Showing posts with label Karier. Show all posts
Showing posts with label Karier. Show all posts

Wednesday, May 14, 2025

Gelombang PHK Awal 2025

73.992 Pekerja Terdampak, Apindo Soroti Akar Masalah Ekonomi

Awal tahun 2025 membawa angin suram bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Menurut data yang dihimpun oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sebanyak 73.992 pekerja telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) hanya dalam kurun waktu tiga bulan pertama, yakni dari Januari hingga Maret 2025. Angka ini menjadi alarm serius tentang kondisi riil dunia usaha dan ekonomi nasional yang masih diliputi ketidakpastian dan tekanan.

Apindo menyampaikan bahwa gelombang PHK tersebut tidak hanya terjadi di sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki, tetapi juga mulai merambah ke industri elektronik, otomotif, logistik, hingga perusahaan berbasis teknologi digital. Tekanan yang berasal dari melemahnya permintaan global, naiknya biaya produksi akibat fluktuasi harga bahan baku dan energi, hingga ketatnya likuiditas akibat bunga tinggi menjadi kombinasi faktor yang membuat banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, dan PHK menjadi langkah paling ekstrem yang mereka ambil.

Apindo juga mencermati bahwa kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih pasca-pandemi, diperparah oleh ketegangan geopolitik dan dampak dari kebijakan proteksionis di beberapa negara mitra dagang, turut memukul daya saing industri dalam negeri. Banyak pelaku usaha yang mengalami penurunan ekspor dan terganggu rantai pasoknya, sehingga tidak dapat mempertahankan tingkat produksi seperti sebelumnya. Dalam situasi tersebut, tenaga kerja menjadi korban pertama dari upaya penyelamatan struktur bisnis yang tengah goyah.

Dari sisi tenaga kerja, PHK massal ini tentu berdampak sosial yang besar. Angka hampir 74 ribu pengangguran baru dalam waktu singkat menambah beban pasar tenaga kerja yang sudah kompetitif. Selain itu, banyak dari mereka yang terdampak merupakan tulang punggung keluarga, sehingga efek domino terhadap kesejahteraan rumah tangga semakin besar. Pemerintah pun didorong untuk mempercepat pelaksanaan program reskilling dan upskilling tenaga kerja, serta memperkuat perlindungan sosial dan kebijakan jaring pengaman ekonomi yang lebih adaptif terhadap dinamika krisis.

Apindo berharap adanya komunikasi yang lebih erat antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mencari jalan keluar bersama. Keringanan pajak, insentif bagi industri padat karya, serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan suku bunga, menjadi beberapa kebijakan yang dinilai perlu segera diperkuat untuk mencegah eskalasi gelombang PHK di kuartal-kuartal berikutnya.

Gelombang PHK di awal 2025 ini mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi bukanlah jalan yang mulus. Di tengah tantangan global yang kompleks, dibutuhkan sinergi antara kebijakan makro, kekuatan sektor riil, serta perlindungan tenaga kerja, agar ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga tumbuh dengan inklusif dan berkelanjutan.


Peluang Baru di Tengah Ketidakpastian: Menata Ulang Arah di Era PHK Massal dan Krisis Ekonomi

Dalam pusaran badai ketidakpastian ekonomi yang melanda Indonesia sejak awal 2020 hingga 2025, ribuan perusahaan tumbang, ribuan pekerja kehilangan pekerjaan, dan jutaan keluarga terdampak secara langsung maupun tidak langsung. Data dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat bahwa hanya dalam rentang Januari hingga Maret 2025, sudah ada lebih dari 73.000 pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Namun, di balik kabar kelam dan angin dingin krisis ini, harapan tak pernah benar-benar padam. Seiring dengan runtuhnya struktur lama, terbuka pula jalan bagi peluang-peluang baru yang sebelumnya tak terlihat.

PHK memang menyakitkan. Ia bukan sekadar soal kehilangan penghasilan, tetapi juga bisa mengguncang harga diri, rasa aman, bahkan identitas diri. Namun dalam sejarah krisis di seluruh dunia, justru banyak inovasi dan terobosan besar lahir dari ketidakpastian. Waktu yang dulunya terikat dengan pekerjaan kini menjadi ruang kosong yang bisa diisi dengan pembelajaran baru. Banyak korban PHK mulai merintis bisnis kecil, menjual produk secara daring, atau mengambil pelatihan keterampilan digital dan teknis secara gratis dari berbagai platform.

Ekonomi digital menjadi salah satu oasis di tengah gurun ketidakpastian ini. Layanan berbasis teknologi seperti e-commerce, food delivery, konsultasi daring, bahkan pendidikan online mengalami lonjakan permintaan. Mereka yang mampu mengalihkan keterampilannya ke dunia digital—baik sebagai content creator, freelancer, marketing specialist, ataupun tenaga ahli IT—memiliki peluang besar untuk tumbuh tanpa harus bergantung pada korporasi besar.

Di sisi lain, sektor informal dan UMKM juga menunjukkan ketahanan luar biasa. Ketika banyak perusahaan besar gulung tikar, justru pelaku usaha mikro seperti pedagang makanan rumahan, penyedia jasa pengiriman lokal, hingga usaha kerajinan tangan lokal mulai menunjukkan geliat. Berkat media sosial dan platform jual beli online, pasar mereka tak lagi terbatas hanya pada lingkungan sekitar, melainkan bisa menjangkau seluruh penjuru negeri, bahkan mancanegara.

Peran pemerintah dan lembaga pendidikan nonformal juga penting dalam menciptakan jembatan dari keterpurukan ke peluang. Program reskilling dan upskilling seperti pelatihan coding, bahasa asing, kewirausahaan, dan keuangan dasar mulai digalakkan untuk mengubah mereka yang terdampak krisis menjadi individu yang lebih siap menghadapi tantangan ekonomi baru.

Krisis memang membuka luka, tetapi juga membuka mata. Ia memaksa banyak orang untuk menilai ulang apa yang penting, mengevaluasi arah hidup, dan mengambil risiko yang dulu tak berani dilakukan. Di tengah runtuhnya stabilitas lama, banyak yang justru menemukan keberanian untuk mengejar mimpi, membangun usaha sendiri, atau beralih karier ke bidang yang lebih sesuai dengan minat dan kebutuhan masa depan.

Peluang tidak selalu datang dalam bentuk yang indah atau waktu yang sempurna. Kadang ia hadir dalam bentuk kesulitan yang memaksa kita untuk tumbuh. Di tengah ketidakpastian, harapan masih bisa ditanam. Dan dari tanah yang tandus sekalipun, selalu ada kemungkinan tunas kehidupan yang baru tumbuh dengan akar yang lebih kuat.

Tuesday, January 21, 2025

Lima Fase Berduka: Memahami Proses Emosional dalam Kehilangan

Teori lima fase berduka, yang diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross, menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi kehilangan atau tragedi. Berikut adalah penjelasan tiap fasenya:

  1. Penolakan (Denial)
    Awal dari duka sering ditandai dengan penolakan. Individu merasa tidak percaya atas kejadian yang terjadi, seperti upaya melindungi diri dari kenyataan yang menyakitkan.

  2. Kemarahan (Anger)
    Setelah penolakan, muncul kemarahan sebagai respons atas rasa kehilangan. Kemarahan bisa ditujukan pada diri sendiri, orang lain, atau situasi.

  3. Tawar-Menawar (Bargaining)
    Pada tahap ini, individu mencoba mencari solusi untuk menghindari kenyataan, seperti membuat janji kepada Tuhan atau mencari cara untuk mengubah hasil.

  4. Depresi (Depression)
    Kesedihan mendalam mulai terasa ketika kenyataan diterima. Fase ini ditandai dengan perasaan kehilangan, keputusasaan, dan kesedihan yang mendalam.

  5. Penerimaan (Acceptance)
    Akhirnya, individu mencapai tahap penerimaan. Mereka mulai menerima kenyataan, menemukan kedamaian, dan melanjutkan hidup.

Kesimpulan

Kelima fase ini tidak selalu berurutan dan tidak semua orang mengalaminya. Proses duka adalah pengalaman pribadi yang unik, dan mengenal tahap-tahap ini dapat membantu kita memahami diri sendiri atau mendukung orang lain yang sedang berduka.

Tuesday, July 16, 2024

Menguak Masalah Kenapa Gen Z Susah Dapat Kerja

Menguak Masalah Kenapa Gen Z Susah Dapat Kerja Formal.

Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, saat ini memasuki dunia kerja dengan semangat dan harapan yang tinggi. Namun, banyak dari mereka menghadapi tantangan yang signifikan dalam mendapatkan pekerjaan formal. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa Gen Z susah mendapatkan pekerjaan formal? Artikel ini akan menguraikan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kesulitan yang dialami oleh Gen Z dalam memasuki pasar kerja formal.

1. Persaingan yang Ketat.

Pasar kerja saat ini sangat kompetitif. Dengan banyaknya lulusan baru setiap tahun, persaingan untuk posisi entry-level semakin meningkat. Perusahaan memiliki banyak pilihan dan sering kali mencari kandidat dengan pengalaman atau keahlian khusus yang mungkin belum dimiliki oleh fresh graduates dari Gen Z.


2. Ketidakcocokan Keterampilan.

Meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat akrab dengan teknologi, ada kesenjangan keterampilan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Perusahaan sering mencari kandidat yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis tetapi juga kemampuan soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah. Ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki oleh Gen Z dan yang diinginkan oleh perusahaan menjadi salah satu penyebab utama sulitnya mendapatkan pekerjaan formal.


3. Kurangnya Pengalaman Kerja.

Banyak perusahaan lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja, bahkan untuk posisi entry-level. Gen Z yang baru lulus sering kali hanya memiliki pengalaman magang atau kerja paruh waktu yang mungkin tidak cukup untuk memenuhi persyaratan perusahaan. Kurangnya pengalaman kerja menjadi hambatan besar dalam mendapatkan pekerjaan formal.


4. Perubahan dalam Proses Rekrutmen.

Proses rekrutmen juga telah berubah secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan kini lebih mengandalkan teknologi, termasuk algoritma dan AI, untuk menyaring kandidat. Ini berarti bahwa resume dan surat lamaran harus dioptimalkan untuk melewati sistem ini. Gen Z yang kurang memahami bagaimana teknologi ini bekerja mungkin menghadapi kesulitan dalam membuat aplikasi mereka diperhatikan oleh perekrut.


5. Ekspektasi yang Tinggi.

Gen Z dikenal memiliki ekspektasi tinggi terhadap karier mereka, termasuk gaji, keseimbangan kerja-hidup, dan peluang pengembangan karier. Beberapa perusahaan mungkin melihat ekspektasi ini sebagai tuntutan yang sulit dipenuhi, sehingga lebih memilih kandidat dari generasi lain yang mungkin memiliki harapan yang lebih realistis atau fleksibel.


6. Dampak Pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 telah membawa dampak signifikan pada pasar kerja global. Banyak perusahaan harus melakukan pemutusan hubungan kerja atau pembekuan perekrutan, yang membuat pasar kerja semakin ketat. Selain itu, banyak perusahaan yang beralih ke model kerja jarak jauh, yang mungkin menuntut keterampilan khusus yang belum dikuasai oleh semua anggota Gen Z.


7. Pendidikan yang Kurang Terkait dengan Industri.

Beberapa program pendidikan mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Gen Z yang lulus dari program yang tidak memiliki keterkaitan kuat dengan industri tertentu mungkin menghadapi kesulitan lebih besar dalam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka.


8. Kurangnya Jaringan Profesional.

Jaringan profesional sering kali memainkan peran penting dalam mendapatkan pekerjaan. Gen Z, yang mungkin baru saja memasuki pasar kerja, belum memiliki jaringan yang luas dan kuat dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Kurangnya koneksi ini dapat membatasi akses mereka ke peluang kerja yang tidak diumumkan secara publik.


9. Pilih-pilih Pekerjaan.

Dari hasil penelitian terungkap sebanyak 58 persen atau lebih dari separuh pegawai Gen Z berusia 18 hingga 24 tahun cenderung lebih memilih berhenti kerja ketimbang tidak bisa menikmati pekerjaannya atau tidak sesuai dengan bidang yang disenanginya.

Gen Z mengaku lebih memilih menganggur ketimbang tak bahagia melakukan pekerjaan yang tak disukai. Hal ini memberikan gambaran jika Gen Z cenderung lebih memilih-milih pekerjaan, berbeda dengan generasi sebelumnya yang akan menjalani pekerjaan dengan serius meski tidak sesuai dengan minatnya.

Dalam era modern yang serba cepat dan dinamis, penting bagi Generasi Z untuk memiliki sikap yang realistis dan fleksibel dalam mencari pekerjaan. Generasi ini, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, dihadapkan pada pasar kerja yang kompetitif dan terus berubah.

Generasi Z juga harus mengembangkan soft skill yang sesuai dengan kebutuhan tempat kerja saat ini.


10. Pergeseran Makna Bekerja

Kurangnya daya serap tenaga kerja dari Gen Z di sektor formal bukan hanya semata soal standar gaji tapi juga ada pergeseran makna bekerja di kelompok usia tersebut.

Jenis pekerjaan tidak harus ada dan datang di kantor tapi bisa dari mana saja (Work From Anywhere) atau dari rumah (Work From Home). Tidak sedikit dari Gen Z yang lebih memilih bekerja secara fleksibel dan tidak wajib ke kantor dan kebanyakan model pekerjaan tersebut ada di industri kreatif.

Banyak pekerja yang memang lebih memilih untuk bekerja tidak harus di kantor tapi dimana saja secara remote. Pekerjaan formal tidak lagi menjadi hal menarik bagi Gen Z. Jadi kalau dari sisi akademisi, mereka bukan lebih sulit mendapatkan pekerjaan tapi ada pergeseran makna bekerja di anak-anak ini.

Pergeseran ini membawa sejumlah implikasi bagi dunia kerja dan pendidikan. Perusahaan perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan preferensi generasi baru ini dengan menawarkan fleksibilitas kerja yang lebih besar.

Sementara itu, institusi pendidikan juga perlu mengadopsi kurikulum yang mempersiapkan mahasiswa untuk dunia kerja yang lebih dinamis dan fleksibel.


Cara Mengatasi Tantangan.

1. Peningkatan Keterampilan.

Gen Z dapat meningkatkan peluang mereka dengan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri, baik melalui pendidikan formal, pelatihan online, atau kursus singkat.


2. Pengalaman Magang dan Relawan.

Mengambil peluang magang atau pekerjaan sukarela dapat membantu membangun pengalaman kerja yang berharga dan memperluas jaringan profesional.


3. Optimalkan Aplikasi Kerja.

Belajar tentang cara menulis resume dan surat lamaran yang efektif serta mempersiapkan diri untuk wawancara dapat meningkatkan peluang diterima di perusahaan.


4. Membangun Jaringan.

Menghadiri acara networking, bergabung dengan komunitas profesional, dan aktif di platform seperti LinkedIn dapat membantu membangun jaringan yang kuat.


5. Realistis dengan Ekspektasi.

Meskipun penting untuk memiliki standar tinggi, fleksibilitas dalam ekspektasi awal karier dapat membuka lebih banyak peluang kerja.


Kesimpulan

Gen Z menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan pekerjaan formal, mulai dari persaingan yang ketat hingga ketidakcocokan keterampilan dan ekspektasi yang tinggi. Namun, dengan pendekatan yang tepat, seperti peningkatan keterampilan, membangun jaringan, dan menyesuaikan ekspektasi, Gen Z dapat meningkatkan peluang mereka untuk sukses di pasar kerja. Melalui usaha yang gigih dan strategi yang tepat, generasi ini dapat mengatasi hambatan dan mencapai tujuan karier mereka.

Wednesday, June 26, 2024

Saatnya Capai Garis Finish dan Mulai Perjalanan Baru

Setiap perjalanan pasti memiliki akhirnya, begitu pula dengan tujuan yang kita tetapkan dalam hidup. Namun, akhir dari sebuah perjalanan bukan berarti segalanya selesai. Sebaliknya, ini adalah momen untuk memulai sesuatu yang baru, meraih tantangan berikutnya, dan tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

1. Menghargai Pencapaian

Sebelum memulai perjalanan baru, penting untuk menghargai dan merayakan pencapaian kita. Mengakui usaha dan dedikasi yang telah kita curahkan dalam mencapai garis finish memberikan kita rasa kepuasan dan motivasi untuk langkah berikutnya. Luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilalui dan semua pelajaran yang telah didapat.


2. Menetapkan Tujuan Baru

Setelah mencapai garis finish, saatnya menetapkan tujuan baru. Tentukan apa yang ingin kita capai selanjutnya, apakah itu dalam karir, kehidupan pribadi, atau hobi. Pastikan tujuan baru ini menantang namun realistis, sehingga kita tetap termotivasi dan fokus. Menetapkan tujuan baru memberikan arah dan makna baru dalam hidup kita.


3. Merencanakan Strategi Baru

Setiap tujuan membutuhkan rencana yang matang. Susun strategi baru yang lebih baik berdasarkan pengalaman sebelumnya. Identifikasi langkah-langkah konkret yang harus diambil dan sumber daya yang diperlukan. Dengan rencana yang jelas, kita akan lebih mudah mencapai tujuan baru dengan efisien.


4. Belajar dari Pengalaman

Pengalaman adalah guru terbaik. Evaluasi perjalanan sebelumnya dan pelajari apa yang berhasil dan apa yang tidak. Gunakan wawasan ini untuk menghindari kesalahan yang sama dan meningkatkan pendekatan kita. Belajar dari pengalaman membuat kita lebih bijaksana dan tangguh dalam menghadapi tantangan baru.


5. Menjaga Semangat dan Motivasi

Perjalanan baru pasti akan menghadirkan tantangan dan hambatan. Penting untuk menjaga semangat dan motivasi tetap tinggi. Temukan sumber inspirasi, baik dari dalam diri sendiri, keluarga, teman, atau tokoh-tokoh inspiratif. Dengan semangat yang tinggi, kita akan lebih mampu mengatasi rintangan dan mencapai tujuan.


Mencapai garis finish adalah momen yang membanggakan, namun itu juga merupakan awal dari perjalanan baru. Dengan menghargai pencapaian, menetapkan tujuan baru, merencanakan strategi, belajar dari pengalaman, dan menjaga semangat, kita dapat terus tumbuh dan mencapai hal-hal yang lebih besar dalam hidup. Selamat memulai perjalanan baru, dan jadikan setiap langkah sebagai bagian dari kesuksesan Anda.

Sunday, May 26, 2024

Learning Agility Adalah



Mengapa Learning Agility Menjadi Kunci Sukses di Era Transformasi Digital.

Di tengah cepatnya perubahan teknologi dan tuntutan dunia kerja modern, learning agility menjadi salah satu kemampuan yang sangat penting. Learning agility atau kelincahan dalam belajar adalah kemampuan seseorang untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan dari pengalaman dengan cepat. Ini tidak hanya meningkatkan motivasi kerja karyawan tetapi juga membantu mereka memperbaiki kesalahan dari masa lalu berdasarkan pengalaman yang telah dihadapi.

Pengertian Learning Agility.

Learning agility adalah kemampuan seseorang untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat ketika menghadapi situasi atau tantangan baru. Konsep ini menekankan pada penguasaan pengetahuan baru, perolehan wawasan, dan penerapannya dalam konteks yang relevan. Seseorang dengan learning agility memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar dan berkembang serta mampu menghadapi perubahan dengan tangkas.

Jenis-Jenis Learning Agility.

Learning agility terbagi menjadi beberapa jenis, masing-masing dengan fokus yang berbeda namun saling melengkapi:

People Agility.

People agility adalah kemampuan untuk beradaptasi dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini melibatkan pengenalan diri, keahlian belajar dari pengalaman, dan kemampuan beradaptasi dalam situasi yang menekan. Orang dengan people agility dapat mudah berinteraksi dan menciptakan hubungan yang baik.

Result Agility.

Result agility adalah kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam kondisi sulit. Orang dengan kemampuan ini dapat menginspirasi orang lain dan membangun kepercayaan melalui kehadiran mereka, serta fokus pada hasil dan mengatasi tantangan dengan efektif.

Mental Agility.

Mental agility melibatkan kemampuan berpikir secara fleksibel dan kreatif. Seseorang dengan mental agility mampu melihat masalah dari sudut pandang baru, nyaman dengan kompleksitas dan ambiguitas, serta bisa menjelaskan pemikirannya kepada orang lain.

Change Agility.

Change agility menunjukkan keingintahuan tinggi terhadap perubahan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat. Seseorang dengan change agility selalu mencari peluang untuk meningkatkan keterampilan diri, mengembangkan ide-ide baru, dan siap mengubah cara kerja yang lama.

Self-Awareness.

Self-awareness adalah kemampuan memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan self-awareness yang tinggi, seseorang dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan fokus pada pengembangan diri.

Komponen-Komponen Learning Agility.

Agar dapat mengembangkan learning agility, terdapat beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan:

Kemampuan Adaptasi yang Baik.

Seseorang yang memiliki learning agility mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan situasi dan tuntutan baru. Mereka terbuka terhadap perubahan dan siap untuk belajar hal-hal baru.

Pola Problem Solving Tersendiri.

Learning agility melibatkan kemampuan mengatasi masalah dan menemukan solusi yang efektif dengan pola pikir kreatif dan analitis.

Responsif Terhadap Perubahan.

Orang dengan learning agility responsif terhadap perubahan dan tidak takut menghadapi situasi baru. Mereka cepat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan tuntutan baru.

Perilaku Kepemimpinan.

Kemampuan untuk menjadi pemimpin yang efektif juga merupakan bagian dari learning agility. Mereka mampu membangun hubungan baik, memimpin, membimbing, dan memotivasi orang lain untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Inovatif.

Seseorang dengan learning agility terus mencari cara baru untuk meningkatkan kinerja dan mencapai hasil lebih baik. Mereka memiliki kemampuan berpikir kreatif, mengembangkan ide-ide baru, dan menerapkan solusi inovatif dalam pekerjaan.

Cara Meningkatkan Learning Agility.

Untuk meningkatkan learning agility, berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

Seek Out Learning Opportunities.

Carilah peluang untuk belajar, baik melalui pelatihan formal, kursus online, maupun pengalaman kerja. Selalu terbuka terhadap pengetahuan baru dan berusaha untuk terus mengembangkan diri.

Stay Curious.

Mempertahankan rasa ingin tahu yang tinggi adalah kunci untuk meningkatkan learning agility. Jangan pernah puas dengan pencapaian saat ini dan teruslah mencari tahu lebih banyak melalui membaca, mengikuti perkembangan di bidang pekerjaan, dan mengajukan pertanyaan.

Seek Out Feedback.

Mintalah umpan balik dari rekan kerja, atasan, atau mentor untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan. Gunakan umpan balik ini untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan lakukan perbaikan.

Apply What You Learn.

Terapkan pengetahuan yang telah dipelajari dalam pekerjaan sehari-hari. Carilah cara untuk menguji ide-ide baru dan terus belajar dari pengalaman.

Contoh Learning Agility di Tempat Kerja.

Sebagai contoh, seorang manajer yang memiliki learning agility dapat dengan cepat belajar dan beradaptasi terhadap teknologi baru. Mereka mungkin akan mengikuti pelatihan dan menguasai alat-alat baru yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi tim. Selain itu, mereka mampu berpikir inovatif dalam mengembangkan strategi bisnis baru dan menghadapi perubahan pasar dengan tangkas.

Kesimpulan.

Learning agility adalah kemampuan penting yang diperlukan untuk sukses di dunia kerja modern. Dengan belajar dan beradaptasi secara cepat, individu dan organisasi dapat menghadapi tantangan baru dan tetap kompetitif di era transformasi digital. Mengembangkan learning agility harus menjadi prioritas bagi siapa saja yang ingin terus berkembang dan mencapai kesuksesan dalam karier maupun bisnis.


Sumber :
https://www.ruangmenyala.com/article/read/learning-agility-adalah
https://klique.id/blog/definisi-learning-agility/
https://kumparan.com/ragam-info/mengenal-pengertian-learning-agility-beserta-cara-meningkatkannya-20pKC2pxkUE/full

Tuesday, April 30, 2024

May Day



Merayakan Hari Buruh Internasional: Menghargai Kontribusi Pekerja di Seluruh Dunia.

Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional, sebuah perayaan yang didedikasikan untuk menghargai kontribusi pekerja di seluruh dunia dan memperjuangkan hak-hak mereka. Hari Buruh Internasional, juga dikenal sebagai Hari May Day, telah menjadi momen penting untuk memperingati sejarah gerakan buruh dan memperjuangkan kondisi kerja yang lebih adil dan layak bagi semua pekerja.

Sejarah Hari Buruh Internasional bermula dari perjuangan para pekerja di Amerika Serikat pada abad ke-19. Pada tanggal 1 Mei 1886, jutaan pekerja di Amerika Serikat melakukan mogok kerja untuk menuntut perlakuan yang lebih adil, termasuk jam kerja delapan jam sehari. Demonstrasi ini, yang dikenal sebagai "Hari May Day," menjadi tonggak penting dalam gerakan buruh global dan mendorong adopsi standar kerja yang lebih baik di seluruh dunia.

Hari Buruh Internasional menandai kesempatan untuk merayakan prestasi gerakan buruh dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk hak untuk upah yang layak, kondisi kerja yang aman, jam kerja yang adil, cuti yang layak, dan hak untuk bergabung dalam serikat pekerja. Ini juga merupakan saat untuk mengingat kembali tantangan yang masih dihadapi oleh pekerja di berbagai sektor, termasuk diskriminasi, eksploitasi, ketidaksetaraan gender, dan perburuhan anak.

Pentingnya Hari Buruh Internasional juga mencerminkan pentingnya kerja keras dan dedikasi para pekerja dalam berbagai bidang, mulai dari industri, pertanian, layanan, teknologi, hingga sektor kesehatan dan pendidikan. Tanpa kontribusi mereka, ekonomi global tidak akan berjalan dengan lancar, dan masyarakat tidak akan berkembang seperti yang kita lihat hari ini.

Selain merayakan prestasi dan kontribusi pekerja, Hari Buruh Internasional juga merupakan panggilan untuk tindakan lebih lanjut dalam memperjuangkan hak-hak pekerja yang masih terpinggirkan dan memperbaiki kondisi kerja yang tidak adil di seluruh dunia. Ini termasuk upaya untuk meningkatkan standar kerja, memerangi pekerjaan paksa dan perdagangan manusia, meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, serta memastikan perlindungan sosial yang memadai bagi semua pekerja.

Sebagai masyarakat global, penting bagi kita untuk terus menghargai, mendukung, dan memperjuangkan hak-hak pekerja di seluruh dunia. Hari Buruh Internasional adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan martabat pekerja adalah perjuangan bersama yang harus kita teruskan, demi menciptakan dunia di mana semua orang dapat bekerja dengan aman, adil, dan dihargai.


Peringatan Hari Buruh Nasional: Mengapresiasi Perjuangan Pekerja Indonesia.

Setiap tanggal 1 Mei, bangsa Indonesia merayakan Hari Buruh Nasional, sebuah momen penting untuk menghargai perjuangan pekerja Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak mereka dan mengingatkan pentingnya kondisi kerja yang adil dan layak bagi semua. Hari Buruh Nasional bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat akan sejarah gerakan buruh di Indonesia dan komitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja.

Sejarah Hari Buruh Nasional Indonesia bermula dari perjuangan pekerja pada awal abad ke-20, yang menuntut kondisi kerja yang lebih adil dan perlindungan hak-hak mereka. 

Peringatan Hari Buruh Nasional adalah kesempatan untuk merayakan prestasi gerakan buruh Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, termasuk upah yang layak, jam kerja yang adil, dan perlindungan sosial yang memadai. Ini juga adalah saat untuk menghargai kontribusi pekerja Indonesia dalam berbagai sektor, mulai dari pertanian, manufaktur, perdagangan, hingga sektor jasa.

Selain itu, Hari Buruh Nasional juga merupakan momen untuk merefleksikan tantangan yang masih dihadapi oleh pekerja di Indonesia, seperti ketenagakerjaan informal, eksploitasi anak-anak, ketidaksetaraan gender, dan kondisi kerja yang tidak aman. Peringatan ini memicu panggilan untuk tindakan lebih lanjut dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam memperbaiki kondisi kerja yang tidak adil dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja.

Peringatan Hari Buruh Nasional juga menjadi momen untuk menghargai pekerja di garis depan yang telah bekerja tanpa lelah untuk melindungi masyarakat dan menjaga roda perekonomian berputar. Mereka termasuk tenaga kesehatan, petugas kebersihan, petugas keamanan, pengemudi ojek daring, dan banyak lagi, yang terus bekerja demi kesejahteraan kita bersama.

Sebagai bangsa, penting bagi kita untuk terus menghargai, mendukung, dan memperjuangkan hak-hak pekerja Indonesia. Hari Buruh Nasional adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan martabat pekerja adalah perjuangan bersama yang harus terus kita dukung, demi menciptakan Indonesia di mana semua orang dapat bekerja dengan aman, adil, dan dihargai.

Thursday, November 24, 2022

Mengubah Networking Menjadi Relationship


Networking Dalam Dunia Kerja dan Bisnis

Networking dalam dunia kerja dan bisnis menjadi salah satu kunci penting dalam pekerjaan Anda. Secara garis besar, networking adalah jaringan, dimana kita pribadi dengan orang lain dalam suatu hubungan networking bisa saling membantu sekaligus saling menguntungkan antara satu sama lain.


Networking dalam dunia kerja adalah bagai membangun jaringan dengan rekan-rekan Anda seluas-luasnya tanpa terbatas. Networking ini bisa memberikan feedback positif manakala Anda berada dalam circle relasi yang baik sekaligus berkualitas.

Dengan networking yang luas hal tersebut juga dapat memperluas jangkauan untuk memperoleh pekerjaan baru. Karena melalui relasi yang luas, kita bisa membangun kesan positif terkait diri kita kepada orang lain.

Sehingga peluang kita diterima dalam sebuah perusahaan akan semakin besar. Karena orang-orang sebagai relasi akan merekomendasikan manakala kita layak, serta mempunyai karakter yang baik.

Networking juga dapat bermanfaat dalam lingkungan kerja. Melalui luasnya relasi, maka atasan Anda bisa mengetahui kepribadian Anda sebenarnya. Hal ini akan memperbesar potensi Anda untuk mendapatkan promosi jabatan. Apalagi jika Anda benar-benar mempunyai good character seperti yang dibutuhkan dalam promosi jabatan.

Dengan networking kita bisa saling bertukar ide dengan teman-teman yang menjadi relasi melalui komunikasi dan diskusi. Saat kita dihadapkan pada kondisi sulit, maka jaringan yang kita bangun bisa membantu untuk menentukan alternatif solusi terbaik yang tepat.

Dengan good character pada diri kita, maka kita bisa membuat dampak positif pada karier sekaligus kehidupan sosial Anda.

Hal ini bisa membuat memacu kita untuk selalu melakukan upgrading diri dan skill ke arah yang lebih baik. Sehingga karier kita bisa semakin baik dan membuat pendapat kita menjadi dipertimbangkan dalam dunia kerja.
 
Dengan networking juga bisa mengasah skill komunikasi. Dengan intensitas berinteraksi kepada orang lain yang tinggi, maka secara otomatis Anda bisa mengasah skill komunikasi.

https://www.finansialku.com/manfaat-networking-dalam-dunia-kerja/


Networking Bisa Jadi Kunci Sukses, karena Pintar Saja Tidak Cukup

Pintar saja memang tidak cukup untuk sukses. Networking atau relasi dengan masyarakat luas juga punya peran penting bagi kesuksesan seseorang. Networking juga punya makna penting agar sukses. Semakin kuat networking kita, semakin membantu perjalanan kita menuju sukses.

Berkomunikasi dan membangun relasi adalah sebuah seni yang memiliki proses dan penerapan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Namun bagi beberapa orang masih membutuhkan latihan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan baik dalam proses membangun relasi.

Komunikasi adalah seni. Setiap orang pasti memiliki metode yang berbeda-beda. Tapi yang terpenting adalah tetap rendah hati dan memiliki etika ketika berkomunikasi.

Dalam membangun networking jangan pilih-pilih. Jangan karena kita sudah dewasa dan merasa lebih berpengalaman, kemudian kita enggan untuk menjalin relasi dengan generasi muda.

Networking sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, bukan hanya tuntutan pekerjaan atau pembelajaran. 

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2020/networking-bisa-jadi-kunci-sukses-karena-pintar-saja-tidak-cukup/


Relationship Skill. 

Relationship Skill saling berkaitan dengan Self Awarness (kesadaran diri), Self Management (manajemen diri), dan Social Awarness yakni (kesadaran social). 

Relationship Skill adalah keterampilan dalam menjalin hubungan yang menjadi komponen yang sangat penting terutama dalam pembelajaran social-emosional. Menurut "CASEL" dalam pembelajaran keterampilan atau kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dan bermanfaat dengan beragam individu dan kelompok. 

Jadi Relationship Skill adalah bagaiman berhubungan baik dengan orang lain. Untuk itu membutuhkan proses atau kebiasaan, misalnya pola pengasuhan yang baik, jika pola asuh yang kita dapatkan baik dalam berhubungan baik dengan orang lain maka mudah pula kita dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Beberapa kemampuan yang harus dimiiki Anak dalam menjalin hubungan dengan baik, diantaranya;

Komunikasi
Kemampuan berkomunikasi dengan jelas, yakni jika anak dapat berkomunikasi dengan jelas dan baik maka sejak awal pola asuh yang didapat pun juga baik, mengapa karena orang tuanya sudah mengajarkan kepada anak sejak dari kecil, mengenalkan cara untuk berkomunikasi dengan baik, walau anak belum mengenal apa yang dikatan sang ibu. Namun anak akan dapat menangkap kosakata yang ia dengar  dan akan tersimpan dalam memorynya.
Contoh ketika seorang anak tersebut ingin bergabung bermain dengan temannya. Terlebih dahulu yang dilakukan oleh anak ialah berani menghampiri dan mengatakan (berkomunikasi) dengan temannya bahwa dia ingin bergabung bermain. Dengan kosakata yang dimiliki sang anak ialah kosakata yang ia dapatkan atau yang tersimpan dalam memori sang anak. Karena orang tua pun juga telah mengajarkan sang anak cara berkomunukasi dengan baik, sehingga anak dapat menjalin hubungan dengan temannya, melalui komunikasi dengan jelas dan baik pula.
Dan jika apabila sang anak susah atau sulit dalam berkomunikasi dengan baik berarti bisa disebabkan karena kurarangnya kosakata yang dapat tersimpan dalam memori sang anak dan juga kurangnya komunikasi dengan orang tua.

Mendengarkan dengan baik
Menjadi pendengar yang baik pun juga sangatlah penting, mengapa jika sang anak dapat menangakap komunikasi yang telah diberikan anak lainnya, atau apa yang dikatakan oleh temannya. Maka dengan otomatis sang anak dapat menanggapi dengan baik apa yang dikatakan oleh sang teman. Karena sang anak fokus dalam memperhatikan dan mendengarkan. Namun apabila sang anak bingung dengan kata-kata yang asing yang ia dengar maka dengan jelas sang anak akan mengatakan bahwa ia belum faham walaupun sang anak sudah mendengarkan dengan baik. Berarti hal ini dapat diambil pelajaran bagi sang anak, yakni menambah kosakata baru.
 
Bekerja sama dengan Tim
Ketika anak sedang bekerja sama dalam mencapai sebuah tujuan. Maka dengan pembelajaran ini dapat diambil sisi sosialnya. Dalam hal ini sang anak dapat mengetahui makna sosial yakni saling membantu dan saling membutuhkan Antara satu dengan yang lainnya. Contoh dalam bermain sepak bola. Dalam permainan sepak bola ada 2 tim, masing-masing tim mempertahankan gawang agar tidak ada bola lawan yang masuk kedalam gawang tersebut, dan begitu sebaliknya. Dan juga ada yang menyerang agar bola dapat masuk ke gawang sang lawan. Jika masing-masing kelompok tidak kompak  maka akan gagal untuk meraih apa yang menjadi tujuannya.

Tahan Tekanan Yang tidak pantas
"CASEL" yakni berkomitmen pada keputusan mereka agar tidak terlibat dalam hal yang tidak diinginkan, dan tidak aman. Yakni keputusan yang dipilih sang anak dalam mengambil apa yang ia inginkan, apakah itu baik ataukah buruk bagi dirinya.
menegosiasikan konflik secara konstruktif
yakni dapat dikatakan suatu usaha yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah dengan cara bersama, mendiskusikan secara bersama, mencari tau penyebab yang terjadi dan kemudian mencari jalan keluar.

Menawarkan bantuan ketika dibutuhkan
Ketika sang anak kesusahan dalam menghadapi sebuah masalah, maka sebagai orang tua atau pendidik, seharusnya mengetahui apa yang sedang dipikirnya sang anak. Pertama kita dekati sang anak, kemudian kita coba ajak ngorol atau bercerita, kemudian dengan sendirinya  anak akan bercerita kepada sang ibu atau pendidik jika sang anak sedang dalam masalah. Kemudia sang ibu menawarkan bantuan kepada sang anak atau memberikan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi sang anak.

Perhatian seorang guru atau orang tua sangatlah penting bagi sang anak. Ketika anak mendapatkan perhatian dari mereka maka sang anak tidak akan takut dalam mengahadapi apapun. Karena mereka merasa ada orang dibelakang mereka.

https://www.kompasiana.com/tsania28327/5cc5804395760e63731cb557/pentingnya-menjalin-hubungan-relationship-skill


Mengubah Networking Jadi Relasi Profesional

Mengubah networking jadi relasi profesional memberikan kesempatan untukmu dapat informasi pekerjaan, pengetahuan baru, hingga partner bisnis atau investor. Networking memang dikenal sebagai salah satu cara untuk mengembangkan karier. Namun, bagaimana cara membuat networking jadi relasi profesional? 

Ada beberapa cara mengubah networking jadi relasi profesional, yaitu:

1. Gerak cepat
Melansir The Muse, alasan orang gagal dalam mengubah networking jadi relasi profesional adalah terlambat untuk mengambil tindakan lanjutan. Ketika bertemu dengan relasi baru, jangan berhenti pada berkenalan dan bertukar kontak, langsung perdalam hubungan tersebut. Tingkatkan hubungan lewat pertemuan berikutnya. Jangan hanya menunggu ajakan, tapi kamu yang harus berinisiatif untuk mengajak.

2. Rutin menjalin komunikasi
Obrolan ringan seperti bercerita mengenai rutinitas harian, akan mempererat hubungan. Dengan begini, seseorang akan merasa lebih akrab dan nyaman ketika berkomunikasi dengan kamu. Jika kamu tidak berkomunikasi dengan teratur, hubungan bisa menjadi renggang. Sehingga, kamu berisiko kehilangan hubungan tersebut. 

3. Tawarkan bantuan
Menurut Forbes, jangan sungkan untuk menawarkan bantuan kepada relasi kamu. Jangan berharap hanya dibantu saja, tetapi saat relasi sedang kesusahan, berikan bantuan yang kamu bisa. Kamu tidak tahu, mungkin saja bantuan tersebut sangat berarti bagi orang lain. Sehingga ketika kamu kesulitan, mereka juga akan membantumu.

4. Jadikan kebiasaan
Tips mengubah networking jadi relasi profesional berikutnya ialah membantu dan menjalin komunikasi yang baik, hingga jadi kebiasaan. Semakin besar networking, maka semakin besar juga relasi profesional yang akan terbentuk.

5. Mendengarkan pembicaraan dengan seksama
Ketika berkomunikasi dengan relasi, terkadang pembicaraan mengarah pada hal-hal di luar pekerjaan. Jangan langsung meninggalkan percakapan tersebut. Bisa saja pembicaraan tersebut menjadi kunci untuk mencapai target kamu. Bisa juga percakapan tersebut melahirkan kesempatan lain untuk mempererat hubungan.

6. Manfaatkan teknologi
Saat ini, komunikasi sudah sangat mudah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Optimalkan media sosial untuk mendapatkan networking yang baru, misalnya dengan platform LinkedIn. Kamu hanya perlu lakukan hal yang sederhana seperti ucapan selamat atas jabatan baru atau ulang tahun untuk menjalin komunikasi awal. 

7. Menjangkau profesional yang tepat
Melansir Indeed, kamu hanya perlu membangun dan menjaga hubungan profesional dengan orang yang berpengaruh terhadap karier atau bisnismu. Misalnya, sebagai seorang sarjana hukum yang ingin menjadi pengacara, kamu perlu membangun relasi dengan para pengacara senior.

8. Ucapkan terima kasih
Sederhana, tapi penuh makna. Ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan menunjukkan bahwa kamu memiliki etika dan rasa hormat. Tak peduli seberapa kecilnya bantuan, selalu ucapkan terima kasih kepada mereka yang menolong kamu.

https://glints.com/id/lowongan/networking-jadi-relasi-profesional/#.Y4AQQ3ZBzIU

Sunday, March 20, 2022

10 Profesi dengan Gaji Tertinggi

10 Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia, Sebulan Lebih dari Rp 100 Juta

Setiap orang tentu menginginkan penghasilan yang tinggi. Tapi seiring dengan besarnya gaji biasanya tuntutan pekerjaan juga selangit. Berdasarkan data yang dirilis Michael Page, mereka yang gajinya ratusan juta biasanya menempati posisi-posisi direktur yang tentu butuh kemampuan dan pengalaman level dewa. 

Berikut 10 profesi dengan gaji tertinggi di Indonesia.


1. C-Suite (Corporate Suite)

Dalam Salary Report 2022 yang dirilis Michael Page, tentunya para 'chief' dalam berbagai industri kerja menempati urutan teratas sebagai profesi dengan penghasilan tertinggi. Chief Executive Officer, Chief Financial Officer hingga Chief Operating Officer rata-rata digaji Rp 150 juta hingga Rp 250 juta.


2. Risk Director

Direktur risiko adalah salah satu posisi penting dalam industri keuangan. Tak heran jika gaji yang diterimanya setiap bulan bisa mencapai Rp 180 juta. Posisi yang menangani manajemen risiko ini umumnya menganalisa kebijakan dan prosedur perusahaan untuk memastikan mereka patuh dengan undang-undang dan terhindar risiko dari keuangan.


3. Country Sales Manager

Country Sales Manager bisa dibilang seperti bos kantor cabang. Mereka ditunjuk sebagai perwakilan perusahaan untuk mengurus sales di wilayah-wilayah tertentu. Dalam industri konsumen dan ritel, pekerjaan ini bisa digaji sekitar Rp 175 juta.


4. Vice President Government Relations

Pekerjaan ini berhubungan dengan pemerintah karena itu dibutuhkan ilmu dan pengalaman yang matang terkait bidang. Dibutuhkan kemampuan untuk memantau kebijakan pemerintah, membina hubungan dengan para pejabat hingga lobi untuk mempermudah perizinan. Gajinya bisa mencapai Rp 170 juta.


5. Vice President Data Science

Profesi dengan gaji tertinggi lain di Indonesia adalah wakil presiden untuk tim data science. Data science sendiri memang menjadi salah satu bidang kerja yang makin diminati dan diketahui berpenghasilan besar. Berdasarkan laporan, profesi itu bisa menghasilkan Rp 150 juta per bulan.


6. Head of Corporate Strategy

Kepala Strategi Perusahaan digaji sekitar Rp 150 juta per bulan. Dikatakan jika posisi ini biasanya bertugas untuk melapor pada CEO dan berurusan dengan visi dan strategi perusahaan untuk memastikannya selalu tercapai. Selain Direktur Strategi, Direktur Internal Audit juga memiliki penghasilan serupa.


7. Sales Director

Direktur penjualan adalah orang yang bertanggung jawab dalam hal pengelolaan juga pengawasan fungsi-fungsi penjualan sebuah perusahaan. Mereka harus memastikan bahwa produktivitas dan efektivitas kerja dari tim penjualan berjalan dengan baik. Sales Director rata-rata menerima Rp 150 juta per bulan.


8. Project Director

Direktur Proyek rata-rata juga mendapat gaji Rp 150 juta. Tak jarang salah satu profesi dengan gaji tertinggi di Indonesia itu mengurusi berbagai proyek mulai dari perencanaan, pengadaan, hingga pelaksanaannya. Mereka juga perlu mengerti cara memaksimalkan sumber daya agar proyek berjalan dengan lancar.


9. Operations Director

Direktur lain yang digaji lebih dari Rp 100 juta adalah Direktur Operasi. Berdasarkan laporan, posisi ini menerima Rp 140 juta sebulan. Profesi berikut disebut sebagai jantungnya perusahaan karena mereka mengurusi setiap aspek dari strategi perusahaan dan membantu meraih tujuan strategi selagi menjaga aliran dari operasional.


10. Marketing Director

Meski menempati posisi buncit dalam daftar ini tentu pekerjaan ini tidak mendapat gaji yang tidak sedikit. Menjadi salah satu profesi dengan gaji tertinggi di Indonesia, direktur marketing digaji Rp 120 jutaan. Tugasnya tentu adalah untuk memastikan pemasaran produk berjalan baik sehingga penjualan laris.


Sumber :

https://wolipop.detik.com/worklife/d-5990421/10-profesi-dengan-gaji-tertinggi-di-indonesia-sebulan-lebih-dari-rp-100-juta.

Thursday, August 27, 2020

Chief Operating Officer (COO)

Berkenalan dengan COO dan Tanggung Jawabnya dalam Perusahaan

Pada suatu perusahaan, yang menjadi pucuk pimpinan adalah CEO. Namun, yang bertanggung jawab pada urusan operasional adalah seorang COO. Terdapat berbagai jabatan pada suatu perusahaan atau startup yang menduduki manajemen puncak.

Di antaranya CEO, COO, CFO, hingga CMO. Setiap jabatan memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan bidangnya. Berada pada posisi tersebut, berarti memiliki kendali penuh terhadap kebijakan atau keputusan yang dijalankan di bidang yang dibawahi, tak terkecuali pada bidang operasional

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengertian dan peran COO dalam perusahaan, pada artikel kali ini Glints telah siapkan penjelasan singkatnya untukmu.

Yuk, simak bersama-sama!


Pengertian COO

Bersumber dari Investopedia, COO yang merupakan kependekan dari chief operating officer ini merupakan pimpinan yang bertanggung jawab pada pembuatan keputusan atau kebijakan yang berhubungan dengan tugas operasional perusahaan.

Tugas operasional perusahaan sendiri maksudnya aktivitas sehari-hari pada perusahaan, seperti memastikan produktivitas perusahaan, serta output dari kebijakan perusahaan. Bahkan, tak jarang COO juga turut andil dalam menentukan business plan perusahaan bersama dengan divisi terkait.

Sering kali COO disebut sebagai orang kedua setelah CEO. Di beberapa perusahaan, posisi ini bahkan disebut sebagai “executive vice president”. Di Indonesia sendiri, jika seorang CEO sering pula disebut sebagai direktur utama, COO sering kali disebut sebagai direktur.

Dikarenakan bertanggung jawab dengan keseharian perusahaan, wajar bila COO lebih dekat dengan karyawan di perusahaan. Tak jarang pula, seorang COO bertindak sebagai perantara untuk menyampaikan kebijakan pucuk pimpinan kepada seluruh jajarannya.

Masih dari sumber yang sama, seorang COO juga memegang peranan dalam perkembangan produk, riset, hingga marketing.


Tugas dan Wewenang COO

Pada dasarnya, tanggung jawab seorang COO adalah menentukan kebijakan untuk operasional perusahaan. Pada beberapa kasus, seorang COO dipilih sebagai pelengkap dari seorang CEO. Hal ini dikarenakan CEO berfokus tampil ke hadapan publik dan pemerintah, sedangkan fokus COO adalah urusan internal perusahaan.

Oleh karenanya, tak jarang seorang COO adalah mereka yang memiliki kemampuan teknis yang lebih dari seorang CEO.

Penyebabnya, agar segala kebijakan yang dibuat untuk karyawan tidak mempersulit teknis pengerjaan. Biasanya, seorang COO akan lebih sibuk saat proses pengembangan startup atau perusahaan.

Hal ini karena COO memiliki kewenangan memutuskan kebijakan operasional berdasarkan kondisi bisnis perusahaan. Namun, terdapat beberapa tugas dan wewenang khusus yang juga menjadi tanggung jawab seorang COO, di antaranya:

Dengan berbagai tugas dan kebijakan tersebut, seharusnya seorang COO adalah orang yang berpengalaman dan memiliki pemahaman mendalam tentang berjalannya suatu perusahaan. Meskipun begitu, apa yang dilakukan seorang COO haruslah berdasarkan koordinasi dengan pimpinan lain seperti CFO dan CMO agar tidak terjadi tumpang tindih dalam menjalankan tugasnya.


Peran COO

Sebagai orang berada di level tinggi dalam struktur perusahaan, terdapat beberapa hal lain yang menjadi peran adanya COO dalam suatu perusahaan.

Menurut The Balance Careers, COO ditugaskan untuk peran-peran berikut:

mengeksekusi kebijakan pimpinan
melengkapi peran CEO dalam urusan teknis
mengembangkan calon pimpinan perusahaan
sebagai pengganti CEO untuk peran tertentu


Terlepas dari hal-hal di atas, peran COO secara umum bergantung dari skala perusahaan, hingga kebijakan sang CEO sendiri.

Sangat dimungkinkan, perusahaan berskala kecil tidak membutuhkan COO karena hal tersebut dapat ditangani oleh CEO secara langsung.


Kemampuan yang Harus Dimiliki

Apabila suatu perusahaan memang membutuhkan seorang COO, terdapat beberapa hal yang harus dimiliki oleh orang di posisi itu. Merangkum dari Harvard Business Review, beberapa kemampuan yang harus COO miliki adalah:

1. Kepemimpinan
Sebagai bagian dari pimpinan perusahaan, sudah barang tentu seorang COO harus memiliki jiwa kepemimpinan.

Namun, seorang COO harus bisa menyeimbangkan ego kepemimpinannya.

Bagaimanapun juga, ia bertanggung jawab kepada CEO, pimpinan tertinggi perusahaan. Selain itu, ia juga harus bisa memutuskan kebijakan yang harus dieksekusi oleh seluruh jajaran perusahaan sesuai dengan tugasnya masing-masing.

2. Strategic thinking
Kemampuan lain yang harus dimiliki seorang COO adalah dapat menentukan strategi perusahaan ke depan berdasarkan kondisi perusahaan dan bisnis secara umum.

Bahkan, seorang COO juga dituntut untuk dapat menentukan kebijakan dengan segera ketika terjadi permasalahan teknis tertentu. Namun, keputusan yang diambil tetap harus sejalan dengan visi perusahaan.

3. People management
Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu tugas dari seorang COO adalah mengembangkan SDM karyawan. Hal lain yang juga menjadi tanggung jawabnya adalah memastikan kinerja perusahaan berjalan sesuai dengan strategi ke depan.

Oleh karena itu, seorang COO perlu memiliki kemampuan people management. Ini karena COO perlu mengetahui kemampuan karyawannya, sehingga bisa dikembangkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Tak hanya itu, sebagai jembatan pimpinan dengan karyawan, COO juga harus pandai dalam menyampaikan kebijakan perusahaan. Selain ketiga hal di atas, seorang COO haruslah memiliki kemampuan teknis dan menyeluruh terhadap pengembangan produk, teknologi, riset, hingga marketing.

Hal ini karena seorang COO akan sangat erat dengan pengambilan keputusan dan kebijakan dari hal-hal tadi. Dengan memiliki kemampuan teknis dan menyeluruh terhadap hal-hal tersebut, kebijakan akan jadi lebih tepat sasaran.


Sumber :
https://glints.com/id/lowongan/coo-adalah/#.X0e1wnkzbIU

Chief Executive Officer (CEO)

Apa Itu CEO? Bagaimana Tugas CEO Sebuah Perusahaan?

Dalam suatu perusahaan ada banyak sekali jabatan yang berpengaruh. Jabatan-jabatan tersebut merupakan jabatan yang penting dalam perusahaan. Ada jajaran direksi, komisaris, direktur, dan lainnya. Salah satu jabatan yang sering dikenal adalah CEO, singkatan dari Chief Executive Officer.


Apa Itu CEO?

CEO atau Chief Executive Officer adalah jabatan untuk jajaran eksekutif  tertinggi dalam suatu perusahaan. Tugas dari CEO pun bertanggung jawab atas berjalannya perusahaan. Setiap keputusan diambil oleh CEO dan sebagai CEO juga harus berani mempertanggung jawabkan. Dalam Bahasa Indonesia, CEO juga bisa diartikan sebagai Direktur Utama.

Posisi CEO adalah posisi yang penting dalam perusahaan. Seorang CEO tidak hanya memberi perintah tentang berjalannya perusahaan, tetapi juga harus bisa memimpin perusahaan dengan baik. CEO adalah wajah dari perusahaan karena seorang Chief Executive Officer adalah orang yang memajukan suatu perusahaan.

Note: Ketika Anda akan menjadi CEO, Pahami terlebih dahulu 5 Tren Kepemimpinan 2020 hanya di artikel Talenta.


Tugas-Tugas CEO dalam Perusahaan

CEO memang posisi yang cukup banyak dikenal di dunia bisnis. Tugas-tugas dari CEO perusahaan diantaranya adalah:

1. Sebagai Pemimpin
Tugas utama seorang CEO adalah memimpin perusahaan. Dalam hal ini, CEO harus mampu bertanggung jawab atas perusahaan yang ia pimpin. Menjadi seorang pemimpin juga membuat seorang CEO menjadi visioner. Hal ini dikarenakan CEO harus mempertimbangkan semua langkah perusahaan di masa depan. Penting untuk CEO menjadi orang yang visioner agar perusahaan mampu berkembang dan menjadi yang terdepan. CEO juga harus mampu melakukan inovasi atau perubahan dalam perusahaan. Inovasi tersebut tidak hanya dalam perusahaan, tetapi juga produk yang dikembangkan oleh perusahaan agar perusahaan tidak tertinggal oleh kompetitor dan tetap mendapatkan target pasar yang tepat.

2. Sebagai Komunikator
CEO merupakan jabatan tertinggi di kalangan eksekutif perusahaan. Meskipun dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai direktur utama, tetapi ada juga perusahaan yang memiliki CEO dan Direktur Utama yang berbeda. Karena jabatannya yang tertinggi tersebut, CEO menjadi komunikator antara karyawan perusahaan dan jajaran direksi yang ada dalam perusahaan. CEO harus bisa menyampaikan aspirasi dari pekerja dan menyampaikan solusi yang terbaik agar keduanya bisa berjalan dengan lancar. Tidak hanya itu, seorang CEO juga adalah wajah dari perusahaan. Jadi CEO adalah komunikator antara perusahaan dan dunia luar. Hal ini membuat CEO harus bisa konsisten dengan keputusan yang diambil untuk perusahaan.

3. Sebagai Eksekutor
Eksekutor adalah orang yang berani mengeksekusi sebuah ide atau gagasan. CEO perusahaan akan sangat membutuhkan jiwa eksekutor yang baik. Sebagai CEO, keahlian eksekutor akan sangat dibutuhkan karena suatu perusahaan harus cepat mengambil langkah dan mengeksekusi ide-ide yang ada demi kelancaran bisnis. Tidak hanya itu, sebagai eksekutor, CEO harus mampu untuk memperhitungkan setiap detail dampak positif dan negatif serta langkah-langkah eksekusi ide yang tepat untuk perusahaan.

4. Sebagai Pengelola
Tidak hanya memimpin, seorang CEO harus mampu menjadi pengelola perusahaan. Pengelolaan ini tentunya juga penting untuk berjalannya perusahaan. Pengelolaan yang dimaksud adalah mengelola bagaimana perusahaan mendapatkan pendanaan, material produksi, hingga ke proses pemasaran. Tentu saja akan ada tim divisi di perusahaan yang akan membantu CEO melaksanakan tugasnya. Tetapi seorang CEO akan jauh lebih baik ketika memiliki kontrol dan memahami setiap proses perusahaan dari hulu ke hilir.


Tips dan Cara Menjadi CEO Perusahaan
Ingin Menjadi CEO? Beginilah Caranya Menurut LinkedIn

1. Membangun Tim yang Solid
Sebuah tim yang solid tidak terjadi begitu saja, ada peran CEO yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, seorang CEO harus dapat menjadi jembatan penghubung antara para pegawai dengan dewan direksi dalam perusahaan.

2. Selalu Mewakili Perusahaan
Peran CEO menjadi sangat penting ketika berurusan dengan kualitas produk dan citra perusahaan yang diwakilinya. Dapat dikatakan bahwa seorang CEO adalah wajah dari suatu perusahaan, sehingga keberadaan CEO di publik akan sangat berpengaruh pada opini publik terhadap suatu produk atau perusahaan.

3. Mengalokasi Anggaran Belanja dengan Baik
Rencana investasi finansial suatu perusahaan harus melalui proses analisis dan evaluasi, sehingga distribusi anggaran belanja suatu proyek menjadi tepat sasaran. Proses tersebut merupakan tanggung jawab seorang CEO, sehingga risiko dan keuntungan perusahaan di masa depan menjadi tanggung jawab seorang Chief Executive Officer.

4. Membangun Budaya Kerja yang Positif
Kondisi lingkungan kerja dalam suatu perusahaan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan seorang CEO. Setiap pesan yang disampaikan CEO kepada karyawannya akan sangat bermakna dan berpengaruh terhadap kinerja karyawan perusahaan. Selain itu, CEO juga harus mengetahui dan dan dapat meneliti apa yang sedang terjadi di perusahaan terkait masalah kepegawaian karena akan berpengaruh pada budaya kerja.

Karyawan akan lebih senang ketika seorang CEO benar-benar terlibat dalam proses perusahaan karena CEO adalah wajah dari perusahaan.


Sumber :
https://www.talenta.co/blog/insight-talenta/apa-itu-ceo-bagaimana-tugas-ceo-sebuah-perusahaan/

Monday, August 24, 2020

7 Roles

PLAY YOUR ROLES WELL


Todd Davis

September 2017
Leadership

Have you ever found that success in one area of your life comes at the expense of another area? If so, you may be feeling out of balance or even guilty. Or maybe you’ve neglected a role so long that it’s caused severe relationship damage. Almost everyone I know is challenged by balancing all the critical and important roles they play.

On a recent business trip to New York City, I was lucky enough to see a Broadway play one evening. In line for a ticket, I noticed a play review tacked on the window at will call. The critic had given the lead a 5-star rating: “She authentically embodies the most important qualities of the character.” It made me wonder, what if the important people in my life were to write a review of my performance in each role I play? How many stars would they give me?

Too often, it’s only at life’s meaningful milestones—birthdays, funerals, graduations, etc.—that we deeply reflect on our relationships and the impact our “performance” has on them.  Below are three ways you can balance the roles you play and really focus on the relationships that matters most.


1.      Identify Your Roles. 
Choose the most important roles you play at work and home. Mine include father, son, executive, business coach, spouse, and volunteer. Focus on no more than 5-7 roles at any given time—the only thing that comes from working on too many at once is mediocrity and frustration.

2.      Determine Your Contribution in Each Role. 
Try not to think of your roles in terms of “to-do” lists. Roles are never just about what you do, but are ways through which you express who you are. If a critic were to write a review of your performance, how would they describe your character? Would your actions align with your values? Become your own critic and write a statement for each role describing how you want to be in that role and the contribution you want to make. For example,

Parent: I will create a place of unconditional love so my kids can express their full potential. 
Leader: I will develop and prepare our company’s next generation of leaders.
Project Manager: I will be the person others come to when they want it done right.
Friend: I will listen patiently without judgment, be supportive, and forgive when needed.

3.     Get Feedback. 
Once you have written a statement for each role, identify 1-2 people you influence most when you’re in each role—people whom you trust and from whom you would feel comfortable getting feedback.  Share your contribution statement with each one and ask, From your perspective, what am I doing well? Where am I getting stuck? What might I do more of or less of to earn a 5-star rating? Once you have everyone’s feedback, identify a few actions you will start today to Play Your Roles Well.


When you take a regular inventory of your roles to ensure you’re focused and that you’re making progress toward a meaningful contribution in each one, you will be rewarded with a greater sense of balance, purpose and fulfillment—and your relationships will strengthen as a result.


Sumber: https://www.franklincovey.com/blog/2017/9/29/play_your_roles_well.html#sthash.4khmpEuy.dpuf

Saturday, June 27, 2020

Program Master Super Spesialis

Ssttt... Basuki & Nadiem Lagi Bikin Program Master Super Spesialis

Sabtu, 27 Jun 2020 14:00 WIB

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ingin memanfaatkan politeknik PU yang berada di Semarang untuk menjadi sekolah master super spesialis PUPR.

Dirinya pun mengaku sudah berdiskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim tentang kelas program master.

"Kami sedang dan akan menerima, saya berbincang dengan Menteri Nadiem, mendesain program master super spesialis bidang PUPR," kata Basuki dalam video conference, Sabtu (27/6/2020).

Basuki menyebut, program master spesialis PUPR ini juga nantinya akan dibiayai oleh APBN yang dialokasikan pada anggaran Kementerian PUPR. Adapun alasannya pembukaan program ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

"Ini saya biayai dengan APBN PU dan menurut saya APBN PU ini untuk alokasi pembangunan infrastruktur dan bukan untuk pengembangan SDM," ujarnya.

Basuki menjelaskan, program spesialis PU ini sangat dibutuhkan oleh instansi yang dipimpinnya, khususnya dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan infrastruktur di lapangan.

"Kalau mau pengembangan SDM ada LPDP, jadi staf PU yang mau meneruskan sekolah dengan degree saya minta cari beasiswa, tidak dengan beasiswa APBN PU. APBN PU saya alokasikan khusus untuk benar-benar yang dibutuhkan oleh PU. Ini super spesialis," katanya.

Berikut rencana bidang studi super spesialis di Kementerian PUPR:
1. Rekayasa eksplorasi dan eksploitasi air tanah dalam
2. Geologi struktur bawah tanah dan pemanfaatan ruang bawah Tanah
3. Hidrologi dan drainase pada sistem transportasi jalan
4. Rekayasa jembatan khusus struktur bangunan atas dan bangunan bawah
5. Teknik mitigasi bencana alam likuifaksi
6. Teknik pengelolaan dan mitigasi bencana rawa
7. Rekayasa dan pengendalian morfologi sungai
8. Operasi dan instrumentasi hidrometeorologi bendungan
9. Retrofitting dan instrumentasi keamanan bendungan
10. Preservasi jalan pada kondisi geoteknik tanah sulit
11. Rekayasa pengelolaan dan pengendalian kehilangan air minum


Sumber :
https://finance.detik.com/infrastruktur/d-5070565/ssttt-basuki--nadiem-lagi-bikin-program-master-super-spesialis?tag_from=finance_beritaTerkait

Monday, February 20, 2017

Bos Gen X

Kiat Bekerja dengan Bos Gen X

Hormat saja tak cukup untuk membuat bos ber-Gen X dengan rentang usia 37-48 jatuh hati. Pakar karier Jane Buckingham yang telah lama mengamati perilaku para Gen X, memberikan tips untuk meluluhkan hati mereka.

Bilang “Oke” atau “Ya” di awalHindari banyak nanya sebelum bekerja bila tak ingin dianggap malas oleh bos ber-Gen X. Kata mereka, “Belum dikerjakan kok sudah bilang tidak mengerti?” Biasa bersikap layaknya orang tua, bos ber-gen ini lebih senang merevisi ketimbang memberikan panduan. Yang penting kerjakan dulu, bisa atau tidak urusan nanti.

Do: Ikuti cara bekerjanya walau kita menganggapnya kurang efektif. Sebab, berdebat soal ini hanya akan membuatnya merasa tak dihargai sebagai atasan. Toh, setiap atasan punya cara sendiri yang perlu kita hargai.


Karyawan bukanlah temanSetelah selesai deadline, kita bisa saja mengajak bos Gen Y untuk senang-senang di klub. Sayangnya, jangan berharap akan mendapat kesenangan yang sama bila pergi dengan bos Gen X. Walau ia terlihat ramah, bukan berarti ia telah sepenuhnya membuka diri dan mendengarkan curhatan kita layaknya sahabat. Tanpa disadari, ada batasan-batasan yang mereka buat terhadap anak buahnya.

Do: Walau terkesan asyik, hati-hati untuk bicara blak-blakan pada bos tipe ini. Bisa jadi Anda malah dijejali seribu nasihat meski sebenarnya nasihatnya baik.
Kewajiban dulu baru menuntut hak
Karyawan favorit bos ber-gen ini ialah mereka yang memberikan kontribusi maksimal pada perusahaan, sedikit mengeluh, dan tak banyak menuntut. Berbeda dengan Gen Y yang cukup fair tentang penilaian kinerja atau kenaikan gaji, bos ber-Gen X lebih tertutup soal itu karena merasa canggung.

Do: Saat membicarakan kenaikan gaji atau promosi, hindari kalimat, “Saya merasa pantas untuk itu karena telah menunjukkan kinerja terbaik”. Ganti dengan, “Dengan naik gaji atau promosi, saya yakin bisa memberikan kontribusi lebih pada perusahaan.”


Sama rataHanya 20 persen bos ber-Gen X yang bisa berikap tegas terhadap sikap lalai karyawannya. Lebih senang menyelesaikan masalah dengan sikap kekeluargaan ketimbang to the point. Asyiknya, bos tipe ini cenderung ramah, tapi rentan membuat kita kurang produktif karena iklim kerja yang santai.

Do: Walau sikap mereka kadang terasa kurang adil (karena kurang tegas pada karyawan yang kurang produktif), percayalah kalau bekerja baik tak akan ada ruginya kok. Kalau hasilnya tak dirasakan di perusahaan yang sekarang, karyawan potensial tentu akan mudah dilirik oleh perusahaan lainnya.


Mencari karyawan andalanSekali bos Gen X percaya pada kemampuan Anda, maka siap-siaplah menjadi andalannya saat ada pekerjaan genting.

Do:  Percayalah kalau ia akan sama stresnya dengan kita saat diberi tugas dadakan. Menyanggupi apa yang ditugaskan olehnya akan semakin meningkatkan nilai jual kita di matanya. Namun, bukan berarti ia tak bisa diajak kompromi bila ternyata pekerjaan utama Anda saja masih menumpuk. Bos kan juga manusia, bisa saja lupa, tak salah bila mengingatkannya.

Sumber :
http://female.kompas.com/read/2014/05/13/1056415/Kiat.Bekerja.dengan.Bos.Gen.X.

Thursday, April 21, 2016

10 Perusahaan dengan Gaji Terbesar tahun 2016

10 Perusahaan dengan Gaji Terbesar di Dunia

Jika uang merupakan prioritas utama, maka Anda dapat memilih untuk bekerja di beberapa perusahaan berikut. Data terbaru yang dikeluarkan Glassdor mengungkap beberapa perusahaan teknologi dan konsultan manajemen merajai peringkat perusahaan dengan gaji paling tinggi.

Selain jenis perusahaan, Glassdor juga mengungkap bahwa rata-rata perusahaan tersebut memiliki markas besar di kota-kota besar Amerika. Kota New York dan daerah Sillicon Valey banyak mendominasi daftar tersebut.

Melansir CNNMoney, Kamis (21/4/2016) berikut sepuluh perusahaan dengan gaji paling besar dalam setahun:

10. Cadence Design Systems
Rata-rata tunjangan: US$ 150 ribu atau Rp 1,97 miliar (Kurs: 13.157)
Rata-rata gaji: US$ 140 ribu atau Rp 1,84 miliar

9. Guidewire
Rata-rata tunjangan: US$ 150ribu atau Rp 1,97 miliar
Rata-rata gaji: US $135 ribu atau Rp 1,77 miliar

8. Boston Consulting Group
Rata-rata tunjangan: US$ 150 ribu atau Rp 1,97 miliar
Rata-rata gaji: US$ 147 ribu atau Rp 1,93 miliar

7. Amazon 
Rata-rata tunjangan: US$150 ribu atau Rp 1,97 miliar
Rata-rata gaji: US$ 138 ribu atau Rp 1,81 miliar

6. VMware
Rata-rata tunjangan: US$152 ribu atau Rp 2 miliar
Rata-rata gaji: US$130 ribu atau Rp 1,71 miliar

5. Google
Rata-rata tunjangan: US$153 ribu atau Rp 2,01 miliar
Rata-rata gaji: US$123 ribu atau Rp 1,61 miliar

4. McKinsey & Company
Rata-rata tunjangan: US$155 ribu atau Rp 2,03 miliar
Rata-rata gaji: US$135 ribu atau Rp 1,77 miliar

3. Juniper Networks
Rata-rata tunjangan: US$157 ribu atau Rp 2,06 miliar
Rata-rata gaji: US$135 ribu atau Rp 1,77 miliar

2. Strategy & (Booz & Company)
Rata-rata tunjangan: US$160 ribu atau Rp 2,1 miliar
Rata-rata gaji: US$147 ribu atau Rp 1,93 miliar

1. A.T. Kearney
Rata-rata tunjangan: $167ribu atau Rp 2,19 miliar
Rata-rata gaji: US$143 ribu atau Rp 1,88 miliar


Sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/2488833/10-perusahaan-dengan-gaji-terbesar-di-dunia-mana-saja

Saturday, August 29, 2015

Karier dan Lego


Lego adalah merek dari sebuah mainan bongkar pasang terbuat dari plastik yang mengasyikkan dan menantang, sekarang ini, bukan hanya bagi anak-anak tetapi juga para orang tua.Dengan begitu banyak jenis warna, bentuk, ukuran, dan model, segala jenis benda bisa dibentuk dari potongan plastik tersebut.

Ada dua prinsip kerja yang menarik dari bermain lego.

Pertama, memadumadankan potongan plastik mengikuti arahan gambar dari pabrik yang biasanya disertakan di dalam kemasan.
Kedua, membuat karya sendiri sesuka hati.

Mencermati bagaimana seorang anak dan anak yang lain mengutak-atik lego, kita juga dapat belajar soal pola pikir anak dan dimensi kreatifnya.

Anak-anak yang cenderung memiliki platform baku dalam pola pikir pada umumnya menghasilkan bentuk yang nyaris serupa dari waktu ke waktu. Dia tetap dapat disebut kreatif, namun dengan sedikit kemampuan kompilasi dan mplementasi. Anak yang mampu mereka ulang berbagai macam bentuk berbeda memiliki kemampuan menggagas dan merancang, serta mewujudkan gagasannya.

Bagaimana seorang anak dapat diajar untuk belajar teknik merancang dan mengkonsep?

Pandu anak untuk mengenali bentuk-bentuk dasar dan fungsi bentuk-bentuk dasar dari potongan lego. Dengan berlatih dan sering mengamati orang yang lebih ahli, anak akan terpancing mengembangkan daya kreasinya.

Hal sama terjadi pada manusia dalam proses memberi dan memandu arahan karir seseorang.

Memberikan ide atau saran karir adalah "sangat mudah" kalau kita sekedar memaparkan potensi dari sebuah lowongan kerja seperti proses  menjajakan "barang". Akan tetapi, karir tidaklah melulu bicara soal peluang pasar. Ada banyak hal lain di dalam proses karir, apalagi bilamana dikaitkan dengan faktor ambisi dan persaingan. Kemenangan sesaat di awal langkah karir belum tentu berdampak baik dalam jangka panjang. Ibarat olah raga lari, karir adalah sebuah marathon, bukan sprint.

Jadi, agar paparan soal potensi dan peluang pasar menjadi relevan dengan potensi dan peluang diri, maka pendamping karir (konselor karir) mau tidak mau harus bertemu dengan konseli. Seperti seorang anak yang sedang belajar mengenali bentuk-bentuk potongan plastik lego untuk mereka ulang bangunan, demikianlah seorang yang sedang memetakan masa depan karir atau profesinya diajak untuk melepaskan potongan-potongan dirinya.

Mengajak bicara konseli perihal dirinya sendiri, baik tentang kekecewaan dan kegagalan dia, harapan-harapannya, penghalang-penghalang yang pernah dia temui adalah proses mengenali balok-balok dasar penbentuk sukses karir atau balok-balok dasar penghalang sukses karir.

Beberapa dari konseli, sekalipun mengakui menyadari adanya balok-balok itu, ternyata tetap tak mampu memetakan potensi peluang dan potensi masalah.

Peran seorang konselor dalam pertukaran informasi itu adalah mengajak konseli agar dapat memaparkan sendiri peluang dan tantangan bagi dirinya dengan berbagai teknik bertanya dan empati.

Di titik ini, beberapa berhasil menemukan kunci-kunci solusi, beberapa belum mampu, dan bahkan bisa jadi tambah pusing atau semakin ragu.

Jangan berhenti bedialog, sebelum ada sedikitnya satu saja pengertian khusus yang ditangkap yang dapat dipaparkannya secara gamblang perihal bentuk dasar baru yang dia mengerti bahwa dia dapat melakukannya. Sekalipun itu belum tentu relevan dengan mimpi karirnya, tidak mengapa, karena pada waktunya nanti hal itu akan relevan.

Bilamana proses dialog harus dihentikan sementara, percakapan dapat dihentikan dengan kalimat, "Baiklah, tidak mengapa kita berhenti dulu di sini. Setidaknya kita sudah menemukan bahwa potongan-potongan gagasan, harapan, kekuatiran, kecemasan, sudah kita kenali. Kita akan bertemu lagi pada waktu yang baik dan mendapati bahwa sebagian dari potongan itu sudah kamu temukan relevansinya satu sama lain, sehingga kamu sendiri bisa memutuskan "penting atau tidak pentingnya" mempertahankan sesuatu yang berpotensi masalah padahal belum tentu akan terjadi.

Jadi,
Mengajar diri sendiri memetakan aktivitas ke depan untuk bangunan masa depan kita, sesungguhnya memang mirip dengan cara kerja bermain lego secara bebas. Bongkar dan pasang memadumadankan potongan plastik untuk membuat bentuk baru.

Setiap orang memiliki beban masalahnya sendiri. Belajar dari keberhasilan orang lain itu baik, namun belum tentu juga memastikan keberhasilan Anda. Belajar dari kesalahan dan kegagalan orang lain juga baik, supaya Anda tidak perlu mengikuti jejak gagal. Jadi, yang terpenting dari proses belajar seseorang dengan tumpukan masalah adalah "bukan melihat kepada kunci sukses orang lain" akan tetapi, belajar untuk mampu melihat "potongan2 masalah dirinya secara obyektif dan realistis" untuk melihatnya dalam perspektif yang berbeda.

Intinya:
1. Tidak semua masalah itu penting.
2. Tidak semua hal yang berpotensi masalah itu penting.
3. Tidak berarti bahwa masalah atau potensi masalah itu harus diabaikan.
4. Pemahaman akan masalah dan potensi masalah menuntun kita agar dapat melangkah secara lebih berhikmat dalam memutuskan.

Karena masalah-masalah dalam karir itu sebetulnya sesuatu yang kompleks dari kumpulan masalah sederhana, maka yang seharusnya dilakukan hanyalah memisahkan masalah-masalah sederhana itu satu per satu dan mengesampingkan hal-hal yang tidak relevan dan tidak penting, sehingga dapat fokus kepada kunci-kunci yang sudah ada di dalam diri Anda sendiri.

Jadi, apa hubungannya dengan lego?

Temukan keindahan dari setiap potongan masalah kehidupan Anda hari ini: apa bentukan dasar masalah dan potensi masalah, yang dalam format pola pikir rekonstruksi ulang seperti lego, justru akan mengantar kita kepada potongan dasar terobosan dalam berkreasi.

Temukanlah dan nikmatilah hidup Anda!

Selamat beraktivitas!


Sifra Susi Langi
President Indonesia Career Center 2014 - 2019


Sumber :
Milis The Manager

Saturday, August 22, 2015

Generasi X vs Generasi Y

Strategi Kreatif NET. TV Hadapi Generasi Milenial

Berawal dari kegelisahan bagaimana menghadapi Generasi Milenial, event ini mendapat sambutan yang luar biasa dari Profesional HR di Jakarta dan dihadiri lebih dari 100 Profesional HR, 2 Juli lalu. Pembicara “HR Thursday Talk” kali ini adalah Hery Kustanto, HR Head NET. TV, stasiun televisi yang lebih dari 70% karyawannya berasal dari Generasi Milenial atau Generasi Y. Dari hasil tanya-jawab, ternyata friksi antara Generasi Milenial dengan pendahulu mereka, yakni Generasi X, lebih nyata dari yang dibayangkan.

Generasi X, atau generasi yang lahir antara tahun 1965-1980, pasti tidak asing dengan Catatan Si Boy yang identik dengan BMW seri 3-nya, Lintas Melawai dan Drive-in Ancol. Sebagian besar menggemari Bon Jovi, dan sekarang mulai heboh karena sebentar lagi akan tampil di Jakarta. Generasi X lebih familiar dengan sepatu roda ketimbang inline skate, pernah merasakan ketegangan antara Amerika dan Rusia, tahu bahwa dulu sempat ada Jerman Barat dan Jerman Timur, sempat menonton Unyil sebagai hiburan, dan lain-lain.

Generasi X adalah pemikir-pemikir independen yang tidak menyukai segala bentuk otoritas, generasi yang menggulingkan Orde Baru, dan generasi yang tidak suka meeting berlama-lama dalam suasana formal. Nah, banyak anggota Generasi X kini menjadi pemimpin perusahaan, sementara yang dipimpin adalah Generasi Milenial atau Generasi Y.


Siapakah Generasi Y?

Generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-1995. Generasi ini sudah tak lagi mendengar tentang Perang Dingin atau Cold War, KGB, dan lebih tidak menyukai formalitas jika dibandingkan dengan Generasi X. Generasi ini menuntut fleksibilitas dalam bekerja, mempertanyakan semua keputusan (dan bahkan sangat kritis), lebih mahir berhadapan dengan teknologi dibanding generasi sebelumnya, banyak dipengaruhi kultur musik dan pop, dan sadar fesyen.

Dalam paparannya, Hery Kustanto menjabarkan karakter Generasi Milenial yang menjadi populasi dominan NET. TV sebagai berikut:

Generasi yang melek teknologi (tech savvy)
Memiliki ambisi yang tinggi dan ingin karirnya melejit dengan cepat
Haus perhatian (attention-craving)
Menyukai ruang privasi tanpa sekat
Pencitraan kadang tidak menggambarkan dirinya yang sebenarnya
Mampu melakukan multitasking dan berpikiran luas
Pintar cari uang walau tidak bekerja kantoran
Loyalitas yang kurang stabil
Tidak menyukai birokrasi
Generasi ‘work hard, party hard’
Dalam diskusi hangat ngabuburit tersebut, kami juga sepakat bahwa Generasi Milenial adalah generasi yang:

Kritis; mempertanyakan segala hal setiap saat, berani mempertanyakan keputusan atasan
Sadar fesyen dan dipengaruhi kultur musik dan pop
Memahami penggambaran karakter Generasi Milenial di atas akan sangat membantu bagaimana menghadapi mereka di dunia berkarir. Dari paparan Hery Kustanto, tantangan terberat bagi para Profesional HR mungkin adalah bagaimana mendisiplinkan Generasi Milenial.

“Saya sering mengatakan pada mereka… gak heran kalau kamu ini disebut Y (why) Generation. Sukanya nanya ini itu. Why this, why that. Inginnya bisa segera jadi manajer. Emangnya perusahaan mbahmu?” papar Hery dengan gaya bicaranya yang jenaka.

Masalah kedisiplinan memang menjadi isu yang paling sering dilontarkan saat diskusi HR Thursday Talk. Bahkan dalam sesi diskusi dengan media setelahnya, isu disiplin kembali mencuat dan berkembang menjadi obrolan panas. Awak media terlihat sangat antusias dengan topik ini.

Hebatnya, NET. TV berhasil menerapkan disiplin tinggi di tengah awak Milenialnya. Padahal di satu sisi, mereka juga dituntut untuk bisa atau menjadi pribadi yang super kreatif. Sulit dibayangkan bagaimana menyatukan dua kepribadian ini karena keduanya sangat bertolak belakang; pribadi yang kreatif umumnya jauh dari sikap disipilin, pun sebaliknya mereka yang disiplin dan patuh pada peraturan agak sulit berpikir kreatif.

Lantas bagaimana caranya?

Beberapa kesimpulan dari diskusi sore itu adalah sebagai berikut:

1. Suasana Kerja yang Nyaman

Sudah bukan rahasia bahwa karyawan menuntut suasana kerja yang nyaman, dan Generasi Milenial adalah kelompok yang menuntut lebih. Di NET. TV, upaya ini dilakukan melalui desain interior yang menyerupai kafe. “Sampai-sampai desain kantor kami memenangkan penghargaan,” tutur Hery. Area outdoor juga disediakan bagi karyawan untuk melepas stres.

Di Bukalapak.com, selain makan siang dan sore gratis, karyawan juga diperbolehkan bekerja dari rumah dengan flexible working hour. Kebijakan bekerja dari rumah ini menjadi salah satu topik yang menarik dalam diskusi sore itu, karena tidak semua perusahaan dapat menerapkannya.

Friksi seringkali terjadi ketika seorang Head yang berasal dari Generasi X memiliki tim yang berasal dari Generasi Milenial dan sudah terlanjur nyaman dengan pilihan bekerja dari rumah. Generasi X terkadang menganggap mereka sebagai slackers atau pemalas. Di sinilah peran HR sebagai talent development kembali diuji; bagaimana menghadirkan suasana kerja yang nyaman bagi kedua generasi. Jangan kebablasan.

Sementara itu di NET. TV bisa dibilang tidak ada jam kerja. “Karena kami media TV, jam kerja tidak standar. Namun bukan berarti karyawan bisa masuk dan pulang kantor seenaknya. Jam kerja tergantung dari program apa yang sedang dikerjakan. Tak jarang, mereka yang baru pertama kali berkarir di media TV shock dengan pola jam kerja ini,” jelas Hery.

2. Keterlibatan CEO sebagai Sosok Inspiratif

NET. TV menilai keterlibatan seorang CEO merupakan salah satu kunci dalam mendisplinkan Generasi Milenial. CEO NET. TV dipandang sangat terlibat dan dekat dengan generasi ini; selalu hadir dalam pertemuan formal dan informal. “CEO kita sampai jadi idola karyawan baru Generasi Milenial,” aku Hery.

Dalam sebuah buku berjudul The Nordstrom Way tentang kisah sukses Nordstrom, salah satu retailer besar di Amerika, dijelaskan bahwa—berbeda dengan Walmart—Nordstrom lebih melayani konsumen premium. Pendekatan Nordstrom sangat personal, dan untuk bisa menularkan value tersebut kepada karyawan, CEO Blake Nordstrom memperlakukan karyawannya dengan personal pula. Dalam proses induction, sang CEO tidak segan-segan menemui karyawan secara langsung dan memberi sambutan serta insights. Dalam buku tersebut juga digambarkan bagaimana Blake mengatakan kepada para karyawan baru, “Gunakan uang saya bila perlu, supaya kamu bisa lebih dekat dengan konsumen.”

3. Update Berkala

Generasi Milenial adalah generasi yang kritis, sehingga ingin dilibatkan dalam update berkala manajemen perihal kondisi dan performa perusahaan. “Mereka selalu ingin tahu, ‘Perusahaan kita ini gimana sih? Sudah sampai mana?  Untung gak?’” jelas Hery.

Pendekatan serupa diaplikasikan oleh EMTEK Group yang mengenalkan istilah Town Hall pada karyawannya, yakni sebuah agenda rutin bagi pihak manajemen yang diwakili CEO memberikan performance update perusahaan. Kebiasaan ini ternyata mampu menumbuhkan sense of ownership yang tinggi dan memotivasi karyawan untuk terus berkarya.

4. Pendekatan Kreatif

NET. TV bisa dianggap sukses mengaplikasikan pendekatan-pendekatan kreatifnya; mulai dari seragam hingga pelatihan militer untuk karyawan baru.

“Tapi ya desain seragamnya harus keren! Kalau gak, mereka gak mau pakai,” jelas Hery. Terlihat memang NET. TV cukup niat dalam pengaplikasian seragam. Penampilan timnya bak prajurit yang siap tempur. Tak tanggung-tanggung, sepatu pun diseragamkan dengan memakai 5.11 Tactical Boots; merek favorit penggemar permainan airsoft gun.

Pelatihan militer pun diberikan kepada karyawan baru sebagai bentuk usaha penegakan disiplin; karyawan baru akan menghabiskan beberapa hari bersama Kopassus atau Marinir. “Awalnya mereka protes, tapi setelah mengikuti latihan militer ini, mereka sampai menangis ketika harus berpisah dengan pelatih mereka di kesatuan,” cerita Hery yang ternyata kerap menerima telepon dari orang tua Generasi Milenial yang mengucapkan banyak terima kasih karena anak-anak mereka kini lebih disiplin.

5. Performance Review yang Tidak Kaku

Untuk mengakomodir sifat Generasi Milenial yang ambisius dan maunya serba instan, NET. TV tidak ingin mengaplikasikan performance review yang kaku. Review yang umumnya dilakukan setahun sekali, di NET. TV dilakukan setahun dua kali. Tidak heran, seorang karyawan yang bergabung pada bulan Maret 2013, dalam dua tahun bisa naik dari Junior Reporter, Reporter, Senior Reporter, hingga Junior Producer.


Demikian beberapa kiat memahami dan menghadapi Generasi Milenial, bagaimana mendapatkan talenta dan mengidentifikasi karakter yang akan menjadi penerus dan pemimpin perusahaan. Terima kasih kepada Hery Kustanto dari NET. TV yang telah bersedia memberikan insights-nya yang sangat berharga dalam sesi HR Thursday Talk persembahan Karir.com bagi dunia HR Indonesia. (Dino Martin)


Sumber:
http://blog.karir.com/2015/07/06/strategi-kreatif-net-tv-hadapi-generasi-milenial/

Sales vs Marketing

Pilih Mana? Berkarir di Sales atau Marketing?

Berkarir di dunia marketing awalnya nampak menyenangkan. Sebagian orang yang baru akan merintis karir di dunia marketing mungkin berpikir bahwa tugas Tim Marketing hanya sebatas memikirkan strategi, perencanaan dan duduk-duduk santai di kantor. Kalau penjualan tidak masuk target, bukan Tim Marketing yang disalahkan, tapi Tim Sales. Kalau terjadi pengurangan karyawan, Tim Produksi dan Sales yang kena duluan, baru mungkin setelahnya Marketing.

Namun jangan salah, ternyata Tim Marketing tidak hanya dipercaya, namun juga dituntut untuk dapat mengembalikan situasi yang paling sulit sekalipun. Tim Marketing harus bisa menganalisa situasi dan berpikir di luar batas rutinitas untuk mampu mencari jalan keluar dengan strategi-strategi brilian.


Marketing & Branding

Pada dasarnya marketing adalah aktivitas untuk membangun sebuah brand atau reputasi. Branding adalah inti dari marketing.

Sebelum berkarir di Jakarta, saya pernah berbisnis laser disc rental di Yogyakarta. Saat itulah saya menyadari pentingnya branding untuk membangun sebuah bisnis  yang sukses. Bisnis ini memang sedang booming pada pertengahan tahun 90-an, dan saya bukan pemain pertama. Jika bukan menjadi yang pertama, jadilah yang pertama di kategori lain, atau dengan kata lain, carilah pembeda yang relevan dan konsisten. Pembeda brand saya (Disc House) waktu itu cukup sederhana; tidak ada sistem denda apapun. Terdengar nekad memang, namun saya sudah memikirkan strategi jalan keluarnya.

Untuk meminimalisir nilai kerugian yang dihasilkan dari keterlambatan pengembalian, saya menerapkan sistem insentif bagi pelanggan yang mengembalikan tepat waktu. Namanya “kupon tertib.” Dengan mengumpulkan kupon tertib, pelanggan bisa mendapatkan beragam hadiah; yang paling sederhana yaitu bisa meminjam lagi secara cuma-cuma. Saya juga menawarkan “money-back guarantee” bagi pelanggan yang sudah terlanjur meminjam film namun ternyata tidak suka dengan filmnya (atau salah judul, atau alasan apapun), jika dikembalikan dalam waktu 3 jam, dapat ditukar dengan film lain tanpa biaya tambahan.

Ide sederhana itu hasilnya cukup dahsyat; brand Disc House cepat dikenal, dan reputasinya demikian cepat terbangun.

Di dunia korporasi yang lebih besar, penerapan marketing tentunya lebih kompleks. Saat masuk dunia perbankan, yakni saat saya bergabung dengan Bank Universal, salah satu bank swasta nasional yang waktu itu cukup ternama dan terkenal dengan inovasi produk dan teknologinya, saya tidak hanya berurusan dengan staf toko yang hanya delapan orang. Berkarir di bank sekelas Universal, saya berhadapan dengan ribuan karyawan. Bayangkan bagaimana harus menyatukan visi ribuan orang dengan beragam latar belakang pendidikan dan kultur.

Karena inti marketing tetap sama, yaitu bagaimana bisa membangun brand yang kuat, sementara brand sangat diwakili oleh para pelaku brand yang tidak lain adalah para karyawan perusahaan itu sendiri, kalau hanya sekelas toko dengan delapan orang karyawan, mudah mengaturnya; semua nurut, lah wong saya pemiliknya. Bagaimana dengan korporasi besar, dan saya hanyalah kroco yang baru saja lulus? Saat itulah saya sadar bahwa berkarir di marketing tidak semudah yang saya bayangkan.

Membangun sebuah brand yang kuat itu bagai memainkan sebuah simfoni berkelas yang para pemainnya adalah seluruh karyawan.

Pengalaman membangun brand saya rasakan betul ketika saya berkarir di perusahaan-perusahaan hebat seperti Bank Universal, British American Tobacco, Ericsson, L’Oreal dan BMW. Saya baru bertanggung jawab secara de facto terhadap fungsi Sales ketika saya berkarir di BMW. Direkrut sebagai Head of Marketing, saya menutup karir di BMW sebagai VP Sales and Marketing tahun 2008. Akan tetapi, peran saya di dunia sales sudah terbangun sejak pertama kali berkarir di Bank Universal.


Marketing VS Sales

Marketing dan sales itu ibarat orang pacaran, pasangan yang kadang berselisih pendapat, bertengkar, tapi saling membutuhkan.

Tim Marketing yang baik harus bisa meyakinkan konsep brand-nya kepada Tim Sales terlebih dahulu, sebelum bisa menjualnya ke pasar. Hal ini tidak berarti bahwa Tim Sales adalah titik tumpu pengembangan ide; semua tetap harus berfokus pada target pasar. Peranan Tim Sales adalah memberikan input dan masukan. Saat input dan masukan dari Tim Sales ternyata tidak sesuai harapan, saat itulah biasanya “ribut” dimulai. Tim Sales tidak setuju dengan ide Marketing, lalu menjalankan program atau aktivitas dengan ogah-ogahan. Ketika program gagal, Tim Sales berpikir Tim Marketing memaksakan ide konyolnya, padahal mungkin bisa saja implementasinya yang kurang baik karena tidak percaya diri dari awal.

Sales adalah dunia yang unik dan penuh karakter. Kalau banyak orang bilang bahwa Tim Marketing adalah sekelompok orang kreatif, bagi saya Tim Sales tidak kalah kreatif. Menjelang akhir bulan, saat target belum tercapai, saya jamin otak kreatif mereka akan bekerja, meski pada prakteknya ada ide kreatif yang berhasil, dan ada pula yang gagal dan berbuah pada kerugian.

Sejak awal berkarir, saya selalu ingin menciptakan hubungan kerja profesional yang harmonis, terutama dengan rekan paling dekat, yaitu Tim Sales. Saya pun banyak melakukan koordinasi dengan mereka, mendengarkan masukan dan menjadikannya pertimbangan dalam menciptakan program marketing yang efektif. Berkat itu, sedikit banyak saya memahami dunia sales juga, dan semakin akrab hingga akhirnya fungsi ini menjadi tanggung jawab saya juga.

Berbeda dengan marketing, saya menemukan berkarir di sales mewajibkan pelakunya menjadi pribadi yang super dinamis dan kreatif. Pilihan karir ini juga memberikan kesempatan untuk belajar banyak ilmu seperti negosiasi, komunikasi, customer relationship management, complaint handling, conflict management dan lain-lain, yang tentunya sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Peranan sales sekarang pun telah banyak bergeser dari pola traditional sales yang hanya mengenal kejar target, menjadi seorang konsultan yang dituntut mampu memberikan solusi kepada pelanggan. Sales tidak melulu hanya soal jualan.

Berikut penjabaran perbedaan perilaku pelaku traditional sales dan modern sales:

Berkarir di Sales atau Marketing



Plus Minus

Dunia marketing sering dilihat sebagai dunia yang lebih glamor ketimbang sales. Padahal prakteknya kalau teman-teman sales berhasil mencapai target, mereka biasa jalan-jalan ke luar negeri.

Berkarir di marketing banyak melibatkan analisa dan market understanding, hingga bertemu dengan beragam agensi, mulai dari riset sampai agency public relation, juga terlibat di berbagai produksi, seperti sesi foto dan video shooting. Pulang malam sudah biasa buat Tim Marketing.

Berkarir di sales banyak bertemu orang dengan beragam latar belakang dan bertemu beragam kebudayaan, karena besar kemungkinan Tim Sales yang berprestasi akan dirotasi ke daerah lain. Tim Sales juga banyak menjamu klien atau pelanggan, dan di beberapa industri, Tim Sales harus cukup akrab dengan dunia malam.

Ketika saya menjadi head hunter, banyak anak Sales yang meminta saya untuk memindahkan mereka ke marketing karena merasa capek dan ingin mendapatkan suasana baru. Sayangnya tidak semudah itu; bukan karena seseorang tidak kompeten berkarya di marketing, tapi lebih karena skill set yang sudah terbangun akan sayang sekali jika tidak terus dikembangkan.

Menghadapi kandidat, jarang memang ada permintaan berpindah dari marketing ke sales. Seorang Sales adalah seorang “people person” yang juga kini dituntut mahir memberikan konsultasi yang baik kepada klien, sementara seorang Marketing adalah seorang analis yang mengerti betul kondisi pasar dan konsumennya.

Apapun pilihan karirmu, jalankan dengan sepenuh hati. (Dino Martin)


Sumber:
http://blog.karir.com/2015/07/06/pilih-mana-berkarir-di-sales-atau-marketing/

Related Posts