Showing posts with label Creativity. Show all posts
Showing posts with label Creativity. Show all posts

Thursday, February 12, 2026

Enterprise Resource Planning

Dan Fungsi Cost Controlling

Di tengah persaingan bisnis yang semakin kompleks, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan peningkatan penjualan untuk bertahan dan berkembang. Mereka membutuhkan sistem yang mampu mengintegrasikan seluruh proses bisnis sekaligus mekanisme yang menjaga kesehatan finansial secara disiplin. 

Pernah lihat perusahaan besar yang operasionalnya rapi banget—stok terkontrol, keuangan sinkron, produksi jalan sesuai jadwal, HR tertata? Biasanya di balik layar ada satu sistem yang bekerja diam-diam tapi krusial: Enterprise Resource Planning (ERP).

ERP adalah sistem terintegrasi yang menghubungkan berbagai fungsi bisnis—mulai dari keuangan, pembelian, gudang, produksi, penjualan, hingga sumber daya manusia—dalam satu platform yang sama. Tujuannya sederhana tapi powerful: semua data terhubung, semua departemen bicara dengan bahasa yang sama.

Secara konsep, ERP menyatukan proses bisnis dalam satu sistem database terpadu. Jadi ketika tim penjualan membuat order, sistem otomatis memperbarui stok di gudang, mencatat piutang di keuangan, dan bahkan bisa memicu perencanaan produksi jika stok kurang.

Bayangkan jika setiap departemen memakai sistem terpisah—Excel sendiri, software sendiri, laporan manual sendiri. Hasilnya? Data ganda, miskomunikasi, keputusan lambat. ERP hadir untuk menghapus silo informasi itu.

Di sinilah Enterprise Resource Planning (ERP) dan cost controlling saling melengkapi sebagai fondasi manajemen modern. ERP berfungsi sebagai sistem terintegrasi yang menyatukan berbagai departemen—keuangan, pembelian, gudang, produksi, penjualan, hingga sumber daya manusia—dalam satu platform dengan database yang sama. 

Beberapa contoh sistem ERP yang dikenal luas antara lain:

  • SAP
  • Oracle
  • Microsoft Dynamics 365
  • Odoo

Masing-masing punya pendekatan dan segmentasi pasar berbeda, dari perusahaan skala menengah sampai korporasi global.


Sistem ERP biasanya terdiri dari beberapa modul yang bisa diaktifkan sesuai kebutuhan perusahaan:

  1. Keuangan & Akuntansi. Mengelola jurnal, laporan keuangan, arus kas, hingga pengendalian anggaran secara real-time.
  2. Supply Chain & Warehouse. Mengontrol pembelian, stok, distribusi, dan pergerakan barang agar tidak terjadi overstock atau stockout.
  3. Produksi. Mendukung perencanaan kebutuhan material (MRP), jadwal produksi, dan monitoring efisiensi mesin.
  4. Penjualan & CRM. Melacak pesanan pelanggan, histori transaksi, hingga performa tim sales.
  5. Human Resource. Mengelola payroll, absensi, rekrutmen, hingga evaluasi kinerja karyawan.

Semua modul ini saling terhubung. Jadi perubahan di satu bagian langsung berdampak pada bagian lain.

Dengan sistem ini, setiap transaksi tercatat secara real-time dan langsung terhubung antar fungsi, sehingga tidak ada lagi data yang terpisah atau miskomunikasi antar departemen. Ketika penjualan terjadi, stok otomatis berkurang, laporan keuangan terbarui, dan perencanaan produksi dapat langsung menyesuaikan. Integrasi ini menciptakan visibilitas menyeluruh terhadap kondisi perusahaan.

Namun, memiliki sistem terintegrasi saja tidak cukup tanpa pengendalian biaya yang kuat. Cost controlling hadir sebagai proses sistematis untuk merencanakan, memantau, menganalisis, dan mengendalikan pengeluaran agar tetap sesuai anggaran serta target profit. 

Berbeda dengan sekadar pemotongan biaya jangka pendek, cost controlling menekankan efisiensi dan efektivitas jangka panjang. Prosesnya dimulai dari penyusunan anggaran yang realistis, dilanjutkan dengan pencatatan realisasi biaya secara akurat, analisis selisih antara anggaran dan aktual, hingga tindakan korektif jika terjadi penyimpangan. 

Implementasi ERP bukan cuma soal “punya sistem canggih”. Dampaknya bisa sangat strategis, yaitu diantaranya:

  • Data real-time untuk pengambilan keputusan cepat
  • Mengurangi human error akibat input manual
  • Meningkatkan transparansi antar departemen
  • Efisiensi biaya operasional
  • Meningkatkan kontrol dan audit trail

Di era kompetisi ketat, kecepatan dan akurasi informasi sering kali menjadi pembeda antara perusahaan yang bertumbuh dan yang tertinggal.

Tanpa data yang akurat dan terintegrasi, pengendalian biaya sulit dilakukan secara objektif—dan di sinilah ERP menjadi alat pendukung yang sangat penting karena menyediakan informasi yang cepat dan transparan.

Tapi jujur saja—ERP bukan proyek kecil. Banyak perusahaan gagal bukan karena sistemnya jelek, tapi karena:

  • Kurang persiapan perubahan budaya kerja
  • Resistensi dari karyawan
  • Data awal yang berantakan
  • Salah memilih vendor atau modul

ERP bukan hanya instal software. Ini transformasi proses bisnis. Tanpa komitmen manajemen dan pelatihan yang serius, sistem secanggih apa pun bisa jadi tidak optimal.

Kombinasi ERP dan cost controlling memungkinkan manajemen mengambil keputusan berbasis data, bukan asumsi. Perusahaan dapat dengan mudah melihat area mana yang mengalami pemborosan, proses mana yang tidak efisien, serta biaya mana yang sebenarnya memberikan nilai tambah strategis. 

Pengendalian biaya bukan berarti menahan semua pengeluaran, melainkan memastikan setiap rupiah yang keluar memberikan dampak optimal bagi pertumbuhan bisnis. Dengan integrasi sistem dan disiplin finansial yang kuat, perusahaan tidak hanya mampu meningkatkan profitabilitas, tetapi juga menjaga stabilitas arus kas, meminimalkan risiko kerugian, dan membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan. 

Pada akhirnya, ERP menyediakan struktur dan transparansi, sementara cost controlling memastikan perusahaan tetap terkendali dan sehat secara finansial—dua elemen yang saling menguatkan dalam menciptakan organisasi yang tangguh dan kompetitif.

Namun kunci keberhasilannya bukan hanya pada teknologi, melainkan pada kesiapan organisasi untuk berubah dan beradaptasi.

Karena pada akhirnya, ERP bukan sekadar sistem.

Ia adalah cara perusahaan berpikir—lebih terintegrasi, lebih strategis, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Tuesday, December 3, 2024

Piramida Belajar


Strategi Efektif untuk Menyerap dan Mengaplikasikan Pengetahuan

Piramida Belajar adalah model yang menunjukkan tingkat efektivitas berbagai metode pembelajaran dalam membantu seseorang memahami dan mengingat informasi. Model ini membagi proses pembelajaran menjadi dua kategori utama: Belajar Pasif dan Belajar Aktif, dengan tingkat retensi yang semakin tinggi pada metode belajar yang lebih melibatkan partisipasi.

Belajar Pasif: Tingkat Retensi yang Rendah

Metode belajar pasif cenderung memiliki tingkat retensi lebih rendah karena melibatkan keterlibatan minimal dari peserta. Berikut adalah tiga tahapannya:

  1. 10% dari yang Kita Baca
    Membaca merupakan metode pembelajaran paling mendasar, tetapi juga yang paling rendah dalam hal retensi. Tanpa keterlibatan aktif, informasi yang diperoleh cenderung mudah terlupakan.

  2. 20% dari yang Kita Lihat dan Dengar
    Menyerap informasi melalui audio-visual, seperti video pembelajaran atau presentasi, lebih efektif daripada membaca saja. Namun, karena interaksi minimal, daya ingat masih terbatas.

  3. 30% dari Melihat Demonstrasi
    Menyaksikan proses atau demonstrasi langsung, seperti eksperimen sains atau tutorial teknis, lebih menarik dan mudah dipahami, tetapi tetap kurang efektif dibandingkan pembelajaran aktif.

Belajar Aktif: Tingkat Retensi yang Tinggi

Metode belajar aktif mengharuskan peserta untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Ini membuat retensi informasi jauh lebih tinggi.

  1. 50% dari yang Kita Diskusikan
    Diskusi memungkinkan peserta untuk berbagi perspektif, bertanya, dan menjelaskan kembali apa yang mereka pelajari. Ini membantu memperkuat pemahaman dan mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan.

  2. 75% dari yang Kita Praktekkan dan Latihan
    Belajar sambil melakukan, seperti melalui latihan langsung, simulasi, atau proyek praktis, memberikan pengalaman nyata yang memperkuat keterampilan dan pemahaman.

  3. 90% dari Apa yang Kita Ajarkan ke Orang Lain
    Mengajarkan kembali materi kepada orang lain adalah metode pembelajaran paling efektif. Proses ini mengharuskan kita menguasai materi dengan baik sehingga dapat menjelaskannya dengan jelas dan runtut.

Manfaat Memahami Piramida Belajar

  1. Efisiensi dalam Belajar
    Memahami model ini membantu individu atau institusi memilih metode pembelajaran yang paling efektif sesuai kebutuhan.

  2. Peningkatan Keterampilan dan Pemahaman
    Dengan beralih dari metode pasif ke metode aktif, hasil belajar menjadi lebih aplikatif dan mendalam.

  3. Pengembangan Kemampuan Mengajar
    Mengajarkan kembali apa yang sudah dipelajari tidak hanya meningkatkan retensi tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah.

Piramida Belajar menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan seseorang dalam proses pembelajaran, semakin besar kemampuannya untuk menyerap dan mengingat informasi. Untuk pembelajaran yang efektif, beralihlah dari metode pasif seperti membaca dan mendengar ke metode aktif seperti diskusi, praktik, dan mengajar. Strategi ini tidak hanya memperkuat daya ingat tetapi juga membuat pengetahuan menjadi lebih relevan dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Thursday, July 4, 2024

Bahaya Asumsi bagi Inovator

Musuh Inovator Adalah Asumsi

Inovasi adalah proses menciptakan sesuatu yang baru atau memperbaiki sesuatu yang sudah ada, yang biasanya bertujuan untuk memberikan solusi yang lebih baik atas permasalahan yang ada. Namun, di balik setiap terobosan inovatif, ada banyak hambatan yang harus diatasi. Salah satu hambatan terbesar yang sering diabaikan oleh para inovator adalah asumsi. Asumsi dapat menghalangi pandangan objektif dan menghambat proses kreatif. Artikel ini akan membahas mengapa asumsi adalah musuh utama inovator dan bagaimana mengatasi hambatan ini untuk mencapai inovasi yang berhasil.

Memahami Asumsi

Asumsi adalah anggapan yang kita buat tanpa verifikasi atau bukti yang memadai. Dalam konteks inovasi, asumsi bisa berupa keyakinan tentang kebutuhan pasar, preferensi pelanggan, keterbatasan teknis, atau bahkan potensi keberhasilan suatu ide. Asumsi-asumsi ini sering kali didasarkan pada pengalaman masa lalu, kebiasaan, atau persepsi yang belum tentu akurat.

Bahaya Asumsi bagi Inovator

  1. Membatasi Kreativitas: Asumsi cenderung membatasi cara berpikir dan mencegah munculnya ide-ide baru. Inovator yang terperangkap dalam asumsi mungkin mengabaikan solusi yang tidak konvensional atau kreatif.

  2. Menghambat Penelitian dan Pengembangan: Ketika inovator berpegang pada asumsi tertentu, mereka mungkin enggan melakukan penelitian atau eksperimen yang diperlukan untuk menguji validitas asumsi tersebut. Ini dapat mengakibatkan produk atau layanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

  3. Mengurangi Respons terhadap Perubahan: Asumsi yang tidak diperbarui atau diuji ulang dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk merespons perubahan pasar atau teknologi. Inovator yang terjebak dalam pola pikir lama akan kesulitan menyesuaikan diri dengan perkembangan baru.

  4. Meningkatkan Risiko Kegagalan: Produk atau layanan yang dikembangkan berdasarkan asumsi yang keliru berisiko besar mengalami kegagalan di pasar. Ini tidak hanya merugikan dari segi finansial, tetapi juga dapat merusak reputasi dan moral tim inovasi.

Cara Mengatasi Asumsi

  1. Mengevaluasi dan Memvalidasi Asumsi: Setiap asumsi harus dievaluasi secara kritis dan divalidasi melalui penelitian dan data. Misalnya, asumsi tentang preferensi pelanggan harus diuji melalui survei, wawancara, atau uji pasar.

  2. Mendorong Pemikiran Kritis dan Reflektif: Inovator harus mengembangkan kebiasaan berpikir kritis dan reflektif. Mereka perlu selalu mempertanyakan asumsi yang ada dan mencari bukti untuk mendukung atau menolak asumsi tersebut.

  3. Mengadopsi Metode Iteratif: Menggunakan pendekatan iteratif seperti desain berpusat pada pengguna atau metodologi Lean Startup dapat membantu inovator menguji asumsi secara cepat dan efisien. Proses iteratif memungkinkan pengujian dan penyesuaian terus-menerus berdasarkan umpan balik nyata dari pengguna.

  4. Membangun Tim yang Beragam: Tim yang terdiri dari individu dengan latar belakang, perspektif, dan keahlian yang berbeda dapat membantu mengidentifikasi dan menantang asumsi yang mungkin tidak disadari oleh inovator. Keberagaman pemikiran memperkaya proses inovasi.

  5. Mengembangkan Budaya Eksperimen: Mendorong budaya di mana eksperimen dan kegagalan dianggap sebagai bagian dari proses belajar dapat membantu mengatasi asumsi. Inovator harus merasa nyaman untuk mencoba hal baru dan belajar dari kegagalan mereka.

Kesimpulan

Asumsi adalah musuh inovator karena mereka dapat membatasi kreativitas, menghambat penelitian dan pengembangan, mengurangi respons terhadap perubahan, dan meningkatkan risiko kegagalan. Untuk menjadi inovator yang sukses, penting untuk terus mengevaluasi dan memvalidasi asumsi, mendorong pemikiran kritis, mengadopsi metode iteratif, membangun tim yang beragam, dan mengembangkan budaya eksperimen. Dengan mengatasi hambatan yang ditimbulkan oleh asumsi, inovator dapat membuka jalan menuju solusi yang lebih baik dan lebih kreatif.

Monday, June 3, 2024

Problem Literasi : Guru Banyak Berkas, Siswa Banyak Tugas

Pentingnya Literasi di Tengah Tantangan Modern: Antara Beban Guru dan Tugas Siswa

Literasi adalah fondasi dari segala bentuk pembelajaran. Kemampuan membaca dan menulis tidak hanya mendukung perkembangan akademis, tetapi juga membentuk individu yang kritis, kreatif, dan berpengetahuan luas. Di era informasi ini, literasi yang kuat juga berarti kemampuan untuk menyaring informasi, berpikir kritis, dan membuat keputusan yang berdasar. Namun, ironisnya, meski kita mengakui pentingnya literasi, kondisi saat ini sering kali tidak mendukung pengembangan kemampuan ini, baik untuk guru maupun siswa.

Beban Guru yang Menghambat Waktu Membaca

Guru adalah garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka memiliki tanggung jawab besar tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pembacaan dan pembelajaran berkelanjutan. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak guru terjebak dalam tumpukan berkas administrasi. Tugas administratif ini sering kali menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca dan memperdalam ilmu.

Administrasi yang berlebihan menghambat kreativitas dan inovasi dalam proses belajar mengajar. Guru yang tidak sempat membaca buku atau jurnal terbaru tidak dapat mengikuti perkembangan metode pengajaran dan pengetahuan terbaru, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa. Selain itu, kurangnya waktu untuk membaca juga mengurangi kesempatan bagi guru untuk menginspirasi dan membimbing siswa dalam pengembangan literasi mereka.

Tugas Siswa yang Mengikis Waktu Membaca

Siswa, di sisi lain, juga menghadapi tantangan serupa. Beban tugas sekolah yang berlebihan sering kali menghalangi mereka untuk menikmati kegiatan membaca di luar materi pelajaran. Banyak siswa yang merasa terbebani dengan pekerjaan rumah, proyek, dan persiapan ujian, sehingga waktu mereka untuk membaca buku-buku non-akademis menjadi sangat terbatas.

Padahal, membaca buku di luar kurikulum sekolah memiliki manfaat besar. Buku-buku fiksi, misalnya, dapat meningkatkan empati dan pemahaman sosial, sementara buku-buku non-fiksi memperluas wawasan dan pengetahuan di luar kelas. Tanpa waktu yang cukup untuk membaca, siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan literasi yang lebih dalam dan kaya.

Mengatasi Hambatan Literasi

  1. Penyederhanaan Administrasi Guru:

    • Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mempertimbangkan penyederhanaan prosedur administratif agar guru memiliki lebih banyak waktu untuk membaca dan mempersiapkan materi pengajaran. Penggunaan teknologi untuk otomatisasi tugas-tugas administrasi dapat menjadi solusi.
  2. Pembentukan Kebiasaan Membaca di Sekolah:

    • Sekolah dapat mengalokasikan waktu khusus untuk kegiatan membaca, seperti "jam membaca" harian atau mingguan. Ini akan memastikan bahwa baik guru maupun siswa memiliki waktu yang didedikasikan untuk membaca.
  3. Mendorong Lingkungan Literasi:

    • Perpustakaan sekolah perlu diperkuat dengan koleksi buku yang beragam dan relevan. Selain itu, program seperti klub buku atau diskusi literasi dapat membangkitkan minat membaca di kalangan siswa dan guru.
  4. Kerjasama Orang Tua dan Sekolah:

    • Orang tua juga berperan penting dalam mendorong minat baca anak-anak. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung literasi di rumah dan sekolah.
  5. Pengintegrasian Literasi dalam Kurikulum:

    • Literasi tidak hanya harus diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi juga diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Ini akan membantu siswa melihat pentingnya membaca dan menulis dalam berbagai konteks.

Kesimpulan

Literasi adalah kunci keberhasilan individu dan masyarakat. Meskipun saat ini terdapat banyak hambatan yang menghalangi guru dan siswa untuk mengembangkan kebiasaan membaca, dengan upaya kolaboratif dan strategis, tantangan ini dapat diatasi. Membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan, tetapi juga tentang membuka pintu ke dunia yang lebih luas, lebih kaya, dan lebih bermakna. Dengan demikian, investasi dalam literasi adalah investasi dalam masa depan yang lebih baik.

Monday, March 6, 2023

iPhone Dicemooh

12 Tahun Lalu iPhone Dicemooh Saat Meluncur Pertama Kali

30/06/2019, 17:07 WIB

iPhone menjadi salah satu primadona ponsel flagship para penggemar gadget. Di beberapa negara, iPhone tidak hanya sekadar alat telekomunikasi, tapi juga penanda status sosial. Hal itu lantaran harganya yang mahal, sebab spesifikasi yang diusung juga tidak murahan. 

Tapi siapa sangka, sebelum menjadi idola para tech savvy, iPhone menjadi cemoohan para kompetitornya. Salah satunya berasal dari mulut Steve Ballmer dari Microsoft. Ballmer yang kala itu menjabat sebagai CEO Microsoft, tertawa saat mendengar harga iPhone yang dijual paling murah 500 dollar AS (sekitar Rp 7 juta) untuk model memori internal 4 GB saat itu . 

"500 dollar AS disubsidi penuh? Menurut saya itu adalah ponsel termahal di dunia dan sepertinya tidak menarik bagi kustomer bisnis, karena tidak memiliki keyboard yang membuat mesin e-mail sangat tidak baik," aku Ballmer sambil tertawa. 

Bellmer bahkan memprediksi bahwa iPhone hanya bisa merengkuh dua hingga tiga persen pangsa pasar saja. "Tidak ada kesempatan bahwa iPhone akan mendapatkan pangsa pasar yang signifikan. Tidak ada kesempatan," ujar Bellmer kala itu. 

Agaknya, Ballmer harus menelan ludahnya sendiri melihat agresivitas iPhone yang pesat, dan menempatkan Apple sebagai tiga besar vendor smartphone terbesar di dunia hingga kini. Di sisi lain, bisnis mobile Microsoft harus gulung tikar karena kalah saing dengan iOS, sistem operasi iPhone dan Android. 

Baru-baru ini, Ballmer mengakui bahwa prediksinya beberapa tahun salam salah total. Tidak cuma Ballmer. Sebulan setelah iPhone dirilis pada 29 Juni 2007, co-CEO BlackBerry, Jim Balsillie juga menganggap remeh iPhone. 

"(Apple dan iPhone) ibarat pendatang baru yang masuk ke dalam ruang yang sudah ramai akan pilihan untuk para kustomer," ujarnya kala itu, dilansir KompasTekno dari Phone Arena, Minggu (30/6/2019). 

Tapi tidak semuanya mencibir. Beberapa di antaranya sadar lebih awal akan tren layar sentuh dan mulai menerapkan inovasi iPhone di lini produk mereka. Salah duanya adalah LG Voyager dan Samsung Instinct yang dirilis tak lama kemudian. 

Mendulang Sukses Cibiran para kompetitor dijawab Apple dengan angka. Dari sata Statista, iPhone generasi pertama terjual 11,63 juta hingga tahun 2008 sejak rilis hari pertama. Jumlah penjualannya terus melesat hingga tahun 2015 dengan total 231,22 juta unit. 

Apple dikenalkan langsung oleh sang legenda Apple, mendiang Steve Jobs. iPhone merupakan perwujudan ambisi Jobs dalam menggabungkan ponsel, internet, dan iPod dalam satu benda. 

"Mereka bukanlah tiga perangkat yang terpisah," ucap Jobs saat melahirkan iPhone untuk pertama kalinya ke dunia. Apple, kemudian memperkenalkan App Store sebagai toko aplikasi iOS pada tahun 2008. Disusul peluncuran iPad pada 3 April 2010 dan Apple Watch pada 24 April 2015. 

Tahun ini, iPhone memasuki usia ke-12. Para Apple fanboy tengah menantikan lahirnya iPhone generasi kesebelas. Mereka berharap iPhone XI akan lebih sukses dibanding dua lini iPhone sebelumnya, yakni iPhone X dan XS. 

Menurut beberapa periset pasar, performa kedua lini itu lesu. Saking lesunya, saham Apple ikut tergoncang pada bulan April lalu. CEO Apple, Tim Cook beralasan, loyonya penjualan Apple diakibatkan oleh perang dagang antara China-AS dan penjualan iPhone yang merosot di Negeri Panda.


Sumber :

https://tekno.kompas.com/read/2019/06/30/17070017/12-tahun-lalu-iphone-dicemooh-saat-meluncur-pertama-kali?page=all.

Saturday, June 27, 2020

Melanie Perkins, CEO Aplikasi Canva


Aplikasi Canva Bikin Wanita Cantik Ini Berharta Rp 35 Triliun

Aplikasi Canva sukses besar dan semakin populer di masa pandemi Corona. Pendirinya dan juga CEO, Melanie Perkins, baru saja dinobatkan menjadi wanita terkaya ranking tiga di Australia. Tak hanya itu, Perkins juga jadi miliarder (dalam dolar AS) termuda di Negeri Kanguru.

Startup Canva yang ia kendalikan saat ini bernilai USD 8,77 miliar usai mendapatkan pendanaan terkini senilai USD 87 juta dari beberapa investor termasuk Blackbird Ventures dan Sequoia Capital.

Pada bulan Oktober 2019, kekayaan Perkins diestimasi USD 1,3 miliar. Nah saat ini, hartanya diestimasi melonjak sampai USD 2,5 miliar atau di kisaran Rp 35 triliun.

Perkins memulai Canva pada tahun 2013 dengan misi membuat platform desain tersedia bagi semua. Baik itu desain kartu nama, presentasi ataupun logo. Ia mendirikannya bersama sang tunangan, Cliff Obrecht.

Perkins masih remaja 19 tahun ketika ide platform desain terbersit di benaknya, kala ia dan Cliff mahasiswa di Perth. Waktu itu, ia merasa program desain dari Microsoft atau Adobe susah digunakan.

"Orang harus menghabiskan seluruh semester mempelajari di mana tombol-tombolnya dan hal itu rasanya sungguh konyol," kata Perkins, dikutip detikINET dari CNBC.

"Saya pikir di masa depan, semua itu akan menjadi online dan kolaboratif serta jauh lebih sederhana ketimbang tool yang berat itu," tambah dia.

Tahun 2010, Perkins diundang ke San Francisco oleh investor Bill Tai untuk mempresentasikan idenya tentang Canva. Bill puas dan menghubungkannya dengan beberapa orang penting.

Pasangan muda itu berhasil memukau investor dengan ide Canva dan sudah punya tim sendiri. Tahun 2012, jajaran pimpinan ditambah oleh satu co founder lain, Cameron Adams.

Pada pendanaan tahap perdana, perusahaan menerima USD 1,5 juta. Pada tahun 2013, meluncurlah Canva untuk publik. Seiring berjalannya waktu, Canva berhasil menarik minat banyak pengguna karena mudah dipakai dan berkualitas.


Sumber :
https://inet.detik.com/cyberlife/d-5068470/aplikasi-canva-bikin-wanita-cantik-ini-berharta-rp-35-triliun

Sunday, November 26, 2017

Teruslah Bermain

JANGAN BERHENTI, TERUSLAH BERMAIN

Berharap ingin meningkatkan kemampuan putranya dalam bermain piano, seorang ibu mengajak putranya ke sebuah konser maestro piano ternama, Paderewski. Setelah mereka duduk, si ibu melihat seorang temannya di antara penonton dan bangkit dari tempat duduknya untuk menyapa temannya itu. Melihat kesempatan bagus untuk menyelidiki rasa penasarannya akan gedung konser itu, si anak juga berdiri dan mulai berjalan keluar menuju sebuah pintu bertanda, Dilarang Masuk.

Waktu lampu-lampu di dalam gedung mulai dipadamkan dan konser akan segera dimulai, si ibu kembali ke tempat duduknya dan mulai menyadari kalau putranya menghilang. Tiba-tiba, tirai panggung terbuka dan lampu sorot diarahkan ke panggung yang megah. Si ibu kaget bukan kepalang begitu melihat putra kecilnya tengah duduk di depan piano, dan dengan tenangnya memainkan musik Twinkle, Twinkle Little Star.

Pada saat itu, sang maestro mulai keluar panggung, dan cepat melangkah menuju piano lalu berbisik di telinga anak kecil itu. Jangan berhenti. Tetaplah bermain. Lalu, dengan mencondongkan badannya ke depan, Paderewski menjulurkan tangan kirinya dan mulai memainkan nada bass. Segera tangan kanannya terjulur ke sisi lain anak kecil itu dan menambahkan nada obbligato (nada-nada panjang yang mengiringi melodi). Bersama-sama, sang maestro dan pemain pemula itu mengubah situasi yang kacau-balau menjadi pengalaman kreatif yang memikat. Dan para penonton tampak terpesona.


Sobat yang luar biasa,

Apa pun situasi yang kita hadapi dalam hidup ini, betapa menyakitkan dan menyedihkan keadaan itu, Sang Maha Kuasa akan selalu menyertai dan berbisik dalam jiwa kita, Jangan berhenti, tetaplah bermain.


Di upload dari sebuah sumber

Friday, September 12, 2014

Trik Sukses dengan Kreativitas


Kreativitas itu bukan semata-mata bakat atau keturunan. Setiap orang bisa menjadi orang kreatif asalkan tak pernah berhenti untuk mengembangkan diri dan terus menggali ide serta inspirasi baru. Dilansir dari lifehack.org, ada sejumlah trik jitu yang bisa Anda ikuti untuk menjadi pribadi yang lebih kreatif dan pada akhirnya sukses dalam hidup Anda termasuk dalam bidang karier Anda.

“You can't use up creativity. The more you use, the more you have.” ― Maya Angelou 

Ambil Jeda Terlebih Dahulu
Sebuah studi di Radboud University, Nijmegen, mahasiswa PhD bernama Simone Ritter meminta murid-muridnya untuk memberikan ide tentang bagaimana caranya membuat antrian di kasir supermarket lebih efisien. Satu kelompok murid diminta untuk langsung bekerja untuk mencari ide. Sementara kelompok lainnya disuruh untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu. Dan hasilnya ternyata kelompok yang bermain video game terlebih dahulu sebelum mulai mencari ide malah lebih kreatif dalam mengemukakan ide-idenya.

Dengan kata lain, memberikan waktu atau jeda terlebih dahulu sebelum menemukan solusi dalam sebuah permasalahan bisa mendatangkan ide-ide yang lebih kreatif dan brilian. Bahkan tertawa juga bisa merangsang munculnya ide-ide yang lebih unik dan kreatif. Hmm, sepertinya Anda bisa coba untuk melihat acara komedi terlebih dahulu sebelum mulai mencari ide atau gagasan untuk jalan keluar sebuah permasalahan.

Olahraga 
Banyak sekali penulis yang menyebutkan bahwa ide-ide akan bermunculan saat berolahraga. Salah satunya adalah Stephen King yang sangat percaya bahwa olahraga rutin setiap hari itu sangat penting. Jika Anda ingin lebih produktif dan kreatif, Anda bisa segera membuat jadwal untuk olahraga setiap hari.

Buat Ruang Kerja Sendiri
Kreativitas Anda bisa lebih tajam ketika Anda bekerja di tempat yang benar-benar secara khusus Anda persiapkan sesuai dengan preferensi dan kenyamanan Anda.

Membuat ruang kerja khusus bisa membantu Anda untuk tetap fokus. Selain itu, Anda bisa juga meletakkan beberapa benda yang akan selalu menjadi pemicu Anda untuk berkreativitas. Misalnya, jika Anda ingin menjadi penulis terkenal, Anda bisa meletakkan sejumlah buku-buku laris dan populer di meja kerja Anda.

Buat Tenggat Waktu (Deadline)
The New York Time menyebutkan bahwa membuat tenggat waktu bisa membantu Anda untuk terpacu mulai berkarya dan berkreasi. Kreativitas bisa muncul saat Anda memberi tekanan atau 'paksaan' dengan tenggat waktu yang Anda buat.

Jangan Abaikan Ide-Ide Konyol
Setiap kali ada ide baru yang muncul di kepala Anda, jangan lupa untuk selalu dicatat. Ide-ide yang mungkin terasa konyol, buruk, atau tak masuk akal pada akhirnya bisa saja jadi ide-ide jenius yang akan mendorong Anda untuk menciptakan maha karya terbaru Anda.

“Creativity is allowing yourself to make mistakes. Art is knowing which ones to keep.” ― Scott Adams 

Dalam dunia kreativitas, imajinasi tak memiliki batasan. Sebuah ide tunggal pun biasanya berasal dari sekumpulan ide yang tadinya abstrak dan jamak. Menjadi pribadi kreatif tak harus selalu membutuhkan kejeniusan. Semua yang Anda lakukan bisa jadi sesuatu yang kreatif asal dilakukan dengan sungguh-sungguh.


Sumber :
http://www.vemale.com

Why Asians Are Less Creative Than Westerners

MENGAPA BANGSA ASIA KALAH KREATIF ?


Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir / diterima sbg sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.


Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya

3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION-nya (rasa cinta) pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu.

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan men-support-nya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi


Sumber :
Artikel dikirim oleh bu Ratih dari FB: Komunitas Ayah Edy

Sunday, July 20, 2014

Kebiasaan Orang-orang Kreatif


Terkadang ide-ide terbaik datang pada orang yang tidak aktif mencari ide itu. Seringkali kita menghabiskan banyak waktu memeras otak dalam meeting pagi dan menatap layar komputer kosong menunggu momen “Aha..”.

Tetapi, sebuah studi menunjukkan mungkin akan lebih baik jika kita keluar dari lingkungan kerja khas untuk mendapatkan perspektif yang segar.

Peneliti Stanford University, awal tahun ini, menemukan, kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif meningkat hampir 60 persen ketika mereka meninggalkan kursi kantor, untuk berjalan-jalan di sekitar blok. Berlibur dan menghabiskan waktu di luar rumah secara khusus juga terbukti dapat membantu datangnya ide-ide terbaik, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan kita.

Namun tentu saja, pikiran kreatif yang hebat tidak selalu harus sesuai dengan sebuah metode dari hasil penelitian. Ide bisa datang melalui intuisi dan disiplin pada kebiasaan dan praktek-praktek yang mengarah pada ide-ide terbaik.

Berikut adalah 10 orang-orang kreatif yang menemukan ide-ide terbaik mereka dari perspektif kebiasaan lain, sebagaimana dilansir dari laman www.news.com.au, pada Minggu (20/7/2014).

Bill Gates
Sekitar satu dekade yang lalu, orang bertanya-tanya bagaimana mantan ketua Microsoft, Bill Gates bisa mendatangkan ide-ide dan keputusan yang menyebabkan dia sukses besar. Gates mengatakan kepada mereka: "Pikirkan dalam sepekan."

Gates menghabiskan tujuh hari berturut-turut saat mengasingkan diri untuk berfikir. Tidak ada orang lain yang diizinkan bertandang ke pondoknya yang selama masa tenang itu, bahkan anggota keluarga. Dua kali dalam setahun, Gates menggunakan waktunya untuk membaca hampir 100 makalah. Berpikir tentang masa depan teknologi dan apa yang bisa berarti bagi perusahaannya.

Pyotr Ilyich Tchaikovsky
Setiap pagi sebelum duduk untuk bekerja menciptakan musik terbarunya, Tchaikovsky mengambil jalan singkat di sekitar desanya yang tenang, 50 mil di luar Moskow. Komposer kenamaan asal Rusia ini, mengambil jalan lain setelah makan siang, dan berfikir ini adalah penting untuk karyanya.

Dia berhenti di pertengahan jalan untuk menuliskan sebuah ide yang kemudian akan diujinya dengan piano di rumah.

Maya Angelou
Angelou, seorang penyair dan aktivis hak-hak sipil, bisa merangkai kata-kata penuh inspirasi yang dihasilkannya dari menyewa kamar hotel, hanya untuk menulis. Bahkan sebagai pemilik rumah, ia memilih untuk menghuni ruang-ruang soliter ketika sudah waktunya untuk berkarya. "Pada 2013, Angelou terus berada di kamar hotel di kota kelahirannya, yang ia bayar bulanan," tulis Julie Zeveloff dilansir Business Insider.

Chuck Close 
Chuck Close, seorang photorealist terkenal, melukis setiap hari dengan memisahkan sesi pagi dan sore hari dengan rutinitas yang meningkatkan kemampuan kreatifnya. Setelah bekerja selama tiga jam di pagi hari, Close selalu beristirahat di tepi kolam renang selama satu jam atau di pantai. Dia kemudian kembali bekerja sampai matahari mulai terbenam.

Vera Wang
Seorang fashion icon Vera Wang mungkin adalah pengusaha. Tapi dia adalah seorang desainer alam yang kreatif. Wang mengerti betapa sulit untuk benar-benar kreatif di tengah tuntutan bisnis. Untuk memasuki sisi kreatifnya, Wang harus menempatkan ruang fisik antara dirinya dan gangguan ini. Dia pun merancang dari kenyamanan tempat tidurnya sendiri.

Steve Jobs
Kita semua tahu sifat menetap dari ruang kerja tidak memberikan kenikmatan apapun kepada kita, jadi mengapa tidak produktif dan kreatif di mana saja? Itu adalah pola pikir almarhum Steve Jobs, yang mengadakan pertemuan berjalan dengan timnya saat mereka brainstorming ide-ide paling inovatif mereka untuk Apple dan para pelanggan.

Charles Dickens 
Novelis besar Inggris menemukan inspirasi untuk beberapa karakter cerita yang paling dicintai saat ia berjalan-jalan di London. Kota itu memiliki salah satu ilham yang paling berpengaruh sepanjang karirnya.

"Ini dipicu imajinasinya," sebut Alex Werner, kurator Museum "Dickens dan London" Pameran London, kepada CNN.

"Dia menyebutnya 'lentera ajaib," dan akan menghabiskan berjam-jam mondar-mandir di jalan-jalan, menggambar inspirasi dari apa yang ia lihat di sekelilingnya,” tambah dia.

Toni Morrison
Sebelum novelis Amerika ini bisa menempatkan pensilnya di atas kertas setiap pagi, dia harus berhenti dan menonton matahari terbit dalam keheningan dan ketenangan. Ritual ini menempatkannya di ruang yang sama sekali berbeda secara psikologis, menyiapkan pikiran dan tubuhnya untuk memulai proses kreatif setiap hari.

"Semua penulis menemukan cara-cara untuk mendekati tempat di mana mereka berharap untuk membuat kontak, di mana mereka menjadi saluran air, atau di mana mereka terlibat dalam proses misterius ini," kata Morrison dalam wawancara 1993 untuk The Paris Review.

"Bagi saya, cahaya adalah sinyal dalam transaksi,” ujar Morrison.

Vladimir Nabakov
Menolak penggunaan mesin tik sama sekali - belum lagi meja kursi - Nabokov menemukan bahwa kata-kata yang terbaik datang kepadanya sambil duduk di mobilnya. Novelis Rusia-Amerika ini menuliskan catatan demi catatan pada kartu indeks, dan kemudian mengubah "deck" ke dalam karya-karya dia yang begitu terkenal saat ini.

Polly Morgan
Ketika dihadapkan hambatan kreativitas Morgan meninggalkan rumah dan mengajak anjingnya untuk berjalan-jalan. Keluar dari rumah dengan anjing di belakangnya membantu Morgan membuka pikirannya untuk inspirasi baru. "Salah satu ide favorit saya baru muncul ketika saya berhenti untuk memeriksa gulma yang tumbuh di hutan," katanya.


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com

Related Posts