Showing posts with label Performance. Show all posts
Showing posts with label Performance. Show all posts

Thursday, April 25, 2024

Tips dan Strategi Efektif untuk Meningkatkan Percaya Diri


Meningkatkan Percaya Diri saat Bimbingan Belajar Offline: Tips dan Strategi Efektif.

Bimbingan belajar offline seringkali menjadi pilihan bagi banyak siswa yang mencari bantuan tambahan dalam pendidikan mereka. Namun, bagi sebagian orang, menghadiri sesi bimbingan belajar bisa menjadi pengalaman yang menantang, terutama jika mereka merasa kurang percaya diri. 

Dalam video ini, kami akan membahas cara-cara praktis untuk meningkatkan percaya diri Anda saat mengikuti bimbingan belajar offline, sehingga Anda dapat memaksimalkan manfaat dari pengalaman belajar Anda.

Percaya diri adalah kualitas yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan dan kesejahteraan pribadi. Ketika seseorang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi, ia cenderung lebih berani menghadapi tantangan, mengambil risiko yang dibutuhkan, dan meraih peluang yang ada di hadapannya.

Percaya diri adalah fondasi bagi kesuksesan dalam setiap aspek kehidupan. Ketika seseorang percaya pada kemampuan dan potensi dirinya sendiri, ia cenderung bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses. Dengan memiliki tingkat percaya diri yang tinggi, seseorang dapat meraih prestasi yang lebih besar dalam karir, pendidikan, dan kehidupan pribadi.

Berikut adalah Tips dan Strategi Efektif untuk Meningkatkan Percaya Diri.

1. Kenali Kelemahan dan Kekuatan Anda.

Langkah pertama untuk meningkatkan percaya diri Anda adalah dengan mengenali kelemahan dan kekuatan Anda. Ketika Anda menyadari area mana yang perlu diperbaiki dan di mana Anda telah berprestasi, Anda dapat fokus pada pengembangan diri Anda. Selain itu, mengingat kembali pencapaian Anda yang lalu juga dapat memberikan dorongan tambahan untuk percaya diri.

2. Persiapkan Diri Anda dengan Baik.

Persiapan yang matang adalah kunci untuk merasa lebih percaya diri. Pastikan Anda mempersiapkan diri sebelum menghadiri sesi bimbingan belajar dengan membaca materi yang akan dibahas, memahami pertanyaan yang ingin Anda ajukan, dan menyiapkan catatan atau pertanyaan tambahan yang mungkin Anda miliki. Semakin banyak Anda mempersiapkan diri, semakin percaya diri Anda akan menjadi.

3. Jalin Hubungan dengan Pengajar dan Teman Sebaya.

Membangun hubungan yang baik dengan pengajar dan teman sebaya dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri Anda. Berinteraksi dengan pengajar secara aktif, bertanya tentang materi yang sulit dipahami, dan berpartisipasi dalam diskusi kelas dapat membantu Anda merasa lebih nyaman dalam lingkungan bimbingan belajar. Selain itu, berkolaborasi dengan teman sebaya untuk memecahkan masalah atau mengerjakan tugas bersama juga bisa meningkatkan kepercayaan diri Anda.

4. Tetaplah Positif dan Terbuka terhadap Umpan Balik.

Penting untuk tetap positif dan terbuka terhadap umpan balik yang diberikan oleh pengajar dan teman sebaya. Terima kritik dengan lapang dada dan gunakan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Ingatlah bahwa setiap kesalahan adalah pelajaran yang berharga dan merupakan bagian dari proses belajar.

5. Latihlah Keterampilan Sosial Anda.

Keterampilan sosial yang baik juga dapat membantu Anda merasa lebih percaya diri saat mengikuti bimbingan belajar offline. Latihlah keterampilan seperti berbicara di depan umum, mendengarkan dengan baik, dan berkomunikasi dengan jelas dan efektif. Semakin baik Anda dalam berinteraksi dengan orang lain, semakin nyaman Anda akan merasa dalam lingkungan bimbingan belajar.

6. Tetaplah Konsisten dan Bertekad.

Terakhir, tetaplah konsisten dan bertekad untuk terus meningkatkan percaya diri Anda. Ingatlah bahwa rasa percaya diri bukanlah sesuatu yang datang secara instan, tetapi merupakan hasil dari usaha dan ketekunan yang terus menerus. Teruslah berlatih dan mencari pengalaman baru untuk mengembangkan percaya diri Anda.


Tantangan dan kegagalan adalah bagian alami dari kehidupan, tetapi bagi orang yang percaya diri, mereka dianggap sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh. Ketika seseorang memiliki percaya diri yang kuat, ia cenderung lebih mudah menghadapi rintangan dan tidak menyerah saat menghadapi kegagalan. Sebaliknya, ia melihat kegagalan sebagai langkah menuju kesuksesan dan tetap bertekad untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Percaya diri juga berdampak positif pada kesejahteraan emosional seseorang. Ketika seseorang merasa percaya diri, ia cenderung lebih bahagia, lebih optimis, dan lebih puas dengan hidupnya secara keseluruhan. Hal ini karena percaya diri membantu seseorang merasa lebih berharga dan mampu mengatasi stres dan tekanan yang mungkin dialaminya.

Percaya diri juga memainkan peran penting dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Orang yang percaya diri cenderung lebih mudah bergaul, lebih berani berbicara dengan jujur, dan lebih mampu mengungkapkan diri dengan baik. Hal ini dapat membantu dalam membangun hubungan yang kuat dan mendukung dalam kehidupan pribadi dan profesional.

Akhirnya, meningkatkan percaya diri juga dapat membuka pintu untuk peluang baru dalam kehidupan seseorang. Orang yang percaya diri cenderung lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih berani mengambil risiko, dan lebih mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meraih impian mereka. Dengan memiliki tingkat percaya diri yang tinggi, seseorang dapat menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan dan bermakna.


Dengan menerapkan tips dan strategi ini, Anda dapat meningkatkan percaya diri Anda saat menghadiri bimbingan belajar offline dan meraih hasil yang lebih baik dalam pendidikan Anda. Semoga video ini bermanfaat bagi Anda dan dapat membantu Anda mencapai potensi penuh Anda dalam belajar!

Sunday, September 29, 2019

Reinventing Performance Management


Marcus BuckinghamAshley Goodall
April 2015 Issue

At Deloitte we’re redesigning our performance management system. This may not surprise you. Like many other companies, we realize that our current process for evaluating the work of our people—and then training them, promoting them, and paying them accordingly—is increasingly out of step with our objectives.

In a public survey Deloitte conducted recently, more than half the executives questioned (58%) believe that their current performance management approach drives neither employee engagement nor high performance. They, and we, are in need of something nimbler, real-time, and more individualized—something squarely focused on fueling performance in the future rather than assessing it in the past.

What might surprise you, however, is what we’ll include in Deloitte’s new system and what we won’t. It will have no cascading objectives, no once-a-year reviews, and no 360-degree-feedback tools. We’ve arrived at a very different and much simpler design for managing people’s performance. Its hallmarks are speed, agility, one-size-fits-one, and constant learning, and it’s underpinned by a new way of collecting reliable performance data. This system will make much more sense for our talent-dependent business. But we might never have arrived at its design without drawing on three pieces of evidence: a simple counting of hours, a review of research in the science of ratings, and a carefully controlled study of our own organization.

Counting and the Case for Change
More than likely, the performance management system Deloitte has been using has some characteristics in common with yours. Objectives are set for each of our 65,000-plus people at the beginning of the year; after a project is finished, each person’s manager rates him or her on how well those objectives were met. The manager also comments on where the person did or didn’t excel. These evaluations are factored into a single year-end rating, arrived at in lengthy “consensus meetings” at which groups of “counselors” discuss hundreds of people in light of their peers.

Internal feedback demonstrates that our people like the predictability of this process and the fact that because each person is assigned a counselor, he or she has a representative at the consensus meetings. The vast majority of our people believe the process is fair. We realize, however, that it’s no longer the best design for Deloitte’s emerging needs: Once-a-year goals are too “batched” for a real-time world, and conversations about year-end ratings are generally less valuable than conversations conducted in the moment about actual performance.

But the need for change didn’t crystallize until we decided to count things. Specifically, we tallied the number of hours the organization was spending on performance management—and found that completing the forms, holding the meetings, and creating the ratings consumed close to 2 million hours a year. As we studied how those hours were spent, we realized that many of them were eaten up by leaders’ discussions behind closed doors about the outcomes of the process. We wondered if we could somehow shift our investment of time from talking to ourselves about ratings to talking to our people about their performance and careers—from a focus on the past to a focus on the future.

The Science of Ratings
Our next discovery was that assessing someone’s skills produces inconsistent data. Objective as I may try to be in evaluating you on, say, strategic thinking, it turns out that how much strategic thinking I do, or how valuable I think strategic thinking is, or how tough a rater I am significantly affects my assessment of your strategic thinking.

How significantly? The most comprehensive research on what ratings actually measure was conducted by Michael Mount, Steven Scullen, and Maynard Goff and published in the Journal of Applied Psychology in 2000. Their study—in which 4,492 managers were rated on certain performance dimensions by two bosses, two peers, and two subordinates—revealed that 62% of the variance in the ratings could be accounted for by individual raters’ peculiarities of perception. Actual performance accounted for only 21% of the variance. This led the researchers to conclude (in How People Evaluate Others in Organizations, edited by Manuel London): “Although it is implicitly assumed that the ratings measure the performance of the ratee, most of what is being measured by the ratings is the unique rating tendencies of the rater. Thus ratings reveal more about the rater than they do about the ratee.” This gave us pause. We wanted to understand performance at the individual level, and we knew that the person in the best position to judge it was the immediate team leader. But how could we capture a team leader’s view of performance without running afoul of what the researchers termed “idiosyncratic rater effects”?

Putting Ourselves Under the Microscope
We also learned that the defining characteristic of the very best teams at Deloitte is that they are strengths oriented. Their members feel that they are called upon to do their best work every day. This discovery was not based on intuitive judgment or gleaned from anecdotes and hearsay; rather, it was derived from an empirical study of our own high-performing teams.

Our study built on previous research. Starting in the late 1990s, Gallup conducted a multiyear examination of high-performing teams that eventually involved more than 1.4 million employees, 50,000 teams, and 192 organizations. Gallup asked both high- and lower-performing teams questions on numerous subjects, from mission and purpose to pay and career opportunities, and isolated the questions on which the high-performing teams strongly agreed and the rest did not. It found at the beginning of the study that almost all the variation between high- and lower-performing teams was explained by a very small group of items. The most powerful one proved to be “At work, I have the opportunity to do what I do best every day.” Business units whose employees chose “strongly agree” for this item were 44% more likely to earn high customer satisfaction scores, 50% more likely to have low employee turnover, and 38% more likely to be productive.

-

Di Deloitte kami merancang ulang sistem manajemen kinerja kami. Ini mungkin tidak mengejutkan Anda. Seperti banyak perusahaan lain, kami menyadari bahwa proses kami saat ini untuk mengevaluasi pekerjaan karyawan kami — dan kemudian melatih mereka, mempromosikan mereka, dan membayar mereka sesuai itu — semakin tidak sesuai dengan tujuan kami.

Dalam survei publik yang dilakukan Deloitte baru-baru ini, lebih dari setengah eksekutif yang ditanyai (58%) percaya bahwa pendekatan manajemen kinerja mereka saat ini tidak mendorong keterlibatan karyawan maupun kinerja tinggi. Mereka, dan kami, membutuhkan sesuatu yang lebih gesit, real-time, dan lebih individual — sesuatu yang benar-benar terfokus pada peningkatan kinerja di masa depan daripada menilai di masa lalu.

Namun, yang mungkin mengejutkan Anda adalah apa yang akan kami sertakan dalam sistem baru Deloitte dan apa yang tidak akan kami dapatkan. Ini tidak akan memiliki tujuan berjenjang, tidak ada ulasan sekali setahun, dan tidak ada alat umpan balik 360 derajat. Kami tiba di desain yang sangat berbeda dan jauh lebih sederhana untuk mengelola kinerja orang. Keunggulannya adalah kecepatan, kelincahan, satu ukuran cocok, dan pembelajaran konstan, dan didukung oleh cara baru mengumpulkan data kinerja yang andal. Sistem ini akan jauh lebih masuk akal untuk bisnis yang bergantung pada bakat kita. Tetapi kita mungkin tidak akan pernah sampai pada desainnya tanpa menggambar pada tiga lembar bukti: penghitungan sederhana jam, tinjauan penelitian dalam ilmu penilaian, dan studi yang dikendalikan dengan cermat dari organisasi kita sendiri.

Counting and the Case for Change
Kemungkinan besar, sistem manajemen kinerja yang digunakan Deloitte memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan Anda. Tujuan ditetapkan untuk masing-masing dari 65.000 orang kami pada awal tahun; setelah proyek selesai, manajer masing-masing orang menilai dia tentang seberapa baik tujuan-tujuan tersebut tercapai. Manajer juga mengomentari di mana orang itu melakukan atau tidak unggul. Evaluasi-evaluasi ini diperhitungkan dalam satu peringkat akhir tahun, tiba pada “pertemuan konsensus” yang panjang di mana kelompok-kelompok “penasihat” mendiskusikan ratusan orang dengan mempertimbangkan rekan-rekan mereka.

Umpan balik internal menunjukkan bahwa orang-orang kami menyukai prediksi proses ini dan fakta bahwa karena setiap orang ditugaskan sebagai penasihat, ia memiliki perwakilan di rapat konsensus. Sebagian besar orang kami percaya prosesnya adil. Kami menyadari, bagaimanapun, bahwa itu bukan lagi desain terbaik untuk kebutuhan Deloitte yang sedang muncul: tujuan setahun sekali terlalu "padat" untuk dunia waktu-nyata, dan percakapan tentang peringkat akhir tahun umumnya kurang bernilai daripada percakapan yang dilakukan di momen tentang kinerja aktual.

Tetapi kebutuhan untuk perubahan tidak mengkristal sampai kami memutuskan untuk menghitung hal-hal. Secara khusus, kami menghitung jumlah jam yang dihabiskan organisasi untuk manajemen kinerja — dan menemukan bahwa mengisi formulir, mengadakan rapat, dan membuat peringkat yang dikonsumsi hampir 2 juta jam setahun. Ketika kami mempelajari bagaimana jam-jam itu dihabiskan, kami menyadari bahwa banyak dari mereka yang dimakan oleh diskusi para pemimpin di balik pintu tertutup tentang hasil dari proses tersebut. Kami bertanya-tanya apakah kami dapat mengalihkan investasi waktu dari berbicara kepada diri sendiri tentang peringkat menjadi berbicara dengan karyawan tentang kinerja dan karier mereka — dari fokus di masa lalu ke fokus di masa depan.

The Science of Ratings
Penemuan kami berikutnya adalah bahwa menilai keterampilan seseorang menghasilkan data yang tidak konsisten. Walaupun saya mungkin mencoba untuk mengevaluasi Anda tentang, katakanlah, pemikiran strategis, ternyata seberapa banyak pemikiran strategis yang saya lakukan, atau betapa berharganya pemikiran strategis saya, atau seberapa tangguh seorang penilai, saya secara signifikan memengaruhi penilaian saya terhadap Anda. pemikiran strategis.

Seberapa signifikan? Penelitian paling komprehensif tentang apa yang sebenarnya diukur oleh peringkat dilakukan oleh Michael Mount, Steven Scullen, dan Maynard Goff dan diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology pada tahun 2000. Studi mereka — di mana 4.492 manajer dinilai pada dimensi kinerja tertentu oleh dua bos, dua teman sebaya, dan dua bawahan — mengungkapkan bahwa 62% varian dalam peringkat dapat dipertanggungjawabkan oleh kekhasan persepsi penilai individu. Kinerja aktual hanya menyumbang 21% dari varians. Hal ini mengarahkan para peneliti untuk menyimpulkan (dalam Bagaimana Orang Mengevaluasi Orang Lain dalam Organisasi, diedit oleh Manuel London): “Meskipun secara implisit diasumsikan bahwa peringkat mengukur kinerja ratee, sebagian besar yang diukur dengan peringkat adalah peringkat unik kecenderungan penilai. Dengan demikian peringkat mengungkapkan lebih banyak tentang penilai daripada yang dilakukan pada ratee. ”Ini memberi kami jeda. Kami ingin memahami kinerja di tingkat individu, dan kami tahu bahwa orang yang berada di posisi terbaik untuk menilai itu adalah pemimpin tim langsung. Tetapi bagaimana kita bisa menangkap pandangan pemimpin tim tentang kinerja tanpa melanggar apa yang disebut oleh peneliti sebagai "efek rater istimewa"?

Putting Ourselves Under the Microscope
Kami juga belajar bahwa ciri khas dari tim terbaik di Deloitte adalah bahwa mereka berorientasi pada kekuatan. Anggota mereka merasa bahwa mereka dipanggil untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka setiap hari. Penemuan ini tidak didasarkan pada penilaian intuitif atau diperoleh dari anekdot dan desas-desus; melainkan berasal dari studi empiris tim kami yang berkinerja tinggi.

Studi kami dibangun berdasarkan penelitian sebelumnya. Dimulai pada akhir 1990-an, Gallup melakukan pemeriksaan multi-tahun dari tim berkinerja tinggi yang akhirnya melibatkan lebih dari 1,4 juta karyawan, 50.000 tim, dan 192 organisasi. Gallup mengajukan pertanyaan kepada tim yang berkinerja tinggi dan yang lebih rendah pada banyak subjek, dari misi dan tujuan untuk membayar dan peluang karir, dan mengisolasi pertanyaan-pertanyaan di mana tim berkinerja tinggi sangat setuju dan sisanya tidak. Ditemukan di awal penelitian bahwa hampir semua variasi antara tim berkinerja tinggi dan rendah dijelaskan oleh sekelompok item yang sangat kecil. Yang paling kuat terbukti sebagai "Di tempat kerja, saya memiliki kesempatan untuk melakukan yang terbaik yang saya lakukan setiap hari." Unit bisnis yang karyawannya memilih "sangat setuju" untuk item ini adalah 44% lebih mungkin untuk mendapatkan skor kepuasan pelanggan yang tinggi, 50 % lebih cenderung memiliki tingkat pergantian karyawan yang rendah, dan 38% lebih cenderung produktif.


Sumber :
https://hbr.org/2015/04/reinventing-performance-management
https://trainingindustry.com/articles/workforce-development/reinventing-performance-management/

Sunday, November 19, 2017

Key Success Factors

College Ranking Not Among Millionaires’ Key Success Factors

By Thomas J. Stanley

Hasil penelitian dari Thomas J. Stanley, Ph.D, mengatakan bahwa dari 100 faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, IQ hanya di urutan ke-21, bersekolah di sekolah favorit di urutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik cuma faktor sukses di urutan ke-30.

In a Wall Street Journal article, Richard D. Kahlenberg mentioned that:

A significantly larger portion rated a variety of success factors as being very important, including:

being honest with all people  5.5X
being well disciplined  5.1X
loving my career/business  5.1X
working harder than most  4.8X
getting along with people  4.7X
having a very competitive spirit/personality  4.5X
having strong leadership qualities  4.3X

Sedangkan 10 faktor utama yang berpengaruh terhadap kesuksesan adalah sebagai berikut :
1. Jujur
2. Disiplin
3. Gaul (Good interpersonal Skill)
4. Dukungan dari pasangan hidup
5. Bekerja lbh keras dari yg lain
6. Mencintai apa yg dikerjakan
7. Kepemimpinan yg baik & kuat (Good & Strong Leadership)
8. Semangat & berkepribadian kompetitif
9. Pengelolaan kehidupan yg baik (Good life management)
10. Kemampuan menjual gagasan & produk (Abilty to sell idea or product)


Sumber :
http://www.thomasjstanley.com/2012/12/college-ranking-not-among-millionaires-key-success-factors/

Monday, February 20, 2017

Karyawan Gen Y

Karyawan Generasi Y Cenderung Tidak Setia pada Perusahaan
Generasi Y, yakni generasi yang lahir dari tahun 1977-1994, kini sedang berada pada usia produktif kerja.

Oleh karena itu, sekarang ini, banyak perusahaan dengan mayoritas karyawan yang  menduduki jabatan seperti supervisor, manajer, pemimpin, dan direktur adalah generasi Y.

Generasi Y, tentunya memiliki karakteristik berbeda dengan generasi sebelumnya, yakni generasi X.

Situs Socialmakerting menyebut, generasi X memiliki karakteristik lebih fleksibel (mudah berubah), dan tak loyal.  Apakah pernyataan itu benar?

Salah satu bank swasta di Indonesia, DBS, adalah  contoh perusahaan dengan 75 persen pegawai berusia muda, rata-rata di usia kisaran 30 - 35 tahun.

Menurut Satia Indrarini,  Exeutive Director Human Resources & Development, PT Banks DBS Indonesia, generasi muda lebih cepat bosan, mereka tidak mau terkungkung. ujar Satia setelah acara Workplace Wellness Conference di DBS Bank Tower, Jakarta (2/3/2016).

Satia juga mengungkapkan rata-rata karyawan generasi muda hanya bertahan lima tahun hingga akhirnya berpindah kerja ke perusahaan lain.

"Motif mereka rata-rata bukan uang, tetapi challenge," terangnya pada acara Workplace Wellness Conference di DBS Bank Tower, Rabu (2/3/2016) kemarin.

Lalu, menurut Satia, perusahaan harus memikirkan cara kreatif untuk memberi pembekalan dan berkomunikasi kepada para karyawan generasi Y.

DBS sendiri memilih digitalisasi alias penggunaan aplikasi mobile yang lebih mudah diakses oleh seluruh karyawan.

Terakhir, DBS juga menguatkan program-program yang mengutamakan kesejahteraan mental dan fisik karyawannya.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2016/03/03/133400520/Karyawan.Generasi.Y.Cenderung.Tidak.Setia.pada.Perusahaan.

Karyawan Gen Z

Generasi Milenium Tidak Tertarik Berurusan dengan Politik Kantor
Sejumlah studi menyatakan bahwa generasi milenium adalah kelompok anak-anak muda yang senang foya-foya, kurang gigih dalam mencari penghasilan ekstra, dan selalu menginginkan hasil yang instan.

Namun, banyak perusahaan yang terus mencari karyawan untuk diperkerjakan dari generasi kelahiran 1981 hingga 1995 tersebut.

Karakteristik generasi yang populer disebut dengan istilah Gen Y ini, umumnya dahaga akan tantangan dan cerdik mencari peluang, meskipun kurang memiliki loyalitas pada perusahaan.

Selain itu, ada empat benefit lain yang bisa Anda dapatkan dari bekerja bersama dengan kaum Gen Y tersebut. Berikut uraiannya:

Generasi milenium tidak tertarik politik kantorKerja keras dengan hasil nyata adalah tujuan profesional para generasi milenium. Mereka bukan penjilat yang memiliki banyak waktu berkutat dengan politik kantor. Bahkan, mereka sama sekali tidak tertarik dengan urusan yang menyangkut drama dan politik di kantor.

Generasi milenium memiliki cara kerja yang berbedaBangun pagi, datang ke kantor, minum kopi, mengerjakan tugas, dan pulang tepat waktu. Ritual yang demikian tidak Anda temui pada kebanyakan generasi milenium. Pasalnya, mereka memiliki ritme dan gaya kerja yang berbeda. Generasi ini menginginkan jam dan tempat kerja yang fleksibel. Namun, sayang sekali, belum banyak perusahaan besar yang telah berdiri lama, percaya pada manfaat bekerja dari luar kantor.

Generasi milenium memiliki pikiran terbukaMereka terbuka dengan kritik dan masukan positif terkait pekerjaan mereka. Namun, mereka kurang peka terhadap batasan dan hirarki pada “pohon” organisisi. Jadi, lebih baik Anda menyampaikan aturan dan kewajiban berhubungan dengan pekerjaan serta budaya perusahaan kepada mereka.

Generasi milenium cerdas memanfaatkan perkembangan teknologiMereka memiliki motivasi tinggi dalam membangun kolaborasi pada setiap orang di perusahaan untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan untuk mengembangkan jaringan kerja dan punya semangat bekerja sebagai tim, merupakan nilai tambahan yang merefleksikan karakter positif untuk kebaikan perusahaan.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2016/06/16/110300520/Generasi.Milenium.Tidak.Tertarik.Berurusan.dengan.Politik.Kantor..

Bos Gen Y

Ciri Bos "Gen Y" dan Cara Meladeninya

Ada dua tipe bos di dunia. Bos ber-Gen Y (usia 21-36 tahun) dan bos ber-Gen X (usia 37-50 tahun). Gen yang manakah bos Anda? Sebab, beda generasi, beda juga cara meladeninya.

Sejak tahun 2008 hingga 2013, tren dunia kerja telah mengalami banyak perubahan. Menurut lembaga rekrutmen terbesar di Amerika EY, usia pekerja makin lama makin muda. Itu sebabnya, di sebagian besar perusahaan di dunia, sepertiga jabatan manajer dipegang oleh mereka yang usianya 21 hingga 36 tahun.

Menganggap karyawan adalah partner
Usia si bos lebih tua sih biasa, tapi kalau yang terjadi si bos jauh lebih muda? Inilah yang sering menjadi masalah saat Gen Y memiliki karyawan yang usianya jauh lebih matang. Biasa bicara blak-blakan, menganggap semua rekan kerja adalah partner, kadang membuat mereka dianggap kurang “sopan” oleh generasi pendahulunya. Walau sebenarnya mereka tak bermaksud demikian.

Do: Yang bisa kita lakukan bila memiliki bos lebih muda ialah menjadi Gen Flux, yaitu generasi yang mudah beradaptasi. Tunjukkan kalau bertambahnya usia bukan penghalang untuk bekerja produktif. Bila ia sedang berlari, maka bergeraklah cepat bersamanya. Bila ia sedang santai, maka nikmatilah waktu selagi bisa.

Time is money
Berbeda dengan Gen X yang menganggap kalau waktu adalah investasi, bos Gen Y menganggap kalau waktu 9 to 5 adalah mata uang. Sehingga mereka cukup ketat dalam masalah waktu dan menuntut karyawan untuk disiplin.

Do: Bagi bos ber-Gen Y, hidup adalah hari ini. Mereka seakan anti untuk mendengar kata “nanti ya bos” dari karyawannya. Walau pekerjaan masih dalam progres, teruslah memberikan update kalau tak mau dibaweli.

Tech savvy
Tumbuh di tengah teknologi yang berkembang cepat, bisa dibilang, hampir semua bos ber-Gen Y akan merasa hidupnya kurang lengkap tanpa gadget maupun aplikasi mobile. Tak hanya untuk memudahkan pekerjaan, mereka akan memaksimalkan media sosial untuk membangun bisnis serta networking.

Do: Bos Gen Y memiliki rasa ingin tahu di atas rata-rata. Jangan heran kalau mereka akan mengecek akun sosial media calon karyawannya. Mereka juga tak segan untuk meng-add setiap akun yang kita miliki. Punya bos tipe ini, berusahalah untuk mengimbanginya soal teknologi bila tak ingin dianggap kurang up-to-date. Hati-hati juga dalam menulis status karena diam-diam dia juga menilai.

Work hard play hard
Untuk bisa menjadi karyawan favorit si bos Gen Y, ada 2 kritreria yang dibutuhkan. Pertama: siap bekerja kapan pun dibutuhkan. “Kalau saya saja bisa, mengapa Anda tidak?” Itulah kalimat Andalannya. Kedua: siap diajak senang-senang, tak sekadar rumah-kantor-rumah.

Do: Jika ingin menemukan hidup yang seimbang, bos ber-Gen Y bisa memberikannya untuk kita. Cukup patuhi jam kerja 9 to 5, pulang teng-go bukanlah masalah bagi mereka. Biasa berpikir realistis, sehingga bila kita merasa pekerjaan sudah terlalu menumpuk, utarakan alasan yang tepat. Dia tak akan segan membantu atau mendelegasikannya untuk yang lain.

Asyik sendiri dengan pekerjaannya
Saat sedang deadline, bos Gen Y akan sangat fokus pada pekerjaannya seakan tak mau diganggu. Padahal, diam-diam ia juga menilai kinerja anak buahnya.

Do: Bila ada pekerjaan yang sulit dimengerti, ketimbang bengong dan bilang iya-iya saja, mereka lebih senang bila kita bertanya. Gen Y akan merasa risih bila melihat karyawannya diam, walau sebenarnya sedang berpikir keras. Jadi, utarakan kesulitan di awal saat kita mendapat proyek baru misalnya. Ketimbang, nanti-nanti dan ternyata salah jalan.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2014/04/24/1046411/Ciri.Bos.Gen.Y.dan.Cara.Meladeninya.

Bos Gen X

Kiat Bekerja dengan Bos Gen X

Hormat saja tak cukup untuk membuat bos ber-Gen X dengan rentang usia 37-48 jatuh hati. Pakar karier Jane Buckingham yang telah lama mengamati perilaku para Gen X, memberikan tips untuk meluluhkan hati mereka.

Bilang “Oke” atau “Ya” di awalHindari banyak nanya sebelum bekerja bila tak ingin dianggap malas oleh bos ber-Gen X. Kata mereka, “Belum dikerjakan kok sudah bilang tidak mengerti?” Biasa bersikap layaknya orang tua, bos ber-gen ini lebih senang merevisi ketimbang memberikan panduan. Yang penting kerjakan dulu, bisa atau tidak urusan nanti.

Do: Ikuti cara bekerjanya walau kita menganggapnya kurang efektif. Sebab, berdebat soal ini hanya akan membuatnya merasa tak dihargai sebagai atasan. Toh, setiap atasan punya cara sendiri yang perlu kita hargai.


Karyawan bukanlah temanSetelah selesai deadline, kita bisa saja mengajak bos Gen Y untuk senang-senang di klub. Sayangnya, jangan berharap akan mendapat kesenangan yang sama bila pergi dengan bos Gen X. Walau ia terlihat ramah, bukan berarti ia telah sepenuhnya membuka diri dan mendengarkan curhatan kita layaknya sahabat. Tanpa disadari, ada batasan-batasan yang mereka buat terhadap anak buahnya.

Do: Walau terkesan asyik, hati-hati untuk bicara blak-blakan pada bos tipe ini. Bisa jadi Anda malah dijejali seribu nasihat meski sebenarnya nasihatnya baik.
Kewajiban dulu baru menuntut hak
Karyawan favorit bos ber-gen ini ialah mereka yang memberikan kontribusi maksimal pada perusahaan, sedikit mengeluh, dan tak banyak menuntut. Berbeda dengan Gen Y yang cukup fair tentang penilaian kinerja atau kenaikan gaji, bos ber-Gen X lebih tertutup soal itu karena merasa canggung.

Do: Saat membicarakan kenaikan gaji atau promosi, hindari kalimat, “Saya merasa pantas untuk itu karena telah menunjukkan kinerja terbaik”. Ganti dengan, “Dengan naik gaji atau promosi, saya yakin bisa memberikan kontribusi lebih pada perusahaan.”


Sama rataHanya 20 persen bos ber-Gen X yang bisa berikap tegas terhadap sikap lalai karyawannya. Lebih senang menyelesaikan masalah dengan sikap kekeluargaan ketimbang to the point. Asyiknya, bos tipe ini cenderung ramah, tapi rentan membuat kita kurang produktif karena iklim kerja yang santai.

Do: Walau sikap mereka kadang terasa kurang adil (karena kurang tegas pada karyawan yang kurang produktif), percayalah kalau bekerja baik tak akan ada ruginya kok. Kalau hasilnya tak dirasakan di perusahaan yang sekarang, karyawan potensial tentu akan mudah dilirik oleh perusahaan lainnya.


Mencari karyawan andalanSekali bos Gen X percaya pada kemampuan Anda, maka siap-siaplah menjadi andalannya saat ada pekerjaan genting.

Do:  Percayalah kalau ia akan sama stresnya dengan kita saat diberi tugas dadakan. Menyanggupi apa yang ditugaskan olehnya akan semakin meningkatkan nilai jual kita di matanya. Namun, bukan berarti ia tak bisa diajak kompromi bila ternyata pekerjaan utama Anda saja masih menumpuk. Bos kan juga manusia, bisa saja lupa, tak salah bila mengingatkannya.

Sumber :
http://female.kompas.com/read/2014/05/13/1056415/Kiat.Bekerja.dengan.Bos.Gen.X.

Tuesday, July 7, 2015

Karakter Karyawan Sukses

6 Karakter yang Menjadi Aset Terbesar

Sebuah penelitian di Washington, Amerika Serikat, mengalisa catatan 10.000 orang dan menyimpulkan 15 persen kesuksesan berkaitan dengan pelatihan teknis dan 85 persen adalah masalah kepribadian dan sikap. Sikap mencerminkan bagaimana perasaan seseorang tentang sesuatu dan menghadapinya.

Dua hal ini menjadi faktor penting dalam melihat kemampuan seseorang.
Komponen sikap terdiri dari kepercayaan, ide, dan konsep terhadap suatu obyek, kehidupan atau evaluasi emosional terhadap suatu obyek kerja, serta kecenderungan untuk bertindak. Sikap Anda adalah kendaraan mencapai potensi diri sepenuhnya.

Seseorang bisa memiliki ribuan sikap, tetapi dalam dunia kerja difokuskan pada beberapa jenis sikap yang terkait dengan pekerjaan. Sikap kerja berisi evaluasi positif atau negatif yang dimiliki seseorang tentang aspek-aspek lingkungan kerja.

Sikap bukanlah pembawaan sejak lahir. Sikap dapat berubah melalui pengalaman sehingga memungkinkan Anda berkembang. Berikut enam sikap yang menjadi aset terbesar Anda:

1. Tanggung jawab buat semua orang.
Tanggung jawab antara pekerja pria dan perempuan adalah sama. Semua tugas dan pekerjaan dituntut untuk dilakukan sebaik-baiknya.

2. Tidak takut bekerja keras.
Sebagai pekerja terutama pekerja baru tuntutan untuk berani bekerja keras adalah mutlak. Mereka harus siap diberi pekerjaan ekstra. Berinisiatiflah dalam bekerja agar menjadi pribadi yang selalu bermanfaat.

3. Selalu bersikap positif.
Sikap positif diperlukan terutama jika menemukan masalah dalam pekerjaan. Jangan langsung pasrah melainkan berusaha mencari berbagai jalan untuk mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Bisa jadi ini langkah untuk mencapai posisi yang lebih tinggi jadi selesaikan dengan hati yang jernih.

4. Bekerja sungguh-sungguh.
Jika Anda membenci pekerjaan yang sekarang, bukan berarti ini alasan untuk bolos kerja dan bermalas-malasan. Sikap yang buruk ini tidak baik dipelihara. Tetaplah berusaha memberikan yang terbaik. Ini bisa menjadi poin lebih ketika Anda mendapatkan pekerjaan di tempat lain karena Anda meninggalkan perusahaan sebelumnya dengan catatan baik.

5. Gerak cepat.
Lakukan perintah atau permintaan atasan dengan cepat dan jangan menunda. Dengan datang dan memberi jawaban secara langsung, atasan akan menganggap Anda bisa diandalkan.

6. Jangan malu bertanya.
Tanyalah kepada atasan atau siapa pun jika tidak mengerti apa yang dimaksud. Gengsi atau takut bertanya karena tak ingin dianggap tidak mampu malah akan menyesatkan Anda. (ACH)



Editor : wawa

Sumber :
http://female.kompas.com/read/2013/01/01/14411057/6.Karakter.yang.Menjadi.Aset.Terbesar?utm_source=female&utm_medium=bp&utm_campaign=related&

Pemimpin yang Berkualitas

7 Cara Menjadi Pekerja Berkualitas Pemimpin, Anda Siap?

Perusahaan tidak mencari sembarang orang untuk menjadi karyawannya. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih karyawan yang tepat.
Tentu saja, demikian. Bagaimana juga perusahaan tentu hanya mau membawa kebaikan bagi usaha mereka.

Saat ini, dengan semakin ketatnya perburuan lapangan pekerjaan, dibutuhkan kualitas SDM yang benar-benar punya daya saing tinggi. Pastikan Anda memiliki nilai plus sebagai seorang karyawan.

Untuk mencapai itu, ada tujuh hal berikut yang bisa menjadikan Anda karyawan berkualitas pemimpin:


Passion dalam bekerja

Ya, kata passion memang terdengar klise, tetapi faktor ini yang membuat pekerjaan Anda begitu berarti. Penulis buku sekaligus Career Coach, Rene Suhardono, mengungkapkan bahwa passion sama dengan tujuan hidup. Semakin jelas apa yang ingin dilakukan, semakin jelas dan tegas pula cara Anda mewujudkannya.

Jika sudah menemukan passion, Anda tentu dapat melakukan pekerjaan lebih maksimal.


Penuh Ide Kreatif

Dalam melakoni pekerjaan, seorang karyawan harus terus menciptakan inovasi dan kreasi terbaru. Kedua hal tersebut akan membuat Anda menjadi pegawai yang menonjol.

Anda harus selalu bisa berpikir di luar jalur mainstream dan berani berkreasi melewati batas imajinasi. Tunjukan bahwa Anda selalu memperbarui diri dengan berita terhangat dan situasi dunia.

Anda tidak perlu takut kesulitan menjadi orang yang paling update. Zaman sekarang, Anda bisa melengkapi diri dengan gadget mutakhir yang mendukung pemakainya untuk terus tanggap informasi teranyar.


Berani hadapi tantangan

Dalam bekerja, Anda pasti akan dihadapkan pada banyak kesulitan. Bagaimana cara menghadapinya? Sifat cepat menyerah dan putus asa dalam menghadapi masalah adalah dua hal yang harus Anda jauhi.

Tunjukkan bahwa Anda berani mengambil risiko. Jika Anda bisa meyakinkan bahwa Anda tidak memiliki semangat yang besar dalam bekerja, tentu akan menjadi nilai yang baik.

Dalam melakoni pekerjaan, seorang karyawan harus terus menciptakan inovasi dan kreasi terbaru. Kedua hal tersebut akan membuat Anda menjadi pegawai yang menonjol.
Percaya Diri

Setiap manusia punya kekurangan dan hal ini pun akan dijadikan pertanyaan dalam setiap wawancara kerja. Hadapi semuanya dengan keyakinan pada diri Anda sendiri. Dengan selalu menjaga kepercayaan diri dalam situasi genting, keadaan apapun tidak akan terlihat mengancam Anda.


Bekerja Cerdas

Bekerja cerdas tidak perlu keras. Mulailah pekerjaan yang bisa Anda selesaikan dengan cepat. Hindari menunda pekerjaan hanya karena sulit.

Atur juga cara kerja Anda agar dapat melakukan pekerjaan yang bisa diselesaikan. Dengan begitu tidak ada waktu yang terbuang atau pekerjaan yang tertunda. Manfaatkan jam kerja yang Anda miliki agar menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Jangan takut untuk menjadi seorang yang multitasking. Catat selalu pekerjaan yang sedang Anda kerjakan. Sebagai penunjang tugas Anda, temukan alat bantu fungsional untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus dan menolong Anda mendapatkan informasi tambahan tanpa membantu pekerjaan utama.


Fokus melihat ke depan

Pemimpin yang hebat selalu bekerja dengan fokus menatap ke depan. Jadikan kesalahan pada pekerjaan sebelumnya hanya sejarah sebagai pelajaran penting. Hal ini harus Anda terapkan untuk mencapai hasil yang baik. Anda lebih baik fokus pada kekuatan diri sendiri dan dalam proses pengerjaan tugas.


Komunikasi

Dalam bekerja, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik sangat penting. Hal ini dibutuhkan baik untuk menangkap perkejaan yang diberikan atau menyampaikan hal yang Anda lakukan. Tanpa komunikasi yang baik, Anda tidak akan dihargai.

Selain itu, memiliki komunikasi yang baik juga dibutuhkan untuk berhubungan dengan rekan-rekan Anda dalam menyelesaikan pekerjaan.


Sumber:
http://female.kompas.com/read/2015/05/21/124258520/7.Cara.Menjadi.Pekerja.Berkualitas.Pemimpin.Anda.Siap.

Thursday, May 7, 2015

Emotional Quotient

Mengenal Kecerdasan Emosional Yuk!

sumber foto : www.bbc.co.uk

Kamu pasti kenal ‘kan dengan IQ atau Intelligence Quotient? IQ adalah ukuran kecerdasan intelektual seseorang yang dinilai berdasarkan kemampuan kognitif, penalaran, dan logika. Tapi, memiliki tingkat inteligensia yang tinggi ternyata tidak serta-merta menjamin seseorang jadi orang yang sukses tuh.

IQ tetap perlu didukung oleh yang namanya kecerdasan emosional (Emotional Intelligence/EI atau sebelumnya disebut Emotional Quotient/EQ). Kini, kecerdasan emosional udah menjadi salah satu hal yang penting bagi dunia bisnis. Di perusahaan Google aja, karyawan harus mengantri sampai enam bulan untuk mengikuti kelas tentang kecerdasan emosional ini.

Meskipun perannya gak diragukan lagi dalam karier, masih banyak orang yang kurang memahami apa itu kecerdasan emosional. Yuk, simak artikel ini lebih jauh untuk mengenalnya lebih dalam!

Kecerdasan Emosional itu tidak sama dengan bersikap baik terhadap orang lain.

Apa itu kecerdasan emosi?

Menurut Andrew Coleman pada bukunya A Dictionary of Psychology:

Kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk memonitor emosi diri sendiri dan orang lain, memilah-milah antara emosi yang satu dengan yang lain, serta menggunakan informasi emosi untuk memandu cara berpikir dan perilaku.

Dengan kata lain, kecerdasan emosional berarti kemampuan untuk memahami emosi secara benar. EI itu penting, tapi EI gak menentukan baik buruknya seseorang.

Memiliki EI yang baik bukan berarti kamu juga jadi orang yang baik terhadap orang lain. Begitu juga sebaliknya, gak punya EI yang baik bukan berarti kamu jadi jahat. Faktanya. Martin Luther King Jr. dan Adolf Hitler sama-sama menggunakan kecerdasan emosionalnya untuk melakukan pidato yang menggugah.

Kenapa Kecerdasan Emosional itu penting?

Kita udah tahu bahwa orang-orang paling sukses bukanlah yang paling cerdas atau yang paling tercukupi hidupnya. Kamu mungkin kenal seseorang yang cerdas tapi ternyata kurang sukses di kerjaan atau hubungan pribadinya. Nah, di sinilah kecerdasan emosional berperan penting dalam kehidupan. IQ membantu kamu untuk menyerap pelajaran di sekolah, tapi EI membantumu untuk mengelola stres dan emosi menjelang ujian.

Kecerdasan Emosional mempengaruhi hal-hal berikut:

1. Kinerjamu saat bekerja.
EI membantu kamu memetakan kompleksitas sosial di tempat kerjamu, memimpin dan memotivasi orang lain, serta meningkatkan karirmu. Banyak perusahaan yang menganggap EI sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

2. Kesehatan fisik
EI penting untuk mengelola tingkat stresmu. Stres yang gak terkelola dengan baik bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti meningkatkan tekanan darah, menurunkan daya tahan tubuh, mempercepat penuaan dan meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

3. Kesehatan mental
Stres yang gak terkontrol juga dapat menimbulkan gangguan mental, seperti perasaan cemas dan depresi. Kekurangmampuan mengelola emosi juga bisa menimbulkan mood swing yang berpengaruh terhadap kemampuan menjalin hubungan yang kuat

4. Hubunganmu
Dengan memahami emosi dan mampu mengendalikannya, kamu bisa mengekspresikan perasaanmu dan memahami perasaan orang lain dengan lebih baik, sehingga kamu bisa berkomunikasi lebih efektif dan membangun relasi yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun ranah pribadi.


Empat komponen Kecerdasan Emosional

Menurut Salovey dan Mayer, ada empat komponen kecerdasan emosional:

1. Merasakan Emosi
Langkah pertama dalam memahami emosi adalah dengan merasakannya. Kamu bisa menerima dan merasakan emosi lewat mimik wajah, gestur tubuh dan nada suara, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

2. Berpikir lewat emosi
Kamu bisa menggunakan emosi untuk mendukung kegiatan berpikir dan kognitif. Emosi membantu kita memprioritaskan apa yang menarik perhatian atau menimbulkan reaksi bagi kita, karena kita merespon hal-hal yang bikin perhatian kita terpusat secara emosional.

3. Memahami emosi
Memahami emosi berarti mampu menginterpretasikan emosi yang diekspresikan oleh seseorang. Misalnya, waktu bos kamu kesal, kamu mesti memahami apa makna dibalik emosinya, apakah dia kesal karena kerjaanmu, karena lagi bertengkar sama pasangan, atau karena kena tilang pas perjalanan ke kantor.

4. Mengelola Emosi
Kemampuan mengelola emosi secara efektif adalah kunci dari kecerdasan emosional. Aspek ini meliputi pengaturan emosi diri sendiri serta melakukan respon yang sesuai terhadap emosi yang diekspresikan orang lain.

Tapi, ternyata gak semua pekerjaan membutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi.

Pekerjaan ini membutuhkan kecerdasan emosi yang baik

Psikolog Dana Joseph dari the University of Florida dan Daniel Newman dari the University of Illinois telah menganalisa penelitian-penelitian mengenai emosi yang telah dilakukan sebelumnya, dengan total ribuan karyawan dan 191 jenis pekerjaan. Ternyata, keuntungan dari kecerdasan emosi itu bisa dirasakan berdasarkan jenis pekerjaannya.

Orang-orang dengan pekerjaan yang berhubungan dengan dengan orang lain seperti salesperson, agen real estat, customer service atau call-center representative, serta penasihat dan advokat punya kinerja yang lebih baik jika mereka memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi.

Sementara, pekerjaan seperti mekanik, ilmuwan, dan akuntan justru kinerjanya lebih buruk jika kecerdasan emosionalnya tinggi.

Bagaimana cara mengembangkan kecerdasan emosional?

Mengembangkan kecerdasan emosi

Seperti yang sudah disinggung di awal artikel ini, kecerdasan emosional bisa dikembangkan melalui kelas-kelas pelatihan yang diadakan baik secara personal maupun kolektif. Tapi, ternyata kecerdasan emosional juga berkembang seiring meningkatnya usia kita lho!

Selain itu, membaca karya sastra juga bisa membantu kita meningkatkan kecerdasan emosional, karena memasuki karakter suatu tokoh bisa membangun rasa empati kita. Terakhir, mendapatkan umpan balik dari orang sekeliling juga dapat meningkatkan IE-mu.

Sisi Gelap Kecerdasan Emosional

Antusiasme untuk memahami kecerdasan emosional yang diwujudkan lewat berbagai penelitian psikologi rupanya telah menguak sisi gelap dari EI itu sendiri. Menurut Adam Grant, profesor dari Wharton School of the University of Pennsylvania, bukti-bukti baru menunjukkan bahwa ketika orang mengasah kecerdasan emosional mereka, mereka bisa lebih mudah memanipulasi orang lain.

Ketika kamu pandai mengontrol emosimu, kamu bisa menyamarkan perasaanmu yang sesungguhnya. Lalu, kalau kamu sudah mengetahui bagaimana perasaan orang lain, kamu bisa memanipulasi dan memotivasi mereka untuk bertindak berlawanan dengan kepentingan mereka. Wah, bahaya juga ya.

Nah, makin paham ‘kan pentingnya kecerdasan emosional bagi kehidupan sehari-hari? Mengingat bahwa kecerdasan emosional punya dua sisi, jangan sampai jadi kita salah gunakan untuk memanipulasi orang lain. Ingat bahwa kecerdasan yang bermanfaat adalah kecerdasan yang bisa membawa kebaikan bagi orang banyak.


Sumber :
http://www.hipwee.com/motivasi/mengenal-kecerdasan-emosional-yuk/

Wednesday, April 1, 2015

Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri


Kepercayaan diri sangat penting dalam hidup. Cara terbaik untuk meraih kesuksesan salah satunya adalah dengan menumbuhkan rasa percaya diri. Jika Anda masih perlu memupuknya, berikut adalah cara mudah untuk meningkatkan kepercayaan diri seperti dilansir situs Boldsky.

1. Berpakaian rapi
Langkah pertama untuk meningkatkan kepercayaan diri adalah dengan berpakaian rapi. Berpakaian rapi akan selalu membantu Anda menuai kesan yang baik dari orang lain.

2.Identifikasi bakat 
Sangat penting untuk mengetahui bakat yang ada dalam diri Anda. Setelah mengetahui bakat tersebut, Anda wajib untuk mengembangkannya agar semakin yakin dengan kemampuan Anda sendiri.

3. Ketahui kelemahan diri
Buatlah daftar kelemahan dari diri Anda, kemudian buang jauh-jauh pikiran tentang kelemahan Anda. Fokuslah pada kelebihan yang Anda miliki.

4. Belajar dari kesalahan
Sebagai manusia, adalah hal lumrah jika kita berbuat kesalahan. Tetapi ketika Anda jatuh ke lubang yang sama dua kali, itu adalah hal yang tak biasa. Pelajari kesalahan yang Anda buat, agar tidak berbuat kesalahan yang sama.

5. Jangan pernah bandingkan dengan orang lain
Ketika Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain, Anda tidak akan pernah puas, dan tidak bersyukur. Dengan fokus kepada diri sendiri, secara tidak langsung, Anda meningkatkan kepercayaan diri.

6. Menerima kritik dan pujian dengan baik
Jadilah orang yang berlapang dada, menerima kritikan dan pujian dengan sewajarnya. Ingatlah untuk menjadi pribadi yang rendah hati, bukan rendah diri.

7. Jadilah orang baik dan dermawan
Beramal kepada orang lain selain memberi pahala, juga memberi kepercayaan dan kebaikan yang terpancar dalam diri.

8. Hiduplah dengan prinsip 
Hiduplah dengan baik yang menganut prinsip kebenaran. Karena orang benar akan selalu percaya dengan apa yang diyakininya.

9. Buat dan raih target dalam kehidupan
Jangan lupa untuk membuat target dalam kehidupan. Tidak perlu yang terlalu besar, mulailah dengan terget yang kecil namun realistis. Ketika Anda dapat mencapai target tersebut, maka kepercayaan diri Anda otomatis akan meningkat.

10. Berolahraga
Berolahraga akan berpengaruh secara langsung terhadap bentuk tubuh dan kesehatan yang prima. Orang-orang suka melihat tampilan yang lebih sehat, dan hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan diri Anda.

11. Belajar dari orang lain
Anda pasti punya idola, belajarlah dari orang tersebut bagaimana cara meraih tujuan hidupnya. Dengan inspirasi orang tersebut, maka akan lebih muda bagi Anda untuk membangun kepercayaan diri.

12.Berpikir postif 
Jauhi segala hal negatif dalam kehidupan Anda, dan cobalah untuk selalu berpikir positif dalam setiap kesempatan.


Sumber :
http://female.kompas.com/read/2015/02/20/1300007/12.Cara.Mudah.Meningkatkan.Kepercayaan.Diri

Saturday, January 3, 2015

Sang Introvert

6 Alasan Untuk Bahagia Bagi Seorang Introvert


Apakah kamu seorang wanita yang introvert? Kalau iya, mungkin kamu sering kali lebih lebih suka menyendiri dengan dirimu sendiri. Kamu mungkin lebih suka duduk sendiri, pergi ke suatu tempat sendiri atau melakukan suatu apapun sendirian dan tentu saja itu menyenangkan buatmu.

Menjadi seorang introvert bukan berarti menjadi seseorang yang pemalu dan tidak memiliki teman. Kedua hal tersebut sangat berbeda dengan apa yang mendefinisikan seseorang sebagai introvert. Seorang introvert menurut giftedkids.com merupakan seseorang yang merasakan lebih bersemangat ketika sendirian, dan malah kurang merasakan semangat ketika berada di tengah banyak orang.

Oleh karena itu kalau kamu adalah seorang introvert maka ada 6 alasan kenapa kamu harus mencintai dirimu yang unik.

1. Mengerti permasalahan orang lain jauh lebih baik
Seorang introvert memiliki kebiasaan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mendengarkan daripada berbicara. Nah, sehingga hal tersebut membuat kamu jadi mengerti, sangat mengerti, tentang keadaan orang lain. Orang introvert paham apa yang membuat orang lain kesal, sedih, marah atau bahagia karena kita lebih sering mendengarkan detail – detail kecil ketika orang lain bercerita. Mampu mengerti secara lebih baik dalam tentang siapa sebenarnya orang lain dan mengerti apa permasalahannya sehingga bisa membantu orang lain adalah sebuah anugerah bagi seorang introvert.

2. Mengetahui keputusan yang lebih baik
Seorang introvert adalah seseorang yang suka menghabiskan waktunya untuk berpikir. Berpikir tentang semua hal dan bagaimana kaitan antara berbagai hal tersebut. Seorang introvert  sangat senang dalam menganalisa, mengeksplorasi tentang pikiran dan perasaannya. Sehingga ketika memutuskan sebuah keputusan maka keputusanmu akan benar – benar matang karena kemungkinan besar kamu sudah memikirkannya jauh- jauh hari.

3. Sendiri tanpa menjadi kesepian
Kamu mengenal sekali bagaimana dan siapa dirimu. Mungkin teman – temanmu akan bertanya apakah kamu merasakan kesepian? Dan kamu akan menjawab dengan jelas, “nggak kok, aku lebih suka sendiri”. Kamu lebih suka melakukan segala hal sendirian, tetapi kamu nggak pernah merasa kesepian. Kenapa? Karena memang  kesendirian adalah ruang terbaikmu untuk melakukan aktifitasmu. Dikala kebanyakan orang merasa depresi dan terpuruk dengan kesendiriannya, kamu malah bisa berekspresi dan melakukan aktifitasmu dengan penuh semangat.

4. Kamu berteman dengan orang baik
Bukan berarti bahwa seorang introvert adalah seorang yang jahat karena memilih – milih teman. Tetapi seorang introvert lebih menyukai lingkup pertemanan yang kecil namun berkualitas. Teman yang kurang mendukung, kurang memberi dorongan yang baik atau yang tidak menunjukkan kualitas teman yang baik akan keluar dari daftar pertemananmu. Sekali lagi, introvert bukan berarti orang yang jahat loh ya, karena sebenarnya seorang introvert juga rela dan tidak keberatan untuk tidak dianggap teman ketika memang dia tidak memberi masukan yang baik kepada temannya itu. Seorang introvert seperti kamu tidak lagi mempedulikan berapa jumlah temanmu, tetapi kamu lebih mempedulikan tentang bagaimana menjalin persahabatan kecil yang erat dan saling membangun dengan teman- temanmu.

5. Lebih peka dengan perasaan orang lain
Kamu pasti sadar bahwa kehidupan ini dan orang –  orang disekitarmu memiliki ceritanya masing – masing tentang kesedihan, luka, pengkhianatan, patah hati, tersinggung, tertekan atau apapun. Sebagai orang introvert kamu pasti akan sangat sering mampu merasakan emosi orang lain melalui tutur kata mereka, melalui pandangan mata mereka, atau melalui gestur tubuh mereka. Menjadi sensitif dan peka adalah sebuah kelebihan yang baik bagi seorang introvert karena kamu akan dengan mudah mengetahui perasaan orang lain dan dapat segera menemukan sikap yang benar untuk memperbaiki situasi.

6. Hanya akan membicarakan hal yang bermutu
Akui bahwa kamu menghabiskan sebagian besar waktumu untuk berbicara dengan dengan dirimu sendiri atau berbicara dalam hati. Yah, seperti yang dikatakan di awal, kamu adalah orang senang berpikir, menganalisa, berintrospeksi dan mempertimbangkan segala hal. Oleh karena itu kamu sangat berhati – hati dalam berbicara. Kamu cenderung hanya membicarakan apa yang penting – penting saja. Bagaimanapun itu sangat bagus bagimu karena apa yang kamu bicarakan selain ringkas juga akan bermutu.

Berbahagialah menjadi seorang introvert!


Sumber :
http://www.hipwee.com

Friday, December 12, 2014

Penampilan Seorang Pemimpin Lebih Penting daripada Tingkat Kecerdasannya


Busana yang rapi, aroma tubuh nan wangi, dan kulit yang sehat, menurut sebuah penelitian, merupakan kualifikasi pemimpin idaman banyak orang. Pasalnya, saat memilih seorang pemimpin, hal yang kali pertama diperhatikan orang adalah penampilan, bukan isi kepalanya. Informasi ini dipublikasikan dalam Frontiers in Human Neuroscience.

Brian Spisak dan rekan-rekannya dari VU University, Amsterdam, mempelajari preferensi implisit masyarakat mengenai sifat seorang pemimpin, mulai dari faktor kesehatan, kecerdasan, dan daya tarik. Lalu, mereka juga menggali informasi mengenai keinginan masyarakat terhadap penampilan seorang pemimpin.

Fokus para peneliti pada studi ini lebih kepada mempelajari ciri-ciri wajah. Sebab, secara ilmiah, wajah seseorang bisa merefleksikan sifat dan karakter diri masing-masing.

Studi yang melibatkan 148 wanita dan pria ini meminta para responden untuk memilih dua foto, pria sehat dan pria pintar, yang dianggap sesuai dan mampu menjadi seorang CEO. Ternyata, 69 persen responden memilih foto pria dengan penampilan diri yang terlihat sehat. Lalu, foto pria yang terlihat pintar tidak begitu diminati.

Namun, ketika tugas yang diemban pemimpin ini nantinya lebih mengurus langsung persoalan negoisasi, isu diplomatik, dan kejelian dalam mengatur perjanjian, ternyata foto pria yang terlihat lebih pintar dianggap tepat untuk pekerjaan tersebut.

"Studi ini jelas memperlihatkan bahwa pemimpin yang aspiratif dan memiliki banyak pendukung adalah mereka yang memiliki penampilan yang sehat. Inilah alasan mengapa banyak politikus dan pemimpin eksekutif rela menghabiskan uang serta waktu untuk mendapatkan penampilan diri terbaik," terang Spisak, penulis dan Asisten Profesor The Department of Management and Organization of VU University Amsterdam.

Lebih lanjut, Spisak mengatakan, jika Anda mengincar posisi puncak sebagai pemimpin, maka Anda harus menaruh perhatian lebih pada penampilan Anda. Memang benar, isi kepala juga diperlukan mengingat rincian pekerjaan Anda yang membutuhkan kecerdasan. Namun, tak berarti Anda mengenyampingkan kekuatan dari citra diri yang dahsyat dengan berpenampilan terbaik.


Sumber :
SCIENCEDAILY
http://female.kompas.com

Friday, December 5, 2014

Korelasi Olahraga dengan Performa Kerja

Studi Membuktikan, Olahraga Bisa Buat Performa Kerja Melesat


Olahraga memang memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh, seperti menurunkan tekanan darah, menyehatkan jantung, dan bentuk tubuh pun menjadi lebih menarik. Selain itu, ada beberapa manfaat menarik lainnya.

Para ilmuwan meneliti bahwa olahraga memberikan manfaat secara kognitif yang dapat mempengaruhi kinerja Anda di kantor.

Penelitian mengindikasikan bahwa kekuatan mental berkaitan langsung dengan fisik yang berimplikasi pada performa kerja. Tidak hanya itu, kemampuan kognitif Anda pun dapat meningkat dengan berolahraga secara teratur.

"Olahraga terbukti bermanfaat dalam performa Anda di kantor, seperti meningkatkan konsentrasi, mempertajam ingatan, mempercepat proses belajar, meningkatkan stamina mental, memperkaya kreativitas, dan mengurangi stres," kata psikolog sosial Ron Friedman PhD.

Di samping itu, Friedman menjelaskan, olahraga juga dapat meningkatkan mood  bekerja, ini tentunya sangat penting bagi performa Anda di kantor. Selain itu, ada juga studi yang menemukan bahwa jika Anda melakukan olahraga kecil selama jam kerja, bisa membuat konsentrasi dan fokus kian tajam sehingga pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat serta tepat.

Leeds Metropolitan University meneliti pengaruh latihan pada hari kerja di kalangan karyawan di perkantoran yang memiliki akses ke gym. Pada hari-hari di mana karyawan pergi ke gym, ternyata performa kerja mereka membaik dan meningkat.

"Mereka menjadi lebih produktif, mampu mengelola waktu secara efektif, dan berinteraksi lebih luwes dengan rekan kerja. Saat jam pulang kantor, mereka pulang ke rumah dengan penuh kepuasan," jelas Friedman.

Salah satu cara sederhana berolahraga di sela-sela hari kerja yang padat menurut Friedman adalah terlebih dahulu mengidentifikasi jenis aktivitas yang paling nyaman menurut Anda. Jika Anda senang tenis, berenang, menari atau bahkan menabuh drum, lakukanlah aktivitas itu secara teratur.


Sumber :
Psychology Today
http://female.kompas.com

Saturday, May 10, 2014

10 Kebiasaan Orang Karismatik


Pernahkah Anda merasa ada seseorang yang selalu merasa diri Anda istimewa? Orang itu bukan pasangan Anda, bukan atasan, bukan pula rekan kerja yang senior. Orang itu hanya rekan kerja biasa, tetapi selalu membuat ruang kerja menjadi hidup ketika ia hadir. Entah apa yang menyebabkannya begitu. Mungkin, karena orang ini pada dasarnya karismatik.

Orang karismatik mampu membangun dan menjaga hubungan baik, dan secara konsisten memengaruhi orang-orang di sekitar mereka dengan cara yang positif. Yang paling penting, mereka selalu membuat orang lain merasa penting dan merasa lebih baik.

Ingin tahu apakah Anda punya ciri-ciri orang yang karismatik, atau, Anda ingin menjadi orang yang karismatik? Ini dia tanda-tandanya:

1. Lebih banyak mendengarkan
Orang yang karismatik selalu menjaga kontak mata, tersenyum, mengangguk, dan melontarkan pertanyaan, untuk menghargai lawan bicara. Orang karismatik tidak memberikan nasihat kecuali ditanya. Mereka lebih banyak mendengarkan, untuk menunjukkan bahwa mereka peduli. Mereka tahu, jika memberi nasihat maka pembicaraan akan lebih berkisar pada diri mereka. Ingat kan, kalau Anda mulai memberi nasihat? Anda akan mengatakan, "Kalau aku sih..." dan bukannya, "Bagaimana kalau kamu...."

2. Mereka tidak pilih-pilih
Ada sebagian orang yang tidak mampu mendengarkan sesuatu yang dikatakan orang lain yang dianggap lebih rendah. Mungkin saja keduanya saling berbicara, tapi orang yang lebih "tinggi" biasanya tidak akan benar-benar mendengarkan. Sebaliknya, orang karismatik akan mendengarkan siapa saja, tak peduli posisi atau status sosialnya. Mereka bisa merasa mempunyai kesamaan dengan siapa saja, tidak hanya orang yang ada di "kelas" mereka saja.

3. Mereka akan berhenti beraktivitas ketika diajak bicara
Kesal kan, kalau Anda berbicara pada atasan, tetapi dia tetap sibuk mengecek ponsel, laptop, atau koran yang dibacanya? Orang karismatik tidak akan melirik monitor komputernya ketika diajak bicara. Mereka tahu, tidak akan bisa terkoneksi dengan orang lain jika masih sibuk terkoneksi dengan ponsel, televisi, atau apa pun. Mereka terbiasa mencurahkan seluruh perhatian pada yang diajak bicara. Tak heran orang lain ingin selalu ada di dekat mereka.

4. Mereka selalu memberi lebih dulu, dan kadang tak pernah menerima kembali 
Bahasa Inggrisnya "take and give", dan versi bahasa Indonesia sebenarnya lebih baik: "memberi dan menerima". Artinya, kita mengutamakan untuk memberi lebih dulu, baru menerima. Inilah yang dilakukan orang karismatik, dan mereka tidak memikirkan apakah mereka akan menerima balasan. Mereka berfokus pada apa yang bisa diberikan, karena memberi menjadi cara untuk menciptakan koneksi nyata dalam suatu hubungan.

5. Mereka tidak merasa diri mereka penting
Orang yang akan terkesan dengan diri Anda yang (sok) penting dan hebat tak lain orang-orang yang juga merasa diri mereka penting. Yang lain, tak akan terkesan dengan orang yang sok penting. Orang lain mungkin justru akan merasa terganggu dan tidak nyaman.

6. … Karena menganggap orang lain lebih penting
Orang karismatik mempunyai pengetahuan, pendapat, dan sudut pandang sendiri dari suatu masalah. Namun, hal itu tidak penting bagi mereka karena mereka tidak bisa memelajari sesuatu dari diri mereka sendiri. Mereka sadar, mungkin saja ada hal-hal yang diketahui orang lain tetapi tidak mereka pahami. Hal itu membuat orang lain menjadi lebih penting bagi mereka, karena mereka bisa belajar dari pengalaman orang lain.

7. Mereka membiarkan orang lain bersinar
Mereka tahu bahwa ada orang yang tidak cukup menerima penghargaan atas prestasinya. Karena itu, mereka akan menunjukkan pada khalayak bahwa seeorang tersebut -sebutlah rekan kerjanya- telah melakukan tugasnya dengan baik. Mereka tahu, sebuah pengakuan akan membuat rekan kerjanya merasa telah membuat suatu pencapaian, dan merasa lebih penting. Hal inilah yang membuat orang yang berkarisma dihargai lebih jauh: karena mereka peduli untuk memerhatikan pencapaian yang dilakukan orang lain.

8. Mereka cermat memilih kata-kata
Mereka sadar, kata-kata yang mereka gunakan bisa memengaruhi perilaku orang lain. Misalnya, ketika ingin mengatakan, "Anda tidak harus menyiapkan presentasi untuk klien yang baru", mereka memilih untuk mengatakan, "Anda kan harus berbagi berita seru untuk teman-teman di divisi kita...." Kata-kata yang menjadi pilihan orang karismatik bisa membantu orang lain merasa lebih baik. Mereka menciptakan suasana yang bahagia, antusias, dan terpenuhi kebutuhannya.

9. Mereka tidak berbagi gosip dengan orang lain
Kita semua tentu senang mendengar gosip. Masalahnya, kita sebenarnya tidak menghargai orang yang pertama menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya tersebut. Sebab, siapa yang tahu orang yang menyebar gosip itu juga pernah menyebar berita tak sedap mengenai diri kita? Lalu kita ditertawakan ramai-ramai di belakang kita? Inilah yang tidak dilakukan orang karismatik. Mereka tidak membuka peluang untuk menertawakan orang lain, dan dengan sendirinya tidak akan ditertawakan.

10. Mereka mau mengakui kegagalan mereka
Orang yang sukses sering dianggap berkarisma karena mereka sukses. Namun, Anda tidak harus menjadi sukses untuk menjadi orang yang karismatik. Anda hanya perlu bersikap tulus untuk menjadi karismatik. Orang karismatik selalu rendah hati, mau berbagi tentang kegagalan yang Anda lakukan, mengakui kesalahan, dan mampu menertawakan diri sendiri. Sementara, orang lain tidak akan menertawakan orang yang karismatik; mereka akan tertawa bersama. Itulah yang membuat orang karismatik lebih disukai.

Sumber :
http://female.kompas.com

Monday, March 31, 2014

Karyawan Tipe Otak Kiri atau Otak Kanan


Kunci sukses seseorang itu selain dari kerja keras dan disiplin adalah mengetahui kemampuan diri yang dimiliki untuk dikembangkan. Setelah tahu mana saja kelebihan yang bisa dikembangkan, maka dengan mudah jalan akan terbuka dan ditemukan.

Nah, kelebihan tersebut ternyata sangat berhubungan erat dengan kerja otak kiri dan otak kanan. Mereka yang cenderung bekerja dengan menggunakan otak kiri sangat cerdas dalam hal menyusun dan penghitungan. Cocok bekerja di bidang pekerjaan yang berhubungan dengan penghitungan serta menyusun. Sedangkan mereka yang cenderung bekerja dengan otak kanan, lebih banyak gemar praktek dan bekerja di bidang yang berkaitan dengan seni.

Apabila saat ini Anda sudah bekerja namun merasa tidak nyaman dengan pekerjaan Anda, bisa jadi Anda salah memilih pekerjaan. Yuk cari bidang pekerjaan sesuai dengan cara kerja otak.

Jawab beberapa pertanyaan berikut yang akan membantu Anda menentukan apakah Anda tipe si otak kanan atau si otak kiri.

1. Jika Anda diberi tugas untuk mengarang, maka yang akan Anda tulis adalah...

a. Menjabarkan sistem planet dan peredarannya

b. Menulis cerita bagaimana seekor gajah dapat menyelamatkan dunia


2. Menurut teman Anda, Anda adalah sosok yang...

a. Akademis dan terkenal selalu disiplin

b. Sosok yang populer dan ramai


3. Di pagi hari, Anda memilih pakaian berdasarkan...

a. Apa saja yang penting praktis

b. Seperti yang telah direncanakan semalam, karena ada acara yang spesial harus didatangi


4. Kalau ada dua pekerjaan yang menanti, maka Anda akan...

a. Menyelesaikan satu terlebih dahulu sampai sempurna, baru menyelesaikan yang lain

b. Mengerjakan yang satu, apabila bosan mengerjakan yang lain, dan kembali ke pekerjaan semula. Yang penting tidak bosan.


5. Dalam produksi film, kira-kira Anda akan berperan sebagai apa?

a. Pengarah gaya

b. Sebagai artisnya dong


6. Anda baru saja memenangkan sebuah tiket liburan selama seminggu ke pantai, Anda akan...

a. Mengajak serta kedua orang tua dan keluarga

b. Berlibur bersama teman-teman saja


7. Seseorang baru saja mengatakan bahwa Anda ini terlalu mementingkan penampilan. Maka Anda berpikir...

a. Masak sih?

b. Iya mungkin iya. Karena penampilan kan juga penting.


8. Dalam soal pilihan ganda, Anda akan...

a. Menelaah jawaban satu per satu kemudian baru memilih

b. Bingung memilih mana yang benar


9. Apabila Anda menonton film yang mengharukan maka Anda akan

a. Berkaca-kaca

b. Berusaha keras untuk tidak menangis


10. Saat beradu pendapat dengan orang lain Anda akan

a. Mengeluarkan semua fakta yang ada

b. Berusaha memanipulasi keadaan dan membuatnya lebih dramatis


Cek jawaban Anda di sini. Apabila jawaban Anda"

Kebanyakan A: Si Tipe Otak Kiri

Anda adalah tipe otak kiri, di mana Anda sosok pemikir yang praktis dan tak suka hal-hal yang muluk-muluk. Anda adalah tipe orang yang dikagumi karena kedisiplinan Anda. Anda sangat teliti dan tidak suka hal-hal atau barang yang berantakan. Anda akan menyelesaikan semua problem yang ditemui satu per satu terlebih dahulu sebelum menjamah problem lain.

Anda sangat pandai dalam hal menganalisa serta menemukan jawaban akan sebuah problem.

Kebanyakan B: Si Tipe Otak Kanan

Anda sosok yang ceroboh dan seringkali dibuat bimbang saat berhadapan dengan banyak pilihan. Anda sering kurang yakin dan kurang tegas, serta mudah tergiur rayuan.

Anda lebih senang berangan-angan dan cepat bosan. Gemar mendengarkan cerita fiksi dan khayalan serta menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seni. Anda juga suka tantangan serta kejutan. Anda orang yang moody, dan tidak suka berkutat pada satu hal saja saat mengerjakan sesuatu.

Nah, manakah tipe Anda? (vem/bee)

Sumber :
http://www.vemale.com

Saturday, March 8, 2014

Memasarkan Diri Anda

Oleh : Hendra Sipayung




Saya selalu percaya bahwa profesi paling tua di dunia adalah salesman/woman dan pengetahuan yang paling dibutuhkan di dunia ini adalah bagaimana cara menjual.

Mari kita cek:

Pertama, apakah Anda lebih senang datang ke dokter yang pendiam, atau ke dokter yang dapat mendengar pasiennya dan memberikan komentar sebagai respons dari pasiennya?

Kedua, apakah Anda lebih lebih senang dengan guru yang hanya membaca buku saja atau guru yang bercerita tentang pelajaran yang disampaikannya?

Ketiga, apakah Anda lebih senang dengan presiden yang hanya ada di istana negara atau presiden yang turun ke lapangan, lalu berbicara dengan warganya? 

Saya rasa mayoritas suka dengan dokter yang mendengar dan memberi respons. Lebih senang dengan guru yang bercerita tentang pelajaran yang dia sampaikan, dan sangat senang dengan presiden yang turun ke lapangan dan berbicara dengan warganya. Paling tidak saat ini sudah banyak survei yang membuktikan demikian.

Apa kesamaan yang mereka lakukan? Satu hal! Mereka bekerja dengan menjual diri mereka, dengan berusaha memiliki hubungan yang lebih dengan pihak-pihak yang mereka tuju. Mereka mampu menyesuaikan diri mereka dengan apa yang orang lain harapkan dari profesi mereka. 

Jualan tidak akan terjadi apabila kita hanya sibuk dengan diri sendiri, berbicara dengan diri sendiri, orang lain harus terlibat. Jualan sangat berhubungan erat dengan bagaimana Anda bisa memahamai orang-orang yang Anda layani. Jika Anda gagal menjual diri Anda, hampir dipastikan Anda akan lambat dalam mendaki karir.

Oleh sebab itu jadilah seorang salesman bagi diri Anda sendiri. Adapun langkah-langkah untuk melakukannya antara lain:

1. Pahami produk yang Anda jual, dalam hal ini diri Anda sendiri. 
Apa kelebihan dan apa hal-hal yang masih harus Anda kembangkan. Jadi semakin Anda mengenal diri Anda maka semakin mudah Anda memasarkan diri Anda. 

2. Bandingkan produk Anda dengan produk-produk orang lain. 
Petakan dimana kekuatan Anda dan bagian mana yang harus dikembangkan. Ini adalah strategi agar Anda mampu menjadi seorang yang mampu memberikan layanan terbaik .

3. Ketahuilah kepada siapa Anda akan berjualan. 
Cari tahu apa yang mereka suka, dan apa yang mereka kurang suka. Prinsip ini berlaku saat Anda ingin melamar di sebuah perusahaan besar. Anda perlu pahami benar kualifikasi apa yang mereka inginkan, dan apa yang membuat banyak para pelamar ditolak oleh perusahaan tersebut 

4. Buat suatu penawaran penjualan berdasarkan kelebihan produk anda, dan apa yang diinginkan konsumen Anda. 
Bayangkan jika Anda mengaku sebagai pakar keuangan namun Anda nyata-nyatanya tidak paham cara membaca neraca, jelas ini akan membuat klien Anda kecewa karena Anda tidak mampu memberikan rekomendasi yang tepat diakibatkan pengetahuan yang terbatas.

5. Jualan adalah suatu proses, mungkin produk anda akan laku dalam 1 kali sales pitch, tapi mungkin juga tidak. 
Jangan menyerah, tetap jualan, kembangkan Anda sebagai produk, kenalilah konsumen Anda lebih dalam, agar Anda tahu bagaimana cara terbaik untuk mendekati dan menjual kepada konsumen anda. Jadi ketika Anda berulang kali mendapatkan penolakan bekerja di sejumlah perusahaan. Jangan menyerah. Cobalah melihat kembali diri Anda, kembangkan keahlian Anda belajar dari kegagalan Anda. Sehingga setiap penolakan membuat Anda selangkah lebih maju.

Jualan tidak sama dengan berdiam diri. Tanpa anda sadari, memasarkan diri adalah aktivitas yang bakal Anda lakoni sampai akhir hayat. Seberapapun bagusnya produk Anda, atau dengan kata lain seberapa cerdasnya dan jeniusnya Anda, jika Anda tidak pernah menjualnya dengan baik, maka tidak ada gunanya, dan juga tidak akan membawa diri Anda meraih sukses.

Hormat kami 
Career Guide Indonesia 
http://careerguideindonesia.com/

Related Posts