Showing posts with label Resign. Show all posts
Showing posts with label Resign. Show all posts

Saturday, August 22, 2015

Alasan Karyawan Terbaik Resign

9 Perilaku Atasan yang Membuat Pegawai Terbaiknya Resign


Mungkin Anda sering mendengarkan keluhan atasan tentang karyawan terbaiknya mengundurkan diri atau resign. Sang atasan tak menyadari, bahwa karyawan terbaiknya itu resign karena sikap atau ucapan darinya, bukan karena menurunnya pendapatan perusahaan ataupun persoalan gaji.

Berikut adalah sembilan hal yang dilakukan atasan dan membuat karyawan terbaiknya mengundurkan diri.

1. Tidak menghargai hasil kerja dan kontribusi pegawai
Semua orang suka dengan pujian, terlebih orang yang sudah bekerja keras dan memberikan segalanya untuk perusahaan. Seorang atasan perlu berkomunikasi dengan karyawannya untuk mencari tahu apa yang membuat mereka merasa baik (misalnya, kenaikan gaji atau pengakuan publik).

2. Tidak peduli terhadap karyawannya
Menurut survey, setengah dari jumlah orang yang resign karena hubungan yang kurang harmonis dengan atasan. Perusahaan yang baik akan memastikan manajer mereka untuk bisa menerapkan antara profesionalitas dan kemanusiaan.

Pimpinan yang baik adalah pimpinan yang menginginkan keberhasilan dan kemajuan karyawannya, berempati dengan karyawan yang sedang kesulitan, atau membantu mereka yang sakit. Bos yang tak pernah peduli dengan karyawan akan selalu diincar untuk dikhianati.

3. Memberi banyak pekerjaan
Salah satu pemicu karyawan resign adalah atasan terlalu banyak memberi pekerjaan. Karyawan yang diberi terlalu banyak pekerjaan atau lembur justru merasa seperti mendapatkan hukuman dari atasannya. Memberikan terlalu banyak pekerjaan pada karyawan pada akhirnya justru membuat karyawan menjadi kontraproduktif.

Sebuah penelitian terbaru dari Stanford menunjukkan bahwa produktivitas per jam pekerja akan menurun bila ia bekerja melebihi 50 jam per minggu dan akan menurun drastis jika melebihi 55 jam kerja per minggu.

Kenaikan gaji juga merupakan stimulus yang dapat meningkatkan kualitas kerja karyawan.

4. Tidak menghormati komitmen
Ketika atasan tidak menghormati komitmen seperti janji manis kenaikan gaji atau kenaikan jabatan, maka tak lama lagi mereka akan ditinggal pegawainya pergi. Para pegawai melihat atasannya sebagai orang yang bisa dipercaya dan memegang janji. Tapi, ketika janji itu tak dipenuhi, seorang atasan tidak akan dihargai dan tidak dihormati.

5. Merekrut dan mempromosikan orang yang salah
Karyawan yang bekerja keras ingin bekerja dengan profesional dan menggunakan hati. Namun, ketika atasan tidak bisa merekrut orang yang tepat dan baik, maka ia hanya akan menciptakan kondisi kerja yang penuh kecemburuan.

Salah mempromosikan orang pun sama buruknya dengan salah merekrut pegawai. Ketika Anda bekerja keras demi mencari sebuah promosi, namun promosi itu justru diberikan kepada orang lain yang hanya memintanya tanpa bekerja keras, itu adalah alasan yang tepat untuk Anda meninggalkan perusahaan itu.

6. Tidak membiarkan pegawainya mengejar passion
Karyawan yang berbakat memiliki passion atau kesukaan. Mengikuti apa yang karyawan sukai akan membuat hasil pekerjaan lebih baik dan memuaskan. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengikuti passion mereka dalam pekerjaan akan membuat mereka lebih produktif.

7. Gagal mengembangkan keahlian pegawainya
Atasan yang baik dapat mengelola bakat atau talenta karyawannya. Bila Anda seorang atasan dan memiliki karyawan yang berbakat, gali terus potensinya untuk mencari atau mengembangkan bakatnya yang bisa menguntungkan perusahaan. Tugas atasan adalah memotivasi karyawannya.

8. Gagal terlibat dalam kreativitas karyawan
Karyawan yang berbakat selalu mencari hal baru untuk berkreativitas. Jika atasan tidak melihat atau mengijinkan karyawan mengembangkan talentanya karena terpaku pada aturan kuno, ini akan membuat karyawan membenci pekerjaannya.

9. Gagal memberi tantangan untuk karyawan
Bos yang hebat menantang karyawannya untuk melakukan hal yang mungkin sulit bagi mereka. Atasan mencoba agar karyawannya keluar dari zona nyaman yang mungkin justru bisa membuatnya bersinar. Jika karyawan merasa pekerjaannya itu-itu saja, mereka akan lebih cepat bosan.

Jika atasan ingin orang-orang terbaiknya tetap tinggal, mereka perlu berpikir lagi tentang bagaimana mereka memperlakukan pegawainya. Anda sebagai atasan harus membuat kayawan ingin merasa senang dan puas bekerja dengan Anda. (Realsuccess)


Sumber:
http://rona.metrotvnews.com/read/2015/08/14/158066/9-perilaku-atasan-yang-membuat-pegawai-terbaiknya-resign

Sumber foto :
How do I stand up to my charity's chairman? | Money | The Guardian
www.theguardian.com

Friday, July 4, 2014

Agar Tak Menyesal Setelah Resign


Ingin memiliki waktu lebih banyak dengan anak-anak, mengurus orangtua, atau memulai bisnis sendiri, menjadi motivasi Anda yang utama ketika memutuskan berhenti bekerja. Rasa bangga dan eksistensi diri sebagai perempuan berkarier yang menerima pendapatan pribadi setiap bulan pun rela diabaikan. Namun, setelah berhenti bekerja,  kok Anda malas stres? Apa solusi agar tidak menyesal setelah resign ?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar terhindar dari stres setelah berhenti bekerja .

1. Lakukan penyesuaian finansial 
Mungkin Anda tak menyadari telah menjalani gaya hidup yang konsumtif saat masih bekerja. Sekaranglah waktunya mengatur kembali. Misalnya, kurangi pengeluaran untuk jalan-jalan atau makan di restoran setiap minggu, susutkan alokasi dana untuk liburan keluarga, serta pangkas biaya langganan antar jemput anak sekolah. Mungkin juga dengan mengurangi jumlah asisten rumah tangga. Awalnya bisa jadi akan ada protes dari anggota keluarga atau penyesuaian yang tak menyenangkan, maka berilah mereka pengertian. Ingat, jangan sampai penghematan ini mengganggu dana pendidikan yang utama, ya.

2. Bentuk lingkungan pergaulan 
Tak ada salahnya Anda mencari teman baru lewat kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar, seperti kegiatan sosial di rumah ibadah, arisan, atau aktif di perhimpunan orangtua murid. Ilmu dan informasi berguna bisa datang dari mana saja, lo.

3. Mempertahankan relasi lama 
Pertemuan dengan kawan lama memang tak bisa sesering dulu. Namun dengan adanya media sosial, jalinan pertemanan lebih mudah untuk dilanjutkan. Atau, sesekali buatlah janji bertemu di tempat makan favorit dulu.

4. Bergabung  dengan komunitas 
Anda hobi memasak, menulis, bersepeda, atau wisata kuliner? Saatnya bergabung dengan komunitas berdasarkan hobi tersebut. Siapa tahu Anda menemukan peluang bisnis baru.

5. Mencari pekerjaan sampingan 
Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Jadi, kenapa tidak mencoba menjadi freelancer ? Misalnya dengan menerjemahkan buku atau membuat transkrip. Banyak, kok, perempuan yang tetap bisa mengurus keluarga sambil bekerja di rumah. Prinsipnya, pekerjaan tersebut tak mengganggu tugas utama sebagai ibu. Kelebihannya, Anda bisa tetap berkarya dan memiliki penghasilan sendiri.

6. Luangkan me time 
Setelah lelah mengurus rumah, saatnya memberi reward pada diri Anda. Pilih waktu yang tepat. Misalnya saat anak-anak sekolah, manjakan diri ke salon untuk melakukan perawatan rambut dan tubuh. Atau, cukup memanggil tukang pijat langganan ke rumah. Me time bisa menjadi mood booster yang ampuh untuk menghadapi rutinitas Anda selanjutnya.

7. Mempelajari ilmu baru 
Setelah menguasai ritme kerja di rumah, tak ada salahnya mencoba hal-hal baru. Kursus fotografi, les tari, atau mungkin kursus grafologi. Pilih saja yang benar-benar baru dan memicu rasa ingin tahu. Teruslah belajar karena bukan mustahil hobi baru itu malah mendatangkan hoki.

Sumber :
http://www.tabloidnova.com

Monday, June 16, 2014

Wajar Tidak Baru Satu Tahun Sudah Pindah Kerja?


Para pekerja muda saat ini dikenal tidak terlalu setia pada satu perusahaan. Baru satu tahun sudah pindah kerja  ke perusahaan lain. Mereka ini lalu disebut sebagai job hopper, orang yang suka pindah-pindah pekerjaan.

Idealnya, berapa lama sih kita harus menetap di satu perusahaan ? Jika terlalu sering pindah kerja, apa anggapan calon pemberi kerja di tempat yang baru?

Menurut para pakar sumber daya manusia, berapa lama waktu ideal untuk bekerja di satu perusahaan  tergantung bagaimana latar belakang Anda. Menurut mereka,  idealnya Anda menetap setidaknya satu tahun, khususnya jika ini merupakan pekerjaan pertama Anda.

"Untuk pekerjaan profesional pertama, kecuali pekerjaan itu merugikan atau menuntut Anda melakukan sesuatu yang ilegal, dan Anda ingin memasukkannya ke CV, Anda harus bertahan selama setahun atau sampai Anda menemukan pekerjaan lain yang lebih baik," tutur Susan Hay, career coach dari Launchingu.com, dan perekrut posisi eksekutif dari Haywood Search.

Menurut Susan, jika Anda menemukan pekerjaan lain yang jauh lebih baik, boleh-boleh saja pindah pekerjaan sebelum satu tahun . Meski begitu, pikirkan dengan matang perpindahan Anda, karena Anda juga harus memenuhi standar minimal 1,5 sampai 2 tahun masa kerja.

Job hopping  memang lebih dapat diterima sekarang-sekarang ini dibandingkan 10 tahun yang lalu, demikian pendapat Evan Hutchinson, kepala Hutchinson Group. Di Amerika, ketika banyak perusahaan telah pulih dari resesi dan mulai merekrut karyawan lagi, mereka tahu banyak orang yang akan menerima pekerjaan apa saja.

"Para manajer rekrutmen juga tahu, begitu pencari kerja sudah cukup mapan di bidang pekerjaannya, mereka akan mencoba mencari peluang yang lebih baik, atau gaji yang lebih bagus," katanya.

Oleh karena itu, job hopping  lebih diterima di kalangan karyawan usia 20-an atau 30-an. Begitu Anda memasuki usia 40-an dan 50-an, hal itu menjadi sulit dilakukan. Karena hampir semua pekerjaan membutuhkan training  atau masa percobaan, paling tidak Anda harus menetap di perusahaan  itu selama enam bulan. Kurang dari itu, perusahaan akan menilai ada sesuatu yang tidak beres pada diri Anda.

Namun, persepsi mengenai job hopping  tergantung juga dari industrinya. Dalam bidang penjualan, misalnya, orang yang gemar pindah-pindah kerja akan dipandang negatif.

"Ini karena dalam bidang sales , karyawan dengan pencapaian tinggi umumnya menetap di perusahaan di mana mereka mampu bekerja dengan baik dan mendapatkan komisi untuk itu. Staf penjualan yang tidak berkualitas cenderung berganti-ganti pekerjaan karena mereka tidak mampu mencapai target," kata Tracey Russell, rekruter dari Naviga Business Services.

Bagaimana pun juga, terlalu sering pindah pekerjaan membuat Anda terlihat rapuh. Sebaiknya Anda menetap di satu perusahaan  cukup lama sampai Anda dianggap mampu menempati posisi yang lebih baik, yang dengan sendirinya menghasilkan gaji yang lebih tinggi atau lebih memuaskan. Berapa lama hal itu akan terjadi, itu tergantung pada Anda sendiri.

Sumber :
Tabloid Nova
http://female.kompas.com

Yang Perlu Dipertimbangkan Saat Pensiun


Setelah berurusan dengan berbagai tantangan dalam karir, Anda mungkin merasa ingin tak melakukan apapun di masa pensiun. Bisa saja Anda tak mengharapkan apapun selain bersantai dan menikmati hidup yang telah dikaruniakan.

Tapi, biasanya ada kejenuhan setelah beberapa bulan saja menjalani pensiun dan memiliki waktu yang begitu senggang. Anda mulai berpikir tentang bagaimana menyibukkan diri selama 20 tahun ke depan atau lebih. Dengan memiliki banyak peluang di masa pensiun, Anda perlu memutuskan kegiatan apa yang akan digeluti dan fokus di dalamnya.

Berikut ini lima pertimbangan untuk tujuan pensiun seperti yang dilansir Daily Finance.

Karir kedua. 
Bagi sebagian orang, pensiun menawarkan kesempatan akhir untuk mengubah karir. Pekerjaan sebelumnya yang mungkin meninggalkan perasaan kurang dihargai pada Anda dapat diganti dengan mencapai segala sesuatu yang baru. Anda bisa mengejar karir kedua yang berfokus pada apa yang Anda sukai, tanpa beban finansial untuk memenuhi kebutuhan lagi. Lagipula pekerjaan di masa pensiun tidak perlu harus full time. Anda bisa menerima tawaran posisi untuk masa kerja mingguan yang singkat atau hanya masuk kerja beberapa kali dalam setahun. Lebih dari itu, jika untuk beberapa alasan ternyata pekerjaan baru Anda tidak berhasil, Anda masih tetap bisa hengkang dan menemukan sesuatu yang lain yang lebih baik sesuai preferensi Anda.

Menenangkan diri. 
Jika karir baru bukan pilihan Anda, pensiun mungkin waktu yang tepat bagi Anda untuk menenangkan diri kembali. Tidak semua ketrampilan yang Anda kembangkan pada pekerkjaan bisa selalu diterjemahkan dengan baik ketika hidup sebagai seorang pensiunan. Bekerja berjam-jam dan mengejar prestasi pada umumnya memang dapat memuaskan Anda di tempat kerja, tetapi bisa membuat sulit untuk bersantai dan menikmati hidup di masa pensiun. Ketika Anda tidak lagi nyaman dengan segala persyaratan untuk pekerjaan, Anda bebas untuk fokus pada aspek kepribadian Anda yang dapat memberi bekal lebih baik di kehidupan pensiun Anda.

Relawan. 
Menyibukkan diri sebagai relawan mungkin bisa jadi cara bagi Anda menerapkan ketrampilan yang telah dikembangkan untuk kehidupan bisnis Anda di luar ruang gerak perusahaan. Bekerja untuk suatu alasan yang menginspirasi Anda dapat membuat pensiun Anda jauh lebih memuaskan. Banyak pensiunan murah hati menawarkan waktu mereka untuk tujuan mulia. Luangkan waktu Anda untuk menemukan kesempatan yang tepat dan bernilai bagi Anda. Bila Anda menemukan posisi relawan yang bagus, semua orang yang terlibat akan bergembira.

Berkarya. 
Pensiun dapat memungkinkan Anda untuk lebih memperhatikan sisi kreatif Anda. Banyak orang yang bekerja dipaksa untuk memendam energi kreatif mereka karena hampir tak pernah ada waktu untuk itu. Dalam masa pensiun, Anda dapat memaksimalkan bakat untuk menjadi penulis, penyanyi, aktor, pelukis, atau bahkan apapun yang senantiasa Anda inginkan. Di samping itu, karena Anda bebas dari kewajiban untuk memberikan nafkah, keberhasilan dapat diukur dalam kebahagiaan Anda dalam pengalaman mengejar hasrat Anda.

Relaksasi. 
Anda tidak perlu harus melakukan sesuatu yang berarti atau signifikan dalam keseharian sebagai pensiunan. Anda bebas untuk melakukan apapun yang diinginkan sebanyak-banyaknya atau sesedikit-sedikitnya. Selama Anda menikmati apa yang Anda lakukan dengan waktu pensiun, Anda sukses. Selalu ada ruang untuk menurunkan ketegangan dalam masa pensiun. Ketika masih berkarir mungkin terus bergelut dengan waktu karena ada target yang harus dicapai. Bahkan tak jarang yang targetnya itu dirancang untuk mendorong diri sendiri hingga melampaui batas kemampuannya. Kini, Anda dapat berharap menciptakan target yang penting bagi diri sendiri, bukan perusahaan.

Dalam pensiun Anda bisa memutuskan apa yang ingin Anda lakukan. Jika Anda ingin menjadi produktif menggunakan waktu Anda sebagai seorang pensiunan, Anda memiliki banyak pilihan untuk menjadi sukarelawan, menciptakan sesuatu yang baru, atau bekerja di karir kedua pada minat Anda sendiri. Tetapi jika tak ada pilihan tersebut menarik bagi Anda, Anda bahkan dapat memutuskan untuk tak melakukan apapun sama sekali.

Sumber :
http://bisnis.news.viva.co.id

Saturday, March 15, 2014

Mengganti Jalur Karier


Setelah bertahun-tahun bekerja, Anda baru menyadari bahwa karier yang digeluti ternyata tidak cocok dan Anda merasa tidak bisa melakukan pekerjaan ini seumur hidup. Berniat mengganti jalur karier? Apa saja yang perlu diketahui?

Memutuskan untuk berganti jalur karier bukan hal tabu. Malah, banyak orang yang sukses menemukan karier impian yang sesuai dengan passion-nya.

Menurut survei yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 2013, terungkap bahwa lebih dari separuh orang dewasa yang disurvei tertarik untuk mengganti karier mereka.

Walau begitu, diperlukan keberanian yang besar untuk melakukannya. Tak heran jika hanya sedikit orang yang berani melakukan transformasi karier. Padahal, mengganti karier di era sekarang ini sebenarnya semakin mungkin.

"Mengganti karier sekarang ini jauh lebih memungkinkan dibanding sebelumnya. Salah satunya adalah berkat kemajuan teknologi," kata Lindsey Pollak, pakar karier.

Hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah mulai membuat portofolio. Misalnya saja jika Anda ingin menjadi penulis, Anda bisa mulai membuat blog dan mempromosikannya sehingga semakin banyak orang yang membacanya. Atau, Anda bisa memasang foto-foto jepretan Anda di situs-situs yang juga diikuti para fotografer terkenal jika Anda bermimpi jadi fotografer profesional.

Sekarang ini Anda bahkan bisa mengumpulkan dana dari masyarakat (crowfunding) untuk memulai proyek Anda sendiri. Misalnya saja untuk membuat film dokumenter atau proyek fashion dengan mengajak orang-orang untuk berkontribusi atau berinvestasi.

Buat koneksi

Jangan terburu-buru berhenti dari pekerjaan sekarang sebelum Anda memiliki pijakan yang kuat pada jalur karier yang baru.

Anda juga bisa menjajaki pilihan karier baru ini dengan meminta saran dari profesional di bidang tersebut. Tak sulit sekarang ini berhubungan dengan banyak orang, cobalah kirimkan pesan pada mereka melalui media sosial, seperti Twitter atau LinkedIn.

Pertimbangkan pula soal keuangan. Jika di karier baru ini Anda melamar untuk posisi yunior atau dibutuhkan gelar yang lebih tinggi sehingga Anda perlu melanjutkan studi, maka Anda harus memperhatikan kondisi keuangan.

Hitunglah secara cermat kemungkinannya sebelum memutuskan apakah Anda bisa bertahan dengan pemasukan yang lebih kecil karena ingin mengejar karier impian.

Menurut pakar keuangan Jacwuette M Timmons, finasial adalah faktor utama yang harus diperhatikan saat akan berganti karier.

"Jika Anda masih lajang dan tinggal sendiri, Anda bisa pertimbangkan mencari teman untuk berbagi biaya sewa rumah. Jika Anda sudah menikah, cukupkah penghasilan pasangan membiayai pengeluaran dalam beberapa bulan selama Anda masih merintis karier," katanya.

Bila perhitungan menunjukkan secara finansial tidak memungkinkan, bangunlah karier baru ini pada malam dan akhir pekan sehingga pekerjaan utama Anda tidak terganggu.

"Menerima pekerjaan dengan posisi junior juga membutuhkan adaptasi emosional. Anda tidak lagi dianggap senior, bahkan disamakan dengan fresh graduate karena minimnya pengalaman di bidang baru ini," katanya.

Terus ingatkan diri sendiri bahwa ini adalah hal yang sudah lama Anda impikan dan Anda sukai agar terus termotivasi.

Meski Anda diperhitungkan sebagai fresh graduate, tetapi Anda sebenarnya memiliki kelebihan besar. Bekal pengalaman kerja bertahun-tahun bisa menjadi modal Anda dalam mengantisipasi keinginan atasan. Keterampilan yang mungkin tak akan dimiliki para fresh graduate. Hal ini bisa membantu karier Anda melaju lebih cepat.

Sumber :
WomensHealth
http://female.kompas.com

Related Posts