Kanada ke China? Ketika Kanada Mulai Menjauh dari Amerika
Dunia sedang bergerak menuju tatanan baru yang semakin kompleks dan multipolar. Hubungan internasional tidak lagi dibangun semata atas dasar aliansi ideologis, melainkan kepentingan ekonomi, stabilitas jangka panjang, dan posisi strategis dalam rantai pasok global. Dalam konteks inilah muncul narasi yang semakin sering dibicarakan: Kanada mulai menunjukkan sinyal pivot ekonomi yang lebih pragmatis, termasuk membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan China, di tengah relasi yang semakin penuh ketegangan antara Amerika Serikat dan Beijing.
Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Beijing saat ini berpusat pada persaingan dagang (mulai dari tarif, logam tanah jarang, kedelai), teknologi (seperti perangkat lunak keamanan), dan geopolitik (misalnya Greenland, Taiwan, Laut Cina Selatan), yang memicu perang dagang dan retorika sengit, mencerminkan perebutan pengaruh global antara dua kekuatan besar tersebut, bahkan mengancam stabilitas ekonomi global dan regional.
Selama puluhan tahun, Kanada dikenal sebagai sekutu terdekat Amerika Serikat. Kedua negara terhubung erat melalui perdagangan, pertahanan, budaya, dan sistem ekonomi yang saling terintegrasi. Namun, kedekatan ini juga menciptakan ketergantungan yang besar. Ketika Amerika Serikat mulai mengadopsi kebijakan ekonomi yang semakin proteksionis, penuh tarif, dan berorientasi ke kepentingan domestik semata, negara-negara mitra, termasuk Kanada, mulai dihadapkan pada dilema: tetap setia pada satu poros kekuatan, atau mendiversifikasi risiko demi stabilitas jangka panjang.
China, di sisi lain, menawarkan pasar yang sangat besar, kebutuhan sumber daya yang tinggi, serta ambisi jangka panjang dalam perdagangan global, energi, teknologi, dan infrastruktur. Bagi Kanada, yang kaya akan sumber daya alam, energi, mineral kritis, dan produk agrikultur, China bukan sekadar mitra dagang alternatif, melainkan pasar strategis yang sulit diabaikan. Ketika ekonomi global melambat dan risiko resesi meningkat, pragmatisme ekonomi sering kali mengalahkan loyalitas geopolitik tradisional.
Perlambatan ekonomi global dan meningkatnya risiko resesi disebabkan oleh inflasi tinggi, kenaikan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan perlambatan permintaan global, yang mengakibatkan penurunan investasi, perdagangan, peningkatan pengangguran, serta potensi penurunan daya beli masyarakat, bahkan di Indonesia, yang mendorong kehati-hatian dalam belanja dan investasi serta peningkatan risiko PHK.
Pivot ekonomi Kanada tidak selalu berarti berpihak secara ideologis kepada China atau meninggalkan Amerika Serikat. Namun, dalam era New World Order, keberpihakan tidak lagi hitam putih. Negara-negara menengah seperti Kanada justru cenderung mengambil posisi “multi-alignment”, menjaga hubungan baik dengan Barat, sambil tetap membuka pintu kerja sama ekonomi dengan Timur. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, bergantung pada satu kekuatan besar saja dianggap sebagai risiko strategis.
Bergantung pada satu kekuatan besar, dalam hal ini berarti ketergantungan politik atau ekonomi pada satu negara adidaya, yang berisiko membuat negara lain rentan terhadap tekanan atau perubahan kebijakan.
Ketegangan Amerika Serikat dan China yang terus meningkat—mulai dari perang dagang, pembatasan teknologi, hingga isu keamanan—secara tidak langsung memaksa negara lain untuk memilih strategi bertahan hidupnya sendiri. Kanada berada di posisi unik: terlalu dekat dengan Amerika untuk sepenuhnya lepas, namun terlalu besar dan terlalu strategis untuk mengabaikan peluang global di luar Washington. Ketika Amerika menggunakan ekonomi sebagai alat tekanan geopolitik, Kanada belajar bahwa diversifikasi mitra dagang bukanlah pengkhianatan, melainkan perlindungan.
Kanada belajar dari ketergantungan besar pada Amerika Serikat bahwa diversifikasi mitra dagang sangat penting untuk ketahanan dan pertumbuhan ekonomi, mendorong pencarian peluang di Asia-Pasifik (seperti Tiongkok dan Indonesia), dan memperkuat perjanjian dagang dengan negara lain seperti Korea Selatan (CKFTA) dan anggota CPTPP untuk mengurangi risiko geopolitik serta menciptakan stabilitas ekonomi di masa depan, menjadikan Kanada lebih mandiri dan tangguh.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam tatanan dunia. New World Order bukan tentang satu negara menggantikan negara lain sebagai penguasa tunggal, melainkan tentang fragmentasi kekuatan. China mungkin tidak menggantikan Amerika sepenuhnya, tetapi ia menciptakan pusat gravitasi ekonomi alternatif. Negara-negara seperti Kanada membaca realitas ini dengan cermat: masa depan tidak ditentukan oleh siapa sekutu terkuat hari ini, tetapi oleh siapa yang mampu menjamin stabilitas ekonomi besok.
Kekuatan militer atau aliansi politik hari ini tidak menjamin masa depan; justru kemampuan suatu negara atau pemimpin untuk menciptakan stabilitas dan kemakmuran ekonomi jangka panjang akan lebih menentukan nasibnya di masa depan, karena ekonomi yang kuat menjadi fondasi stabilitas sosial dan keamanan, mengurangi risiko konflik, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengalahkan fokus pada kekuatan militer semata yang sering kali rapuh jika fondasi ekonominya lemah, seperti diungkapkan oleh banyak pemikir dan pemimpin dunia yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan.
Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Hubungan dengan China juga membawa tantangan, mulai dari isu transparansi, perbedaan nilai politik, hingga tekanan diplomatik dari sekutu Barat. Kanada berada di antara dua dunia: satu yang dibangun atas nilai liberal Barat, dan satu lagi yang menawarkan kekuatan ekonomi besar dengan pendekatan negara yang lebih sentralistik. Menavigasi dua kutub ini membutuhkan kehati-hatian, diplomasi tinggi, dan konsistensi kebijakan jangka panjang.
Pada akhirnya, narasi “Canada sides with China” lebih tepat dibaca sebagai cerminan perubahan zaman, bukan pengkhianatan aliansi. Dunia sedang bergerak menuju fase di mana kepentingan nasional, ketahanan ekonomi, dan fleksibilitas geopolitik menjadi prioritas utama. Dalam New World Order, bertahan bukan berarti memilih satu sisi secara total, melainkan mampu berdiri di antara kekuatan besar tanpa tenggelam oleh konflik mereka. Dan Kanada, seperti banyak negara lain, sedang belajar memainkan permainan baru ini—perlahan, hati-hati, namun penuh perhitungan.
.png)
No comments:
Post a Comment