Friday, February 27, 2026

Adab Sebelum Ilmu: Fondasi Karakter agar Ilmu Tidak Melahirkan Kesombongan


Di tengah zaman yang memuja gelar, prestasi, dan pencapaian akademik, kita sering lupa satu hal yang justru paling mendasar: adab. Ilmu tanpa adab bisa melahirkan kecerdasan, tetapi belum tentu melahirkan kebijaksanaan. Ia bisa menciptakan orang pintar, tetapi belum tentu menciptakan manusia yang tahu diri. Karena itu, dalam banyak tradisi pendidikan klasik—terutama dalam khazanah keilmuan Islam—dikenal satu prinsip yang sangat kuat: adab sebelum ilmu.

Adab adalah cara menempatkan diri secara benar. Ia berbicara tentang sikap hormat kepada orang tua, guru, teman, dan bangsa tempat kita berpijak. Ia membentuk kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk menaikkan status sosial, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tanpa adab, ilmu mudah berubah menjadi alat pembenaran diri, bahkan menjadi bahan bakar kesombongan.

Kasus viral alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang menghina negara setelah anaknya memperoleh paspor warga negara asing menjadi refleksi pahit tentang hal ini. Terlepas dari detail dan dinamika yang berkembang, substansinya memunculkan pertanyaan mendasar: untuk apa ilmu tinggi dan fasilitas pendidikan yang dibiayai negara jika pada akhirnya melahirkan sikap merendahkan tanah air sendiri?

Beasiswa seperti LPDP bukan sekadar bantuan finansial. Ia adalah bentuk kepercayaan negara kepada anak-anak bangsanya. Uang yang digunakan bukan uang tanpa wajah; ia berasal dari pajak rakyat, dari kerja keras petani, buruh, pegawai, pedagang kecil. Ada harapan kolektif yang dititipkan di dalamnya: agar penerimanya kembali memberi kontribusi, bukan sekadar meraih mobilitas sosial pribadi. Di sinilah adab memainkan peran sentral—adab terhadap amanah.

Ilmu yang tinggi seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa superior. Semakin banyak wawasan global yang dimiliki, semestinya semakin luas pula empati terhadap bangsa sendiri—dengan segala kekurangannya. Mengkritik negara tentu boleh, bahkan perlu, sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual. Namun menghina, merendahkan, atau merasa lebih mulia karena status kewarganegaraan adalah bentuk kehilangan akar. Dan ketika akar itu tercabut, identitas menjadi rapuh.

Adab kepada orang tua mengajarkan kita untuk tidak lupa asal-usul. Adab kepada guru mengajarkan kita bahwa ilmu adalah warisan estafet, bukan hasil perjuangan individu semata. Adab kepada teman mengajarkan kesetaraan dan solidaritas. Dan adab kepada bangsa mengajarkan bahwa sejauh apa pun kita melangkah, ada tanah yang pernah menjadi pijakan awal. Tanpa kesadaran ini, ilmu hanya akan memperbesar ego.

Fenomena globalisasi memang membuka peluang mobilitas lintas negara. Memiliki paspor asing bukanlah kesalahan. Berkarier di luar negeri pun bukan dosa. Namun sikap batin terhadap tanah kelahiran adalah persoalan berbeda. Di sinilah kualitas karakter diuji. Apakah keberhasilan pribadi membuat kita lupa pada kontribusi kolektif yang pernah menopang langkah kita? Atau justru membuat kita semakin ingin memberi makna bagi tempat asal?

Pendidikan yang ideal tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Jika sistem pendidikan hanya mengejar ranking universitas, indeks publikasi, atau posisi karier, tetapi abai pada pembinaan adab, maka kita berisiko menghasilkan generasi yang cerdas tetapi rapuh secara moral. Mereka mungkin fasih berbicara tentang demokrasi, ekonomi, atau teknologi, tetapi gagap dalam menghargai jasa orang tua, guru, dan bangsa.

Adab sebelum ilmu bukan slogan romantis. Ia adalah pengingat bahwa kecerdasan tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi arogansi. Dan arogansi, pada akhirnya, hanya melahirkan kesombongan yang sia-sia. Dunia boleh mengakui prestasi seseorang, tetapi tanpa karakter mulia, penghargaan itu tidak memiliki kedalaman makna.

Kasus yang viral itu seharusnya menjadi bahan refleksi bersama, bukan sekadar bahan hujatan. Refleksi bahwa membangun bangsa bukan hanya soal mencetak sarjana unggul, tetapi juga membentuk pribadi yang tahu berterima kasih. Bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari paspor yang dipegang, melainkan dari sikap hormat yang tetap dijaga. Dan bahwa ilmu yang paling tinggi adalah ilmu yang membuat seseorang tetap membumi.

Karena pada akhirnya, setinggi apa pun pendidikan kita, kita tetap anak dari orang tua kita, murid dari guru-guru kita, dan bagian dari bangsa yang pernah memberi ruang untuk tumbuh. Tanpa adab, semua itu bisa terlupakan. Dengan adab, ilmu menjadi cahaya—bukan bara yang membakar kesadaran diri.

Persoalan “adab sebelum ilmu” sebenarnya bukan hanya tentang satu kasus viral atau satu individu. Ia menyentuh fondasi cara kita memaknai pendidikan dan keberhasilan. Kita hidup di era ketika pencapaian diukur dari gelar luar negeri, jaringan global, dan mobilitas internasional. Tidak salah. Dunia memang semakin tanpa batas. Tetapi ketika identitas hanya dibangun di atas status dan simbol, sementara karakter tidak ikut ditumbuhkan, maka yang lahir adalah kegamangan nilai.

Beasiswa seperti yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan pada dasarnya adalah investasi jangka panjang bangsa. Negara percaya bahwa ilmu yang diperoleh akan kembali menjadi energi pembangunan—baik dalam bentuk kontribusi langsung, kolaborasi, maupun reputasi positif. Kepercayaan ini adalah bentuk kehormatan. Dan kehormatan selalu menuntut tanggung jawab moral. Di titik inilah adab menjadi pagar agar ilmu tidak melampaui etika.

Adab kepada bangsa bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru orang yang beradab mampu mengkritik dengan elegan. Ia menyampaikan perbedaan pandangan tanpa merendahkan. Ia mengusulkan perbaikan tanpa menghina. Ia tahu bahwa cinta tanah air tidak identik dengan pembenaran buta, tetapi juga tidak berubah menjadi sinisme yang merusak. Perbedaan antara kritik dan cemoohan terletak pada niat dan cara penyampaiannya.

Lebih jauh lagi, adab melatih kesadaran bahwa keberhasilan individu selalu berdiri di atas struktur sosial yang lebih besar. Tidak ada sarjana yang lahir dari ruang hampa. Ada guru yang membimbing, ada keluarga yang mendukung, ada sistem pendidikan nasional yang membentuk fondasi, ada pajak rakyat yang membiayai. Ketika seseorang merasa seluruh pencapaiannya murni hasil jerih payah pribadi tanpa kontribusi kolektif, di situlah kesombongan mulai tumbuh.

Kesombongan intelektual sering kali lebih berbahaya daripada ketidaktahuan. Orang yang tidak tahu masih bisa belajar. Tetapi orang yang merasa paling tahu cenderung menutup diri dari koreksi. Ia mudah meremehkan, cepat menghakimi, dan sulit menerima kritik. Padahal semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin sadar betapa luasnya hal yang belum kita pahami. Kerendahan hati adalah tanda kedalaman ilmu, bukan kelemahan.

Dalam konteks global, menjadi warga dunia bukan berarti kehilangan akar. Banyak tokoh diaspora yang sukses di luar negeri justru tetap menjaga kehormatan asal-usulnya. Mereka bisa berbeda kewarganegaraan secara administratif, tetapi tidak pernah merendahkan tanah kelahirannya. Identitas global dan loyalitas moral kepada asal-usul tidak harus saling meniadakan. Yang membuatnya harmonis adalah adab.

Pendidikan karakter seharusnya tidak berhenti di ruang kelas sekolah dasar. Ia perlu terus ditanamkan di jenjang pendidikan tinggi, bahkan di program-program beasiswa elite. Diskusi tentang etika publik, tanggung jawab sosial, dan nasionalisme yang sehat perlu menjadi bagian dari kurikulum pembinaan. Karena membangun bangsa tidak cukup dengan kecerdasan teknis; ia membutuhkan integritas.

Pada akhirnya, adab sebelum ilmu adalah prinsip yang menjaga keseimbangan. Ia memastikan bahwa semakin tinggi seseorang terbang, semakin kuat ia berpijak. Ia membuat ilmu menjadi alat untuk memberi, bukan sekadar alat untuk meninggikan diri. Dan ia mengingatkan bahwa kehormatan terbesar bukan pada status paspor atau universitas ternama, melainkan pada kemampuan menjaga sikap hormat—kepada orang tua, guru, teman, dan bangsa yang pernah menjadi rumah pertama kita.

No comments:

Post a Comment

Related Posts