tercatat secara real-time, serta disiplin operasional yang tinggi dari seluruh tim. 

Tantangan sering muncul ketika terjadi lonjakan stok sehingga kapasitas satu lokasi tidak mencukupi, atau ketika barang fast moving membutuhkan area picking tambahan untuk mempercepat proses, tetapi solusi dari kondisi tersebut tetap harus mengikuti prinsip utama, yaitu struktur lokasi yang jelas dan terdokumentasi, bukan penempatan acak tanpa kontrol. 

Pada akhirnya, gudang yang profesional bukan diukur dari luas bangunannya, melainkan dari seberapa teratur dan terkendalinya sistem penyimpanannya. One Part One Location membangun budaya kerja yang rapi, terstruktur, dan bertanggung jawab terhadap data inventory, sehingga warehouse tidak berubah menjadi sekadar tempat menumpuk barang, melainkan menjadi pusat kontrol distribusi yang efisien, akurat, dan mampu mendukung performa logistik perusahaan secara menyeluruh.

Konsep penyimpanan ini harus dipahami oleh seorang Warehouse Manager, dimana Warehouse Manager (atau Manajer Gudang) berperan sebagai pemimpin tertinggi operasional gudang, bertanggung jawab atas efisiensi penyimpanan, akurasi stok (atau inventory control), serta kelancaran proses keluar-masuk barang (logistik) sesuai standar operasional prosedur (S O P). Mereka memastikan keamanan, produktivitas tim, dan pemeliharaan fasilitas. 

Selain itu peran dan tanggung jawab utama seorang Warehouse Manager lainnya, adalah:

  • Pengelolaan Operasional Harian: Merencanakan dan mengawasi seluruh aktivitas bongkar muat, penerimaan (receiving), penyimpanan (putaway), dan pengiriman barang (shipping).
  • Manajemen Inventaris: Memantau tingkat stok, melakukan stok opname, dan memastikan data inventaris di gudang akurat untuk mencegah kekurangan atau kelebihan barang.
  • Manajemen Tim dan SDM: Mengatur jadwal kerja, memberikan pelatihan, memotivasi staf gudang, dan memastikan standar keselamatan kerja (K3) diterapkan.
  • Optimalisasi Tata Letak Gudang: Mengatur penataan barang (layout) untuk memaksimalkan ruang penyimpanan dan mempermudah akses pengambilan barang.
  • Penggunaan Teknologi/WMS: Mengoperasikan dan mengawasi penggunaan Warehouse Management System (WMS) atau sistem pemindaian barcode untuk efisiensi.
  • Penyusunan Laporan: Membuat laporan rutin terkait kinerja operasional, keluar-masuk barang, dan inventaris untuk manajemen.
  • Pengelolaan Risiko: Menangani masalah logistik, seperti keterlambatan pengiriman atau kerusakan barang, serta menyiapkan rencana kontinjensi. 
  • Warehouse Manager dituntut memiliki ketelitian, kemampuan manajerial yang baik, pemahaman tentang logistik, serta kemampuan bekerja di bawah tekanan. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts