Sewaktu kuliah di Malaysia, mau tidak mau saya terjun langsung di lapangan sebagai penjual amatir demi membiayai kuliah. Pagi sampai siang, kuliah. Sore sampai malam, jualan. Capek sih, tapi mau gimana lagi? Di sini saya tidak belajar tentang satu 'D'.
Setelah lulus, saya sempat bekerja di perusahaan consulting, lalu di perusahaan properti. Ini dua moment yang berharga bagi saya karena di sinilah saya belajar tentang satu 'D' lainnya.
Pernah jatuh-bangun ketika merintis bisnis kuliner (soto, bakso, dan donat), sekarang alhamdulillah bisnis-bisnis pendidikan saya tersebar sekian cabang, menaungi ratusan karyawan se-Indonesia. Di sini saya dipahamkan bagaimana sebuah 'D' bekerja. Dan ini adalah 'D' yang berbeda dengan dua 'D' sebelumnya.
Buku-buku saya dianggap sarat inspirasi sampai-sampai dicetak ulang ratuaan kali, melampaui predikat mega-bestseller, alhamdulillah. Training saya juga mewarnai strategi perusahaan-perusahaan bergengsi di tanah air. Semua dari Allah. Saya hanya menjadi orang yang ditakdirkan untuk menjalani ini semua.
Dan dengan izin-Nya, ratusan ribu peserta seminar di belasan negara telah merasakan manfaat juga perubahan. Itulah testimoni seminar yang saya terima setiap harinya. Lagi-lagi, saya hanya menjadi orang yang ditakdirkan untuk menjalani ini semua.
Anda-anda yang berkecimpung sebagai profesional atau entrepreneur yang sibuk, bolehkah saya menyarankan sesuatu yang teramat penting yang akan meringankan aktivitas anda hari ini dan setiap harinya? Boleh?
Saran yang inspiring ini berdasarkan pengalaman saya selama belasan tahun di bidang bisnis, baik sebagai pekerja maupun sebagai pengusaha. Dan saran yang inspiring ini sering saya berikan kepada mereka yang terlihat sangat sibuk namun kurang kelihatan hasilnya.
Semua dirangkum dalam empat kata yang sangat sederhana, sangat menukik, dan bisa anda terapkan hari ini juga. Apa itu? 4D.
- Dump it (buanglah).
- Defer it (tundalah).
- Delegate it (delegasikan).
- Do it (lakukan)
Dulu saya sering kecapekan dalam berbisnis karena tidak mau membuang sebagian aktivitas dan kurang berani mendelegasikan sebagian aktivitas. Saya tidak sadar bahwa waktu dan kemampuan saya terbatas. Saya pun sibuk sendiri. Akhirnya, hasil kerja saya kurang berdampak dan ujung-ujungnya rentan kegagalan.
Kemudian saya tercerahkan, saya hanya bisa BEING BIG kalau berhasil memformulakan 4D ini dengan pas dan pantas. Inilah yang saya terapkan dalam TK dan seminar. Sebaliknya, tanpa 4D, maaf, kita cuma terlihat sangat sibuk namun kurang kelihatan hasilnya. Kurang berdampak. Rentan kegagalan. Nah, saya berharap, anda mulai menerapkan hari ini juga.
--- dari Ippho Santosa
Thursday, December 3, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Related Posts
-
Dalam dunia yang semakin bising oleh pencapaian dan simbol keberhasilan, kita sering salah memahami makna kekayaan. Kita mengira wealth adal...
-
Yang Membunuh Bukan Haters, Tapi Jika Tidak Lagi Dibicarakan dan Dilupakan Kita hidup di sebuah zaman di mana nilai ekonomi tidak lagi semat...
-
Meski sering dianggap serupa, pengadaan ( procurement ) dan pembelian ( purchasing ) adalah dua proses yang berbeda dalam manajemen rantai p...
-
Perang Dunia III: Prediksi dan Skenario Setelah Serangan Amerika ke Venezuela Pada 3 Januari 2026, dunia dibuat terkejut oleh berita bahwa A...
-
Berkaca dari Kasus Samuel vs Nenek Elina Kasus Samuel versus Nenek Elina menjadi cermin yang cukup jernih bagi kehidupan sosial kita hari in...
No comments:
Post a Comment