Showing posts with label Kolom Ippho. Show all posts
Showing posts with label Kolom Ippho. Show all posts

Monday, February 10, 2020

BISNIS ANAK MUDA


Kemarin saya memberikan pembinaan untuk mitra-mitra. Ya, rutin. Mereka datang dari berbagai kota. Prinsip saya adalah BSD alias Bina Sampai Dahsyat. Di pembinaan, sedikit-banyak saya menyinggung soal distribusi.

Pengalaman saya, memahami alur distribusi dengan seksama bisa menghadirkan satu bisnis tersendiri.

Ketika memulai bisnis, sebagian orang muda suka berpikir aneh-aneh. Katanya nyari ide. Terus, menimbang-nimbang ide. Dipikirnya beras kali ya, ditimbang-timbang segala, hehehe. Padahal waktu yang habis itu jauuuh lebih mahal. Apalagi kita sepakat bahwa waktu lebih mahal daripada uang.

Okelah, nyari ide. Tapi sambil nyari ide, akan lebih baik kalau Anda bisa menghasilkan uang detik ini juga. Bukankah orang muda itu biasanya lebih bersegera dalam action? Mikir sih boleh, tapi jangan kebanyakan mikir. Sekiranya Anda setuju, silakan baca tulisan sampai selesai.

Salah satu pintu rezeki yang sudah dibuka dan dibuktikan oleh jutaan orang, adalah menjadi reseller. Atau agent. Atau distributor. Atau sejenisnya. Ya, Anda bisa menjadi orang tengah, menjualkan produk orang lain. Kata kunci di sini adalah distribusi.

Jangan salah, showroom dan dealer mobil itu juga semacam agent. Konter resmi iPhone dan Samsung itu juga semacam agent. Orang tengah, istilah lainnya. Dan ini bagian dari distribusi. Tetap bergengsi tho?

Menjadi reseller, agent, atau sejenisnya, ini sangat bagus. Kenapa? Karena sebagai orang muda yang nggak sabaran, Anda tidak perlu pusing sama produksi yang identik dengan mutu dan kepuasan. Apalagi produksi itu memerlukan cost yang lumayan dan pengalaman.

Saran saya, sebagai reseller, carilah produk yang bisa menghasilkan margin yang lumayan. Kalau margin-nya cuma 5%, begitu segelintir barang tidak terjual, otomatis itu akan ¡®merampok¡¯ profit Anda seluruhnya.

Yah, boleh-boleh saja Anda menjual produk yang margin-nya 5% tapi Anda harus tahu dulu ke mana menjualnya dan seberapa banyak. Antisipasi ini sejak awal. Sehingga resiko Anda mengecil.

Jadi agent? Itu lebih baik lagi. Karena kemungkinan potensi marginnya akan jauh lebih besar. Pada akhirnya, happy selling. Semoga berkah berlimpah.

Sekian dari saya,

Ippho Santosa.

Sunday, February 9, 2020

BUKAN UANG Yang Paling Mereka Harapkan

Mungkinkah bisnis kita bisa BESAR tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah tim kita bisa BANYAK tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah impian kita bisa TERCAPAI tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah hidup kita bisa BAHAGIA tanpa ridha dari orangtua?

Sepertinya sangat sangat sulit.

Ingat, membahagiakan orangtua bukan saja amal ibadah, tapi juga mengundang kebahagiaan, kemudahan, dan rezeki pada hidup kita. Ini jangan dianggap wacana. Hei, ini sesuatu yang nyata!

Membahagiakan orangtua terutama ibu bukan sekedar ucapan. Yah boleh-boleh saja, tapi bukan itu yang utama. Bagaimana kita memuliakan dan membahagiakan mereka setiap harinya, itu jauh lebih utama.

Tanyalah ibu manapun, pastilah mereka senang teramat sangat kalau anaknya nggak neko-neko, anaknya selalu perhatian, anaknya selalu sholat (bagi yang muslim), dan seumpamanya.

Percayalah, BUKAN uang yang paling mereka harapkan. Coba lihat di luar sana, betapa banyak anak yang miskin namun berhasil memuliakan dan membahagiakan ibunya, karena memang si anak ini penuh perhatian.

Ia mengalokasikan waktu untuk ibunya. Makan bareng. Jalan bareng. Ketika jauh, ia pun sering menelepon atau WA ibunya. Coba baca kalimat tadi baik-baik. Apa susahnya? Nggak susah kan? Nggak harus pakai uang kan?

Tentu, kalau pakai waktu DAN uang, ini jauh lebih baik. Misalnya, liburan bareng. Atau umrah bareng. Sempatkan 5 detik untuk share artikel ini kepada teman-teman dan keluarga anda. Mengingatkan mereka.

Terhadap atasan atau orang asing, kita sering mengucapkan, ¡°Pak, ada yang bisa saya bantu?¡± Pernahkah kita mengucapkan ini kepada ibu? Kalau terhadap atasan atau orang asing saja kita bisa santun, mestinya kepada ibu kita bisa lebih daripada itu. Lebih!

Jangan sampai orangtua keburu meninggal dan kita menjadi anak yang menyesal. Kelak, anak kita pun ikut-ikutan lalai dan abai kepada kita, karena mereka jarang-jarang melihat contoh berbakti dari kita.

Sekiranya kita beda pendapat dengan ibu (misal, kita ingin berbisnis, sementara ibu ingin kita tetap bekerja) maka sampaikan pendapat kita dengan sikap yang baik dan waktu yang tepat. Jangan frontal.

Pada akhirnya, jadilah family figher. Semoga kita semua dimampukan untuk memuliakan dan membahagiakan ibu kita.

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.

Aamiin.

Friday, January 31, 2020

HARTA


Siapa yang lebih kaya?
Batman atau Iron Man?

Harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan paling menarik perhatian. The most! Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada kebermanfaatan dan rasa syukur.

Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."

Kalau belum KAYA, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju. Menebar manfaat dan memperbaiki akhlak, itulah amalan yang ditunggu-tunggu malaikat untuk dicatat.

Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi insan yang bermanfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Sekarang. Seketika. Sip? Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita. Terhadap keluarga. Terhadap mitra. Terhadap prospek. Insya Allah pasti bisa. Insya Allah pasti joss!

Ya, nggak harus sekaya Batman, Iron Man, atau Black Panther. Kita luaskan saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.

Ali bin Husein pernah berpesan, "Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian dari Allah dengan rasa senang (syukur)." Pesan ini memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Kapanpun, di manapun. Sampai ke level quantum.

Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah.

Sekian dari saya,

Ippho Santosa.

Monday, January 27, 2020

Manfaat Game

Suka main game? Ternyata ada manfaatnya. Tulisan ini kembali saya posting karena masih ada yang nanya-nanya.

Berikut 8 fakta soal kecanduan game yang dikutip dari berbagai penelitian dan publikasi:
  1. Pada 2018, WHO secara resmi mengatakan kecanduan game adalah bentuk penyakit atau masalah kesehatan.
  2. Menurut Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, dr Dharmawan, mereka yang kecanduan game menjadi tidak bisa berkonsentrasi ketika bekerja maupun belajar.
  3. Ilmuwan mengatakan 1 dari 25 orang, mengalami kecanduan game.
  4. Laki-laki lebih berisiko mengalami kecanduan game.
  5. Ketika bermain, tubuh mengeluarkan hormon dopamine. Ini yang membuat player ingin main dan main lagi. Kecanduan, itulah yang terjadi.
  6. Bermain game memberikan perasaan yang sama seperti ketika orang bermain judi. Kita sama-sama tahu bahwa ini adalah sesuatu yang buruk.
  7. Gejala kecanduan game adalah kehilangan minat untuk kehidupan sosial, merasa gelisah atau terganggu kalau tidak bisa bermain game, dan cenderung berbohong kepada teman dan keluarga tentang durasi bermain game. Dampaknya, menurunnya kemampuan analisa dan empati.
  8. Menurut jurnal Molecular Psychiatry, 85 persen orang yang main game action selama 6 jam lebih setiap minggu membawa dampak negatif pada hipokampus otak (pusat pembelajaran), dibandingkan mereka yang jarang main game. Pada akhirnya, kecerdasan dan empatinya merosot.

Manfaatkah itu semua?

Nggak. Yang jelas, lebih besar mudharatnya.

Belum lagi kalau parent yang bermain game. Anak-anak akan meniru dan merekam dalam memorinya. Hati-hati. Sesuatu yang buruk kalau ditiru oleh anak, biasanya dilakukan kadar dengan jauh lebih parah. Karena itulah kemudian muncul pepatah 'guru kencing berdiri, murid kencing berlari'.

Kita sebagai parent hendaknya menjadi contoh dan teladan. Sekiranya kita selalu bermain game atau kesia-siaan lainnya, pesan yang kita kirim secara tidak langsung kepada anak adalah, "Nak, misalnya ada waktu luang, habiskan saja untuk hal yang sia-sia. Lihat saja Bapak, rutin melakukan hal yang sia-sia. Setiap hari, Nak."

Think.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Thursday, January 23, 2020

Gagal? Rugi?

Berjumpa teman-teman yang mengalami itu, saya langsung mengutip kata-kata dari guru saya, "Acapkali Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Dia itu maha baik, satu kali pun tak pernah bertindak zalim." 

Gagal. Rugi. Bangkrut.

Mungkin ini untuk membersihkan hati dan harta. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa. Mungkin ini untuk menegur kelalaian kita. Atau kemungkinan lainnya.

Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."

Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama diri kita dan keluarga kita, TERNYATA Allah lebih sayang sama diri kita dan keluarga kita. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."

Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah.

Apalagi ketika tagihan dan utang bertumpuk. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah jatuh, berikan tulisan saya ini kepada mereka. Mudah-mudahan setelah membaca, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka.

Setelah itu? Ajak mereka berbenah. Entah itu dari segi ikhtiar, amal, maupun akhlak. Kemungkinan besar, kita bisa jatuh karena kita mengabaikan satu atau beberapa faktor terpenting. Maka, benahi itu.

Tradisi kami di komunitas BP adalah introspeksi.

Introspection + Istighfar = Improvement


Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Semoga berkah berlimpah.

Friday, January 17, 2020

CROWD & CASH

Facebook (FB) dan Instagram (IG) adalah dua senjata penjualan andalan kita saat ini. Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya, terutama IG. Ada keunikan di sana.

Apa itu?

Ibaratnya media, di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Mereka pun bisa me-reply. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa (koran fisik).

Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.

Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian (crowd), di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Dari sana bisa menghasilkan uang (cash). Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."

Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.

Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Maka aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Dan ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya. Saat ini saya bikin training-nya hanya untuk mitra-mitra saya.

Berikut ini adalah beberapa tips IG untuk kita semua.

5 Cara Bertumbuh Secara Organik di IG

  1. Posting dengan data dan kata-kata yang positif. Kalau postingan negatif, orang-orang yang positif dan potensial akan unfollow.
  2. Upload setidaknya 1 postingan dan 4 story per hari. Ini menunjukkan keaktifan dan menjaga interaksi.
  3. Gunakan semua fitur yang ada di IG, seperti Video, IGTV, Stickers, dan Live. Setidaknya, gunakan dua di antaranya.
  4. Gunakan headline yang dominan dan mencuri perhatian. So, cukup pilih satu atau dua kata sebagai headline.
  5. Tetap pada niche kita. Fokus, fokus, fokus. Jangan gonta-ganti topik, tetaplah bahas satu topik.


Siap praktek ya?

8 Alasan Kenapa Orang Unfollow Anda

1. Kurang keterlibatan (interaksi)
2. Posting yang tidak konsisten
3. Terlalu banyak posting dalam satu waktu
4. Kualitas video dan foto yang buruk
5. Postingan yang terlalu emosional
6. Posting hal dan gambar aneh
7. Tiba-tiba bicara di luar topik
8. Terlalu sering merepost


Semua hal ada ilmunya, termasuk mengelola Instagram.

Semoga bermanfaat.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Thursday, January 16, 2020

4 LAPIS YANG MENENTUKAN

Di setiap pembinaan ke mitra-mitra, panjang-lebar penjelasan yang saya berikan dan salah satunya tentang pergaulan dan lingkungan. Istilah lainnya, ekosistem. Saya percaya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem.

Bergaul dengan siapa saja, boleh. Supel. Namun soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita. Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."

Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti, "Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,¡± yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.

Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook Anda dan follower Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Apa iya? Iya! Pernyataan mengejutkan tersebut dibuktikan Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.

Pada tahun 1990-an, Robin Dunbar menghelat penelitian akbar terhadap enam juta panggilan telepon dari 35 juta orang. Dia menganalisis hubungan seseorang dengan yang lainnya. Lalu, dia mencermati frekuensi menelepon satu sama lain dan mengkategorikan hubungan tersebut.

Hasilnya?

Berdasarkan penelitian ini, ia mengemukakan Teori Lapisan Dunbar. Teori tersebut menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hanya mampu membangun hubungan yang berarti dengan maksimal 150 orang dan dibagi menjadi empat lapisan.

- Lapisan pertama adalah 4 sampai 5 orang sahabat terdekat.
- Lapisan kedua yaitu 11 orang terdekat.
- Lapisan ketiga yaitu 30 orang teman.
- Lapisan keempat yaitu 129 orang teman.

Karena bagi Anda tulisan ini sangat penting, Anda boleh men-share tulisan ini. Boleh sekarang, atau nanti saja begitu Anda selesai membacanya.

Uniknya, menurut Washington Post, orang-orang pintar biasanya memiliki teman lebih sedikit.

Salah satu sebabnya, seringkali pemikiran orang-orang pintar ini mengembara pada hal-hal yang sangat besar atau terkait masa depan (visioner), di mana khayalak awam lazimnya belum sanggup mengimbanginya.

Sekali lagi, terkait sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat). Insya Allah ekosistem di BP sangat memperhatikan dua hal itu, impian jangka pendek dan impian jangka panjang.

Pada akhirnya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem. Insya Allah kita semua bisa menemukan bisnis yang tepat.


Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Boleh di-share.

Monday, January 6, 2020

JUJUR = MUJUR

Memiliki orangtua yang kaya memang membanggakan. Tapi dikaruniai orangtua yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya lebih membanggakan.

Betul apa betul?

Kalau ngomong orangtua dan keluarga, biasanya kita selalu membahasnya dengan penuh perhatian. Bahkan sampai terharu. Begitulah, hampir semua orang membanggakan orangtuanya. Dan itu sah-sah saja karena demikian besar jasa mereka.

Didikan dari orangtua selama belasan tahun, membekas dalam hati kita, bahkan dalam tarikan nafas kita. Nggak heran kalau kemudian itu mewarnai keputusan-keputusan kita. Bahkan mempengaruhi peruntungan kita. Dan ini jamak terjadi pada siapa saja, termasuk Anda dan saya.

Sekarang, giliran kita yang menjadi orangtua, setidaknya calon orangtua. Maka bawa pulanglah rezeki yang baik-baik, yang bersih. Jangan sampai kepolosan anak-anak kita di rumah, kita kotori dengan rezeki yang tidak halal.

Jangan sampai.

Ingatlah, rezeki yang halal akan mempengaruhi peruntungan anak-anak kita dan keluarga kita. Sudah banyak contohnya. Apalagi kita ingin menjadi orangtua yang benar-benar dibanggakan oleh anak-anaknya.

Menurut riset Thomas Stanley, sikap jujur adalah salah satu faktor penentu menuju kesuksesan. Jujur yah mujur. Selanjutnya, menurut riset Anita Kelly dan Lijuan Wang dari University of Notre Dame, jika ingin hidup tenang dan sehat, maka berhentilah berbohong.

Ya, demikianlah faktanya!

Sukses atau tidak, terkenal atau tidak, kaya atau tidak, sudah semestinya kita berusaha menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita. Dengan apa? Dengan menjadi sosok yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya, apapun latar belakang kita. Saya yakin, Anda setuju dengan saya.

Teman-teman setuju?

Pada akhirnya, saat kita jujur, anak pun akan merasa, "Aku adalah anak yang beruntung."

Mujur!


Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Wednesday, January 1, 2020

Golden time

Apa persamaan mereka?

CEO Apple, Tim Cook
CEO Disney, Bob Iger
CEO Starbucks, Howard Schultz
CEO Twitter, Dan Dorsey
CEO Chrysler, Sergio Marchionne
CEO General Motors, Mary Barra
CEO Virgin America, David Cush
Founder Virgin, Richard Branson
Michelle Obama
Martha Stewart
Kris Jenner

Mereka semua ternyata gemar bangun pagi, bahkan bangun awal. Btw tulisan ini pernah saya posting beberapa minggu yang lalu dan hari ini kembali saya posting dengan sedikit tambahan. Karena memang penting.

Satu hal yang pasti, sejak lama, saya membiasakan bangun sebelum subuh. Istilahnya, bangun awal. Dan saya berharap ini menjadi tradisi juga di BP. Besar manfaatnya. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.

Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi sesuatu. Apakah itu menyusun rencana, mengevaluasi hasil, menyapa tim, mengirim VN, menulis artikel, ataupun kesibukan-kesibukan produktif lainnya.

Tubuh yang baru bangun dan lagi segar-segarnya, lalu disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan keadaan. Extra fresh! Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.

Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun awal aja susah, gimana mau bangun rumah tangga? Hehehe.

Mereka yang selalu telat bangunnya (setelah subuh) kemungkinan akan sering mengeluh karena sakit-sakit yang mungkin kesannya sepele. Misalnya pening dan lemas. Tapi jangan salah. Lama-lama ini nggak sepele lagi. Bisa parah.

Hati-hati, bangun telat lama-lama bisa mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu, bisa memicu sakit kepala berterusan karena cairan serebrospinal bergerak menuju otak. Bukan itu saja, bangun telat juga bisa memicu masalah pencernaan dan kanker hati.

Pantaslah Nabi menganjurkan kita untuk bangun awal dan bergerak, nggak diam. Karena memang itu menyehatkan, mengundang rezeki, dan mengundang keberkahan. Itu janji Nabi. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja, bangun awal. Nggak ada ruginya! Untung malah!

Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Thursday, December 26, 2019

Hari Ibu

Hari Ibu telah berlalu? Nggak juga. Karena pada hakekatnya, Hari Ibu itu harus diperingati, dimaknai, dan diisi setiap hari.

Cristiano Ronaldo terkenal sangat dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember beberapa waktu yang lalu, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!

Orang seperti ini mungkin disebut anak mami.

Disebut anak mami, emang napa? Yang penting, nggak manja. Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan anak mami memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya.

Nah lho!

Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!

Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!

Btw, benarkah penelitian ini?

Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan terus berjalan hingga puluhan tahun kemudian. Studi ini di-refresh 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.

Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng aja.

Di komunitas bisnis saya, kami menempatkan keluarga sebagai salah satu prioritas. Masih ingat soal 3A?

Pesan seorang senior, "Jangan takut dicemooh 'anak mami'. Pemuda yang dekat dan menghormati orang tuanya, pastilah lebih sukses." Saya sejak lama membahas ini dalam ilmu #7KeajaibanRezeki. Apa pendapat Anda?

Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada saudara-saudara Anda.

Mengingatkan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Semoga berkah berlimpah.

Monday, December 23, 2019

Being Happy At Work Matters


Anda bahagia?

Rekan-rekan anda bahagia?

Sebuah artikel bertajuk "16 Things Guaranteed To Make You Happy At Work" yang dimuat di Forbes menyarankan kita agar bahagia, untuk menjaga jarak dari orang-orang yang berpikiran negatif. Ya, menjaga jarak. Kenapa?

Soalnya, orang-orang yang berpikiran negatif cenderung tidak bahagia dan sering berkubang pada masalah. Sehingga gagal mencurahkan perhatian pada solusi. Repotnya lagi, mereka senang jika ada orang lain yang merasakan masalah yang sama.

Rupanya, hal itu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Yang paling berbahaya adalah jika pengaruh negatif itu datang dari atasan (leader) yang tidak memiliki keterikatan. Ini parah.

Di BP, kita percaya bahwa leader adalah contoh alias teladan. Harus membawa pengaruh positif terhadap tim, setiap hari. Sekiranya sesekali leader keliru, kemungkinan tim masih bisa menerima dan memaafkan. Diterima, kenapa? Karena setiap hari leader itu sudah berusaha memberikan pengaruh yang positif terhadap tim.

Sebuah artikel berjudul "Being Happy At Work Matters" di Harvard Business Review memaparkan bahwa orang-orang yang tidak bahagia dan tidak memiliki keterikatan bukanlah rekan bisnis yang menyenangkan.

Lebih dari itu, mereka tidak bisa membawa nilai tambah, malahan dapat membawa pengaruh negatif terhadap bisnis. Lebih gawat lagi jika pihak yang lebih superior (leader) yang bersikap sedemikian. Disebut gawat, karena dapat mempengaruhi orang banyak.

So, hati-hati. Jangan biarkan bahagia anda direnggut oleh mereka yang berpikiran negatif dan tidak bahagia. Kalau anda bahagia, insya Allah itu akan sangat baik dampaknya buat diri anda, bisnis anda, dan keluarga anda.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.


Sumber photo:
https://hbr.org/2014/11/being-happy-at-work-matters

Friday, December 20, 2019

Money Magnet

Internet + Socmed + WA Chat = Money Magnet

Ya, internet jika digunakan bareng socmed dan WA chat bisa menjelma jadi magnet. Tepatnya, mesin uang. Saran saya, "Biarkan mesin uang itu bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk keluarga dan ibadah. Juga untuk liburan."

Senior-senior saya di bisnis selalu mengingatkan, "Nggak harus punya toko dan budget promosi yang besar untuk memulai bisnis. Nggak harus. Sebaliknya, cobalah kurangi penggunaan flyer, spanduk, dan salesman."

Ngelapak? Nggak harus. Buka stand? Nggak harus. Dengan mesin bernama internet dan socmed, kita bisa menghasilkan penjualan yang jauh lebih banyak dengan biaya yang jauh lebih hemat, dengan cara yang jauh lebih simple. Betul apa betul?

Belakangan ini, kekuatan media konvensional seperti spanduk, koran, dan radio kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata memang begitu, menurut saya. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai brosur, flyer, spanduk, iklan koran, dan iklan radio. Kalaupun masih ada, yah nggak sebanyak dulu lagi.

Yang saya rasakan, dengan internet dan socmed, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur. Di komunitas saya (komunitas BP), mitra-mitra dilatih untuk melakukan sosialisasi produk melalui socmed. Setelah itu, diarahkan ke WA chat. Nah, karena penawaran yang menarik dan bukti-bukti yang real, akhirnya prospek pun berubah jadi konsumen, bahkan jadi partner. Alhamdulillah.

Begitulah. Lima tahun terakhir, internet dan socmed kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.

Sudah semestinya semua pihak (mulai dari brand owner, distributor, agent, reseller, termasuk staff CS) harus belajar benar-benar soal internet dan socmed. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!

Ingat, BUKAN zaman yang kejam. BUKAN internet yang kejam. BUKAN socmed yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Saran saya, mari mempersiapkan diri. Daripada anti sama socmed, lebih baik mempelajari dan memanfaatkannya. Ready?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Wednesday, December 18, 2019

Masa Muda

Kadang orang-orang muda memiliki kerancuan berpikir tentang masa muda. Bahkan ini terjadi pada orang-orang yang sudah berusia 30-an. Harus dipahami ada perbedaan nyata antara menikmati masa muda dan menghancurkan masa depan.

Sebenarnya, terdapat berbagai pilihan untuk menikmati waktu luang. Terlebih di masa muda. Nah, pastikan kita memilih kegiatan-kegiatan positif yang membawa manfaat optimal bagi diri, keluarga, dan tim kita. Toh kita sama-sama tahu, waktu jauuuuuh lebih berharga daripada uang.

Right?

Rasulullah pernah bersabda, Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang. (HR Al-Bukhari). Di tulisan ini, penekanan kita pada waktu luang.

Syaikh As-Sa'di pun mengingatkan, Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah sesiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat UJIAN dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan bagi dirinya.

Dengan kata lain, tidak sungguh-sungguh untuk hal-hal yang membawa manfaat akan menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang membawa mudharat. Hati-hati, ini nggak main-main.

Uang itu amanah. Tapi jangan salah, waktu lebih amanah. Perlu dikelola benar-benar. Pastikan diri kita terlepas dari hal yang sia-sia, apalagi yang mudharat. Terutama kita yang sudah menjadi kepala rumahtangga, di mana tindakan kita akan dicontoh dan diteladani oleh istri juga anak-anak kita.

Tambahan lagi kalau kita pengusaha. Ya, kita punya tim dan mitra. Mereka perlu diperhatikan. Benar-benar diperhatikan. Kok kita sampai hati, begitu punya kelapangan waktu kita malah buang-buang waktu? Tim dan mitra juga mengharapkan keteladanan dari kita.

Sekali lagi, keteladanan.

Ketimbang kepo-kepo di socmed (IG dan FB), lebih baik kasih komen-komen positif di socmed tim. Itu namanya motivasi. Ketimbang nonton konten-konten unfaedah di YouTube, lebih baik kasih chat positif di grup WA sama tim. Itu namanya interaksi.

Pada akhirnya, penuhi dan sesaki HARI KITA dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Otomatis kita akan menjauh dari aktivitas-aktivitas yang sia-sia. Insya Allah.

Semoga tulisan ini menginspirasi.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Tuesday, December 17, 2019

3i

Tetap berhemat dan hanya membeli barang-barang yang tepat, menjadi tantangan bagi mereka yang tiba-tiba 'punya uang'. Di antara mereka ada yang mendekati boros.

Bagaimanapun, boros adalah akhlak yang buruk.

Sepenting-pentingnya uang, ingat, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang. Tanpa ilmu dan akhlak yang tepat, uang bisa menjadi bencana.

Dari dulu sampai sekarang, uang tidak pernah membawa masalah. Sekalipun tidak pernah. Yang masalah itu manusianya. Kurang ilmu, kurang pengendalian diri.

Terkait cara mencari uang, pahami dulu konsekuensi dan risikonya. Kalau memang mau bekerja, yah terimalah konsekuensinya. Uangnya (gajinya) nggak seberapa.

Kalau memang mau berbisnis, yah bersiaplah dengan segala konsekuensi dan resikonya. Bisnis mengharuskan kerja keras. Selain itu, kita harus pandai-pandai memutar uang dan menghemat uang.

Setidaknya ada tiga hal atau 'tiga i' yang dianjurkan saat kita mengelola penghasilan alias income:
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)

Sayangnya, mereka yang tidak bertanggung-jawab cenderung menyalah-nyalahkan (blame) dan beralasan (excuse) saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Ini kurang bijak.

Kadang mereka mengeluh soal profit yang nggak seberapa. Padahal, profit-nya sudah lumayan. Pengendalian dirinya yang kurang. Betul apa betul?

Kadang mereka mengeluh soal produk yang sesekali indent. Padahal, produksi dari pusatnya sudah bagus. Manajemen stok di mitranya yang belum bagus.

Ada juga yang ngeluh soal nasibnya yang gitu-gitu aja. Dia lupa, ternyata infaq-nya selama ini juga gitu-gitu aja. Dan siapapun tahu, sedekah itu wasilah untuk berbagai macam perubahan.

Ya, sebagian orang tidak bertanggung-jawab dengan keputusan-keputusan yang telah diambil. Nggak serius di stok. Nggak serius di infaq. Selalu konsumtif, nggak insyaf-insyaf.

Padahal, yang namanya entrepreneur itu harus 100% bertanggung-jawab, nggak boleh menyalahkan keadaan. Pada akhirnya, daripada menyalah-nyalahkan keadaan, mari sama-sama kita berbenah. Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Monday, December 16, 2019

Tegas, Tidak harus Marah

Bolehkah menghardik dan membentak anak?

Begini. Tegas, nggak harus marah. Kalaupun harus marah (karena hal-hal prinsip), nggak perlu menghardik dan membentak.

"Memarahi anak dengan berteriak ternyata dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa," ungkap Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian dari Universitas Pittsburgh. Di mana penelitian ini dimunculkan di Journal of Child Development.

Apabila orangtua memarahi anak saat berusia 13 tahun, maka anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan masalah emosional saat dewasa. Bukan itu saja. Si anak bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun. Mereka pun cenderung berperilaku negatif di sekolah, sering berbohong, mencuri, dan berkelahi.

Dr. Ming-Te Wang menegaskan, memarahi anak dengan menghardik dan membentak BUKAN langkah yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Sama sekali nggak efektif. Tindakan tersebut justru akan berdampak buruk pada anak, kendati hubungan anak dan orangtua cukup dekat. Bahkan anak cenderung MENIRU hardikan dan bentakan yang diterimanya.

Menurut Dr. Laura Markham lulusan Columbia University, hardikan dan bentakan orangtua kepada anak akan membuat anak menutup diri secara emosional. Menurut Martin Teicher, profesor di Harvard Medical School, teriakan orangtua kepada anak akan merusak struktur otak anak.

Terkait itu, menurut Lise Eliot dari Chicago Medical School, memarahi anak dengan nada tinggi dapat mengganggu struktur otak anak. Malah pada masa pertumbuhan (golden age), suara keras dan hardikan dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.

Sebagian kita mungkin berkilah, "Ah, nggak juga. Buktinya, aku dulu sering dibentak-bentak ibu. Toh sekarang pintar juga, IPK tiga koma sekian." Benarkah argumen ini? Padahal, mungkin saja, tanpa bentakan, ia bisa lebih pintar. Bahkan jenius!

Hal ini perlu kita bahas karena pada umumnya kita menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas.

Ya, prioritas.

Sekiranya kita sayang sama anak-anak kita dan peduli dengan kecerdasan juga pertumbuhan mereka, baiknya kita urungkan saja niat kita untuk menghardik mereka. Sekiranya sesekali kita terpaksa marah (karena hal-hal prinsip), toh masih bisa dilakukan tanpa menghardik dan membentak.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Semoga bermanfaat.

Wednesday, December 11, 2019

3D

Kadang dunia ini tidak ideal. Dalam perjalanan hidup, mungkin kita bertemu dengan orang-orang yang menzalimi kita dan menganiaya kita. Pada akhirnya, ini memancing kita untuk mendendam atau sikap-sikap negatif lainnya. Ini sebenarnya nggak baik.

Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan.

Apa saja 3D itu?

Dengki, Dongkol, Dendam.

Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu?

Ya, benar.

Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.

Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal.

Ngeri.

Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan untuk masa depan Anda.

Sekian, semoga bermanfaat.

Friday, December 6, 2019

Jangan Digegas, Jangan Di-gas.

Sebenarnya, pasangan kita (suami kita atau istri kita) adalah orang ditakdirkan untuk memperbaiki kita sekaligus melengkapi kita. Begitu juga sebaliknya, vice versa. Percayalah, dialah yang paling tepat. Tidak ada orang lain yang lebih tepat.

Terbukti kita ditakdirkan berjodoh dan menikah dengan dia. Padahal ada miliaran manusia yang hidup di dunia ini.

Saat kita berharap pasangan untuk berubah dan membaik, yang sebenarnya perubahan dan perbaikan itu harus dimulai dari diri kita. Ya, dari diri kita. Berharap dia yang berubah duluan adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak terlalu bijak.

Satu hal lagi.

Apa itu?

Harus ada kesabaran. Nabi sabar menunggu para sahabat untuk berubah. Allah? Maha Sabar. Lantas, kenapa kita nggak sabar?

Kadang kita kurang sabar ketika berharap pasangan untuk berubah. Kadang kita merasa sudah relatif baik, lalu kita menuntut pasangan untuk berubah dan membaik. Hei ingat, kecepatan dan momentum orang itu berbeda-beda ketika diharapkan untuk berubah.

Jangan digegas. Jangan di-gas.

Kita boleh berharap perubahan yang cepat kalau orang itu adalah diri kita sendiri. Perlu contoh? Misal, kita pengen tahajjud dan rutin. Ya sudah, mulai malam ini juga, berlanjut malam-malam berikutnya. Tapi saat kita berharap pasangan yang rutin tahajjud-nya, yah kita mesti sabar. Jangan mendesak dia untuk memulai malam ini juga.

Sabar. Doakan. Dan mulai perubahan itu dari diri kita.

Seperti Nabi Yunus yang awalnya gagal berdakwah utk sebuah kampung. Iya, gagal. Tapi kemudian, beliau berhasil juga. Kok bisa? Krn beliau memutuskan utk bertobat dan berubah. Tepatnya, memperbaiki diri dan memantaskan diri.

Dalam mendoakan, mesti ada sikap sabar dan rasa sayang. Hadirkan itu selalu. Apalagi terhadap orang yang ditakdirkan untuk melengkapi kita, yaitu pasangan kita. Sering kali, krn kesal, kita tidak membawa 'rasa sayang' dlm mendoakan. Ini kurang tepat.

Di mana-mana, setiap perubahan perlu pendampingan. Ya, setiap perubahan. Apalagi di komunitas BP yang saya rintis, kami selalu mengedepankan konsep couple-preneur. Perlu kesabaran. Perlu baiksangka. Perlu doa yang tidak putus-putus. Pastikan kita menghadirkan itu semua, demi pasangan kita.

Siap?

Thursday, November 28, 2019

Interconnected


Jadilah mukmin.
Jadilah rahmatan lil alamin.

Dan jadikan ini gaya hidup.

Sebenarnya, gaya hidup 'rahmatan' adalah gaya hidup yang diimpi-impikan oleh kebanyakan orang.

Kenapa?

Yah, karena di dalamnya terdapat asas kebermanfaatan, kebersamaan, dan keadilan.

Jujur, ini sangat langka. Tapi kalau kita bisa menjadi seperti itu, yah kita akan dicari-cari orang. Diimpikan banyak orang. Betul apa betul?

Termasuk dalam muamalah (kerjasama bisnis). Harus ada gaya hidup 'rahmatan lil alamin' di sana. Bukankah Nabi menganjurkan kebermanfaatan dan keadilan dalam muamalah? Tentu ini kita harapkan terjadi di semua sektor, bukan di sektor tertentu saja.

Di rumah makan Padang misalnya, kita berharap ada gaya hidup 'rahmatan' ini. Maksudnya, ada keadilan dan kejelasan pada harga. Makanan? Relatif sehat. Dan itulah yang seharusnya. Jadi, yang namanya 'rahmatan' BUKAN pada bisnis-bisnis yang berlabel agama saja, seperti travel umrah dan distributor jilbab.

Melainkan pada SEMUA bisnis.

Terus, bagaimana dengan kebersamaan atau sering disebut dengan sinergi?

Sepenting apa?

Bagi saya sinergi adalah saling percaya, saling saling membantu, dan saling mendoakan. Ini semacam keterkaitan satu sama lain. Interconnected.

Terus, seperti apa contoh konkritnya?

Begini. Saat kita membantu seseorang, jangan berharap orang itu langsung membantu kita sebagai timbal-baliknya. Nggak harus begitu. Sebagai mukmin kita percaya sepenuhnya bahwa Allah itu maha membalas.

Right?

Kalau mau bantu yah bantu saja. Soal timbal-balik atau balasan, kita serahkan ke Allah.

Bantu orang lain, maka Allah akan membantu kita. Muliakan orang lain, maka Allah akan memuliakan kita. Doakan orang lain, maka Allah akan mengabulkan doa kita. Donorkan darah ke orang lain, maka Allah akan menyehatkan darah kita.

Inilah bagian dari gaya hidup 'rahmatan'.

Masih soal bisnis. Bagaimana dengan harga? Jangan over-price bagi konsumen. Bagi mitra-mitra, yah diuntungkan secara adil dan merata.

Kalau produk? Usahakan benar-benar bermanfaat. Jangan bikin orang konsumtif (fashion misalnya). Seperlunya saja. Jangan juga mengundang kolestrol dan asam urat (misalnya kalau kita jual makanan).

Begitulah kurang-lebih.

Dan kalau ini diterapkan, sungguh-sungguh diterapkan, mudah-mudahan kita pelan-pelan menuju gaya hidup 'rahmatan lil alamin'.

Aamiin.


Sumber foto :
https://medium.com/@YJProfessionals/finding-good-in-an-interconnected-society-c77eeeda5fc8

Tuesday, November 26, 2019

Internet adalah Now Market dan Next Market

Internet dan gadget adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Termasuk dalam bisnis.

Sayangnya, sebagian besar UKM kita kurang melek soal internet. Padahal internet adalah now market dan next market. Maksudnya? Saat ini, sangat besar. Ke depannya, jauh lebih besar.

Terus, sampai kapan kita cuma diam jadi penonton? Saran saya, jadilah pemain. Jadilah pelaku. Dengan internet, kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau buka stand. Tidak perlu lagi memasang spanduk, flyer, dan iklan koran.

Hemat tho? Sangat hemat. Cukuplah kita mengoptimasi Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Blogspot, sehingga otomatis bisnis kita muncul di mana-mana ketika konsumen mencari. Saya harap teman-teman semua siap dan terbiasa dengan itu.

Mitra-mitra saya alhamdulillah sudah terbiasa dengan itu semua. Misalnya, ganti profile picture, terus dapat closingan. Update WA story, terus dapat closingan. Posting di IG, terus dapat closingan. Simple tapi sangat ngefek.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa. Karena memang sudah di-training dan dikondisikan setiap harinya. Bukan asal update. Bagi teman-teman yang belum paham, saran saya, cobalah belajar. Atau bergabung di komunitas di tepat.

Zaman sekarang, percayalah, nyari rupiah itu relatif mudah dan nggak harus keluar rumah. Salah satu caranya, pandai-pandailah kita memanfaatkan internet dan gadget. Simple banget. Bisa insya Allah, asalkan kita mau membuka mindset dan memantaskan diri.

Siap?

Tuesday, October 29, 2019

Menjual Indent

Hampir setiap hari saya bertemu dengan entrepreneur dan calon entrepreneur. Pas bertemu, biasanya mereka nanya-nanya ke saya. Salah satunya tentang membesarkan usaha.

Saran saya, jangan buru-buru berpikir ngutang dalam membesarkan usaha. Terutama buat pemula. Apalagi di bidang yang relatif baru dan berisiko bagi Anda.

Sekali lagi, jangan buru-buru berpikir ngutang dalam membesarkan usaha. Masih ada cara lain untuk mendapatkan cash, asalkan bisnis Anda memang bagus alias menjanjikan.

Misal:
Hemat-hemat
Jual indent
Bayar tempo
Tunda pengeluaran
Beli skala kecil (sesuai kemampuan)

Satu hal yang perlu dikuasai benar-benar oleh seorang pengusaha adalah menjual indent. Barang belum ada, tapi sudah dijual. Bolehlah? Boleh-boleh saja.

Agama pun mengizinkan itu. Jual indent. Asalkan barang nantinya sesuai dengan yang dijanjikan. Jangan sampai, gambarnya A, barangnya B. Ngawur tuh!

Mulailah menjual indent. Lalu dapatkan cash-nya.

Ingat, cash is king. Pengelolaan atas cash, itu melebihi king. Lihatlah, betapa banyak bisnis yang runtuh dan rubuh, hanya gegara gagal mengelola cash. Padahal sebagian mereka memetik untung.

Pada akhirnya, juallah indent, lalu dapatkan cash-nya. Tentunya dengan tetap berhati-hati. Praktek ya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.

Related Posts