Yang Membunuh Bukan Haters, Tapi Jika Tidak Lagi Dibicarakan dan Dilupakan
Kita hidup di sebuah zaman di mana nilai ekonomi tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara modal, siapa yang paling besar asetnya, atau siapa yang paling panjang rekam jejaknya. Kita memasuki sebuah fase baru yang sering kali luput disadari, yaitu era economic attention—sebuah era ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal. Dalam lanskap ini, disukai memang menyenangkan, tetapi tidak lagi mutlak. Yang jauh lebih esensial adalah diperhatikan. Sebab di dunia yang penuh kebisingan, tidak terlihat sama dengan tidak ada.
Menjadi diperhatikan sangat penting (esensial) karena di tengah dunia yang bising dan penuh distraksi, sesuatu yang tidak terlihat atau tidak mendapat sorotan akan mudah hilang dari kesadaran orang lain, seolah-olah tidak pernah ada, sehingga makna dan esensinya menjadi tidak berarti atau terabaikan. Ini tentang pentingnya visibilitas agar nilai atau kebenaran bisa diterima, bukan sekadar tentang popularitas semata.
Perhatian adalah mata uang baru. Ia tidak tercetak oleh bank sentral, tidak bisa ditambang seperti emas, dan tidak dapat diwariskan begitu saja. Perhatian harus direbut, dipertahankan, dan terus diperbarui. Platform media sosial, mesin pencari, hingga algoritma konten hari ini bekerja bukan untuk memberi ruang bagi yang paling benar, melainkan bagi yang paling mampu menarik atensi. Inilah sebabnya mengapa banyak ide cemerlang tenggelam, sementara gagasan dangkal justru viral. Bukan karena kualitas semata, tetapi karena perhatian manusia bersifat terbatas dan mudah dialihkan.
Fenomena gagasan dangkal menjadi viral sering terjadi karena media sosial mengutamakan sensasi dan emosi instan daripada kedalaman analisis, didorong oleh algoritma yang menyukai konten cepat, visual kuat (edit cepat, suara keras), dan memicu respons cepat, yang menggeser ruang publik dari diskusi substantif menjadi pasar emosi instan, membuat orang terbiasa dengan konten yang tidak memerlukan pemikiran mendalam.
Dalam era ini, disukai menjadi nilai tambah, tetapi bukan prasyarat utama. Banyak merek, tokoh, dan bahkan gagasan besar justru tumbuh karena kontroversi, bukan karena konsensus. Diperhatikan berarti eksis dalam kesadaran publik, dan eksistensi adalah fondasi ekonomi modern. Tidak semua orang harus menyukai Anda, produk Anda, atau ide Anda. Namun selama Anda masih diperbincangkan, Anda masih memiliki ruang untuk bertumbuh, memengaruhi, dan bertahan.
Selama sebuah ide, topik, atau diri kita masih menjadi perhatian atau diskusi, selalu ada potensi untuk berkembang, belajar, dan menjadi lebih baik, karena perhatian membuka kesempatan untuk perbaikan, adaptasi, dan inovasi, alih-alih stagnan atau terlupakan. Ini menegaskan pentingnya terus relevan dan terbuka terhadap umpan balik untuk pertumbuhan pribadi maupun profesional.
Dibenci pun, dalam konteks tertentu, bukanlah bencana. Kebencian sering kali lahir dari perbedaan sudut pandang, keberanian bersuara, atau posisi yang tidak netral. Dalam banyak kasus, kebencian justru memperpanjang umur sebuah narasi. Selama ada reaksi, selama ada emosi, selama ada perdebatan, perhatian tetap mengalir. Dunia digital tidak membedakan cinta dan benci; algoritma hanya membaca interaksi. Yang berbahaya bukanlah penolakan, melainkan keheningan.
Keheningan (pasif, diam) sering kali lebih merusak daripada penolakan (konfrontasi), karena keheningan memungkinkan keburukan tumbuh, menyembunyikan luka atau niat tersembunyi, dan menunjukkan ketakutan untuk bersuara, padahal keheningan orang baik adalah izin bagi kejahatan untuk berkuasa, seperti yang disampaikan dalam konteks sosial, politik, maupun personal.
Dilupakan adalah mimpi buruk sesungguhnya. Ketika sebuah merek tidak lagi dibicarakan, ketika seorang individu tidak lagi muncul dalam percakapan, atau ketika sebuah ide tidak lagi diperdebatkan, saat itulah kematian ekonomi terjadi secara perlahan. Tidak ada krisis yang lebih sunyi daripada dilupakan. Tidak ada kehancuran yang lebih elegan namun mematikan daripada kehilangan relevansi. Dalam era economic attention, lupa adalah bentuk pemutusan hubungan yang paling final.
Era ekonomi perhatian (attention economy) adalah sebuah sistem di mana perhatian manusia menjadi sumber daya (komoditas) yang terbatas, bernilai, dan diperebutkan, lalu ditangkap, dianalisis, dan diperdagangkan untuk keuntungan oleh platform digital, pengiklan, dan perusahaan di era digital, menjadikan konten dan data kita sebagai 'mata uang' yang diperjualbelikan.
Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak orang hari ini rela melakukan apa pun demi visibilitas. Dari personal branding, pencitraan, hingga sensasi yang disengaja, semua bermuara pada satu tujuan: tetap berada dalam radar perhatian. Namun, di sinilah jebakan besar era ini muncul. Mengejar perhatian tanpa nilai hanya menghasilkan kebisingan sesaat. Perhatian yang tidak disertai makna akan cepat berpindah, meninggalkan kehampaan, dan memaksa pengulangan ekstrem yang semakin lama semakin melelahkan.
Oleh karena itu, tantangan sesungguhnya di era economic attention bukan sekadar menjadi viral, tetapi menjadi relevan. Bukan hanya menarik perhatian, tetapi layak dipertahankan dalam ingatan. Perhatian adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Setelah perhatian diraih, substansi, konsistensi, dan nilai akan menentukan apakah eksistensi itu berumur panjang atau sekadar fenomena sementara.
Pada akhirnya, dunia hari ini tidak menghukum mereka yang dibenci, dan tidak pula menjamin keselamatan bagi mereka yang disukai. Dunia hanya memberi panggung bagi mereka yang diperhatikan. Namun sejarah selalu mengingat satu hal: perhatian yang disertai makna akan berubah menjadi pengaruh, dan pengaruh yang bertahan akan membentuk peradaban. Dalam era economic attention, pertanyaannya bukan lagi “apakah semua orang menyukai kita?”, melainkan “apakah kita masih diingat, atau sudah mulai dilupakan?”
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)