Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Friday, August 23, 2024

Ciri Utama Ibu dari Anak-Anak yang Pintar

Membangun Fondasi untuk Kecerdasan dan Kesuksesan.

Hasil penelitian menemukan bahwa anak-anak cerdas ternyata memiliki ibu yang suportif alias selalu memberikan dukungan.

Dukungan ibu memiliki hubungan positif dengan kecerdasan anak-anak, terutama kemampuan kognitif secara umum. Adapun, kemampuan kognitif itu dinilai berdasarkan kemampuan mengucapkan dan pemahaman kosakata, gerak tubuh, hingga perkembangan mental.

Anak yang memiliki ibu dengan sikap suportif cenderung memiliki skor kecerdasan umum yang lebih tinggi. Bahkan, hubungan ini tetap signifikan setelah dihubungkan dengan faktor-faktor lain, seperti kecerdasan ibu.

Efek wilson atau peningkatan heritabilitas dengan usia menunjukkan bahwa pada awal kehidupan, setiap individu memiliki tingkat kecerdasan yang beragam karena tinggal di lingkungan yang berbeda-beda. Salah satu pengaruh utama kecerdasan anak di lingkungan awal adalah dukungan ibu.

Kecerdasan anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh yang diberikan oleh orang tua, terutama ibu. Ibu seringkali berperan sebagai pendidik pertama dalam kehidupan anak-anak mereka. Peran ibu dalam mendidik anak sangat menentukan bagaimana anak-anak berkembang secara kognitif dan emosional hingga akhir usia kanak-kanak. 

Ada beberapa ciri utama yang sering ditemukan pada ibu dari anak-anak yang pintar dan berprestasi, yang berkontribusi signifikan dalam membangun fondasi kecerdasan dan kesuksesan anak-anak mereka.


1. Menerapkan Pola Asuh yang Responsif.

Ibu yang responsif secara emosional cenderung memiliki anak-anak yang lebih pintar. Responsif berarti ibu dengan cepat dan tepat merespons kebutuhan fisik dan emosional anak-anak mereka. Ketika anak merasa dicintai dan aman, mereka lebih cenderung untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka, yang merupakan dasar penting untuk perkembangan kognitif.

Misalnya, ketika seorang anak menangis atau membutuhkan perhatian, ibu yang responsif akan merespons dengan penuh kasih sayang, memberikan rasa aman kepada anak. Rasa aman ini memungkinkan anak-anak untuk berkembang tanpa perasaan cemas atau takut, yang pada akhirnya membantu mereka dalam belajar dan menyerap informasi baru.


2. Mendorong Rasa Ingin Tahu.

Anak-anak yang pintar biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan ibu yang baik tahu bagaimana cara mendorong rasa ingin tahu ini. Mereka tidak hanya memberikan jawaban ketika anak-anak bertanya, tetapi juga mendorong mereka untuk mencari tahu lebih lanjut. Ibu yang demikian akan memberikan berbagai stimulus yang merangsang anak untuk berpikir, seperti membacakan buku, memperkenalkan konsep-konsep baru, dan mengajak anak untuk berdiskusi tentang berbagai topik.

Dengan mendorong rasa ingin tahu, ibu membantu anak-anak mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas, yang merupakan dua komponen penting dari kecerdasan kognitif.


3. Membaca dan Berbicara dengan Anak Sejak Dini.

Salah satu ciri utama ibu dari anak-anak yang pintar adalah kebiasaan membaca dan berbicara dengan anak-anak mereka sejak usia dini. Membaca untuk anak-anak bukan hanya tentang memperkenalkan mereka pada kata-kata dan bahasa, tetapi juga tentang mengembangkan imajinasi, meningkatkan keterampilan berpikir, dan membangun fondasi untuk literasi yang baik.

Berbicara dengan anak-anak juga sama pentingnya. Melalui percakapan sehari-hari, ibu memperkenalkan anak pada kosa kata baru, ide-ide, dan cara berpikir. Anak-anak yang sering diajak berbicara oleh ibu mereka cenderung memiliki keterampilan bahasa yang lebih baik, yang merupakan indikator kuat dari kecerdasan kognitif.


4. Mengatur Rutinitas yang Sehat.

Ibu yang cermat dalam mengatur rutinitas harian yang sehat untuk anak-anak mereka membantu memastikan bahwa anak-anak tumbuh dengan baik secara fisik dan mental. Rutinitas yang sehat termasuk pola tidur yang teratur, asupan nutrisi yang seimbang, dan aktivitas fisik yang cukup.

Tidur yang cukup sangat penting untuk perkembangan otak, terutama pada anak-anak. Ibu yang mengatur waktu tidur yang konsisten untuk anak-anak mereka membantu memastikan bahwa otak anak mendapatkan waktu istirahat yang dibutuhkan untuk memproses informasi dan belajar.

Selain itu, asupan nutrisi yang baik juga mendukung perkembangan otak. Ibu yang memastikan anak-anak mereka makan makanan yang kaya akan vitamin, mineral, dan asam lemak esensial (seperti omega-3) membantu meningkatkan fungsi kognitif dan daya ingat anak.


5. Mengajarkan Disiplin dan Tanggung Jawab.

Disiplin dan tanggung jawab adalah dua nilai penting yang diajarkan oleh ibu yang mendidik anak-anak yang pintar. Ibu yang baik tahu bagaimana mengajarkan disiplin tanpa menggunakan hukuman yang keras. Mereka menetapkan batasan yang jelas, memberikan arahan yang konsisten, dan menjelaskan konsekuensi dari tindakan tertentu.

Dengan mengajarkan disiplin, ibu membantu anak-anak mengembangkan kontrol diri, yang penting untuk keberhasilan akademis dan sosial. Selain itu, dengan mengajarkan tanggung jawab, anak-anak belajar untuk menyelesaikan tugas mereka dengan baik, mengatur waktu, dan mengambil keputusan yang tepat, yang semuanya berkontribusi pada kecerdasan dan kesuksesan mereka.


6. Memberikan Cinta Tanpa Syarat.

Ibu yang mencintai anak-anak mereka tanpa syarat memberikan fondasi emosional yang kuat bagi perkembangan anak. Cinta tanpa syarat berarti mencintai anak apa adanya, tanpa mengharapkan imbalan atau mengaitkan cinta dengan prestasi.

Cinta tanpa syarat membantu anak-anak merasa dihargai dan diterima, yang meningkatkan harga diri mereka. Anak-anak yang merasa dicintai cenderung lebih percaya diri dalam mengeksplorasi dunia, mencoba hal-hal baru, dan menghadapi tantangan. Percaya diri ini merupakan faktor penting dalam perkembangan kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis.


7. Terlibat Aktif dalam Pendidikan Anak.

Ibu yang terlibat aktif dalam pendidikan anak-anak mereka cenderung memiliki anak-anak yang lebih pintar. Keterlibatan ini bisa berupa membantu anak-anak dengan pekerjaan rumah, menghadiri pertemuan sekolah, berkomunikasi dengan guru, dan memastikan bahwa anak-anak mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Ibu yang terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka peduli tentang pembelajaran dan keberhasilan akademis mereka. Ini memotivasi anak-anak untuk bekerja keras di sekolah dan mencapai potensi penuh mereka.


Menjadi ibu dari anak-anak yang pintar melibatkan banyak aspek, mulai dari memberikan cinta dan dukungan emosional hingga mendorong rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif dalam pendidikan. Ciri-ciri ini tidak hanya membantu anak-anak mengembangkan kecerdasan kognitif mereka, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang sukses dan berkarakter kuat di masa depan.

Peran ibu dalam membimbing, mendidik, dan mencintai anak-anak mereka tidak dapat diremehkan. Dengan perhatian yang penuh kasih dan strategi parenting yang tepat, ibu dapat membantu anak-anak mereka berkembang menjadi pribadi yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Wednesday, August 21, 2024

Membimbing Anak di Jalan yang Lurus

Peran Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, termasuk membimbing mereka agar berjalan di jalan yang lurus. Dalam konteks ini, "jalan yang lurus" dapat diartikan sebagai kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai moral, integritas, dan tanggung jawab. Membesarkan anak dengan prinsip-prinsip ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi peran orang tua sangatlah penting dalam memastikan anak-anak tumbuh menjadi individu yang baik, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan hidup.

Menjadi Teladan yang Baik

Salah satu cara paling efektif bagi orang tua untuk membimbing anak-anak mereka adalah dengan menjadi teladan yang baik. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa tindakan mereka sehari-hari mencerminkan nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan pada anak-anak mereka.

Misalnya, jika orang tua ingin anak-anak mereka jujur, mereka harus menunjukkan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan mereka. Jika mereka ingin anak-anak mereka bertanggung jawab, mereka harus menunjukkan tanggung jawab dalam pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial. Dengan menjadi teladan, orang tua memberikan contoh konkret bagaimana seharusnya berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain.

Membangun Nilai-Nilai Moral yang Kuat

Membimbing anak agar berjalan di jalan yang lurus juga melibatkan penanaman nilai-nilai moral yang kuat sejak dini. Ini termasuk mengajarkan anak tentang apa yang benar dan salah, pentingnya empati, rasa hormat terhadap orang lain, dan pentingnya bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Orang tua bisa memulai dengan percakapan sederhana tentang nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika anak mengalami konflik dengan temannya, ini bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan tentang pentingnya menyelesaikan masalah dengan cara yang baik dan adil. Melalui diskusi seperti ini, anak-anak dapat memahami pentingnya nilai-nilai moral dan bagaimana mereka bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

Selain itu, orang tua juga bisa menggunakan cerita, baik dari buku, film, atau pengalaman pribadi, untuk mengajarkan pelajaran moral. Cerita-cerita ini dapat membantu anak-anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan pentingnya membuat pilihan yang baik.

Memberikan Bimbingan yang Konsisten

Konsistensi adalah kunci dalam membesarkan anak agar tetap berada di jalan yang lurus. Anak-anak membutuhkan bimbingan yang konsisten dari orang tua mereka untuk memahami batasan-batasan yang ada dan mengembangkan disiplin diri. Ini berarti bahwa aturan-aturan yang dibuat harus ditegakkan secara konsisten, dan konsekuensi dari pelanggaran aturan harus diterapkan dengan adil.

Konsistensi juga berarti bahwa orang tua harus tetap mendukung dan memberikan bimbingan, bahkan ketika anak-anak mereka menghadapi tantangan atau membuat kesalahan. Alih-alih hanya menghukum, orang tua harus membantu anak-anak mereka memahami kesalahan mereka dan belajar bagaimana memperbaikinya di masa depan.

Membangun Hubungan yang Kuat dengan Anak

Membangun hubungan yang kuat dan penuh kepercayaan dengan anak-anak adalah dasar dari semua upaya parenting. Ketika anak-anak merasa dicintai dan didukung, mereka lebih mungkin untuk mendengarkan bimbingan dan nasihat dari orang tua mereka.

Hubungan yang kuat ini dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka dan jujur. Orang tua harus berusaha untuk mendengarkan perasaan dan pikiran anak-anak mereka, dan tidak hanya berbicara atau memberi instruksi. Dengan mendengarkan anak-anak, orang tua dapat memahami apa yang menjadi perhatian mereka, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mereka melihat dunia. Ini juga memberikan anak-anak rasa aman dan kepercayaan diri bahwa mereka dapat berbicara tentang apa pun dengan orang tua mereka tanpa takut dihakimi.

Selain itu, menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga juga penting. Kegiatan keluarga, baik itu makan malam bersama, bermain, atau bepergian, dapat memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Waktu yang dihabiskan bersama ini tidak hanya menciptakan kenangan indah, tetapi juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai yang penting.

Mengajarkan Pentingnya Tanggung Jawab

Salah satu nilai terpenting yang harus ditanamkan pada anak adalah tanggung jawab. Anak-anak harus diajarkan bahwa setiap tindakan mereka memiliki konsekuensi, dan mereka bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri. Ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti membereskan mainan mereka sendiri, membantu pekerjaan rumah, atau menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu.

Ketika anak-anak memahami pentingnya tanggung jawab, mereka akan lebih sadar dalam membuat keputusan dan lebih siap menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Ini juga membantu mereka mengembangkan rasa percaya diri dan kemandirian, yang akan sangat berguna ketika mereka menghadapi tantangan hidup di masa depan.

Kesimpulan

Membimbing anak agar berjalan di jalan yang lurus adalah salah satu tugas paling penting dan menantang yang dihadapi oleh orang tua. Melalui teladan yang baik, penanaman nilai-nilai moral, bimbingan yang konsisten, hubungan yang kuat, dan pengajaran tentang tanggung jawab, orang tua dapat membantu anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang baik, berakhlak, dan siap menghadapi kehidupan.

Pada akhirnya, tujuan parenting bukan hanya untuk mengendalikan anak, tetapi untuk membimbing mereka agar mereka dapat membuat keputusan yang baik dan bertanggung jawab sendiri. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak akan mampu berjalan di jalan yang lurus dan mencapai potensi penuh mereka dalam kehidupan.

Monday, August 19, 2024

Busur Versus Anak Panah

Menyiapkan dan Melepaskan Generasi Masa Depan

Dalam kehidupan, ada sebuah perumpamaan yang indah dan penuh makna tentang hubungan antara orang tua dan anak yang digambarkan melalui analogi busur dan anak panah. Busur mewakili orang tua atau pembimbing, sedangkan anak panah melambangkan generasi muda—anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Seperti busur yang perlu kuat dan stabil untuk meluncurkan anak panah ke tujuannya, orang tua juga harus siap untuk memberikan bimbingan dan dukungan yang tepat. Namun, suatu hari, anak panah harus dilepaskan untuk menempuh jalannya sendiri.

Anak Panah yang Harus Diurus

Setiap anak panah, seperti halnya setiap anak, memiliki potensi unik dan tujuan yang berbeda. Namun, untuk mencapai tujuannya, anak panah memerlukan perhatian, pengasuhan, dan pengarahan yang tepat. Orang tua, sebagai busur, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk dan menyiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi dunia.

Mengurus anak panah berarti memastikan bahwa ia lurus, tajam, dan siap untuk dilepaskan. Dalam konteks kehidupan, ini berarti memberikan pendidikan yang baik, nilai-nilai moral yang kuat, serta keterampilan hidup yang akan membantu anak-anak menghadapi tantangan di masa depan. Proses ini tidak selalu mudah; membutuhkan kesabaran, kesabaran, dan keteguhan dari orang tua. Seperti seorang pemanah yang meluruskan dan menyeimbangkan anak panahnya sebelum melepaskannya, orang tua juga harus sabar dalam membimbing anak-anak mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Mengurus anak panah juga melibatkan pengenalan tentang batasan dan kebebasan. Anak-anak perlu memahami tanggung jawab dan konsekuensi dari tindakan mereka, namun juga perlu diberi ruang untuk bereksplorasi dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Ini adalah keseimbangan yang harus dicapai oleh orang tua, di mana mereka memberikan panduan tanpa terlalu membatasi kebebasan anak-anak mereka.

Melepaskan Anak Panah ke Tujuannya

Namun, seiring waktu, setiap orang tua akan menghadapi momen ketika anak panah, yang selama ini telah mereka siapkan, harus dilepaskan. Ini adalah momen yang penuh dengan campuran emosi—kebanggaan, harapan, dan mungkin sedikit kecemasan. Tetapi seperti halnya seorang pemanah yang melepaskan anak panah dengan keyakinan bahwa ia akan mencapai sasarannya, orang tua juga harus percaya bahwa anak-anak mereka siap untuk menempuh jalannya sendiri.

Melepaskan anak panah berarti memberi anak-anak kebebasan untuk membuat keputusan mereka sendiri, mengejar impian mereka, dan menghadapi tantangan hidup dengan cara mereka sendiri. Ini mungkin berarti mereka akan membuat kesalahan, namun kesalahan tersebut adalah bagian dari proses belajar dan pertumbuhan. Orang tua tidak dapat selalu melindungi anak-anak mereka dari semua bahaya atau kesulitan, tetapi mereka dapat memberikan fondasi yang kuat yang akan membantu anak-anak mereka menghadapi dunia dengan percaya diri.

Dalam melepaskan anak panah, orang tua juga harus memahami bahwa perjalanan anak-anak mereka mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan atau impian mereka. Anak-anak adalah individu dengan pikiran, keinginan, dan tujuan mereka sendiri. Mereka mungkin memilih jalan yang berbeda dari yang dibayangkan oleh orang tua mereka, dan itu adalah bagian dari proses mereka menjadi dewasa dan menemukan identitas mereka sendiri.

Kesimpulan

Busur dan anak panah adalah analogi yang kuat tentang peran orang tua dalam kehidupan anak-anak mereka. Mengurus anak panah adalah tanggung jawab besar yang melibatkan pengasuhan, bimbingan, dan persiapan yang hati-hati. Namun, pada akhirnya, setiap anak panah harus dilepaskan untuk menempuh jalannya sendiri. Ini adalah bagian dari siklus kehidupan yang alami, di mana orang tua memberikan kebebasan kepada anak-anak mereka untuk mengejar tujuan mereka dan menghadapi tantangan dunia.

Melepaskan anak panah adalah tindakan penuh cinta dan keyakinan. Ini adalah momen ketika orang tua harus percaya bahwa segala yang telah mereka ajarkan dan persiapkan akan membantu anak-anak mereka mencapai tujuan mereka. Seperti seorang pemanah yang melepaskan anak panah dengan harapan dan keyakinan, orang tua juga harus percaya bahwa anak-anak mereka akan menemukan jalan mereka sendiri dan mencapai impian mereka.

Wednesday, May 29, 2024

Membentuk Karakter dan Kepercayaan Diri Anak

10 Tips Esensial untuk Orang Tua dalam Membesarkan Anak yang Sukses dan Percaya Diri.

Membesarkan anak yang tangguh dan percaya diri merupakan tantangan besar. Dalam lingkungan yang penuh tekanan seperti sekarang, dengan FOMO (fear of missing out) dan persaingan yang ketat, bagaimana orang tua bisa memastikan anak-anak mereka siap menghadapi masa depan?. 

Berikut adalah strategi parenting untuk membesarkan anak yang percaya diri, berani, dan berkarakter.

Sangat penting mendorong anak untuk percaya pada diri sendiri dan menghadapi ketidakpastian dengan penuh keyakinan. Berikut adalah sepuluh cara untuk meningkatkan kepercayaan diri anak Anda:


1. Kurangi Ceramah, Lebih Banyak Mendengarkan.

Alih-alih langsung memberikan solusi saat Anda merasa ada yang tidak beres, cobalah berhenti sejenak dan dengarkan. Kita sebagai orang tua diharapkan melepaskan keinginan Anda untuk "memperbaiki" masalah mereka dan biarkan mereka mendapatkan pengalaman bermakna yang akan memberikan dampak jangka panjang. Mendengarkan membantu membangun kepercayaan dan memungkinkan kerentanan dalam hubungan.


2. Tangkap Mereka Melakukan Hal-Hal Kecil dengan Benar.

Akui kemenangan kecil mereka, yang akan perlahan-lahan menjadi kemenangan besar. Berikan dorongan untuk segala hal mulai dari pekerjaan rumah hingga mencuci piring—kebiasaan sehari-hari yang membentuk keterampilan dan nilai yang bermanfaat. Pekerjaan rumah menciptakan rasa komunitas dan koneksi serta mulai membangun tanggung jawab pribadi.


3. Berhenti Mengubah Target.

Jangan terus-menerus "menggeser tujuan kesuksesan," Hal ini dapat membuat anak merasa seperti mereka tidak pernah mencapai sasaran atau melakukan sesuatu yang benar di mata orang tua mereka.


4. Cobalah untuk Memahami.

Sebelum memberikan hukuman atau menaikkan suara Anda untuk menyampaikan maksud, tanyakan pada anak mengapa mereka mengambil tindakan tertentu dan tanggapi dari situ. Alihkan pola pikir Anda menjadi, "Saya di sini untuk memahami hati dan perjuanganmu."


5. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Menyebabkan Perilaku Tersebut.

Menutup pintu dengan keras mungkin tidak sopan, tetapi bisa juga merupakan tanda frustrasi atau rasa malu. Tanpa menghakimi, cobalah untuk memahami mengapa emosi dan tindakan tertentu terjadi. Anak-anak lebih mungkin untuk mendengarkan dan berbagi saat mereka merasa didengar.


6. Praktikkan Jeda dalam Parenting.

Ketika Anda ingin bereaksi berdasarkan emosi, berhenti sejenak, bernapas, dan ambil jeda. Ini membantu Anda merespons dengan lebih tenang dan efektif.


7. Tahun-tahun Remaja adalah untuk Kemajuan.

Biarkan anak-anak menemukan jawaban untuk diri mereka sendiri dan ingat bahwa kemunduran adalah bagian dari pertumbuhan. Semakin banyak tekanan yang Anda berikan pada diri sendiri untuk menjadi orang tua yang sempurna dan memiliki anak yang sempurna, semakin banyak tekanan yang Anda berikan pada mereka. Biarkan berjalan alami.


8. Pujilah Karakter Lebih dari Hasil.

Orang tua agar dapat untuk menempatkan lebih banyak nilai pada upaya dan karakter anak mereka daripada pada hasilnya. Ketika anak-anak mengaitkan kepercayaan diri dan kesuksesan mereka dengan hal-hal yang dapat mereka kendalikan, seperti upaya dan karakter, mereka menjadi tidak terbendung.


9. Menjadi Teladan.

Penting untuk menjadi contoh yang Anda harapkan diikuti oleh anak-anak Anda. Jika Anda tidak ingin media sosial menguasai hidup anak Anda, jangan berjalan-jalan di rumah sambil memposting gambar anjing atau makan malam Anda.


10. Jelas Tentang Apa yang Dimaksud dengan Kesuksesan.

Definisi kesuksesan berbeda untuk setiap orang. Periksa diri Anda dan pahami apa yang dimaksud dengan kesuksesan bagi Anda. Mudah terjebak dalam siapa yang memenangkan apa atau mendapatkan nilai apa, tetapi yang penting adalah upaya dan nilai-nilai yang ditunjukkan oleh anak-anak Anda.


Dengan memuji karakter, ketekunan, dan usaha anak, mereka akan terus berusaha meskipun hasilnya tidak pasti. Definisi kesuksesan yang lebih bernuansa ini dapat membantu anak-anak mengelola kesulitan dan merasa bangga pada diri mereka sendiri.


Sumber :

https://fortune.com/well/2023/10/05/parents-raise-successful-confident-kids/

Tips dan Trik untuk Membantu Anak Mengatasi Kecemasan



6 Hal yang Perlu Diketahui Orang Tua tentang Membesarkan Anak dengan Kecemasan.

Gangguan kecemasan pada anak mempengaruhi satu dari delapan anak, membuat kondisi ini cukup umum di banyak keluarga. Meskipun begitu, gangguan kecemasan pada anak jarang dibahas, meninggalkan banyak orang tua merasa tidak siap dan bahkan putus asa dalam membesarkan anak yang cemas. Berikut adalah beberapa saran dari para ahli kesehatan mental yang dapat membantu orang tua menghadapi tantangan ini.


1. Kecemasan Bisa Tampak Seperti Masalah Perilaku.

Tantrum umum terjadi pada semua anak di usia tertentu, tetapi bisa juga muncul pada anak dengan gangguan kecemasan. Kecemasan bisa bermanifestasi sebagai teriakan atau melawan Anda. Terkadang, sulit untuk membedakan apakah ini perilaku normal anak atau disebabkan oleh sesuatu yang lebih besar.

Orang tua agar tetap menetapkan batasan dan aturan meskipun anak menunjukkan tantrum karena kecemasan. Setelah anak tenang, ingatkan mereka tentang aturan dan konsekuensi yang ada.


2. Penting untuk Mengakui Perasaan Anak.

Mengakui emosi anak adalah langkah penting saat mereka merasa cemas. Praktikkan "empati perkembangan" dengan tidak menyepelekan kekhawatiran yang mungkin terasa besar bagi anak seusianya. Mengatakan hal seperti, “Aku tahu pagi sebelum sekolah sulit bagimu. Aku bisa melihat kamu takut dan lebih suka tinggal di rumah,” dapat membantu anak merasa dimengerti.


3. Tetap Tenang Itu Penting.

Menjaga ketenangan adalah kunci. Kadang-kadang sulit untuk tetap tenang ketika anak Anda marah atau menangis. Namun, ketenangan Anda bisa membantu menenangkan anak. Jika Anda merasa kesulitan, bicarakan dengan terapis anak Anda untuk mendapatkan alat bantu atau pertimbangkan terapi untuk diri sendiri.


4. Kadang Harus Membiarkan Anak Menghadapi Gelombang Kecemasan.

Ketika anak mencapai puncak kecemasan, kadang-kadang kita perlu membiarkan mereka melewati fase itu. Berada di sana untuk anak, memeluk mereka, atau memberikan ruang sampai mereka tenang bisa membantu. Ini adalah waktu yang baik untuk melatih keterampilan yang telah mereka pelajari dalam terapi.


5. Jangan Menghindari Hal yang Menyebabkan Kecemasan Anak.

Menghindari hal yang membuat anak cemas dapat memperburuk kecemasan dalam jangka panjang. Orang tua diharapkan agar dapat mendorong keterampilan keberanian pada anak dengan cara yang penuh kasih. Tetap tegas dan bantu anak menemukan cara untuk menghadapi situasi yang sulit.


6. Soroti Hal-hal Positif Juga.

Selain menghadapi tantangan, penting untuk memuji anak ketika mereka melakukan hal yang baik. Soroti saat-saat ketika semuanya berjalan dengan baik. Pertanyaan terbuka seperti, “Bagian terbaik dan terburuk dari harimu?” saat makan malam atau berkendara bersama dapat membantu membuka komunikasi tentang perasaan mereka.

Secara keseluruhan, ingatlah bahwa Anda sedang melakukan yang terbaik. Sangat penting orang tua untuk mengingat bahwa mereka adalah orang tua dan pengasuh yang baik, meskipun terkadang merasa segalanya tidak berjalan dengan baik. Dengan dukungan dan strategi yang tepat, Anda dapat membantu anak menghadapi kecemasan mereka dengan lebih baik.


Sumber :

https://fortune.com/well/article/parenting-tips-raising-kids-anxiety/

Saturday, June 27, 2020

Program Master Super Spesialis

Ssttt... Basuki & Nadiem Lagi Bikin Program Master Super Spesialis

Sabtu, 27 Jun 2020 14:00 WIB

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ingin memanfaatkan politeknik PU yang berada di Semarang untuk menjadi sekolah master super spesialis PUPR.

Dirinya pun mengaku sudah berdiskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim tentang kelas program master.

"Kami sedang dan akan menerima, saya berbincang dengan Menteri Nadiem, mendesain program master super spesialis bidang PUPR," kata Basuki dalam video conference, Sabtu (27/6/2020).

Basuki menyebut, program master spesialis PUPR ini juga nantinya akan dibiayai oleh APBN yang dialokasikan pada anggaran Kementerian PUPR. Adapun alasannya pembukaan program ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

"Ini saya biayai dengan APBN PU dan menurut saya APBN PU ini untuk alokasi pembangunan infrastruktur dan bukan untuk pengembangan SDM," ujarnya.

Basuki menjelaskan, program spesialis PU ini sangat dibutuhkan oleh instansi yang dipimpinnya, khususnya dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan infrastruktur di lapangan.

"Kalau mau pengembangan SDM ada LPDP, jadi staf PU yang mau meneruskan sekolah dengan degree saya minta cari beasiswa, tidak dengan beasiswa APBN PU. APBN PU saya alokasikan khusus untuk benar-benar yang dibutuhkan oleh PU. Ini super spesialis," katanya.

Berikut rencana bidang studi super spesialis di Kementerian PUPR:
1. Rekayasa eksplorasi dan eksploitasi air tanah dalam
2. Geologi struktur bawah tanah dan pemanfaatan ruang bawah Tanah
3. Hidrologi dan drainase pada sistem transportasi jalan
4. Rekayasa jembatan khusus struktur bangunan atas dan bangunan bawah
5. Teknik mitigasi bencana alam likuifaksi
6. Teknik pengelolaan dan mitigasi bencana rawa
7. Rekayasa dan pengendalian morfologi sungai
8. Operasi dan instrumentasi hidrometeorologi bendungan
9. Retrofitting dan instrumentasi keamanan bendungan
10. Preservasi jalan pada kondisi geoteknik tanah sulit
11. Rekayasa pengelolaan dan pengendalian kehilangan air minum


Sumber :
https://finance.detik.com/infrastruktur/d-5070565/ssttt-basuki--nadiem-lagi-bikin-program-master-super-spesialis?tag_from=finance_beritaTerkait

Wednesday, January 22, 2020

Mendidik Siswa Milenial

1606 PARENTING RAK MUTU

Saya diundang ke acara seminar pola-asuh (parenting) di sebuah Sekolah Dasar. Temanya 'Mendidik Siswa Milenial'. Acaranya jam 9, tapi saya datang terlambat, jam 10 lebih. Saya masuk dari belakang dan duduk di bangku paling belakang, agar tidak mengganggu acara.

Saya menyimak sebentar dan saya langsung tertarik. Pembicaranya seorang wanita, seorang doktor psikologi. Cara membawakannya santai, bahasanya ringan, dibumbui humor dan kisah lucu. Contoh yang diangkat dari peristiwa sehari-hari; kadang dari keluarganya sendiri, anak-anaknya, kadang dari tingkah polah anak didiknya, mahasiswanya.

Saya sangat suka saat ia menunjukkan sebuah tabel yang memetakan: kelompok usia anak, perkembangan mental di kelompok usia tertentu, siapa yang berperan, dan apa yang terjadi jika pendidikan berhasil.

Di tahap usia 0-3 tahun, anak belajar tentang rasa percaya vs rasa curiga, yang paling berperan dalam kelompok usia ini adalah Ibu, jika pendidikan berhasil, tahap ini menghasilkan rasa optimis.

Usia 3-5 tahun, anak belajar mandiri vs ragu-ragu, yang paling berperan adalah Ayah dan Ibu, hasil pendidikan di tahap ini adalah kontrol diri dan motivasi.

Usia 5-7 tahun; anak belajar insiatif vs rasa bersalah; yang berperan Ayah, Ibu, saudara; hasilnya perilaku yang mudah diarahkan.

Usia 7-12 tahun; anak belajar motivasi kuat vs rendah diri; yang berperan Ayah, Ibu, Guru, teman; hasilnya pandai mengelola konflik.

Usia 13-19 tahun; anak belajar identitas diri vs kabur; yang berperan orang dewasa dan sahabat; hasilnya setia, rasa sosial tinggi, stabil, tidak mudah terpengaruh.

Usia 20-30 tahun; anak belajar keakraban vs isolasi; yang berperan pasangan hidup; hasilnya cinta keluarga.

Menarik, bukan?

"Maaf, bukannya saya menganggap peran guru sama sekali tidak ada. Saya juga guru," ujar sang psikolog meneruskan paparannya. "Tapi fungsi orangtua, terutama Ayah, tak tergantikan, bahkan oleh seribu guru sekalipun."

Hmm. Orangtua, terutama Ayah, tak tergantikan seribu guru.

"Orangtua harus mau berkorban, mengasuh dan menjaga sepenuhnya hingga anak umur 12 tahun, hingga SD," imbuhnya dengan bersemangat.

Okay.

"Karena setelah itu peran teman dan guru mulai membesar..."

Menarik.

"Jadi kalau ada anak SMP atau SMA nakal atau berulah, jangan cuman panggil orangtuanya, percuma," ujar sang psikolog mantap. "Panggil siapa?"

Dan kami menjawab serentak, "Temannya..."
"Bener!" Sang psikolog manthuk. "Panggil temannya, sahabatnya, ajak mereka bicara untuk membantu..."

Hmm...

"Kalo mahasiswa saya ada yang bermasalah, malas kuliah misalnya," ujar sang psikolog. "Saya ndak mungkin panggil orangtuanya, siapa saya panggil...?"

Dan kami pun ber-koor, "Pacarnya!"
"Bener!" Sang psikolog menganggukkan kepala dengan mantap.

Saya terus menyimak.

Benar apa yang dipaparkan si pembicara, lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan mental seorang anak berubah dari waktu ke waktu, sesuai tahapan usia. Awalnya orangtua, lalu keluarga, lalu guru, teman, dan terakhir pasangan hidup.

"Hampir semua anak selalu ngefans sama papanya." Si pembicara meneruskan paparannya.

"Mereka sangat kecewa saat papanya gagal memenuhi tiga kriteria utama seorang ayah. Apa saja itu?," tanya nya dengan nada memancing.

Apa, ya? Saya ndak tahu. Naga-naganya topik ini sudah dibahas sebelum saya datang..

Seorang guru mengacungkan jari.
"Ya, apa saja, Pak?" Si pembicara menuding si bapak guru yang kini berdiri.
"Mencari nafkah," jawab si bapak guru.
"Bener, mencari nafkah."
"Mendidik karakter..."
"Ya, bener, dan yang ke-tiga?"

"Umm..." Si bapak guru tidak segera menjawab.
Lho, kok ragu?

"Mencintai istrinya..."

Oalah.

Saya tersenyum. Mencari nafkah, mendidik karakter anak, mencintai istri; tiga kriteria utama seorang ayah, seorang suami. Adakah yang belum kita penuhi?

Saya banyak belajar hari ini.

"Dan yang terpenting dilakukan bukan 'quality time', tapi 'quantity'. Bukan kualitas tapi kuantitas..."

Maksudnya?

"Lha ndak mungkin tiap kali punya 'quality time'," imbuh si pembicara. "Mosok kita mau bilang gini sama anak, 'Ayo, cepet-cepet, kamu mau ngomong apa sama mama, curhat apa? Ayo cepet, ini mama sejam lagi ada seminar. Cepet, cepet, kita quality time'..."

Kami ngakak. 'Quality time' tidak bisa dipaksa, disusu-susu, harus terjadi secara spontan, misterius, dan itu butuh waktu.

Kuantitas.

"Sama suami atau istri juga begitu. Mosok mau bilang, 'Ayo, Mah, kita quality time, yuk. Ngomong apa ya, enaknya?'..."
H0‡00„9H0‡30„9H0†90„9, kalau diskenario atau dipaksakan, malah garing, mati gaya.

Bubar.

"Saat kita bisa ngomong, guyon, cerita hal-hal yang lucu, ndak mutu, ndak berkualitas, terus kita bisa tertawa bareng, ngakak bareng, itulah quality time, itulah kualitas," tandas sang psikolog.

Bener.

Saat omongan kita, diri kita tampil rak mutu, 'quality time' tercipta. Karena saat 'rak mutu' itulah kita tampil sebagai pribadi yang seutuhnya, tulus, ikhlas, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling.

Itulah kualitas terbaik kita sebagai manusia.

Related Posts