Wednesday, August 27, 2014

Belajar Keluar dari Comfort Zone


Oleh: Rhenald Kasali

BELUM lama ini Menteri BUMN Dahlan Iskan menitipkan sekitar 200 tentara berpangkat kolonel kepada saya. Rupanya, Menteri Dahlan sangat peduli terhadap orang-orang yang pernah berjasa mengawal negara itu.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang ketika itu dijabat Jenderal Moeldoko memberi tahu saya bahwa kolonel-kolonel tersebut adalah para perwira pilihan yang telah diseleksi. Di antaranya adalah mantan komandan area teruji, atase pertahanan, dan sebagian sudah ikut kursus di Lemhanas atau Sesko TNI. Jadi, dari segi kompetensi dan karakter, mereka merupakan orang-orang hebat. Seluruh kolonel itu tentu berharap naik pangkat menjadi jenderal. Bukankah tinggal selangkah lagi?

Namun, sejarah berubah. Angkatan Darat bukan lagi penguasa darat. Kalau dulu pada era Orde Baru mereka bisa dikaryakan di luar dinas militer untuk menjadi bupati, wali kota, atau duduk di Fraksi ABRI di DPR, kini tidak bisa lagi. Pada era demokrasi, semua posisi itu harus dipilih rakyat.

Kini tinggallah para kolonel yang merana. Karirnya tinggal di dunia militer. Jumlah jabatannya terbatas. Apa yang harus dilakukan?

KSAD Moeldoko dan Dahlan Iskan mengambil inisiatif. Kolonel-kolonel tersebut dilatih ulang, dipersiapkan menghadapi medan yang sama sekali baru. Bisa di BUMN, swasta, atau memulai usaha sendiri.

Galau

Hari pertama, ketika mereka mendapat arahan dari markas besarnya, saya melihat sikap kesatria yang luar biasa. Selain disiplin, muka mereka semua cerah dan tidak ada kata lain yang terucap selain siap.

Namun, esoknya, kegamangan mulai terungkap saat tahu bahwa mereka harus ganti kuadran, meninggalkan profesi tentara. Begini sebagian keluhan mereka.

’’Bapak tahu, kami ini 20 tahun tinggal di dalam panser?’’

Koleganya menimpali, ’’Kami ini 25 tahun membela negara! Sekarang di mana negara?’’

Instruktur saya menjawab, ’’Benar! Membela negara itu baik dan berjasa. Tapi, kini saatnya Anda membela diri sendiri. Sanggup?’’

Mereka mulai berpikir.

Yang ingin saya sampaikan sederhana saja. Betapa rumitnya bagi kita yang sudah bertahun-tahun melakukan sesuatu yang rutin dan ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan untuk keluar. Keluar dari zona nyaman (comfort zone).

Saya tahu, kecepatan beradaptasi masing-masing perwira amat beragam. Bagi yang cepat, mereka segera mendekati para narasumber agar bisa bergabung sesuai dengan keahliannya. Namun, sampai hari terakhir, tidak sedikit yang masih gamang dan menunggu instruksi lebih jauh.

Hal berbeda saya temukan ketika menghadapi ratusan wanita karir. Kali ini saya diminta memberikan tip mengambil pensiun dini –yang saya ganti dengan istilah karir kedua. Mereka sangat antusias. Jauh lebih siap.

Itulah bedanya pilihan karena dipaksa dengan yang sukarela. Kelompok pertama pasti galau karena dipaksa ke luar. Pada kelompok kedua, justru muncul kesadaran kuat untuk keluar dari zona nyaman itu.

Pengalaman dari Babson

Ketika diminta memimpin Podomoro University, saya pun dikirim belajar ke Babson College di Amerika Serikat yang terkenal dengan pendidikan kewirausahaannya. Selama seminggu saya berkeliling kampus dan berdialog dengan profesor, peneliti, eksekutif, alumnus, donatur, serta para mahasiswa. Bagaimana cara Babson College melatih jiwa kewirausahaan?

Di sebuah kelas, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan kesenian. Pilihannya beragam. Ada drama, menari, komedi, melukis, membuat patung, musik, menyanyi, dan sebagainya. Masing-masing kelompok diberi instruktur dan dalam tiga pekan ke depan harus tampil dalam sebuah festival. Hampir pasti, mahasiswa penyuka musik akan memilih musik. Mereka yang suka drama akan memilih seni drama dan seterusnya.

Apa yang dilakukan Babson College? Karena tujuannya adalah melatih keluar dari zona nyaman, mereka yang suka musik justru tidak boleh memilih musik. Begitu seterusnya.

Alhasil, seluruh mahasiswa protes. Mereka harus mencoba sesuatu yang baru dan harus tampil hanya dalam waktu tiga minggu. Bagaimana mungkin? Tapi, bukankah tujuan pendidikan adalah membangun manusia? Di antaranya, manusia yang berani keluar dari zona nyaman.

Menurut hemat saya, kita sangat abai melatih hal tersebut. Karena itu, setiap menghadapi perubahan, kita pun menjadi galak, marah, resistan, menolak, dan ampun, main ancam dan bolak-balik berteriak seperti orang gila.

JAWA POS, 23 Agustus 2014
Rhenald Kasali ;
Pendiri Rumah Perubahan
@Rhenald_Kasali

Tuesday, August 26, 2014

4 Posisi Kantor yang Mendukung Karir


Pernah merasa tidak betah ketika berada di kantor, ingin buru-buru istirahat dan makan siang ataupun segera absen pulang merupakan masalah yang klasik bagi para pekerja kantoran. Membuat lingkungan kantor agar terasa nyaman layaknya di rumah hampir seperti hal yang mustahil. Namun anda masih dapat mengubah hal tersebut kepada wilayah anda.

Sebagian kantor akan membatasi meja kerja anda dengan yang lainnya dengan cara kubikel. Kubikel ini seringkali membuat para penghuninya merasa terisolasi tanpa adanya privasi. Berikut beberapa tips sederhana dalam menjadikan kubikel anda terasa lebih nyaman serta mendukung agar karir anda lebih maju.

1. Posisi meja kerja 
Posisikan meja kerja anda sedemikian rupa sehingga anda dapat melihat keseluruhan kubikel walaupun tengah menghadap monitor. Pastikan juga anda dapat melihat ke arah pintu masuk pada kubikel anda. Hal ini dinamakan dengan power position. Apabila memindahkan meja kerja tidak memungkinkan, anda dapat menaruh cermin agar dapat memantulkan semua yang terjadi pada belakang meja anda. Hal ini dapat meminimalisir anda akan terlihat tengah mengerjakan suatu proyek unggulan anda oleh competitor ataupun rekan kerja anda apabila rekan kerja tiba-tiba masuk.

2. Meja kerja 
Meja kerja yang berantakan dapat menjadi salah satu pentunjuk bahwa tidak menyenangkan. Menurut beberapa pendapat, kekacauan yang terjadi pada meja kerja anda mengartikan ketidakmampuan anda untuk maju serta banyaknya sebuah keputusan yang tertunda. Apabila anda membiarkan meja kerja yang berantakan, maka tidak mengherankan jika karir yang anda jalani juga ikut terhambat. Meja kerja anda hanya di peruntukan berkas-berkas yang tengah anda kerjakan saja. Arsip yang lainnya dapat anda simpan di gudang pengarsipan. Jangan menumpukan semua arsip-arsip anda pada meja kerja anda yang sempit.

3. Kursi kerja 
Kursi kerja anda juga dapat mempersentasikan karir yang anda jalani. Pilihlah kursi kerja yang bersih dan juga nyaman bagi anda. Kursi kerja anda yang kotor juga dapat mempersentasikan sikap tidak peduli anda kepada kerir anda. Apabila kursi kerja anda sobek maka sesegera mungkin anda minta untuk diganti.

4. Kelelahan dan juga stress 
Kelelahan dan juga stress dapat terjadi karena anda terlalu lama menatap layar monitor. Anda dapat menatap menyimpat tanaman hijau di sekat monitor atau disekitar meja anda dengan jarak sekitar 90 cm. Hal ini dilakukan agar anda dapat mengoreksi energy elektromagnetik negative yang dikeluarkan oleh computer anda. Tanaman hijau ini akan menghubungkan diri anda dengan alam. Perhatikan posisi di atas agar karir anda di kantor menjadi sukses. Selain itu selesaikan pekerjaan anda dengan seluruh kemampuan anda. Agar tidak hanya posisi namun kemampuan anda pun ikut membuat diri anda menjadi karyawan yang sukses di kantor.

Sumber:
tipskarir
http://infobandung.co.id

Monday, August 11, 2014

Tips Kuliah Tahun Pertama

Transisi dari dunia SMA ke dunia kuliah


Bagaimana menyiasati transisi dari bangku SMA ke bangku kuliah. Tips-tips ini mungkin lebih tepat bagi mereka yang berkuliah jurusan science dan engineering, untuk jurusan lain mungkin ada penyesuaian.

Dosen tidak sama dengan guru di SMA
Guru di sekolah mendapat pendidikan dan pelatihan untuk mengajar. Sementara dosen menghabiskan waktu kuliahnya untuk belajar dan melakukan riset, selain itu mereka mendedikasikan hidupnya untuk mencari sesuatu yang baru. So, ada perbedaan mendasar antara guru di sekolah dan dosen di universitas.

Jangan berharap dosen memberikan semua detail ilmu, karena mereka memiliki waktu yang sedikit untuk mengajar dengan banyaknya ilmu yang harus dibagi.

Jangan mengeluh kalau bertemu dosen yang tidak pandai mengajar, karena mereka tidak dilatih untuk pandai mengajar. Kalau dapat dosen yang pandai mengajar, ya bersyukurlah.

Jangan heran juga kalau suatu ketika mereka jadi banyak bercerita tentang riset mereka yang mereka banggakan. Wajar kalau mereka bangga, karna sebagian besar hidup mereka didedikasikan untuk hal tersebut. So, try to get interesting on it.

Inisiatif dalam mencari informasi
Mahasiswa tentu lebih mandiri dari siswa SMA. Hal ini berkaitan dengan penyebaran informasi penting. Saya ingat ketika SMA, kalau ada pengumuman dari pihak sekolah, maka semua siswa akan mendapat surat pengumuman. Atau mendapat informasi lisan dari guru yang masuk ke kelas.

Well, in University it’s not gonna happen. Kita harus mencari informasi sendiri. Informasi yang paling penting adalah mengenai tanggal-tanggal penting seperti tanggal ujian, tanggal penyerahan tugas, kapan harus bayar uang kuliah dsb.

So, setidaknya sempatkan diri untuk mengunduh kalender akademik dan catat tanggal-tanggal pentingnya.

Selain tanggal penting, kita juga harus mudheng pada pengumuman laboratorium. Kapan kita melakukan praktikum, kapan tugas pendahuluan harus dikumpulkan serta kapan laporan harus dikumpulkan.

So, jangan malu untuk bertanya kepada kakak angkatan atau kepada teman. Karena sekali kita tertinggal informasi, kita akan rugi walaupun sebetulnya kita mampu untuk melaksanakan kewajiban. Misalnya, kalau ada mahasiswa yang lupa kapan ujian dilaksanakan lalu ujiannya dapat 0, itu bukan berarti mahasiswa tersebut kemampuannya 0, tapi karna tidak tahu kapan ujian dilaksanakan.

Jam kosong yang produktif
Jadwal kuliah tidak sama dengan jadwal pelajaran di sekolah. Jadwal kuliah bisa loncat-loncat, misalnya ada kuliah dari jam 7 hingga jam 9 pagi, lalu setelah nya kosong hingga ada kuliah lagi jam 3 sore. Jadwal seperti ini membuat kita lelah, apalagi bagi kita yang bertempat tinggal jauh dari kampus. Kalau yang nge-kost sih tinggal pulang aja.

Nah, Jam kosong seperti ini mesti dimanfaatkan. Apakah kita belajar dengan teman, baca-baca di perpustakaan atau bahkan untuk sekedar beristirahat (asal jangan ketiduran aja sampe kelewat kuliah selanjutnya).

Baca buku teks 
Saat SMA, kita dimanja dengan buku pelajaran berbahasa Indonesia. Selain itu, kita di-“paksa” untuk membaca buku tertentu. Sementara di bangku kuliah, kita diperhadapkan dengan buku teks berbahasa Inggris serta referensi yang banyak. Misalnya untuk Fisika Dasar saja, buku teks yang bisa dibaca mencapai 4-5 judul.

So, harus ada kemauan dari kita untuk membaca buku teks tersebut. Memang perlu penyesuaian di awal-awal, tapi lama-lama juga akan terbiasa.

Perhatikan silabus kuliah
Silabus kuliah adalah uraian dari dosen mengenai rencana perkuliahan. Hal ini terutama sub-bahasan apa saja yang nantinya akan masuk di ujian.

Nah, informasi ini sangat berharga untuk kita, karena tidak semua bahasan yang ada di buku teks akan dipelajari di kuliah tersebut. Tentunya hal ini akan membuat belajar kita menjadi lebih terarah.

Selain itu, silabus dapat menjadi acuan kita untuk bisa belajar duluan sebelum dosen menjelaskan sebuah sub-bahasan. Dengan cara ini, kita memiliki landasan ilmu terlebih dahulu sebelum mendapat pengajaran dari dosen.

Ketika konsep menjadi nomor satu
Lupakan cara pengerjaan soal di SMA. Di SMA kita cenderung untuk menghafal “Jika soalnya seperti A, maka kita ngerjainnya pakai cara B lalu pakai rumus C lalu masukan angkanya dan voila kita dapat jawabannya”.

In University, it is not rarely happen. Konsep menjadi nomor satu dan latihan soal adalah cara kita untuk menguji konsep, bukan menghafal cara dan rumus mana yang harus dipakai.

So, perbanyaklah memperlajari konsep lalu kemudian berlatih dengan soal-soal.

Lupakan sistem kebut semalam
Di SMA, masih mungkin untuk “besok ulangan lalu belajar malam ini”. Sukur-sukur kalau nilainya melebihi batas bawah, kalau tidak harus remedial. Bahkan ketika remedial pun masih belajar satu malam sebelumnya (karena soalnya cenderung akan dipermudah).

Well, kalau di perkuliahan, sistem seperti ini tidak dianjurkan. Untuk mendapat nilai akhir, kita harus melewati paling sedikit dua kali ujian (UTS dan UAS). Dan ketika dua ujian tersebut, cakupan bab nya pun lebih banyak ketimbang di SMA yang hanya satu ulangan = satu bab.

Maka, kita harus belajar dengan cara mencicil, usahakan setiap hari membaca ulang bahan kuliah di hari tersebut. Lalu rajin-rajinlah membaca ulang konsep serta latihan soal. Sistem belajar seperti ini akan sulit dilakukan kalau “sistem kebut semalam” (belum lagi ditambah stress besok akan ujian).

Hati-hati dalam memilih teman bergaul
Tips yang terakhir ini menjadi tips yang melibatkan orang lain. Hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Bukan berarti sok jual mahal atau sombong, tapi kita boleh berteman dengan siapa saja, tapi tidak bergaul dengan siapa saja.

Contoh: kalau kita punya teman bergaul yang suka maen game sampe subuh dan nginep di tempat game online, maka kita cenderung akan demikian.

Contoh lainnya kalau kita punya teman bergaul yang suka bolos kuliah lalu nitip tanda tangan absen, lama-lama kita juga akan demikian. Kalau kita bergaul dengan mereka yang tidak menggunakan jam kosong dengan baik, ya lama-lama kita juga akan ikut-ikutan.

So, hati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Karena katanya sih, IP (indeks prestasi) kita adalah rata-rata dari IP lima teman terdekat kita. Jadi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 1,sekian dan 2,sekian, maka besar kemungkinan IP kita 1.5. Tapi kalau kita bergaul dengan mereka yang IP nya 3,sekian dan 4, ya itung sendiri aja dapet brapa tuh.

Mungkin yang terakhir ini agak berlebihan. Tapi ya demikian adanya (pengalaman lho ya). Contoh kecilnya adalah kalau kita hang out bareng dengan yang IP nya kecil, maka akan sangat jarang toh kita ngerjain tugas bareng mereka, belajar bareng mereka untuk nyiapin ujian, yang ada kita terjebak dengan pembicaraan yang hampa, datang ke tempat yang membuat kita jarang belajar dan sebagainya.

Tapi kalau kita gaul dengan yang IP nya gede, mungkin ketika makan siang pun, kita bisa sambil diskusi pelajaran bareng mereka.

It is a little thing, but it can make a huge difference in the end.


Sumber :
http://chrisphdlife.wordpress.com

Tips Sukses Kuliah


1.Yakinkan Diri
Mulai saat ini kuatkan keyakinan pada diri anda bahwa saat ini anda berada di kampus terfavorit dan berada pada jurusan yang paling unggul diantara jurusan-jurusan lainnya. Dan anda yakin akan sukses di kampus ini dengan segala perangkat pembelajaran dan instrumen pendukung lain yang ada di kampus ini.

2.Percaya Diri
Bangun tidur cari cermin katakan pada diri anda sendiri “Aku adalah aku bukanlah orang lain dan aku yakin bisa lebih unggul dari yang lain. Aku yakin akan kemampuanku sendiri dan aku yakin mampu berbuat yang terbaik dari yang lain”.

3.Cermati Sajian Mata Kuliah
Anda perhatikan KRS anda dan cermati sajian mata kuliah yang ada di sana. Eits..jangan lama-lama segera bergegas untuk cari buku yang sesuai dengan mata kuliah yang akan ditempuh semester ini. Nggak perlu nunggu kuliah mulai aktif, lebih cepat lebih baik. Kalo persediaan duit lagi mepet, belinya di loak aja. Meskipun bekas, yang penting isinya bisa dipahami dengan baik. Tapi kalo ada duit, bisa langsung ke toko buku terdekat aja he…he…kalo cari info di warnet bagaimana? boleh juga kok. Setelah mendapat bukunya atau info dari warnet, segera anda pelajari satu persatu nggak perlu sampe tamat semua. Yang penting anda tahu poin-poin penting yang anda baca. Sehingga anda selangkah lebih maju dari temen yang lain.

4.Komunikatif
Sadari bahwa anda kuliah di kampus ini tidak sendiri. Banyak teman sesama mahasiswa (adek/kakak/teman se angkatan) maupun dosen yang siap membantu anda menuju kesuksesan. Manfaatkan waktu luang, untuk bertanya tentang mata kuliah yang belum anda mengerti atau tugas yang diberikan. Jika kurang maksimal, anda bisa bikin janji dengan dosen untuk bertanya lebih jauh tentang apa yang ada belum pahami. Insyaallah dosen sangat senang dan bersemangat untuk membantu anda. Karena memang begitu tugasnya dosen he..he…atau anda bisa langsung ke perpustakaan. Di sana sangat banyak literatur yang dapat anda pelajari untuk membuka cakrawala wacana yang lebih luas.

5.Aktif
Yang di maksud aktif di sini adalah aktif di organisasi yang ada di kampus atau yang lebih dikenal dengan Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) contoh: HMJ, BEM, LSO (Lembaga Semi Otonom), DMF dan MPM atau UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) selain sebagai wadah penyaluran minat dan bakat anda akan mendapat pengalaman tentang manajemen dan kepemimpinan dalam organisasi atau yang ada di setiap fakultas. Banyak hal yang akan kita dapatkan dengan aktif diberbagai kegiatan organisasi yang ada di kampus. Pengalaman bekerjasama dan bersosialisasi dengan orang lain dan ilmu lain yag tidak kita dapatkan di bangku kuliah. Selain mendapat bekal intelektual di bangku kuliah kita juga mempunyai kesempatan untuk aktualisasi diri dan menyalurkan minat dan bakat di organisasi. Sehingga ada memiliki bekal yang komplit untuk terjun di masyarakan sebagi “Agen of Change”.

6.Mulailah Menulis
Biasakan sejak dini untuk memperbanyak membaca dan menulis. Hal ini penting untuk mengasah imajenasi dan kreatifitas dalam menulis. Kok membaca dan menulis? Iya dunks, kalo nggak banyak baca apaan coba yang mau di tulis? betul nggak? Nggak usah terlalu muluk-muluk dulu. Tulislah dari hal yang sederhana, mungkin kegiatan sehari-hari, pengalaman lucu dan sedih, cerpen, opini singkat mengenai suatu peristiwa, rangkuman dari mata kuliah yang sedang ditempuh atau buat anda yang jago komputer, bikin aja tutorial sederhana tentang penggunaan software atau segala hal yang berkenaan dengan komputer. Pokoknya tulis aja yang pengen anda tulis. Puisi juga boleh. Kali aja ntar jadi pujangga cie…Trus nulisnya di mana? Mungkin kalo di komputer anda bisa bikin folder pribadi khusus buat karya yang telah anda buat. Kalo fasilitas on line anda bisa bikin blog dengan memilih blogspot.com ato wordpress.com untuk memuat tulisan anda di sana.

7.Tips IPK tinggi
a.Biasanya dalam sajian mata kuliah ada beberapa mata kuliah yang tidak disukai oleh sebagian besar mahasiswa. Kalau perlu anda survey terlebih dahulu ke kakak angkatan atau temen-temen yang lain. Nah ini kesempatan anda untuk memanfaatkan peluang. Maksimalkan diri anda untuk menekuni mata kuliah ini. Di saat temen-temen pada boring dengan mata kuliah ini anda justru harus semangat sehinga anda mendapat hasil dan nilai yang maksimal dan lebih tinggi dari yang lain.
b.Jangan lupakan mata kuliah yang pada umumnya disenangi oleh temen-temen anda. Anda harus bersaing dengan temen-temen yang juga serius menekuninya. Karena mata kuliah ini secara umum disenangi oleh temen-temen anda.
c.Berusaha untuk maksimal dalam mengerjakan tugas. Jangan hanya asal-asalan. Bukan jamannya “copy paste” anda dikaruniai otak dan potensi untuk berpikir mandiri jadi anda harus yakin bahwa anda bisa melakukannya sendiri. Cari referensi yang lebih lengkap dan akurat. Kalau perlu konsultasikan tugas anda terlebih dahalu kepada dosen. Jangan puas dengan text book yang ada, akan tetapi cari buku-buku lain yang dapat menunjang kelengkapan dan validitas tugas anda. Sehingga tugas anda benar-benar berbeda dengan yang lain. Selain lebih lengkap, akurat dan kreatif.

8.Bersyukur
Nah semua langkah sudah di lakukan sekarang tugas anda adalah bersyukur dan tawakkal dengan hasil apapun yang anda peroleh dari usaha keras anda. Baik buruknya nilai yang anda peroleh itu relatif dan tidak perlu anda risaukan. Yang penting anda sudah mengerahkan segala usaha dan potensi anda dengan baik. Proses yang baik itu lebih baik dari hasil yang baik. Karena untuk menjalani proses yang baik itu sulit dan perlu pengorbanan. Sedangkan hasil yang baik belum tentu diperoleh dari proses yang baik. Yang penting jangan pernah puas dengan nilai yang telah anda peroleh. Terus berusaha untuk meningkatkan lebih baik lagi.

Sumber :
http://saepudinonline.wordpress.com

Sunday, July 20, 2014

CEO Bergelar Sarjana Tak Sesuai Bidang Kerja


Idealnya, orang-orang bekerja sesuai dengan bidang studi mereka saat sekolah. Namun nyatanya, ada orang yang pekerjaannya justru sama sekali tidak berhubungan dengan bidang kuliah.

Tak hanya karyawan, para CEO pun, setidaknya di Amerika Serikat, ada yang bidang pekerjaannya sama sekali tidak bersentuhan dengan apa yang mereka pelajari di bangku kuliah. Para CEO ini tidak hanya lulusan S-2, bahkan ada yang tidak lulus kuliah alias bukan sarjana. Mereka kuliah di program studi yang nyeleneh, dan sekarang menjadi pemimpin perusahaan yang sukses.

Berikut sekelumit kisah beberapa CEO tersebut.

1. Ken Chenault 
Ken merupakan CEO American Express dan lulusan program studi Sejarah dari Bowdoin College. Ia merupakan salah satu Afro-Amerika pertama pemimpin perusahaan yang masuk ke dalam daftar Fortune 500, sejak menjadi CEO raksasa perbankan itu pada tahun 2001.

Awalnya, Ken bersekolah di Springfield College melalui beasiswa olahraga. Akan tetapi, ia kemudian pindah ke Bowdoin College untuk mempelajari liberal arts dan kemudian memperoleh gelar di bidang Sejarah.

2. Michael Dell 
Dell adalah CEO dan pendiri Dell, salah satu perusaahaan komputer. Ia berkuliah di University of Texas di Austin pada jurusan kedokteran. Tak seperti CEO lainnya yang setidaknya memiliki gelar sarjana, Dell tidak menyelesaikan kuliahnya.

Berasal dari keluarga dokter, Dell malah memiliki naluri bisnis yang kuat. "Orangtua saya tidak senang saya tidak selesai kuliah. Saya mengambil jurusan biologi tapi kemudian saya menggemari komputer, saya melihat peluang yang luar biasa di bisnis," kata Dell.

3. Carly Fiorina 
Carly merupakan mantan CEO Hewlett-Packard. Siapa sangka, ia lulus dari Stanford University dengan dua gelar sekaligus, yakni Sejarah Abad Pertengahan dan Filsafat. Saat kuliah, Carly bekerja di salon kecantikan dan sebagai sekretaris. Carly juga memperoleh gelar MBA dalam bidang marketing dari University of Maryland, College Park dan magister manajemen dari MIT. Sebelumnya ia pernah kuliah pula di UCLA School of Law, tetapi tak selesai.

"Hanya di Amerika mahasiswa Sejarah Abad Pertengahan, didepak dari fakultas hukum, dan pernah bekerja sebagai resepsionis kemudian menjadi CEO salah satu perusahaan terbesar dunia," kata Carly.

4. Robert Iger 
Robert adalah CEO The Walt Disney Company. Ia memiliki gelar di bidang komunikasi jurusan televisi dan radio dari Ithaca College dengan predikat "magna cum laude". Setelah lulus, ia membawakan rubrik ramalan cuaca di stasiun televisi lokal. Berkat gelarnya, ia menapaki karier yang lebih menjanjikan. Ia menjadi eksekutif di ABC sebelum beralih ke Disney pada tahun 1999.

5. Denise M Morrison 
Denise adalah CEO The Campbell Soup Company. Ia memiliki dua gelar sarjana, yakni Ekonomi dan Psikologi dari Boston College dengan predikat "magna cum laude". Ia memulai karier di industri makanan yang akhirnya ia geluti selama tiga dekade. Ia didaulat sebagai salah satu wanita kuat versi majalah Fortune. Ia menjadi Presiden dan CEO Campbell pada tahun 2011.


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com

Tips Negosiasi Gaji


Diterima pekerjaan, atau membuat kesepakatan bisnis baru bisa menjadi menarik, namun tidak dengan negosiasi. Prosesnya bisa menegangkan, dan sangat mudah membuat kesalahan. Terutama jika Anda belum punya banyak pengalaman negosiasi. Nah, sebelum melakukan negosiasi gaji, sebaiknya Anda perhatikan tujuh kesalahan umum yang sering muncul saat proses negosiasi, seperti dikutip dari www.news.com.au, pada Minggu (20/7/2014).

“Banyak orang berpikir, mereka perlu menunjukkan kepercayaan diri dengan cara tertentu seperti misal bersikap keras, kurang ajar, demi keberhasilan negosiasi. Namun orang lain berfikir bahwa banyak pengalaman yang dibutuhkan untuk menjadi negosiator handal. Umumnya, hanya dibutuhkan keuletan dan persiapan yang matang untuk memastikan Anda bisa mencapai istilah yang diinginkan, mengantisipasi keberatan, dan mengetahui ‘tombol panas’ saat beresonansi dengan lawan,” ujar Eldonna Lewis-Fernandez , seorang kepala eksekutif dari perusahaan konsultan dan pelatihan, Dinamis Vision International.

Penulis Think Like a Negotiator itu menambahkan, memproyeksikan kepercayaan diri juga berarti memiliki hati, yang dapat membuat oposisi kurang defensif dan lebih cenderung setuju dengan ketentuan Anda.

1. Berpikir sesuatu tidak bisa dinegosiasikan
"Ketika Anda berfikir layaknya seorang negosiator, maka semuanya bisa dinegosiasikan! Pola pikir ini harus Anda operasikan bukan hanya untuk menjadi negosiator handal, tapi juga yang terbaik,” kata Lewis. Dia menambahkan, sementara negosiator harus mematuhi beberapa aturan. Namun, Anda dapat mengusulkan alternatif yang etis, layak dan saling menguntungkan.

2. Tidak membangun hubungan awal 
Membangun hubungan adalah kunci untuk negosiasi yang berhasil. Namun, ini harus lebih dari sekedar membagi-bagikan kartu nama. Sarannya? Pelan-pelan dan membuat nyata, hubungan pribadi dengan orang-orang, dan belajar sebanyak mungkin tentang mereka. Dengan demikian, Anda dapat membuat negosiasi lebih bermakna bagi semua orang yang terlibat.

“Cari tahu sesuatu tentang mereka, secara pribadi, dan bukan hanya bisnis mereka. Anda mungkin akan terkejut seberapa baik Anda dapat memanfaatkan apa yang Anda pelajari melalui percakapan asli dengan seseorang,” ujar Lewis.

3. Tidak meminta apa yang anda inginkan
Jika Anda tidak meminta apa yang Anda inginkan, Anda tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Sementara menghadapi penolakan sangat sulit, karena itu menjadi kesalahan besar yang akan menghambat Anda dalam negosiasi.

“Dalam bisnis, penolakan tidak pernah pribadi. Ini hanya sebuah refleksi bahwa Anda tidak menyajikan argumen yang layak, yang intinya mengapa Anda harus mendapatkan apa yang Anda inginkan,” ucap Lewis.

Dia bilang, satu-satunya cara untuk menguasai seni berurusan dengan penolakan, adalah terus bertanya.

4. Berbicara terlalu banyak
Ketika bernegosiasi, Anda harus menjelaskan sisi Anda dan memberikan pidato Anda. Tapi terlalu banyak bicara benar-benar bisa menjadi penghancur serius. “Ada pepatah lama yang mengatakan, ‘Dia yang berbicara, berikutnya kalah’,” kata Lewis.

“Ketika mendiskusikan kesepakatan, jika Anda hanya berhenti bicara dan merasa nyaman dengan kecanggungan diam, kemampuan Anda untuk memenangkan argumen, menjual produk atau mendapatkan konsesi dalam negosiasi meningkat secara signifikan,” imbuhnya.

5. Tidak mendokumentasikan
Anda harus benar-benar mendokumentasikan segala sesuatu yang terjadi selama negosiasi untuk menghindari masalah di masa depan. “Masalah yang tidak diperkirakan dapat terjadi ketika persyaratan kesepakatan tidak dituangkan secara tertulis. Karena apa yang Anda pikirkan tentang perkataan pihak lain, dan apa yang pihak lain pikirkan Anda katakan, bisa jadi berbeda,” kata Lewis.

6. Menandatangani tanpa membaca
Lewis mengatakan, kehidupan modern yang serba cepat, dan orang-orang biasanya terlibat dalam beberapa hal sekaligus, membuat mereka sangat sulit untuk fokus. Bahkan beberapa orang sampai menandatangani dokumen hukum, tanpa membacanya terlebih dahulu. Hasilnya, bencana.

“Pastikan Anda membaca perjanjian atau kontrak secara penuh, untuk memastikan Anda tidak mengkonfirmasikan hal yang akan membuat Anda menyesal, yang dapat menyebabkan masalah serius untuk masa depan Anda, namun tidak bisa dibatalkan,” jelasnya.

Untuk menghindari masalah di masa depan, Lewis menyarankan konsultasi dengan pengacara untuk meninjau dokumen kontrak atau apapun yang memerlukan tanda tangan.


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com

Kebiasaan Orang-orang Kreatif


Terkadang ide-ide terbaik datang pada orang yang tidak aktif mencari ide itu. Seringkali kita menghabiskan banyak waktu memeras otak dalam meeting pagi dan menatap layar komputer kosong menunggu momen “Aha..”.

Tetapi, sebuah studi menunjukkan mungkin akan lebih baik jika kita keluar dari lingkungan kerja khas untuk mendapatkan perspektif yang segar.

Peneliti Stanford University, awal tahun ini, menemukan, kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif meningkat hampir 60 persen ketika mereka meninggalkan kursi kantor, untuk berjalan-jalan di sekitar blok. Berlibur dan menghabiskan waktu di luar rumah secara khusus juga terbukti dapat membantu datangnya ide-ide terbaik, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan kita.

Namun tentu saja, pikiran kreatif yang hebat tidak selalu harus sesuai dengan sebuah metode dari hasil penelitian. Ide bisa datang melalui intuisi dan disiplin pada kebiasaan dan praktek-praktek yang mengarah pada ide-ide terbaik.

Berikut adalah 10 orang-orang kreatif yang menemukan ide-ide terbaik mereka dari perspektif kebiasaan lain, sebagaimana dilansir dari laman www.news.com.au, pada Minggu (20/7/2014).

Bill Gates
Sekitar satu dekade yang lalu, orang bertanya-tanya bagaimana mantan ketua Microsoft, Bill Gates bisa mendatangkan ide-ide dan keputusan yang menyebabkan dia sukses besar. Gates mengatakan kepada mereka: "Pikirkan dalam sepekan."

Gates menghabiskan tujuh hari berturut-turut saat mengasingkan diri untuk berfikir. Tidak ada orang lain yang diizinkan bertandang ke pondoknya yang selama masa tenang itu, bahkan anggota keluarga. Dua kali dalam setahun, Gates menggunakan waktunya untuk membaca hampir 100 makalah. Berpikir tentang masa depan teknologi dan apa yang bisa berarti bagi perusahaannya.

Pyotr Ilyich Tchaikovsky
Setiap pagi sebelum duduk untuk bekerja menciptakan musik terbarunya, Tchaikovsky mengambil jalan singkat di sekitar desanya yang tenang, 50 mil di luar Moskow. Komposer kenamaan asal Rusia ini, mengambil jalan lain setelah makan siang, dan berfikir ini adalah penting untuk karyanya.

Dia berhenti di pertengahan jalan untuk menuliskan sebuah ide yang kemudian akan diujinya dengan piano di rumah.

Maya Angelou
Angelou, seorang penyair dan aktivis hak-hak sipil, bisa merangkai kata-kata penuh inspirasi yang dihasilkannya dari menyewa kamar hotel, hanya untuk menulis. Bahkan sebagai pemilik rumah, ia memilih untuk menghuni ruang-ruang soliter ketika sudah waktunya untuk berkarya. "Pada 2013, Angelou terus berada di kamar hotel di kota kelahirannya, yang ia bayar bulanan," tulis Julie Zeveloff dilansir Business Insider.

Chuck Close 
Chuck Close, seorang photorealist terkenal, melukis setiap hari dengan memisahkan sesi pagi dan sore hari dengan rutinitas yang meningkatkan kemampuan kreatifnya. Setelah bekerja selama tiga jam di pagi hari, Close selalu beristirahat di tepi kolam renang selama satu jam atau di pantai. Dia kemudian kembali bekerja sampai matahari mulai terbenam.

Vera Wang
Seorang fashion icon Vera Wang mungkin adalah pengusaha. Tapi dia adalah seorang desainer alam yang kreatif. Wang mengerti betapa sulit untuk benar-benar kreatif di tengah tuntutan bisnis. Untuk memasuki sisi kreatifnya, Wang harus menempatkan ruang fisik antara dirinya dan gangguan ini. Dia pun merancang dari kenyamanan tempat tidurnya sendiri.

Steve Jobs
Kita semua tahu sifat menetap dari ruang kerja tidak memberikan kenikmatan apapun kepada kita, jadi mengapa tidak produktif dan kreatif di mana saja? Itu adalah pola pikir almarhum Steve Jobs, yang mengadakan pertemuan berjalan dengan timnya saat mereka brainstorming ide-ide paling inovatif mereka untuk Apple dan para pelanggan.

Charles Dickens 
Novelis besar Inggris menemukan inspirasi untuk beberapa karakter cerita yang paling dicintai saat ia berjalan-jalan di London. Kota itu memiliki salah satu ilham yang paling berpengaruh sepanjang karirnya.

"Ini dipicu imajinasinya," sebut Alex Werner, kurator Museum "Dickens dan London" Pameran London, kepada CNN.

"Dia menyebutnya 'lentera ajaib," dan akan menghabiskan berjam-jam mondar-mandir di jalan-jalan, menggambar inspirasi dari apa yang ia lihat di sekelilingnya,” tambah dia.

Toni Morrison
Sebelum novelis Amerika ini bisa menempatkan pensilnya di atas kertas setiap pagi, dia harus berhenti dan menonton matahari terbit dalam keheningan dan ketenangan. Ritual ini menempatkannya di ruang yang sama sekali berbeda secara psikologis, menyiapkan pikiran dan tubuhnya untuk memulai proses kreatif setiap hari.

"Semua penulis menemukan cara-cara untuk mendekati tempat di mana mereka berharap untuk membuat kontak, di mana mereka menjadi saluran air, atau di mana mereka terlibat dalam proses misterius ini," kata Morrison dalam wawancara 1993 untuk The Paris Review.

"Bagi saya, cahaya adalah sinyal dalam transaksi,” ujar Morrison.

Vladimir Nabakov
Menolak penggunaan mesin tik sama sekali - belum lagi meja kursi - Nabokov menemukan bahwa kata-kata yang terbaik datang kepadanya sambil duduk di mobilnya. Novelis Rusia-Amerika ini menuliskan catatan demi catatan pada kartu indeks, dan kemudian mengubah "deck" ke dalam karya-karya dia yang begitu terkenal saat ini.

Polly Morgan
Ketika dihadapkan hambatan kreativitas Morgan meninggalkan rumah dan mengajak anjingnya untuk berjalan-jalan. Keluar dari rumah dengan anjing di belakangnya membantu Morgan membuka pikirannya untuk inspirasi baru. "Salah satu ide favorit saya baru muncul ketika saya berhenti untuk memeriksa gulma yang tumbuh di hutan," katanya.


Sumber :
http://bisniskeuangan.kompas.com

Related Posts