Friday, September 12, 2014
Tanda Bekerja di Tempat Yang Tepat
Banyak orang yang memiliki pekerjaan impian. Entah itu dalam segi passion, suasana kerja, hingga salary. Pekerjaan impian dan ideal memang tergantung pada masing-masing individu.
Saat sudah merasa betah dan nyaman dalam satu pekerjaan, kemudian bisa berkembang dalam perusahaan tersebut, kemungkinan pekerjaan Anda sudah mulai membesarkan karir Anda dan Anda bekerja di tempat yang tepat. Beberapa tanda lainnya adalah seperti di bawah ini.
Anda Bekerja Tanpa Terasa Sedang Bekerja
Tanda yang paling mudah dilihat adalah bagaimana Anda bisa bekerja tanpa rasa bekerja. Semua terasa bisa dihandle, ada tantangannya tapi terasa sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan menambah pengalaman. Anda tak pernah merasa dedikasi Anda sia-sia.
Anda Tak Menghitung Apa Yang Anda Hasilkan
Setiap kali Anda menghasilkan sesuatu atau berprestasi, Anda tak menghitungnya. Namun terpacu untuk menghasilkan yang lebih lagi dan lagi. Anda menikmati petualangan dalam setiap pencapaian yang Anda lakukan dalam pekerjaan Anda.
Hubungan Antara Keluarga Dan Rekan Kerja Seimbang
Pekerjaan itu sesuai dengan Anda ketika Anda tak lagi bermasalah dengan hubungan antara kehidupan pribadi dan rekan kerja. Hal ini juga mengindikasikan pekerjaan ini tepat dalam situasi Anda sekarang, meski tidak terlalu sesuai dengan passion yang Anda miliki.
Anda Punya Love Life
Pekerjaan yang tepat itu juga memberi ruang yang proporsional dalam kebutuhan Anda menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bila pekerjaan terlalu lama mengungkung Anda dalam kesibukan sampai Anda merasa tidak punya waktu untuk love life, mungkin Anda perlu menata ulang waktu yang Anda miliki atau mencari pekerjaan yang tidak menyita me time Anda.
Anda Tidak Menyesal
Yang jelas sebuah pekerjaan yang menyenangkan dan sesuai passion kerap kali membuat Anda selalu termotivasi dan jarang rasa menyesal. Artinya, selama sekian lama Anda bekerja, Anda merasa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat baik secara skill, pengalaman maupun finansial.
Anda Mendapatkan Kepuasan (Walau Masih Belum Puas)
Satu hal yang penting, ada kepuasan tersendiri dalam setiap pencapaian Anda. Meski mungkin Anda selalu ingin terus menanjak, namun Anda merasa bahagia dengan apa yang sudah Anda lakukan. Bahkan kadang Anda merasa pekerjaan ini sebagai sesuatu yang bisa Anda nikmati di jam efektif maupun di waktu luang.
Anda Punya Semangat Dan Ide Untuk Berkembang
Dalam pekerjaan ini, apabila Anda merasa punya semangat dan ide untuk berkembang terus, maka artinya Anda nyaman dan menyukai bidang pekerjaan tersebut. Anda tahu bahwa setiap pekerjaan pasti ada effortnya, namun Anda tidak lelah untuk mengembangkan diri dan menyumbangkan ide dalam setiap hal yang Anda lakukan.
Dalam bekerja, mengeluh dan putus asa mungkin saja terjadi. Bagaimana Anda menyikapinya, juga bisa menunjukkan apakah Anda memang sudah bekerja di tempat yang tepat atau harus berpetualang di luar.
Happy working and never give up on your dreams.
Sumber :
http://www.vemale.com/relationship
Why Asians Are Less Creative Than Westerners
MENGAPA BANGSA ASIA KALAH KREATIF ?
Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir / diterima sbg sesuatu yang wajar.
3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION-nya (rasa cinta) pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu.
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan men-support-nya.
Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi
Sumber :
Artikel dikirim oleh bu Ratih dari FB: Komunitas Ayah Edy
Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir / diterima sbg sesuatu yang wajar.
3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.
Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION-nya (rasa cinta) pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu.
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan men-support-nya.
Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi
Sumber :
Artikel dikirim oleh bu Ratih dari FB: Komunitas Ayah Edy
Tingkatkan Produktivitas Kerja di Hari Senin
Hari Senin adalah hari paling malas bekerja. Enggan bangun pagi, apalagi berangkat kerja. Namun demikian, jangan biarkan perasaan dan energi yang menurun mendominasi pikiran serta tubuh Anda. Bangkitkan semangat untuk mulai kembali produktif.
1. Hindari beraktivitas di media sosial saat bekerja
Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menghindari segala hal yang dapat menggangu fokus Anda. Salah satunya bersosialisasi di Facebook, Twitter, Instagram, atau Path. Sebab, seperti kita ketahui chatting dengan teman via media sosial sama menyenangkannya dengan bertemu langsung. Alhasil, tanpa Anda sadari, waktu berlalu begitu saja dan tumpukan pekerjaan masih menggunung.
2. Buat pembagian tugas
Waktu terbaik untuk bekerja secara maksimal adalah sebelum makan siang. Bagilah tugas-tugas kantor Anda. Sebelum makan siang, selesaikan tugas paling mendesak. Sehabis makan siang, biasanya semangat bekerja menurun, lakukan tugas dengan tenggat jangka panjang.
3. Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri
Sebelum menyelesaikan tugas Anda sendiri, jangan berlagak jadi pahlawan kesiangan dengan menawarkan bantuan pada rekan kerja. Hal seperti ini hanya akan membuat beban kerja jadi terasa lebih berlipat-lipat dan membuat Anda sulit berkonsentrasi.
4. Rapikan meja kerja
Meja kerja yang berantakan akan membuat Anda kesulitan mencari barang, dan hal ini justru akan membuang banyak waktu. Secara psikologis, meja yang berantakan juga akan membuat Anda menjadi tambah stres. Rapihkanlah meja Anda, jika perlu tambahkan hiasan yang membuat hati Anda bahagia.
5.Beristirahat
Jangan memaksa diri untuk terus bekerja saat badan telah merasa lelah. Luangkan waktu untuk merenggangkan punggung dan kaki selama 15 menit. Selain itu, hindari makan siang di meja kantor. Cobalah mencari udara segar dengan keluar dari ruangan dan menghirup udara bebas.
6.Jangan terus menerus periksa email atau pesan singkat
Ketika Anda terus menerus memeriksa email atau pesan di telepon genggam, ini akan membuat pekerjaan yang Anda prioritaskan tak kunjung usai dan membuat pikiran menjadi makin panik. Percaya saja, jika urusannya sangat mendesak, pasti orang tersebut akan menelpon Anda.
Sumber :
http://female.kompas.com
Wednesday, August 27, 2014
Belajar Keluar dari Comfort Zone
Oleh: Rhenald Kasali
BELUM lama ini Menteri BUMN Dahlan Iskan menitipkan sekitar 200 tentara berpangkat kolonel kepada saya. Rupanya, Menteri Dahlan sangat peduli terhadap orang-orang yang pernah berjasa mengawal negara itu.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang ketika itu dijabat Jenderal Moeldoko memberi tahu saya bahwa kolonel-kolonel tersebut adalah para perwira pilihan yang telah diseleksi. Di antaranya adalah mantan komandan area teruji, atase pertahanan, dan sebagian sudah ikut kursus di Lemhanas atau Sesko TNI. Jadi, dari segi kompetensi dan karakter, mereka merupakan orang-orang hebat. Seluruh kolonel itu tentu berharap naik pangkat menjadi jenderal. Bukankah tinggal selangkah lagi?
Namun, sejarah berubah. Angkatan Darat bukan lagi penguasa darat. Kalau dulu pada era Orde Baru mereka bisa dikaryakan di luar dinas militer untuk menjadi bupati, wali kota, atau duduk di Fraksi ABRI di DPR, kini tidak bisa lagi. Pada era demokrasi, semua posisi itu harus dipilih rakyat.
Kini tinggallah para kolonel yang merana. Karirnya tinggal di dunia militer. Jumlah jabatannya terbatas. Apa yang harus dilakukan?
KSAD Moeldoko dan Dahlan Iskan mengambil inisiatif. Kolonel-kolonel tersebut dilatih ulang, dipersiapkan menghadapi medan yang sama sekali baru. Bisa di BUMN, swasta, atau memulai usaha sendiri.
Galau
Hari pertama, ketika mereka mendapat arahan dari markas besarnya, saya melihat sikap kesatria yang luar biasa. Selain disiplin, muka mereka semua cerah dan tidak ada kata lain yang terucap selain siap.
Namun, esoknya, kegamangan mulai terungkap saat tahu bahwa mereka harus ganti kuadran, meninggalkan profesi tentara. Begini sebagian keluhan mereka.
’’Bapak tahu, kami ini 20 tahun tinggal di dalam panser?’’
Koleganya menimpali, ’’Kami ini 25 tahun membela negara! Sekarang di mana negara?’’
Instruktur saya menjawab, ’’Benar! Membela negara itu baik dan berjasa. Tapi, kini saatnya Anda membela diri sendiri. Sanggup?’’
Mereka mulai berpikir.
Yang ingin saya sampaikan sederhana saja. Betapa rumitnya bagi kita yang sudah bertahun-tahun melakukan sesuatu yang rutin dan ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan untuk keluar. Keluar dari zona nyaman (comfort zone).
Saya tahu, kecepatan beradaptasi masing-masing perwira amat beragam. Bagi yang cepat, mereka segera mendekati para narasumber agar bisa bergabung sesuai dengan keahliannya. Namun, sampai hari terakhir, tidak sedikit yang masih gamang dan menunggu instruksi lebih jauh.
Hal berbeda saya temukan ketika menghadapi ratusan wanita karir. Kali ini saya diminta memberikan tip mengambil pensiun dini –yang saya ganti dengan istilah karir kedua. Mereka sangat antusias. Jauh lebih siap.
Itulah bedanya pilihan karena dipaksa dengan yang sukarela. Kelompok pertama pasti galau karena dipaksa ke luar. Pada kelompok kedua, justru muncul kesadaran kuat untuk keluar dari zona nyaman itu.
Pengalaman dari Babson
Ketika diminta memimpin Podomoro University, saya pun dikirim belajar ke Babson College di Amerika Serikat yang terkenal dengan pendidikan kewirausahaannya. Selama seminggu saya berkeliling kampus dan berdialog dengan profesor, peneliti, eksekutif, alumnus, donatur, serta para mahasiswa. Bagaimana cara Babson College melatih jiwa kewirausahaan?
Di sebuah kelas, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan kesenian. Pilihannya beragam. Ada drama, menari, komedi, melukis, membuat patung, musik, menyanyi, dan sebagainya. Masing-masing kelompok diberi instruktur dan dalam tiga pekan ke depan harus tampil dalam sebuah festival. Hampir pasti, mahasiswa penyuka musik akan memilih musik. Mereka yang suka drama akan memilih seni drama dan seterusnya.
Apa yang dilakukan Babson College? Karena tujuannya adalah melatih keluar dari zona nyaman, mereka yang suka musik justru tidak boleh memilih musik. Begitu seterusnya.
Alhasil, seluruh mahasiswa protes. Mereka harus mencoba sesuatu yang baru dan harus tampil hanya dalam waktu tiga minggu. Bagaimana mungkin? Tapi, bukankah tujuan pendidikan adalah membangun manusia? Di antaranya, manusia yang berani keluar dari zona nyaman.
Menurut hemat saya, kita sangat abai melatih hal tersebut. Karena itu, setiap menghadapi perubahan, kita pun menjadi galak, marah, resistan, menolak, dan ampun, main ancam dan bolak-balik berteriak seperti orang gila.
JAWA POS, 23 Agustus 2014
Rhenald Kasali ;
Pendiri Rumah Perubahan
@Rhenald_Kasali
Tuesday, August 26, 2014
4 Posisi Kantor yang Mendukung Karir
Pernah merasa tidak betah ketika berada di kantor, ingin buru-buru istirahat dan makan siang ataupun segera absen pulang merupakan masalah yang klasik bagi para pekerja kantoran. Membuat lingkungan kantor agar terasa nyaman layaknya di rumah hampir seperti hal yang mustahil. Namun anda masih dapat mengubah hal tersebut kepada wilayah anda.
Sebagian kantor akan membatasi meja kerja anda dengan yang lainnya dengan cara kubikel. Kubikel ini seringkali membuat para penghuninya merasa terisolasi tanpa adanya privasi. Berikut beberapa tips sederhana dalam menjadikan kubikel anda terasa lebih nyaman serta mendukung agar karir anda lebih maju.
1. Posisi meja kerja
Posisikan meja kerja anda sedemikian rupa sehingga anda dapat melihat keseluruhan kubikel walaupun tengah menghadap monitor. Pastikan juga anda dapat melihat ke arah pintu masuk pada kubikel anda. Hal ini dinamakan dengan power position. Apabila memindahkan meja kerja tidak memungkinkan, anda dapat menaruh cermin agar dapat memantulkan semua yang terjadi pada belakang meja anda. Hal ini dapat meminimalisir anda akan terlihat tengah mengerjakan suatu proyek unggulan anda oleh competitor ataupun rekan kerja anda apabila rekan kerja tiba-tiba masuk.
2. Meja kerja
Meja kerja yang berantakan dapat menjadi salah satu pentunjuk bahwa tidak menyenangkan. Menurut beberapa pendapat, kekacauan yang terjadi pada meja kerja anda mengartikan ketidakmampuan anda untuk maju serta banyaknya sebuah keputusan yang tertunda. Apabila anda membiarkan meja kerja yang berantakan, maka tidak mengherankan jika karir yang anda jalani juga ikut terhambat. Meja kerja anda hanya di peruntukan berkas-berkas yang tengah anda kerjakan saja. Arsip yang lainnya dapat anda simpan di gudang pengarsipan. Jangan menumpukan semua arsip-arsip anda pada meja kerja anda yang sempit.
3. Kursi kerja
Kursi kerja anda juga dapat mempersentasikan karir yang anda jalani. Pilihlah kursi kerja yang bersih dan juga nyaman bagi anda. Kursi kerja anda yang kotor juga dapat mempersentasikan sikap tidak peduli anda kepada kerir anda. Apabila kursi kerja anda sobek maka sesegera mungkin anda minta untuk diganti.
4. Kelelahan dan juga stress
Kelelahan dan juga stress dapat terjadi karena anda terlalu lama menatap layar monitor. Anda dapat menatap menyimpat tanaman hijau di sekat monitor atau disekitar meja anda dengan jarak sekitar 90 cm. Hal ini dilakukan agar anda dapat mengoreksi energy elektromagnetik negative yang dikeluarkan oleh computer anda. Tanaman hijau ini akan menghubungkan diri anda dengan alam. Perhatikan posisi di atas agar karir anda di kantor menjadi sukses. Selain itu selesaikan pekerjaan anda dengan seluruh kemampuan anda. Agar tidak hanya posisi namun kemampuan anda pun ikut membuat diri anda menjadi karyawan yang sukses di kantor.
Sumber:
tipskarir
http://infobandung.co.id
Monday, August 11, 2014
Tips Kuliah Tahun Pertama
Transisi dari dunia SMA ke dunia kuliah
Bagaimana menyiasati transisi dari bangku SMA ke bangku kuliah. Tips-tips ini mungkin lebih tepat bagi mereka yang berkuliah jurusan science dan engineering, untuk jurusan lain mungkin ada penyesuaian.
Dosen tidak sama dengan guru di SMA
Guru di sekolah mendapat pendidikan dan pelatihan untuk mengajar. Sementara dosen menghabiskan waktu kuliahnya untuk belajar dan melakukan riset, selain itu mereka mendedikasikan hidupnya untuk mencari sesuatu yang baru. So, ada perbedaan mendasar antara guru di sekolah dan dosen di universitas.
Jangan berharap dosen memberikan semua detail ilmu, karena mereka memiliki waktu yang sedikit untuk mengajar dengan banyaknya ilmu yang harus dibagi.
Jangan mengeluh kalau bertemu dosen yang tidak pandai mengajar, karena mereka tidak dilatih untuk pandai mengajar. Kalau dapat dosen yang pandai mengajar, ya bersyukurlah.
Jangan heran juga kalau suatu ketika mereka jadi banyak bercerita tentang riset mereka yang mereka banggakan. Wajar kalau mereka bangga, karna sebagian besar hidup mereka didedikasikan untuk hal tersebut. So, try to get interesting on it.
Inisiatif dalam mencari informasi
Mahasiswa tentu lebih mandiri dari siswa SMA. Hal ini berkaitan dengan penyebaran informasi penting. Saya ingat ketika SMA, kalau ada pengumuman dari pihak sekolah, maka semua siswa akan mendapat surat pengumuman. Atau mendapat informasi lisan dari guru yang masuk ke kelas.
Well, in University it’s not gonna happen. Kita harus mencari informasi sendiri. Informasi yang paling penting adalah mengenai tanggal-tanggal penting seperti tanggal ujian, tanggal penyerahan tugas, kapan harus bayar uang kuliah dsb.
So, setidaknya sempatkan diri untuk mengunduh kalender akademik dan catat tanggal-tanggal pentingnya.
Selain tanggal penting, kita juga harus mudheng pada pengumuman laboratorium. Kapan kita melakukan praktikum, kapan tugas pendahuluan harus dikumpulkan serta kapan laporan harus dikumpulkan.
So, jangan malu untuk bertanya kepada kakak angkatan atau kepada teman. Karena sekali kita tertinggal informasi, kita akan rugi walaupun sebetulnya kita mampu untuk melaksanakan kewajiban. Misalnya, kalau ada mahasiswa yang lupa kapan ujian dilaksanakan lalu ujiannya dapat 0, itu bukan berarti mahasiswa tersebut kemampuannya 0, tapi karna tidak tahu kapan ujian dilaksanakan.
Jam kosong yang produktif
Jadwal kuliah tidak sama dengan jadwal pelajaran di sekolah. Jadwal kuliah bisa loncat-loncat, misalnya ada kuliah dari jam 7 hingga jam 9 pagi, lalu setelah nya kosong hingga ada kuliah lagi jam 3 sore. Jadwal seperti ini membuat kita lelah, apalagi bagi kita yang bertempat tinggal jauh dari kampus. Kalau yang nge-kost sih tinggal pulang aja.
Nah, Jam kosong seperti ini mesti dimanfaatkan. Apakah kita belajar dengan teman, baca-baca di perpustakaan atau bahkan untuk sekedar beristirahat (asal jangan ketiduran aja sampe kelewat kuliah selanjutnya).
Baca buku teks
Saat SMA, kita dimanja dengan buku pelajaran berbahasa Indonesia. Selain itu, kita di-“paksa” untuk membaca buku tertentu. Sementara di bangku kuliah, kita diperhadapkan dengan buku teks berbahasa Inggris serta referensi yang banyak. Misalnya untuk Fisika Dasar saja, buku teks yang bisa dibaca mencapai 4-5 judul.
So, harus ada kemauan dari kita untuk membaca buku teks tersebut. Memang perlu penyesuaian di awal-awal, tapi lama-lama juga akan terbiasa.
Perhatikan silabus kuliah
Silabus kuliah adalah uraian dari dosen mengenai rencana perkuliahan. Hal ini terutama sub-bahasan apa saja yang nantinya akan masuk di ujian.
Nah, informasi ini sangat berharga untuk kita, karena tidak semua bahasan yang ada di buku teks akan dipelajari di kuliah tersebut. Tentunya hal ini akan membuat belajar kita menjadi lebih terarah.
Selain itu, silabus dapat menjadi acuan kita untuk bisa belajar duluan sebelum dosen menjelaskan sebuah sub-bahasan. Dengan cara ini, kita memiliki landasan ilmu terlebih dahulu sebelum mendapat pengajaran dari dosen.
Ketika konsep menjadi nomor satu
Lupakan cara pengerjaan soal di SMA. Di SMA kita cenderung untuk menghafal “Jika soalnya seperti A, maka kita ngerjainnya pakai cara B lalu pakai rumus C lalu masukan angkanya dan voila kita dapat jawabannya”.
In University, it is not rarely happen. Konsep menjadi nomor satu dan latihan soal adalah cara kita untuk menguji konsep, bukan menghafal cara dan rumus mana yang harus dipakai.
So, perbanyaklah memperlajari konsep lalu kemudian berlatih dengan soal-soal.
Lupakan sistem kebut semalam
Di SMA, masih mungkin untuk “besok ulangan lalu belajar malam ini”. Sukur-sukur kalau nilainya melebihi batas bawah, kalau tidak harus remedial. Bahkan ketika remedial pun masih belajar satu malam sebelumnya (karena soalnya cenderung akan dipermudah).
Well, kalau di perkuliahan, sistem seperti ini tidak dianjurkan. Untuk mendapat nilai akhir, kita harus melewati paling sedikit dua kali ujian (UTS dan UAS). Dan ketika dua ujian tersebut, cakupan bab nya pun lebih banyak ketimbang di SMA yang hanya satu ulangan = satu bab.
Maka, kita harus belajar dengan cara mencicil, usahakan setiap hari membaca ulang bahan kuliah di hari tersebut. Lalu rajin-rajinlah membaca ulang konsep serta latihan soal. Sistem belajar seperti ini akan sulit dilakukan kalau “sistem kebut semalam” (belum lagi ditambah stress besok akan ujian).
Hati-hati dalam memilih teman bergaul
Tips yang terakhir ini menjadi tips yang melibatkan orang lain. Hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Bukan berarti sok jual mahal atau sombong, tapi kita boleh berteman dengan siapa saja, tapi tidak bergaul dengan siapa saja.
Contoh: kalau kita punya teman bergaul yang suka maen game sampe subuh dan nginep di tempat game online, maka kita cenderung akan demikian.
Contoh lainnya kalau kita punya teman bergaul yang suka bolos kuliah lalu nitip tanda tangan absen, lama-lama kita juga akan demikian. Kalau kita bergaul dengan mereka yang tidak menggunakan jam kosong dengan baik, ya lama-lama kita juga akan ikut-ikutan.
So, hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Karena katanya sih, IP (indeks prestasi) kita adalah rata-rata dari IP lima teman terdekat kita. Jadi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 1,sekian dan 2,sekian, maka besar kemungkinan IP kita 1.5. Tapi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 3,sekian dan 4, ya itung sendiri aja dapet brapa tuh.
Mungkin yang terakhir ini agak berlebihan. Tapi ya demikian adanya (pengalaman lho ya). Contoh kecilnya adalah kalau kita hang out bareng dengan yang IP nya kecil, maka akan sangat jarang toh kita ngerjain tugas bareng mereka, belajar bareng mereka untuk nyiapin ujian, yang ada kita terjebak dengan pembicaraan yang hampa, datang ke tempat yang membuat kita jarang belajar dan sebagainya.
Tapi kalau kita gaul dengan yang IP nya gede, mungkin ketika makan siang pun, kita bisa sambil diskusi pelajaran bareng mereka.
It is a little thing, but it can make a huge difference in the end.
Sumber :
http://chrisphdlife.wordpress.com
Bagaimana menyiasati transisi dari bangku SMA ke bangku kuliah. Tips-tips ini mungkin lebih tepat bagi mereka yang berkuliah jurusan science dan engineering, untuk jurusan lain mungkin ada penyesuaian.
Dosen tidak sama dengan guru di SMA
Guru di sekolah mendapat pendidikan dan pelatihan untuk mengajar. Sementara dosen menghabiskan waktu kuliahnya untuk belajar dan melakukan riset, selain itu mereka mendedikasikan hidupnya untuk mencari sesuatu yang baru. So, ada perbedaan mendasar antara guru di sekolah dan dosen di universitas.
Jangan berharap dosen memberikan semua detail ilmu, karena mereka memiliki waktu yang sedikit untuk mengajar dengan banyaknya ilmu yang harus dibagi.
Jangan mengeluh kalau bertemu dosen yang tidak pandai mengajar, karena mereka tidak dilatih untuk pandai mengajar. Kalau dapat dosen yang pandai mengajar, ya bersyukurlah.
Jangan heran juga kalau suatu ketika mereka jadi banyak bercerita tentang riset mereka yang mereka banggakan. Wajar kalau mereka bangga, karna sebagian besar hidup mereka didedikasikan untuk hal tersebut. So, try to get interesting on it.
Inisiatif dalam mencari informasi
Mahasiswa tentu lebih mandiri dari siswa SMA. Hal ini berkaitan dengan penyebaran informasi penting. Saya ingat ketika SMA, kalau ada pengumuman dari pihak sekolah, maka semua siswa akan mendapat surat pengumuman. Atau mendapat informasi lisan dari guru yang masuk ke kelas.
Well, in University it’s not gonna happen. Kita harus mencari informasi sendiri. Informasi yang paling penting adalah mengenai tanggal-tanggal penting seperti tanggal ujian, tanggal penyerahan tugas, kapan harus bayar uang kuliah dsb.
So, setidaknya sempatkan diri untuk mengunduh kalender akademik dan catat tanggal-tanggal pentingnya.
Selain tanggal penting, kita juga harus mudheng pada pengumuman laboratorium. Kapan kita melakukan praktikum, kapan tugas pendahuluan harus dikumpulkan serta kapan laporan harus dikumpulkan.
So, jangan malu untuk bertanya kepada kakak angkatan atau kepada teman. Karena sekali kita tertinggal informasi, kita akan rugi walaupun sebetulnya kita mampu untuk melaksanakan kewajiban. Misalnya, kalau ada mahasiswa yang lupa kapan ujian dilaksanakan lalu ujiannya dapat 0, itu bukan berarti mahasiswa tersebut kemampuannya 0, tapi karna tidak tahu kapan ujian dilaksanakan.
Jam kosong yang produktif
Jadwal kuliah tidak sama dengan jadwal pelajaran di sekolah. Jadwal kuliah bisa loncat-loncat, misalnya ada kuliah dari jam 7 hingga jam 9 pagi, lalu setelah nya kosong hingga ada kuliah lagi jam 3 sore. Jadwal seperti ini membuat kita lelah, apalagi bagi kita yang bertempat tinggal jauh dari kampus. Kalau yang nge-kost sih tinggal pulang aja.
Nah, Jam kosong seperti ini mesti dimanfaatkan. Apakah kita belajar dengan teman, baca-baca di perpustakaan atau bahkan untuk sekedar beristirahat (asal jangan ketiduran aja sampe kelewat kuliah selanjutnya).
Baca buku teks
Saat SMA, kita dimanja dengan buku pelajaran berbahasa Indonesia. Selain itu, kita di-“paksa” untuk membaca buku tertentu. Sementara di bangku kuliah, kita diperhadapkan dengan buku teks berbahasa Inggris serta referensi yang banyak. Misalnya untuk Fisika Dasar saja, buku teks yang bisa dibaca mencapai 4-5 judul.
So, harus ada kemauan dari kita untuk membaca buku teks tersebut. Memang perlu penyesuaian di awal-awal, tapi lama-lama juga akan terbiasa.
Perhatikan silabus kuliah
Silabus kuliah adalah uraian dari dosen mengenai rencana perkuliahan. Hal ini terutama sub-bahasan apa saja yang nantinya akan masuk di ujian.
Nah, informasi ini sangat berharga untuk kita, karena tidak semua bahasan yang ada di buku teks akan dipelajari di kuliah tersebut. Tentunya hal ini akan membuat belajar kita menjadi lebih terarah.
Selain itu, silabus dapat menjadi acuan kita untuk bisa belajar duluan sebelum dosen menjelaskan sebuah sub-bahasan. Dengan cara ini, kita memiliki landasan ilmu terlebih dahulu sebelum mendapat pengajaran dari dosen.
Ketika konsep menjadi nomor satu
Lupakan cara pengerjaan soal di SMA. Di SMA kita cenderung untuk menghafal “Jika soalnya seperti A, maka kita ngerjainnya pakai cara B lalu pakai rumus C lalu masukan angkanya dan voila kita dapat jawabannya”.
In University, it is not rarely happen. Konsep menjadi nomor satu dan latihan soal adalah cara kita untuk menguji konsep, bukan menghafal cara dan rumus mana yang harus dipakai.
So, perbanyaklah memperlajari konsep lalu kemudian berlatih dengan soal-soal.
Lupakan sistem kebut semalam
Di SMA, masih mungkin untuk “besok ulangan lalu belajar malam ini”. Sukur-sukur kalau nilainya melebihi batas bawah, kalau tidak harus remedial. Bahkan ketika remedial pun masih belajar satu malam sebelumnya (karena soalnya cenderung akan dipermudah).
Well, kalau di perkuliahan, sistem seperti ini tidak dianjurkan. Untuk mendapat nilai akhir, kita harus melewati paling sedikit dua kali ujian (UTS dan UAS). Dan ketika dua ujian tersebut, cakupan bab nya pun lebih banyak ketimbang di SMA yang hanya satu ulangan = satu bab.
Maka, kita harus belajar dengan cara mencicil, usahakan setiap hari membaca ulang bahan kuliah di hari tersebut. Lalu rajin-rajinlah membaca ulang konsep serta latihan soal. Sistem belajar seperti ini akan sulit dilakukan kalau “sistem kebut semalam” (belum lagi ditambah stress besok akan ujian).
Hati-hati dalam memilih teman bergaul
Tips yang terakhir ini menjadi tips yang melibatkan orang lain. Hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Bukan berarti sok jual mahal atau sombong, tapi kita boleh berteman dengan siapa saja, tapi tidak bergaul dengan siapa saja.
Contoh: kalau kita punya teman bergaul yang suka maen game sampe subuh dan nginep di tempat game online, maka kita cenderung akan demikian.
Contoh lainnya kalau kita punya teman bergaul yang suka bolos kuliah lalu nitip tanda tangan absen, lama-lama kita juga akan demikian. Kalau kita bergaul dengan mereka yang tidak menggunakan jam kosong dengan baik, ya lama-lama kita juga akan ikut-ikutan.
So, hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Karena katanya sih, IP (indeks prestasi) kita adalah rata-rata dari IP lima teman terdekat kita. Jadi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 1,sekian dan 2,sekian, maka besar kemungkinan IP kita 1.5. Tapi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 3,sekian dan 4, ya itung sendiri aja dapet brapa tuh.
Mungkin yang terakhir ini agak berlebihan. Tapi ya demikian adanya (pengalaman lho ya). Contoh kecilnya adalah kalau kita hang out bareng dengan yang IP nya kecil, maka akan sangat jarang toh kita ngerjain tugas bareng mereka, belajar bareng mereka untuk nyiapin ujian, yang ada kita terjebak dengan pembicaraan yang hampa, datang ke tempat yang membuat kita jarang belajar dan sebagainya.
Tapi kalau kita gaul dengan yang IP nya gede, mungkin ketika makan siang pun, kita bisa sambil diskusi pelajaran bareng mereka.
It is a little thing, but it can make a huge difference in the end.
Sumber :
http://chrisphdlife.wordpress.com
Tips Sukses Kuliah
1.Yakinkan Diri
Mulai saat ini kuatkan keyakinan pada diri anda bahwa saat ini anda berada di kampus terfavorit dan berada pada jurusan yang paling unggul diantara jurusan-jurusan lainnya. Dan anda yakin akan sukses di kampus ini dengan segala perangkat pembelajaran dan instrumen pendukung lain yang ada di kampus ini.
2.Percaya Diri
Bangun tidur cari cermin katakan pada diri anda sendiri “Aku adalah aku bukanlah orang lain dan aku yakin bisa lebih unggul dari yang lain. Aku yakin akan kemampuanku sendiri dan aku yakin mampu berbuat yang terbaik dari yang lain”.
3.Cermati Sajian Mata Kuliah
Anda perhatikan KRS anda dan cermati sajian mata kuliah yang ada di sana. Eits..jangan lama-lama segera bergegas untuk cari buku yang sesuai dengan mata kuliah yang akan ditempuh semester ini. Nggak perlu nunggu kuliah mulai aktif, lebih cepat lebih baik. Kalo persediaan duit lagi mepet, belinya di loak aja. Meskipun bekas, yang penting isinya bisa dipahami dengan baik. Tapi kalo ada duit, bisa langsung ke toko buku terdekat aja he…he…kalo cari info di warnet bagaimana? boleh juga kok. Setelah mendapat bukunya atau info dari warnet, segera anda pelajari satu persatu nggak perlu sampe tamat semua. Yang penting anda tahu poin-poin penting yang anda baca. Sehingga anda selangkah lebih maju dari temen yang lain.
4.Komunikatif
Sadari bahwa anda kuliah di kampus ini tidak sendiri. Banyak teman sesama mahasiswa (adek/kakak/teman se angkatan) maupun dosen yang siap membantu anda menuju kesuksesan. Manfaatkan waktu luang, untuk bertanya tentang mata kuliah yang belum anda mengerti atau tugas yang diberikan. Jika kurang maksimal, anda bisa bikin janji dengan dosen untuk bertanya lebih jauh tentang apa yang ada belum pahami. Insyaallah dosen sangat senang dan bersemangat untuk membantu anda. Karena memang begitu tugasnya dosen he..he…atau anda bisa langsung ke perpustakaan. Di sana sangat banyak literatur yang dapat anda pelajari untuk membuka cakrawala wacana yang lebih luas.
5.Aktif
Yang di maksud aktif di sini adalah aktif di organisasi yang ada di kampus atau yang lebih dikenal dengan Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) contoh: HMJ, BEM, LSO (Lembaga Semi Otonom), DMF dan MPM atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) selain sebagai wadah penyaluran minat dan bakat anda akan mendapat pengalaman tentang manajemen dan kepemimpinan dalam organisasi atau yang ada di setiap fakultas. Banyak hal yang akan kita dapatkan dengan aktif diberbagai kegiatan organisasi yang ada di kampus. Pengalaman bekerjasama dan bersosialisasi dengan orang lain dan ilmu lain yag tidak kita dapatkan di bangku kuliah. Selain mendapat bekal intelektual di bangku kuliah kita juga mempunyai kesempatan untuk aktualisasi diri dan menyalurkan minat dan bakat di organisasi. Sehingga ada memiliki bekal yang komplit untuk terjun di masyarakan sebagi “Agen of Change”.
6.Mulailah Menulis
Biasakan sejak dini untuk memperbanyak membaca dan menulis. Hal ini penting untuk mengasah imajenasi dan kreatifitas dalam menulis. Kok membaca dan menulis? Iya dunks, kalo nggak banyak baca apaan coba yang mau di tulis? betul nggak? Nggak usah terlalu muluk-muluk dulu. Tulislah dari hal yang sederhana, mungkin kegiatan sehari-hari, pengalaman lucu dan sedih, cerpen, opini singkat mengenai suatu peristiwa, rangkuman dari mata kuliah yang sedang ditempuh atau buat anda yang jago komputer, bikin aja tutorial sederhana tentang penggunaan software atau segala hal yang berkenaan dengan komputer. Pokoknya tulis aja yang pengen anda tulis. Puisi juga boleh. Kali aja ntar jadi pujangga cie…Trus nulisnya di mana? Mungkin kalo di komputer anda bisa bikin folder pribadi khusus buat karya yang telah anda buat. Kalo fasilitas on line anda bisa bikin blog dengan memilih blogspot.com ato wordpress.com untuk memuat tulisan anda di sana.
7.Tips IPK tinggi
a.Biasanya dalam sajian mata kuliah ada beberapa mata kuliah yang tidak disukai oleh sebagian besar mahasiswa. Kalau perlu anda survey terlebih dahulu ke kakak angkatan atau temen-temen yang lain. Nah ini kesempatan anda untuk memanfaatkan peluang. Maksimalkan diri anda untuk menekuni mata kuliah ini. Di saat temen-temen pada boring dengan mata kuliah ini anda justru harus semangat sehinga anda mendapat hasil dan nilai yang maksimal dan lebih tinggi dari yang lain.
b.Jangan lupakan mata kuliah yang pada umumnya disenangi oleh temen-temen anda. Anda harus bersaing dengan temen-temen yang juga serius menekuninya. Karena mata kuliah ini secara umum disenangi oleh temen-temen anda.
c.Berusaha untuk maksimal dalam mengerjakan tugas. Jangan hanya asal-asalan. Bukan jamannya “copy paste” anda dikaruniai otak dan potensi untuk berpikir mandiri jadi anda harus yakin bahwa anda bisa melakukannya sendiri. Cari referensi yang lebih lengkap dan akurat. Kalau perlu konsultasikan tugas anda terlebih dahalu kepada dosen. Jangan puas dengan text book yang ada, akan tetapi cari buku-buku lain yang dapat menunjang kelengkapan dan validitas tugas anda. Sehingga tugas anda benar-benar berbeda dengan yang lain. Selain lebih lengkap, akurat dan kreatif.
8.Bersyukur
Nah semua langkah sudah di lakukan sekarang tugas anda adalah bersyukur dan tawakkal dengan hasil apapun yang anda peroleh dari usaha keras anda. Baik buruknya nilai yang anda peroleh itu relatif dan tidak perlu anda risaukan. Yang penting anda sudah mengerahkan segala usaha dan potensi anda dengan baik. Proses yang baik itu lebih baik dari hasil yang baik. Karena untuk menjalani proses yang baik itu sulit dan perlu pengorbanan. Sedangkan hasil yang baik belum tentu diperoleh dari proses yang baik. Yang penting jangan pernah puas dengan nilai yang telah anda peroleh. Terus berusaha untuk meningkatkan lebih baik lagi.
Sumber :
http://saepudinonline.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Dalam pemasaran, sebuah produk tidak hanya sekadar barang atau jasa yang dijual, tetapi memiliki nilai yang lebih dalam bagi pelanggan. Kons...
-
SENI MENGENDALIKAN BIAYA TANPA MENGORBANKAN KUALITAS Mengapa Perusahaan Tidak Cukup Hanya Meminta Setiap Departemen Mengurangi Pengeluaran? ...
-
Kamu sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang tertentu, dan berminat untuk menjadi konsultan. Sebelum kamu terjun bebas tanpa meng...
-
Dari Salon di Garasi, Menjadi Salah Satu Pelopor Industri Kecantikan Indonesia Ada sebuah pelajaran bisnis yang menarik dari Martha Tilaar. ...
-
Berkenalan dengan COO dan Tanggung Jawabnya dalam Perusahaan Pada suatu perusahaan, yang menjadi pucuk pimpinan adalah CEO. Namun, yang be...





